Cafe Waiting Love - Kompleksnya Kesederhanaan Cinta Ala Remaja

13 Jan 2016    View : 1984    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Giddens Ko
Diterbitkan oleh  Haru
Diterjemahkan oleh  Julianti 
Disunting oleh  Arumdyah Tyasayu 
Aksara diperiksa oleh  Selsa Chintya 
Desain sampul oleh  Bambang "Bambi" Gunawan  
Genre  fiksi, romance, young adult, drama, slice of life 
Jumlah halaman  404  
Diterbitkan pada  Januari 2016
Nomor ISBN  978-602-7742-70-3
Harga  IDR76.000,00 
Koleksi  Perpustakaan Artebia

 

Dalam hidup ini, ada berapa kali saat di mana jantung berdegup dengan kencang, dan kata-kata tidak sanggup terucap?

Aku belum pernah berpacaran, tapi aku tahu bahwa seseorang yang percaya pada cinta, seharusnya menghargai momen setiap kali jantungnya berdebar, kemudian dengan berani mengejar kali berikutnya, kali berikutnya, dan kali berikutnya lagi.

Di dalam sebuah cafe kecil, setiap orang sedang menunggu seseorang.

 

 

Cafe Waiting Love as an Appetizer

Kesan pertama yang saya dapatkan saat novel terbitan Penerbit Haru ini sampai di tangan saya adalah ambiance ala film-film Cina yang menjadi favorit saya (Secret yang dibintangi Jay Chou, Turn Left Turn Right dengan Takeshi Kaneshiro dan Gigi Leung, dan Fly Me to Polariskamu yang ngaku generasi tahun 90an pasti tahu dong); bordering antara manis sekaligus hangat dan penuh tawa. Layaknya masa muda yang menjadi setting cerita novel karya Giddens Ko ini.

Sementara itu, tentang Ko sendiri, dia adalah salah satu penulis favorit saya. Walau sejujurnya, saya nggak secara langsung ‘mengenal’ pria yang lahir 25 Agustus ini. Maksud saya membaca langsung tulisannya. Saya baru mengenal Ko lewat film You’re The Apple of My Eye. Tapi, saya bisa menangkap keunikan yang dimiliki Ko.

Seunik apa sih gaya Giddens Ko? Nggak usah membuang waktu lagi. Hayuuuk, santap novel Mandarin terbaru Haru ini~

 

 

Cafe Waiting Love as a Dish


Rombongan Karakter dan Kentalnya Hubungan Antarmanusia

Sama seperti kebanyakan novel Asia yang saya baca, ada sekompi tokoh yang ditampilkan oleh Giddens Ko dalam Café Waiting Love. Namun, ajaibnya, setiap tokoh memiliki peran yang cukup besar bagi para tokoh utama—khususnya Siying yang menjadi narator. Ini juga yang menjadi salah satu faktor heart-warming dalam novel ini.

Kurang lebih ada sekitar 15 tokoh dalam Café Waiting Love. Tenang, Artebianz. Saya nggak akan menceritakan semua nitty-gritty tentang para tokoh, tentu saja. I’ll only take a dollop of them Smile

Mari kita mulai dari Li Siying si Adik Kecil.

“Nama nona ini adalah Siying. ‘Si’ dari kata rindu, ‘Ying’ dari kata kunang-kunang,” kataku gugup. (hal. 39)

Vivian Sung as Siying

Siying adalah tipikal gadis yang mungkin kita kenal di kehidupan sehari-hari kita. Atau mungkin dia membawa kepingan dari diri kita. Lahir dari sebuah keluarga Asia yang sederhana dengan guyonan garing mereka, menempatkan Siying sebagai seorang pelajar yang hidup simpel pula. Dia nggak mengenal make up atau ilmu flirting seperti sebagian besar gadis remaja.

