My Boyfriend's Wedding Dress... Gaun Pengantin Cowokku?

04 Jan 2016    View : 1701    By : Niratisaya


Ditulis oleh     Kim Eun Jeong
Diterbitkan oleh     Haru
Diterjemahkan oleh     Dwita Rizky Nientyas
Disunting oleh      Nyi Blo
Aksara diperiksa oleh  Dini Novita Sari
Desain sampul oleh     Winda Agustien Putri
Genre     fiksi, romance, adult, drama, comedy
Jumlah halaman     390
Diterbitkan pada      Desember 2015
Nomor ISBN      978-602-7742-68-0
Harga     IDR65.000,00
Koleksi     Perpustakaan Artebia

 

Bagaimana ini! Saat pernikahanku semakin mendekat, cinta pertama terkutuk yang mencampakkanku kembali lagi. Selain itu, gaun pengantin yang kupesan kepada perancang terkenal Italia juga tertukar.

Benar! Tekadku sudah bulat! Aku akan melarikan diri dari pesta pernikahanku. Tiba-tiba, gaun pengantinku yang tertukar itu menghilang!

Lalu, seorang lelaki dari New York tiba-tiba mengatakan ialah pemilik gaun itu dan sedang mencarinya!

***

Aku seorang anak yatim piatu. Orang yang selama ini membantuku secara finansial menyuruhku menikahi cucu semata wayangnya. Bahkan, cucunya mengatakan kalau ia tidak membutuhkan cinta.

Lalu, aku membuat perjanjian rahasia dengan tunanganku yang maniak gaun pengantin. Ia akan menceraikanku dan memberikan saham miliknya jika aku bisa menemukan gaun pengantinnya yang tertukar.

Benar! Tekadku sudah bulat! Aku akan terbang ke Korea dan membawa pulang gaun itu!

 

 

My Boyfriend's Wedding Dress - Impresi Saya

Saya sempat mengerutkan dahi saat membaca judul novel ini. My Boyfriend’s Wedding Dress? Lalu teringat kalau saya sempat mengira kalau cerita ini bakal mirip cerita salah satu novel penulis ini atau Ucu Agustin, with a little touch of Korean style’s romance-comedy in the story.

Sempat. Ya. Sebelum saya membaca versi cover terbaru novel Kim Eun Jeong ini, saya lebih dulu membaca versi pertamanya sekitar tiga tahun yang lalu. Dan, menemukan kembali My Boyfriend’s Wedding Dress dengan ilustrasi sampul yang berbeda membuat saya senang. Pertama, cover dengan ilustrasi terbaru menurut saya lebih mewakili cerita dan terkesan lebih ‘hidup’.

Kedua, saya suka warnanya! Thank you for the new cover, Winda Agustien Putri Laughing

Nah, apa ada perubahan lain dalam cerita. Seperti Girls in the Dark yang diterbitkan ulang oleh Penerbit Haru dan diimbuhi cerita pendek?

Let’s just start the review, Artebianz.

 

 

My Boyfriend’s Wedding Dress and Its Piece of Story

Cerita ini bermula dari sepasang calon pengantin yang mengadakan pernikahan di sebuah hotel. Atau seharusnya demikian. Sebab, mempelai wanita mendadak melarikan diri dari upacara pernikahan.

Adalah Se Kyoung si mempelai wanita yang melarikan diri dari pernikahan dan lelaki pilihannya sendiri: Hyo In. Anehnya, ini bukan karena Hyo In punya karakter yang buruk atau dikejar-kejar rentenir. Sebaliknya, lelaki itu baik hati dan memiliki rumah besar, sangat besar malah kalau menilai dari ucapan Se Kyoung: “Saat Se Kyoung mulai membayangkan hidupnya setelah menikah dengan Hyo In, ia mulai membayangkan kalau ia akan membutuhkan tiga buah tank air berkapasitas sepuluh ton untuk membersihkan rumah yang sangat besar.” (hal. 15)

Se Kyoung kabur dari pernikahannya juga bukan karena dia ingin kembali pada mantan kekasihnya, Kang Hoo, yang dulu dengan dingin meninggalkannya dan kini memintanya kembali.

