The Stolen Years - Yang Dicuri Waktu dari Cinta dan Kita

09 Jan 2016    View : 3423    By : Niratisaya


Ditulis oleh   Ba Yue Chang An
Diterbitkan oleh     Haru 
Diterjemahkan oleh     Jeanni Hidayat
Disunting oleh     M. Noviana 
Aksara diperiksa oleh  Dini Novita Sari  
Desain sampul oleh  Chyntia Yanetha  
Ilustrasi isi oleh     Frendy 
Genre     fiksi, romance, adult, drama, mellow 
Jumlah halaman     348 
Diterbitkan pada     Januari 2015  
Nomor ISBN     978-602-7742-66-6 
Harga     IDR65.000,00  
Koleksi     Perpustakaan Artebia

 

Benarkah waktu dapat mengikis perasaan cinta?

Hal terakhir yang diingat He Man adalah ia sedang berbulan madu dengan suaminya, Xie Yu. Namun, tiba-tiba gadis itu terbangun di rumah sakit dan sudah bercerai. He Man mengalami amnesia dan lupa akan lima tahun terakhirnya.

Ia tidak mengerti mengapa ia bisa bercerai dari Xie Yu padahal mereka saling mencintai. Ia tidak mengerti mengapa sahabatnya sekarang malah menjadi musuhnya. Ia tidak mengerti mengapa seakan semua orang membencinya.

Ketika He Man berusaha mengumpulkan kembali kenangan dan ingatannya, ia mulai menemukan hal-hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

 

 

Stolen Years as an Appetizer

Sebut saja ini keriwilan seorang “book-eater”, atau pet-peeved seorang pembaca kalau menurut kamus para Youtuber, tapi saya selalu suka ketika ilustrasi sampul depan selaras dengan mood yang ditawarkan oleh blurbs di sampul belakang DAN cerita tanpa membocorkan isi cerita pada pembaca.

Rasanya seperti menemukan harta milik Karun!

Aneh ya, Artebianz?

Tapi, setelah menjumpai beberapa novel dengan ilustrasi yang digarap dengan asal atau mengungkap inti cerita, Artebianz bakal mengerti kenapa saya cukup riwil saat memilih sebuah bacaan. Dan, meski terdengar buruk, saya senang saat membuka lembar demi lembar The Stolen Years semua dugaan saya terpatahkan.

Jujur, ketika pertama kali cover novel karya Ba Yue Chang An ini dirilis, saya membayangkan sebuah cerita ala-ala Putri Tidur, atau sebuah kisah tentang seorang gadis yang diculik dan tercerabut dari keluarga serta latar belakang kehidupan yang mesti dia jalani—heboh, ya Laughing

Tapi, saya salah menduga. Well, memang ada cerita yang nyerempet dongeng ala Putri Tidur dan kisah tentang gadis yang tercerabut dari kehidupan yang mesti dijalaninya. Hanya, Ba Yue Chang An—dan Huang Zhen Zhen, sebagai penulis skenario yang menginspirasi Ba Yue Chang An—memainkan plot dengan sedemikian indahnya, sehingga saya bisa menikmati cerita sembari berkali-kali menduga seperti apa cerita ini akan berlanjut.

Seperti apa cerita The Stolen Years yang mengadaptasi cerita layar lebar karya Huang Zhen Zhen ini sebenarnya?

Begini ceritanya....

Once upon a time Artebianz, hiduplah sepasang suami-istri yang baru menikah. Mereka adalah He Man dan Xie Yu yang lama menjalin cinta. Larut dalam kebahagiaan yang dirasakan setiap pengantin baru serta kehebohan sewaktu mereka hendak berbulan madu, He Man dan Xie Yu tidak memerdulikan apa pun. Kecuali cinta mereka berdua.

Begitu memabukkannya cinta He Man dan Xie Yu, sampai-sampai mereka bertingkah seperti remaja yang baru saja berpacaran saat berbulan madu. Mereka merekam setiap kejadian dalam hidup mereka. Termasuk saat keduanya menikmati langit malam dan bulan sambil mengendarai sepeda motor.

Namun, seperti nasihat para orangtua; segala hal yang sebarberlebihan akan berakhir tidak baik. Demikian pula dengan bulan madu He Man dan Xie Yu.