Sebaliknya, Siying malah tertarik untuk hidup mandiri dengan bekerja paruh waktu di kedai kopi. Terima kasih pada kakaknya, Fengming, yang juga adalah teman sekamarnya (hal. 22). Berkat kakaknya yang jarang memperlakukannya seperti anak gadis, Siying pun tumbuh dengan sifat moderat yang bisa dibilang unik.

Sifat ini kemudian membuat Siying dengan mudahnya berinteraksi dengan siapa pun. Mulai Albus yang seorang lesbian, A Tuo yang dipandang remeh oleh semua orang, hingga Zeyu—cowok pecinta kopi Kenya yang ditaksirnya.

Saya nggak tahu pasti apa Siying sebelum cerita ini dimulai pernah berpacaran atau nggak. Sepanjang yang saya baca, gadis yang tiap harinya mengendarai sepeda tua ini lebih berkonsentrasi pada pelajaran dan prestasi sekolahnya.

Meski demikian, pilihannya bekerja di kedai kopi—alih-alih mengambil kelas bimbingan belajar—membuat saya berpikir Siying sebenarnya memiliki keyakinan pada dirinya. Bahwa entah bagaimana dia akan bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Asal dia terus-menerus menekuni apa yang sudah dilakoninya.

Hal ini juga yang terlihat dari interaksi Siying dengan Zeyu, yang sudah menarik perhatian gadis itu sejak dia melihat pemuda tersebut pertama kali. Siying bersimpati pada Zeyu yang berkali-kali harus menghadapi dan beradaptasi dengan keanehan-keanehan kekasihnya. Perasaan yang sama dirasakannya juga pada A Tuo, tapi untuk alasan yang berbeda.

Errr… mestinya sih begitu. Kalau Artebianz nggak percaya dengan prinsip “cewek dan cowok nggak bisa berteman baik”.

Baca juga: My Boyfriend's Wedding Dress... Gaun Pengantin Cowokku?


Salah satu tokoh favorit saya: Albus, Senior yang Cool dan Tak Acuh.

Albus adalah nama panggilan dari teman lesbian yang pertama kukenal dalam hidupku. Nama itu diambil dari nama kepala sekolah di sekolah sihir dalam novel ‘Harry Potter’. Albus Dumbledore.

Albus memiliki gaya rambut pendek yang begitu keren. Dia adalah rekan di café, juga senior yang sudah bekerja setengah tahun lebih lama dibanding aku. Sebelumnya, dia pernah bekerja cukup lama di Café Orsir yang begitu terkenal di Kota Taichung. (hal. 8)

Megan Lai as AlbusI always love Megan Lai, but I never thought that she would play Albus. And looked this handsome!

Albus adalah tokoh pertama yang diperkenalkan oleh Siying. Ada alasan tersendiri kenapa gadis itu nggak mengenalkan dirinya sendiri pada pembaca dan lebih memilih seniornya itu. Alasan pertama dan paling dasar adalah Albus menjadi titik tolak dimulainya cerita ini. Dia menghubungi Siying dengan A Tuo, dan secara otomatis menghubungkan gadis itu dengan para tokoh ajaib lainnya dalam novel ini.

Alasan kedua, tentu saja sifat Albus yang misterius. Di balik sifat tak acuhnya, Albus ternyata menaruh perhatian pada orang-orang yang dekat dengannya. Misalnya saja pada Siying yang sering kena sindir dan guyonan garing Albus.

“Seorang Albus yang begitu dingin kenapa bisa lebih memedulikan pelajaran sekolahku dibanding diriku sendiri?” kataku sembari menjulurkan lidah.

“Aku cuma tidak ingin dua bulan lagi harus mengajari rekan kerja baru, mulai dari awal lagi.” Albus mendengus lalu tertawa.