Sebaliknya, Se Kyoung justru kembali ke rumahnya, menggantung gaun pengantinnya—yang anehnya sama sekali nggak mirip gaun pesanannya, mengoleskan masker kolagen ke wajahnya, dan mengecat kuku kakinya.

Benar-benar wanita yang ajaib, ya.

Tapi, tentu saja, membatalkan pernikahan dengan seorang lelaki yang kaya raya bukannya nggak membawa imbas apa-apa dalam hidupnya. Se Kyoung benar-benar merasakan pengaruh keluarga mantan calon suaminya ketika gerak dan langkahnya di tempat dia bekerja jadi terbatas. Banyak pihak yang membalikkan badan dan memutuskan kerja sama mereka dengan  perusahaan Se Kyoung.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tiba-tiba saja muncul seorang lelaki asing ke hadapan Se Kyoung. Dia membuntuti Se Kyoung ke mana-mana, bahkan sampai mendatangi rumah wanita itu, dan menuntut Se Kyoung mengembalikan gaun pengantinnya.

Lelaki bernama Hae Yoon itu berkata kalau Se Kyoung memiliki gaun pengantin pesanannya. Gaun yang menurut Hae Yoon menyangkut hidup-matinya.

Sedahsyat apa sih gaun pengantin itu?

Kenapa dia bisa membuat Hae Yoon rela meninggalkan pekerjaannya di New York sebagai pengacara kondang, untuk terbang ke Seoul dan menjadi stalker Se Kyoung?

Well, we’re about to find out, Artebianz.

Baca juga: Single Ville - Potret Kehidupan Para Lajang

 

 

My Boyfriend’s Wedding Dress and Its Bit by Bit

The Bundle of Characters in My Boyfriend's Wedding Dress

1. Han Se Kyoung: The Ex-Bride to-be

“Pengacara? Huh! Kalau kau pengacara, aku Zeus!”
Se Kyoung yang juga sedang dipegangi oleh seorang polisi mendecakkan lidahnya. (hal. 47)

Yap.

Itulah ucapan Se Kyoung yang sedikit banyak mencerminkan sifat wanita yang melarikan diri dari pernikahannya hanya untuk mengenakan masker kolagen berminyak dan bermalas-malasan di rumah (hal. 6).

Dari ucapan Se Kyoung itu, saya bisa menilainya sebagai wanita yang keras kepala dan nggak mau kalah—atau ‘menekuk’ kemauannya ketika perhatiannya sudah terarah pada satu hal.

Kalau nggak, nggak mungkin Se Kyoung nekat minggat dari pernikahannya dengan putra salah satu keluarga berpengaruh di Korea Selatan. Keluarga yang bisa menghambat karier dan pekerjaannya.

Runaway BrideRunaway Bride. Source: here.

Secara pribadi, saya nggak terlalu merasa nyaman dengan sosok Se Kyoung yang grasa-grusu. Misalnya saja sewaktu dia salah mengira Oh Ye Rin yang adalah penyanyi popera, dengan Oh Ye Rin tunangan Hae Yoon. Padahal dia sudah pernah melihat wajah Oh Ye Rin, si penyanyi popera (hal. 54). Tapi, kalau nggak, Se Kyoung nggak akan ketemu dengan Hae Yoon. Dan kita nggak akan mendapatkan adegan romance-comedy ala drama-drama Korea di novel Kim Eun Jeong ini Smile

Meski begitu, ada juga sifat Se Kyoung yang lumayan keren di mata saya, yang ditunjukkan oleh balasannya saat salah seorang dari “the boyfriends” menanyakan hubungan Se Kyoung dengan salah satu ‘pesaingnya’:

“Kau pikir perempuan harus selalu berdiri di samping laki-laki? Tunanganmu yang berasal dari kelas tinggi sepertinya memang seperti itu, tapi aku yakin kalau aku bisa hidup dengan baik-baik saja walaupun aku sendirian. Oleh karena itu, jangan memasang-masangkanku dengan orang lain.” (hal. 256)


The Boyfriends

2. Jo Hae Yoon

“Aku akan menikah tahun ini dan aku akan bertaruh sebesar sepuluh ribu dolar. Puas?”
….
Hae Yoon melambai-lambaikan jari tengahnya kepada Alex sebelum menutup pintu dengan keras. (hal. 19)

Lelaki ini adalah salah satu tokoh favorit saya, setelah Kang Hoo. Lucunya, saya menyukai Hae Yoon karena reaksi dan tingkah konyolnya. Walau sebenarnya seharusnya pekerjaan dan sifat Hae Yoon yang apa adanya serta suka berterus terang seharusnya membuat sosok lelaki ini lebih serius, seperti yang tersirat dari kutipan di atas.

‘Melencengnya’ sifat Hae Yoon ini bisa jadi karena dia bertemu dengan Se Kyoung yang dianggapnya memiliki masalah dengan emosi. Dan, berbanding terbalik dengan sosok Se Kyoung, entah kenapa saya malah merasa Hae Yoon lebih utuh penggambarannya dan lebih likeable sebagai karakter. Bisa dibilang dia paling konstan dalam cerita.

Di awal, tanpa tedeng aling-aling, Hae Yoon mengaku bahwa dia hidup hanya demi mendapatkan uang banyak. Ini bisa dimaklumi mengingat Hae Yoon tumbuh sebagai anak yatim-piatu dan harus mengandalkan diri sendiri untuk bisa survive.

Selain itu, saya merasa lebih bisa bersimpati pada Hae Yoon di awal cerita ketimbang Se Kyoung yang diceritakan melarikan diri dari pernikahannya (walau alasan yang kemudian dia ungkapkan lebih masuk akal dibanding kelakuan Se Kyoung di bagian awal). Terutama sewaktu saya membayangkan lelaki yang punya trauma pada pesawat ini harus terbang dari New York, duduk diam selama 16 jam, hanya untuk mendapatkan gaun pengantin Ye Rin, calon istrinya.

Dan, tentu saja, ini bukan karena Hae Yoon mencintai Ye Rin. Sejak awal dia menegaskan pada Ye Rin, begitu pula wanita itu, bahwa dia nggak punya perasaan apa-apa padanya. Hae Yoon hanya mempertimbangkan imbalan saham yang diberikan wanita itu padanya (hal. 28) Laughing

“Maksudmu aku harus menghilang dari tempat yang dapat dilihat oleh perempuan itu…? Bukannya lebih baik kau menyuruh perempuan itu untuk tidak melihat ke arahku?” (hal. 323)

The Wedding DressThis is how I imagine the wedding dress. Source: here.

Baca juga: To All The Boys I've Loved Before - Siapa Bilang Hati Manusia Hanya Bisa Untuk Satu Orang?


3. Ji Daniel. Ji Kang Hoo. Bayer

“Kalau begitu, benci aku,” sambung Kang Hoo dengan suara yang terdengar sangat serius. “Aku tidak akan berbuat apa-apa walau kau menerorku. Aku tidak akan melapor kepada polisi. Benci aku sepuasmu, tapi saat kau tidak bisa lebih membenciku lagi, saat kau sudah lelah membenciku… saat itu, bisakah kau mencintaiku lagi?” (hal. 60)

Kang Hoo adalah mantan kekasih Se Kyoung, sekaligus biang keladi kelabilan sifat wanita itu.