Xie Yu and He Man on Honey MoonThe Stolen Years, the movie

Semuanya menjadi kacau tatkala He Man berusaha merekam ciumannya dengan Xie Yu saat mereka mengendarai sepeda motor. Dalam sekejap, adegan romantis mereka berubah menjadi drama saat keduanya menabrak sebuah pohon.

Bulan madu He Man dan Xie Yu pun berakhir di rumah sakit.

Hanya… anehnya, He Man tidak mendapati Xie Yu di sisinya. Ia justru mendapati wajah cemas kakaknya, He Qi. Wanita itu segera bangun dari ranjang rumah sakit dan melompat, mencari Xie Yu. He Man khawatir laki-laki itu mengalami kecelakaan yang lebih parah dari dirinya.

He Qi menghentikan He Man dan mengatakan Xie Yu baik-baik saja. Laki-laki itu malah sama sekali tidak terluka. He Man pun merasa lega, sampai detik berikutnya kakaknya mengabarkan bahwa He Man dan Xie Yu telah bercerai.

Kabar itu tentu saja membuat He Man terkejut setengah mati. Baru kemarin dia menikmati bulan madu dengan Xie Yu, tapi tiba-tiba saja kakaknya mengabarkan bahwa dirinya dan Xie Yu telah bercerai. Selain itu, lima tahun telah berlalu sejak pernikahan He Man dan Xie Yu.

He Man kaget bukan main mendengar hal itu.

Apa sebenarnya yang tengah terjadi?

Ke mana He Man menghilang selama lima tahun itu?

Dan, mengapa He Man dan Xie Yu yang sebelumnya tak terpisahkan justru malah terbelah setelah dipersatukan di hadapan Tuhan?

 

He Man terus menerus memaksa dirinya agar bisa tetap berada di pantai yang diterangi cahaya bulan, tidak ingin seperti orang lain yang berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Waktu tidak bisa menariknya maju ke masa depan, jadi ia ditelantarkan di masa lalu. (hal. 31-32)

Baca juga: People Like Us

 

 

The Stolen Years as a Main Dish

Jika dipandang dari sudut appetizer, The Stolen Years bisa dibilang menggoda—khususnya bagi Artebianz yang demen bacaan manis dan romantis, maka dari sudut pandang main dish, The Stolen Years akan membuat para pembaca yang melahapnya nggak akan melupakan ‘rasanya’ begitu saja.

It leaves an after taste that tingling in your tongue. It tickles you and force you to read it once again right after you close it. Saya belum pernah menonton versi layar lebar yang menginspirasi terciptanya novel ini, jadi penilaian saya cenderung fokus pada jalan cerita yang disusun Ba Yue Chang An.

Dan berikut adalah pengalaman saya membaca melahap dan mencerna The Stolen Years beserta komposisi yang ada di dalamnya.

 

Para Tokoh dan Penokohan dalam The Stolen Years

Salah satu hal yang terpenting dari sebuah cerita adalah tokoh, entah apakah si tokoh berupa bunga atau pohon yang nggak bisa bicara banyak, atau malaikat yang hanya bisa berinteraksi dengan satu orang saja dalam cerita tersebut. Hal ini tentu saja karena perkembangan plot bergantung pada apa/siapa yang diceritakan. Meski plot beberapa novel nggak bisa dibilang berkembang.

Salah satu hal yang saya suka dari The Stolen Years adalah betapa Ba Yue Chang An menampilkan para tokohnya selayaknya manusia nyata. Mereka mampu bergerak dan berbicara dengan bebas tanpa terkekang kemauan penulis. Saya pun dengan mudah menghidupkan para tokoh dan membayangkan novel The Stolen Years bak sebuah film.

Misalnya saja sosok He Man. Saya suka cara Ba Yue Chang An menempatkan detail-detail kecil pada sosok wanita berusia 30 tahun ini, serta bagaimana He Man sendirilah yang menjelaskan detail-detail kecil itu pada dirinya (dan pembaca). Meski detail itu bukanlah detail yang bisa dibilang sifat yang baik pada seorang wanita.