Setelah selesai membereskan cangkir terakhir, Albus melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2:25. Café akan tutup lima menit lagi. Tapi, sepanjang hari ini kopi racikan khusus Nyonya Bos yang bernama ‘Racikan Spesial Nyonya Bos’ tidak terjual satu gelas pun. (hal. 15)

Kalau memang benar sifat Albus dingin dan tak acuh seperti yang dikenal sebagian besar tokoh dalam seri kedua novel trilogi Giddens Ko yang bertema “cinta” ini, saya rasa dia akan mendatangi Nyonya Bos. Kemudian, dengan dingin dan tak acuh meminta wanita itu segera bersiap-siap pulang, karena sudah hampir waktunya café tutup. Tapi, Albus memilih menunggu dan mengisap rokok.

Kemudian, salah dua favorit kedua saya: A Tuo si “Air Putih yang Jernih”.

… A Tuo di hadapanku bagaikan air putih dalam gelas kaca. Kesenangannya, kemarahannya, kesedihannya, kebahagiaannya… semuanya tidak dapat disembunyikan. Kalau dia jatuh cinta padaku, aku juga akan lebih dahulu mengetahuinya…. (hal. 180)

A Tuo muncul pertama kali sebagai legenda Universitas Tsing Hua. Sadly, bukan dalam hal baik. Kekasih A Tuo yang sudah dipacarinya sejak SMA direbut oleh orang lain. Menjadi seorang lelaki, hal itu saja sudah menjadi satu pukulan besar. Tapi, pukulan kedua meratakan harga diri A Tuo dengan tanah manakala orang yang merebut kekasihnya adalah seorang wanita.

Setidaknya, itulah anggapan teman-teman A Tuo.

Sementara si subjek pembicaraan di Hsinchu, kota yang menjadi setting cerita, malah terkesan cuek. Wajah A Tuo memang kadang masih memerah atau menggaruk-garuk kepala karena malu (hal. 26), setiap kali dia mendengar kisahnya diceritakan ulang oleh salah seorang teman klub seluncurnya. Tapi nggak ada reaksi lebih dari itu. Bahkan ketika A Tuo ditertawakan oleh teman-temannya sewaktu tanpa sengaja mereka masuk ke Café Waiting Love dan bertemu dengan orang yang merebut kekasih A Tuo.

Sekarang teman-teman A Tuo juga menyadari keanehan A Tuo yang sama sekali tidak berbicara sejak tadi. Mereka pun mulai menanyainya.

Walaupun aku tidak bisa mendengar percakapan mereka, tapi aku bisa melihat kalau A Tuo sama sekali tidak bermaksud menutupi keadaannya yang sangat canggung sekarang ini.

Karena kedua temannya yang jahat itu tidak dapat menahan tawa mereka, wajah A Tuo langsung memerah lagi. (hal. 60)

Meski dikenal sebagai pria yang lemah, di sisi lain, A Tuo sendiri cukup tangguh. Kalau nggak, mana mungkin dia bisa menjadi teman nonton seorang kepala geng, memberi bimbingan pada seorang bocah yang bisa menyemburkan api, dan sekumpulan orang dengan kemampuan ajaib lainnya.

A Tuo bahkan pernah melayangkan tinjunya pada beberapa orang. Tapi, kenapa dia selalu bersikap kalem pada orang-orang yang menghina harga dirinya? Kamu benar-benar perlu membaca sendiri novel ini, lalu ‘mendengarkan’ sendiri kenapa dan bagaimana A Tuo bisa begitu sabar.

Baca juga: The Fault in Our Stars - Sebenarnya Ini Salah Siapa?


Berikutnya ada Zeyu si Maniak Kopi Kenya alias Takeshi Kaneshiro KW 1, menurut Siying. Dia adalah cowok yang serupa pangeran dengan celana ketat yang mengendarai kuda putih. Tapi, pada kenyataannya Zeyu pertama kali muncul di hadapan Siying dengan payung yang tertutup, serta celana dan sepatu yang basah (hal. 31).

Meski demikian, sikap dan pembawaan Zeyu yang tenang bak seorang pangeran memenangkan hati Siying, yang kala itu baru mulai bekerja di Café Waiting Love.