Ya. Sebelum mereka putus, rasanya Se Kyoung bukan tipe wanita selebor dan sering melakukan kesalahan saat bekerja. Kepergian Kang Hoo ke Australia untuk melanjutkan studinya di bidang musik membuatnya memutuskan Se Kyoung. Sayangnya, lelaki ini nggak melakukannya dengan halus. Yang terjadi adalah dia dengan dingin memutuskan Se Kyoung di tengah hujan, tanpa mengajak wanita itu berteduh atau mengajaknya berbicara di tempat yang beratap (hal. 14).

Meski demikian, entah kenapa, Kang Hoo yang telah kembali ke Korea Selatan pengin kembali bersama Se Kyoung. Tentu saja, dibanding pesaing-pesaingnya yang lain, Kang Hoo memiliki keuntungan sebab dialah yang pertama kali berpacaran dengan Se Kyoung, sehingga dia mengenal wanita itu dengan baik. Dan bisa jadi hal ini membuat Kang Hoo memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

“Han Se Kyoung!” teriak Kang Hoo, membuat langkah Se Kyoung terhenti.

“Lulusan jurusan Perencanaan Pertunjukan, golngan darah A, lebih menyukai tempat makan pinggir jalan daripada restoran hotel, perempuan kampungan yang selalu merasa mual kika memakai sepatu dengan hal lebih dari lima sentimeter. Dia menyukai warna biru pudar, bertemu dengan lelaki terkutuk di sebuah pertunjukan di Universitas M, saat itu dia sedang memakai gaun terusan yang melambai-lambai di pergelangan kakinya, dia dibuang begitu saja oleh lelaki kurang ajar itu di pinggir jalan pada saat hujan turun dengan deras, perempuan yang merasa kalau nasibnya sangat sial. Itu kau, kan?” kata Kang Hoo dengan suara dingin, seakan sedang mendeskripsikan sebuah barang. (hal. 14)

 

4. Kim Hyo In

 “Sial! Sampai saat ini aku masih belum lepas dari rasa terpukul yang disebabkan oleh pernikahan itu! Gaun! Bukan aku yang memakai gaun itu, kenapa terus-terusan meneleponku, sih!” (hal. 62)

Pada awalnya, mantan calon suami Se Kyoung ini membuat saya terkejut. Tapi, di saat yang bersamaan saya bisa mengerti perasaannya yang terkejut—mungkin juga terluka, kecewa, dan merana (ala-ala film dengan soundtrack lagu dangdut di salah satu televisi swasta kita)—karena ditinggal begitu saja oleh calon istrinya di hari pernikahan mereka. Jadi, bisa dipahami kalau dia tiba-tiba saja meledak, setiap kali ada yang menanyakan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pernikahannya.

Tapi, entah bagaimana, pada pertemuan berikutnya dengan Se Kyoung, Hyo In justru bersikap lembut. Hal ini memang nggak kentara langsung pada pertemuan pertama mereka pasca hari pernikahan mereka yang kacau, tapi dari E-mail yang ditulis oleh Hyo In pada Se Kyoung (hal. 221).

Sayangnya, Hyo In nggak ditampilkan secara utuh, seperti sosok Kang Hoo. Jadi, meski saya merasa karakterisasi tokoh ini lumayan, tapi saya nggak bisa sampai bersimpati padanya.

  I'm sorry Bang Kang Hoo....

Baca juga: Everlasting - Terkadang, Ada yang Tak Bisa Dihapus Waktu


5. Oh Ye Rin: The Other Bride

"Aku akan membuat kontrak pernikahan. Kau harus berjanji akan menceraikanku saat aku didiagnosis memiliki penyakit mental. Lalu sebagai gantinya, aku akan menyerahkan seluruh sahamku Padamu. Oke? Kau tahu kan kalau aku pemilik saham terbesar kedua setelah Kakek? Jumlah sahamku memang hanya sepertiga saham Kakek, sih, tapi tetap saja banyak." (hal. 28)

Selain Ye Rin, sebenarnya masih ada adik Se Kyoung (Se Ji si serangga). Tapi setelah membandingkan keduanya, saya merasa Ye Rin lebih pas disebutkan di artikel ini. Tentu saja, ini bukan saja karena ia berperan langsung dengan gaun pengantin yang menjadi judul novel ini. Tapi juga karena sifatnya yang lebih ekstrem ketimbang Se Kyoung. Lebih manic dan—seperti yang bisa Artebianz tangkap—lebih ‘gila’ ketimbang Se Kyoung.