 

Selain kemampuan beradaptasi yang cepat, ia juga punya kelebihan lain, yaitu wajahnya akan dapat menjadi sangat ‘tebal’. Ia mampu ‘menutup erat’ mata dan telinganya hingga seakan tidak mendengar atau melihat apa pun. (hal. 115)

 

Seandainya saja sifat ini masih dimiliki He Man atau disebutkan saat dia dan Xie Yu masih bersama, tentu saja yang saya bayangkan adalah hal yang baik-baik tentang He Man. Tapi tidak. Wanita yang berprofesi sebagai direktur bagian kreatif di perusahaan iklan ini justru menjelaskan sifat yang dimilikinya sejak dulu itu, pada saat Xie Yu sudah mempunyai seorang kekasih.

Naga-naganya, He Man adalah wanita yang memegang prinsip “semuanya adil dalam perang dan cinta”.

Love and MarriageSource of illustration: here

Sementara itu, Xie Yu sendiri—walau dijelaskan sebagai seorang gentleman oleh tokoh lain—tidak kalah dalam hal ketidaksempurnaan. Yang tentu saja satu hal yang manusiawi. Tapi, entah kenapa, sifat gentleman itu malah nggak muncul saat dia berhadapan dengan He Man sekali lagi.

 

Xie Yu tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.

Jelas-jelas tadi, sepulangnya dari restoran Danny, ia masih begitu serius memikirkan cara untuk melepaskan diri jika He Man benar-benar berkeras untuk terus menempel padanya. Apakah ia benar-benar akan menjadi seperti yang dikatakan Danny? Tidak belajar dari pengalaman dan terjerumus ke lembah yang sama…. (hal. 136)

 

Dari kutipan itu, bisa ditebak kalau Xie Yu adalah tipikal tokoh utama pria yang baik hati dan bisa dikatakan lemah, karena dia bisa dengan mudah dipengaruhi dan diperdaya oleh tokoh lain. Dalam hal ini He Man, yang justru dengan seenaknya saja muncul ke dalam hidup Xie Yu setelah wanita itu meminta cerai.

Pria lain pada umumnya pasti akan memanggil keluarga mantan istrinya dan meminta mereka untuk membantunya menjelaskan, kalau perlu memisahkan si mantan istri dari kehidupannya. Tapi tidak dengan Xie Yu. Sifatnya yang gentleman justru membuatnya membatasi diri dengan kekasihnya, Lily, dan malah mendekatkan dirinya dengan He Man. Yang menurut Danny, sahabatnya, telah melukai Xie Yu sedemikian dalam sehingga pria itu nggak bisa dengan mudah memulai hubungan lagi (hal. 181).

Ngomong-ngomong, interaksi antara He Man dan Xie Yu ini mengingatkan saya pada salah satu novel Ika Natassa: Critical Eleven. Mungkin interaksi He Man dan Xie Yu sebelum perceraian bisa jadi mirip hubungan Anya dan Ale.

Tapi, kenapa Xie Yu bisa menerima He Man kembali, setelah luka “yang sedemikian dalam”? Benarkah itu hanya karena sifat gentleman Xie Yu dan dirinya yang menghargai kebersamaan yang mereka miliki sebelumnya? Kalau ya, kenapa pada akhirnya beberapa kali pria itu justru lebih sering menunjukkan punggung dinginnya pada He Man?

Begitu banyak pertanyaan yang bermunculan di benak saya, dan begitu kompleks hubungan yang terjalin antara He Man dan Xie Yu. Dan saya gembira ketika Ba Yue Chang An berhasil mengurai semua pertanyaan saya, dengan lembut dan diksi yang indah.

Baca juga: Priceless Moment - Yang Disisakan Waktu Ketika Ia Berlalu

 

Ba Yue Chang An dan Plot dalam Cerita The Stolen Years

Stolen YearsSebuah cerita yang di halaman pertama berhasil menarik imajinasi pembaca, mengajaknya larut di dalamnya, dan membayangkan susunan kalimat itu menjelma menjadi sebuah adegan layaknya sebuah film adalah sebuah cerita yang sempurna. Atau dalam hal ini sebuah novel yang sempurna.

Inilah yang saya temukan pada saat membaca The Stolen Years. Pada halaman pertama, saya diajak Ba Yue Chang An menyaksikan kehidupan pasangan He Man dan Xie Yu yang penuh kebahagiaan ala drama romance-comedy Asia. Tapi, mellowness dan moodiness yang dibawa oleh ambiance The Stolen Years berhasil memporakporandakan semua hipotesa saya.

For this alone, I already gave both my thumbs for The Stolen Years.