“Kau… kau lupa menyaringnya, ya?” Dia tertawa dengan begitu manis, tapi tawa itu membuatku malu sekali.

Ampas kopinya tenggelam ke dasar gelas, dan ada juga yang dengan menyedihkan terlihat yang masih mengapung di permukaan minuman tersebut.

“Maaf! Maaf! ini adalah hari pertama aku bekerja. Aku masih belum bisa apa-apa, jadi….”

….

“Tidak apa-apa. Tapi… bisa tolong beri aku segelas air panas atau teh hangat saja?” katanya sambil tertawa melihat kopi yang aromanya saja seolah protes. (hal. 33)

Sikap tenang Zeyu yang nggak teruntuhkan, walau dia menghadapi beragam sifat kasar dan nggak elegan mantan kekasihnya, itulah yang membuat Siying makin tersihir dan termakan impian untuk mengejar pemuda itu—sampai akhirnya dia menyadari keberadaan Siying.

Nah, apakah Siying berhasil membuat Zeyu, yang mencari dan menunggu gadis yang mau berbagi kesenangan minum kopi kenya, memilihnya?

Atau Zeyu akan terus membuat Siying menunggu?

Baca juga: Just So Stories Sekadar Cerita

 

Giddens Ko—Antara Penokohan dan Plot dalam Cerita Café Waiting Love

Setelah menonton You’re The Apple Of My Eye dan membaca Café Waiting Love, saya cukup bisa menebak seperti apa gaya menulis Giddens Ko. Dua hal yang cukup kentara adalah penokohan dan plot cerita yang unik dan lumayan di luar ekspektasi kebanyakan pembaca novel sastra populer.

Walau memiliki tokoh utama dengan gender yang berbeda, baik You’re The Apple Of My Eye maupun Café Waiting Love memiliki segerombolan tokoh yang unik. Baik secara sifat maupun sikap.

Saya masih ingat tingkah aneh Jing Teng sewaktu dia membuktikan cinta matinya pada Chia Yi. Keajaiban dengan level yang sama juga saya dapati di novel Café Waiting Love. Okay, perhaps Giddens Ko tones down novel main character’s quirkiness, and diverts it to the supporting characters. Tapi di tiap lembar Café Waiting Love masih menguar aroma khas Giddens Ko, yang selalu mengingatkan saya pada film You’re The Apple of My Eye.

Misalnya saja pada kenekatan Siying—which I’m not going to share here since I’ll spoil the whole fun and excitement, yang mesti Artebianz rasakan langsung sensasinya sewaktu membaca novel ini.

Vivian Chow

Kalaupun ada ada yang bisa saya bagi, itu adalah quirky part(s) yang dimiliki karakter lain. Misalnya saja Nyonya Bos pemilik kedai kopi tempat Siying bekerja.

“Hei, A Ku sudah mati. Kucing ini adalah peliharaan baru kami, namanya Sumatra.” Nyonya Bos berkata datar tanpa mengangkat kepala dari majalah gosip yang sedang dibacanya. Raja Sembarang Pesan pun terbelalak. (hal. 13)

Daripada mengambil alih masalah yang dihadapi oleh pegawainya, Nyonya Bos dengan santai dan tak acuh terus membaca majalah gosip. Seolah ulah salah seorang pelanggannya itu sama sekali bukan masalah besar ketimbang dirinya yang ketinggalan gosip, dari majalah yang bisa dibacanya setelah pulang.

Benar-benar bos yang ‘keren’ ya, Artebianz Laughing

Tokoh ajaib lainnya adalah Abang Bao, si preman kalem nan datar yang lebih cool dari Albus.

Filmnya selesai. A Tuo mengatur lampunya menjadi terang kembali.

Abang Bao berdiri, meregangkan tubuh, lalu melihat aku dan A Tuo.