Status Ye Rin sebagai cucu atasan Hae Yoon sekaligus salah seorang pewaris perusahaan besar, membuatnya tumbuh sebagai gadis manja yang berpikir semua yang diinginkannya pasti terwujud.

Sifat Ye Rin ini plus all of her quirks membuat Hae Yoon yang ‘mata duitan’ dengan buta terjun ke dalam penawaran tunangannya ini. Dan, walau terkesan menyebalkan, tapi saya menyukai kehadiran Ye Rin yang menambah ‘bumbu’ cerita My Boyfriend’s Wedding Dress.

Se Kyoung and Hae Yoon?Supposedly this novel get an adaption, I'd love these two to play the lead Smile
Source: here.


 

 

My Boyfriend's Wedding Dress - Tawa, Debar, Plus Kerutan dan Kernyitan Saya

Selayaknya novel romance-comedy pada umumnya, My Boyfriend’s Wedding Dress menyertakan tawa dan rangkaian plot yang membuat pembacanya dag-dig-dug. Dan berikut adalah potongan dialog dan interaksi antar karakter yang membuat saya tertawa.

1. Mana gaunnya?!

“Kenapa?” Hae Yoon menatap Se Kyoung yang tidak membawa apa-apa dengan curiga.
“Tidak ada [gaun pengantin]…!” kata Se Kyoung dengan bibir gemetar.
“Apa?”
Seketika, kepala Hae Yoon yang baru kembali, bersiap-siap unuk pindah ke luar angkasa lagi. (hal. 93)

Adegan ini terjadi setelah, untuk kesekian kalinya, Se Kyoung dan Hae Yoon terjebak bersama dan harus bekerj sama untuk membereskan—well, mostly urusan Se Kyoung. Setelah berhasil menyelesaikan kesalahpahaman dengan polisi, menerima omelan mantan calon suami Se Kyoung, dan berbicara dengan kepala dingin pada wanita itu—tentu yang diharapkan oleh Hae Yoon adalah sebuah kotak yang berisi gaun pengantin Ye Rin.

Tapi nahas, gaun itu tiba-tiba menghilang dan Hae Yoon harus terjebak lebih lama dengan si ajaib Han Se Kyoung Laughing

2. Cinta adalah permainan untuk dua orang, orang yang ketiga biasanya… setan?

“Kau berbuat salah kepada tunanganmu,” kata Se Kyoung dengan jelas.
Hae Yoon langsung memandang Se Kyoung. Se Kyoung menatap Hae Yoon, lalu ia menatap Ye Rin dengan dingin.
“Aku benar-benar bukan apa-apa bagi lelaki itu. Kau tidak merasa malu? Kenapa kau merasa cemburu karena perempuan yang kehadirannya tidak berarti apa-apa? Kuharap kalian berdua tidak akan mengungkit-ungkit lagi masalah yang berhubungan denganku. Dengan begitu, kehadiranku di dunia benar-benar akan menghilang dan aku akan merasa sangat kotor.” (hal. 266)

Adegan ini terjadi saat untuk kesekian kalinya Ye Rin menangkap Hae Yoon bersama Se Kyoung. Setelah sempat merasa lelaki itu memiliki perasaan yang sama, Se Kyoung justru mendengar hal yang mencengangkan. Bahwa Hae Yoon nggak menganggapnya apa-apa. Yang mengenaskan, ini adalah kedua kalinya Se Kyoung ‘dibuang’ oleh lelaki yang dicintainya.