 

Ba Yue Chang An, The Stolen Years, dan Pilihan Kata-Kata yang Indah

Saya dulu pernah membaca salah satu edisi majalah National Geographic tentang Tiongkok dan kebudayaannya. Salah satunya adalah bagaimana mereka mendidik generasi penerusnya.

Bukan hanya dengan sistem pendidikan yang ketat, tapi juga menyeluruh. Dalam artian, bukan hanya kemampuan dalam bidang eksakta yang berusaha ditingkatkan oleh pemerintah, tetapi juga kemampuan literasi. Yang dimulai dari para siswa yang duduk di bangku SD. Salah seorang anak, diminta untuk menuliskan pengalaman liburannya. Dan, salah seorang anak menulis dengan sedemikian indahnya.

Hal ini terbukti pada tahun ini, ketika saya berkesempatan membaca dua novel Mandarin, yang keduanya memiliki persebaran kalimat dengan diksi yang indahnya bikin saya pengin tersepona dan ngikik sendirian. Serta taburan majas.

Beberapa kata-kata indah, menarik, dan majas yang tersebar di The Stolen Years yang saya suka adalah:

1. “Kau mendengkur, aku kentut. Kebiasaan kita yang seperti ini, memang cocok untuk bersama sampai tua.” (hal. 11)

2. … sang waktu telah memberinya begitu banyak pengetahuan baru padanya. Namun, waktu juga telah membawa pergi orang yang paling ia cintai. (hal. 42)

3. He Man berusaha melepaskan diri dari pelukan He Qi bak seekor anjing gila, dan berusaha berlari menuju pintu. (hal. 43)

4. Ia [He Man] cuma bisa terus menunduk, berusaha mencari dengan lebih keras. Mungkin saja, masih ada sedikit sisa roti di tanah. Tak peduli seberapa besar tenaga dan waktu yang akan terbuang, ia tetap harus bertajam sampai titik darah penghabisan. Menemukan jalan untuk pulang. (hal. 146)

5. Alkohol adalah seorang rentenir. Ia bisa memberi kebahagiaan dan keberanian pada kita, tapi pasti juga akan meminta balasan dua kali lipat, dengan membuat kita pusing dan mual berkepanjangan esok harinya. (hal. 231)

Baca juga: Single Ville - Potret Kehidupan Para Lajang

 

 

The Stolen Years as Dessert and the After Taste

The Stolen Years adalah salah satu novel romance terbaik yang saya baca di tahun 2016. Despite the fact that it is one of the novels that read on January Tongue Out

Tapi bisa dipastikan saya akan membaca ulang The Stolen Years untuk sekali lagi merasakan pengalaman kisah percintaan He Man dan Xie Yu, yang seperti permen nano-nano—rame banget rasanya. Atau rasa nyesss di halaman terakhir.

 

 

 

 

PS: yang penasaran ingin tahu berapa bintang yang saya berikan untuk novel Penerbit Haru ini, bisa intip akun Goodreads saya.

PPS: permen nano-nano itu… masih beredar nggak, ya?
So random ya, but I’m so curious.

PPPS: oke, kali ini saya serius bertanya....

Artebianz pengin ikut merasakan sensasi membaca novel The Stolen Years yang seperti roller coaster ini? 

Serius pengin baca?!

Caranya mudah, kamu cukup menjawab pertanyaan saya:

Apa yang bakal Artebianz lakukan ketika kamu mendapat kesempatan untuk kembali ke masa lalu?

Dan, klik halaman giveaway ini untuk melengkapi syarat lainnya  Wink

Baca juga: Intertwine - Takdir Yang Berjalin

 

 

 

Your book curator,

N

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Cinderella dan Wanita Masa Kini: Sebuah Dekonstruksi Dongeng


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


Everlasting - Terkadang, Ada yang Tak Bisa Dihapus Waktu


Siti - Perempuan dan Dalamnya Hati


5 Lagu Indonesia Tahun 90-an Mengesankan Versi Artebia


Goyang Kaki Dan Goyang Lidah Di Lontong Kikil Bu Dahlia


Matcha Cafe: Curhat Ditemani Olahan Green Tea Nikmat


Pantai Sedahan: Sebuah Keindahan Tersembunyi


Nasib Literasi di Era Digitalisasi


My Toilet Prince - Pintu Pertama


Angel's Smile


Dia Ramai Berhening