“Malam ini kalian mau tidur di sini tidak? Aku tidur di ruang tamu.” Wajah Abang Bao bagai dibentuk dengan cetakan besi baja, sama sekali tidak ada ekspresinya.

Lalu dari sakunya dia mengeluarkan banyak sekali kondom yang tampak jelas baru dibeli dan menghamburkannya ke atas meja kopi kecil itu. (hal. 149)

Pada detik saya selesai membaca bagian Abang Bao itu, saya spontan menutup novel ini dan ngikik untuk beberapa saat sebelum kembali membaca.

Keunikan dan keanehan tokoh-tokoh Café Waiting Love membuat pace alur cerita yang lumayan lamban nggak terlalu terasa.

Bicara soal pace plot novel ini, saya nggak bisa mengatakan kalau saya menyukai atau membenci kecepatannya—atau lebih tepat disebut kepelanannya. Pace ini sudah sesuai untuk Café Waiting Love yang memiliki gerombolan berat tokoh-tokoh unik, yang sama hidup dan penuh aksi seperti Siying, tokoh utama kita.

Pilihan Giddens Ko ini sangat tepat, sebab sebagai seorang remaja, Siying tentu membutuhkan orang-orang yang bisa dijadikannya sebagai panutan, yang bisa membantunya saat dia sedang membutuhkan bantuan. Atau mengambil keputusan.
Sementara itu, perkara diksi… nggak perlu ditanya lagi.

Sama seperti Ba Yue Chang An dan novelnya The Stolen Years, Giddens Ko dan Café Waiting Love dengan manis mengaduk imajinasi saya dengan diksi dan permaianan majas. Misalnya seperti yang satu ini:

Aku masih tetap tertawa bodoh. Walaupun apa yang dikatakan Xiao Qing sama sekali tidak salah, tapi sosok Zeyu yang baru mengobrol dua kali denganku itu selalu muncul di pikiranku, membuat huruf-huruf yang terpampang di buku pelajaran tercampur berantakan, seakan satu per satu berubah menjadi kecebong. (hal. 40)

Baca juga: Everlasting - Terkadang, Ada yang Tak Bisa Dihapus Waktu

 

 

The Stolen Years as Dessert and the After Taste

Café Waiting Love adalah salah satu bacaan yang wajib Artebianz baca di tahun 2016 ini. Bukan hanya karena gaya menulis Giddens Ko yang unik, tapi juga karakteristik novel ini sebagai cerita coming-of-age.

Siying yang dimunculkan sebagai gadis yang berusaha mengenal cinta dan identitas dirinya, benar-benar mewakili sosok polos seorang remaja. Semangat dan kemurnian diri yang ada dalam diri Siying jugalah yang membuat saya bertahan membaca novel sepanjang 404 halaman ini.

Para pemain Cafe Waiting Love

Bonus lain dalam novel ini adalah berbagai referensi tontonan saya di tahun 90-an, yang sukses bikin saya pengin menonton semuanya sekali lagi. Artebianz yang sudah baca novel ini, bisa sebutkan referensi-referensi yang ditulis Giddens Ko di sini? Laughing

Selain itu—sebagai pembaca yang nggak terlalu suka dengan romance yang sticky-itchy-gooey—menurut saya porsi romance, drama, dan comedy dalam Café Waiting Love diramu dengan pas.

Happy reading, Artebianz!

Baca juga: Sayap-Sayap Kecil - Mengintip Sepotong Kisah Rahasia Seorang Gadis SMA

 

 


Your book curator,

N


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


The Giving Tree: Cinta Adalah Bahasa Universal


SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh Film - Filsafat Eksistensi


Menuju Senja - Payung Teduh


Bakmi dan Sate Klathak Ala Djogdja: Menikmati Jogjakarta di Surabaya


Taman Patung Kuda Gunung Sari - Taman Segala Usia


Grojokan Sewu: Seribu Cerita Dari Grojokan


Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Faisal Oddang, dan Puya ke Puya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Oma Lena - Part 1


Satu Kali Seminggu