Meski nggak seburuk Kang Hoo, tapi kalau kita mendengar ucapan demikian dari orang yang kita suka, pasti hati kita akan hancur. Ya kan, Artebianz?

3. Kejujuran Kang Hoo.

Dan jangan lupa dialog Kang Hoo yang manis ini!

“Kalau begitu, benci aku,” sambung Kang Hoo dengan suara yang terdengar sangat serius. “Aku tidak akan berbuat apa-apa walau kau menerorku. Aku tidak akan melapor kepada polisi. Benci aku sepuasmu, tapi saat kau tidak bisa lebih membenciku lagi, saat kau sudah lelah membenciku… saat itu, bisakah kau mencintaiku lagi?” (hal 60)

However, despite having the complete romance-comedy aspects to hook its readers, saya masih menemukan beberapa hal yang membuat saya mengernyit dan mengerutkan dahi.

Dimulai dari typo ringan, seperti di halaman 77:

.… Ia terus mengawasi Se Kyoung di antara kerumunan orang. Se Kyoung mendengus sambil meng-hindari tatapan Hae Yoon.

Sampai beberapa hal yang membuat saya mengerutkan dahi, seperti kenapa Kang Hoo bisa dengan dingin memutuskan Se Kyoung, kemudian kembali dan dengan keras kepala meminta wanita itu kembali padanya.

Yes, it might be caused by his guilt, or love—like he claimed in the novel. Tapi saya nggak bisa memahami hal itu. Tidak dengan minimnya penjelasan tentang poin ini.

The same thing with Hyo In’s incomplete taste of characterization. Dengan tebal halaman sekitar 390, mungkin agak tidak masuk akal kalau saya meminta Kim Eun Jeong untuk menambahkan poin-poin tentang Kang Hoo atau Hyo In, apalagi ini adalah tentang Se Kyoung dan gaun yang menjadi incaran banyak orang.

But hey, a reader could dream, right.

RainIt's better to enjoy rain with someone. Illustration source: here.

Baca juga: OPERATION: Break the Casanova's Heart - Jangan Main Hati!

 

 

My Boyfriend's Wedding Dress - The After Taste

Being one of Korean products, a romance-comedy fiction to be exact, pastinya menempatkan My Boyfriend's Wedding Dress pada posisi yang nyaris sejajar dengan drama serinya. Artebianz yang maniak Korea, khususnya drama, pasti ingat dengan Full House (yang sampai sekarang masih stuck di kepala saya), Sassy Girl Chun Hyang, atau yang terbaru She Was Pretty. Beberapa aspek dan karakterisasi tokoh di dalam novel karya Kim Eun Jeong ini nggak jauh berbeda.

Di satu sisi, hal ini mempermudah pembaca untuk membayangkan alur dan bagaimana para tokoh akan berinteraksi—jika dibandingkan dengan novel karya Goo Hye Sun ini. Selain itu, pilihan Kim ini cukup tepat, mengingat genre yang dipilihnya adalah romance-comedy.

Kebanyakan penyuka genre ini tentu nggak akan mengharapkan karakter yang kompleks dan plot dengan twist yang membuat mereka pusing. Sebab, kebanyakan cerita fiksi diciptakan sebagai "pintu ke mana saja" yang mengizinkan pembacanya untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas kehidupan, yang bisa jadi membosankan atau menjenuhkan.

Baca juga: Vampire Flower 1




Your book curator,

N


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Legend of Sleepy Hollow - Cerita Horor Negeri Paman Sam


Art Idol


Nash - Ya Rabbana Anta Maulana


Mojok dan Makan Mi di Pojok II, Perak, Jombang


Taman Patung Kuda Gunung Sari - Taman Segala Usia


Gapura Wringin Lawang, Mojokerto: Gerbang dari Masa Kini ke Masa Lalu


Goodreads Indonesia Regional Surabaya: Novel Remaja Dan Dunianya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Kabut Rindu


MENGAPA?