Dear Nathan, The Annoying Boy

16 Sep 2016    View : 10985    By : Niratisaya


Ditulis oleh       Erisca Febriani
Diterbitkan oleh      Best Media
Disunting oleh      Maskur Priatna
Aksara diselaraskan oleh  Rumah Desain
Desain sampul oleh  Rumah Desain
Diterbitkan pada  April 2016
Genre  fiction, young adult, romance, drama
Jumlah halaman  528
Harga
 IDR99.000,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi

Berawal dari keterlambatan mengikuti upacara pertama di sekolah baru, Salma Alvira bertemu dengan seorang cowok yang membantinya menyelusup lewat gerbang samping. Selidik punya selidik, cowok itu ternyata bernama Nathan; murid nakal yang sering jadi bahan gosip anak satu sekolah.

Beberapa rangkaian kejadian pun terjadi, yang justru mengantarkan Salma untuk menjadi kian lebih dekat dengan Nathan. Dua kepribadian yang saling bertolak belakang, seperti langit dan bumi; yang tidak bisa bersatu tapi saling melengkapi.

Novel ini mengisahkan tentang masa indah putih abu-abu, persahabatan, pelajaran kehidupan, dan pentingnya untuk selalu menghargai perasaan.

 

Ditulis oleh     Inesia Pratiwi
Diterbitkan oleh      Bintang Media
Disunting oleh      Maskur Priatna
Aksara diselaraskan oleh  Tim Bintang Media
Desain sampul oleh  Rumah Desain
Diterbitkan pada  Maret 2016
Genre  fiction, young-adult, romance, drama
Jumlah halaman  428
Harga  IDR79.500,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi

Menjadi pacar cowok populer yang pintar, tampan, disukai banyak guru, dikelilingi cewek cantik, dan tajir seperti Asyraf sudah pasti menjadi impian kebanyakan siswi di SMA Merpati.
Tapi tidak dengan Veera. Cewek yang menjabat sebagai ketua kelas X-5 itu justru merasa dunianya akan berakhir ketika Asyraf dengan tiba-tiba mengakuinya sebagai pacar di depan anak satu sekolah. Jika saja Asyraf murah senyum, mudah bergaul, dan hangat kepada semua orang, sudah pasti Veera akan dengan seang hati menerimanya sebagai pacar. Sayangnya, cowok itu begitu dingin dan menjadi sumber masalah di hidup Veera.

Namun, di balik kesialan yang setiap hari Veera dapat dari Asyraf, justru ada setitik rasa yang muncul di hatinya untuk cowok yang kini mulai menunjukkan sisi hangatnya pada Veera.
Kau meninggalkanku bersama hujan yang selalu kubenci.

Tanpa alasan, tanpa pamit.

Lalu tiba-tiba saja kau kembali datang.

Kupikir kita akan kembali seperti dulu lagi.

Namun nyatanya, kau mengenalku saja tidak.

Aku bagaikan angin lalu yang tak pernah kau lihat.

Tiba-tiba saja, dadaku menjadi sesak.

Untuk apa kau kembali jika hanya menyakiti?

Semakin membuatku benci.

Sampai suatu hari, aku merasa gelisah.

Kau yang dulu bukan seperti kau yang sekarang.

Sangat asing bagiku.

Kau seperti terlahir kembali menjadi orang baru.

Aku pun jadi berpikir, apakah aku telah salah mengenalimu?

 

Gairah menulis di Indonesia tampaknya semakin menguat. Ini terbukti dengan kehadiran Wattpad, Storial.Co, dan di artebia.com sendiri ada Kolase. Apalagi fakta bahwa lewat platform-platform yang ada, kini penulis muda tak lagi kesusahan atau kebingungan saat ingin mencari pembaca karyanya. Tak cuma itu, mereka bahkan bisa menerbitkan karyanya dengan cukup mudah.

Penasaran dengan ‘rasa’ tulisan kreatif, saya memutuskan untuk mencicipi dunia literatur ala Wattpad via Dear Nathan karya Erisca Febriani dan Annoying Boy karya Inesia Pratiwi. Semula, saya mengira faktor-faktor intrinsik dalam novel ini saja sama. Namun, siapa sangka dua novel yang saya pilih ini memiliki kesamaan—yang ajaibnya memiliki lebih banyak persamaan daripada yang saya bayangkan. Ini sebabnya, alih-alih mengulas dua novel tersebut satu per satu, saya pun melakukan perbandingan dan pembedaan atas keduanya.

Dan, Artebianz... SPOILER ALERT!

Dear Nathan, Annoying Boy

Baca juga: Apa Kabar Masa Lalu?

 

 

Compare-Contrast Dear Nathan and Annoying Boy

 

1. Cerita dan Plot

Secara garis besar, baik Dear Nathan maupun Annoying Boy memiliki cerita yang sama: seorang cewek yang jatuh hati pada bad boy di sekolahnya. Pada novel Dear Nathan, si cewek (Salma) adalah seorang murid baru di sebuah sekolah yang secara nggak sengaja bertemu dengan the titular Nathanbad boy yang reputasi kebadungannya diakui oleh sekolah. Sementara itu, Annoying Boy menawarkan cerita bad boy populer bernama Asyraf yang menawan semua gadis kecuali si tokoh utama: Aulia Veera.

Seperti umumnya cerita romansa remaja, perlahan Salma jatuh hati kepada Nathan. Begitu pula Veera kepada Asyraf yang semula dibencinya.

Meski memiliki persamaan pada tokoh utama cowok, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Nathan diceritakan sebagai bad boy yang hanya populer karena kebadungannya. Berbeda dengan Asyraf yang diceritakan memiliki penggemar dari kelas satu sampai kelas tiga.

Dear Nathan             Annoying Boy
“Lo tau nggak, gue hampir dilempar Nathan pake kursi, gara-gara ngaduin dia yang nggak pernah piket ke wali kelas. Gila, kan?” (hal. 16)

Asyraf adalah si ketua geng yang nyaris sempurna dengan kepintaran dan ketampanannya.

Gayanya yang cool sukses membuat cewek-cewek semakin gemas dengannya. Karakter dingin dan misterius seperti Asyraf ini memang selalu jadi idola para gadis muda.

Kekurangannya, dia hanya kurang senyum dan kurang ramah. (hal. 9)

Perbedaan dua tokoh utama inilah yang kemudian menjadi akar perbedaan perkembangan plot dalam cerita masing-masing novel.

Dalam Annoying Boy, Inesia Pratiwi menceritakan Veera berusaha mati-matian menghindari Asyraf yang mendadak menggunakannya sebagai tameng demi ‘menyingkirkan’ para penggemarnya—sekaligus kenangan masa kecilnya yang membuatnya trauma. Plot pun berkembang mengikuti trauma Veera yang terjebak antara pengin menghindari Asyraf, sekaligus menginginkan pemuda itu kembali mengingat masa lalu mereka. And ultimately, menyadari betapa pemuda itu sudah membuatnya terluka bertahun-tahun, sampai-sampai Veera nggak tahan dengan hujan karena selalu mengingatkannya kepada pengkhianatan Asyraf.

“Masih hujan aja!” keluh [Veera] sambil membuka payung yang selalu dibawanya.

Dia benci hujan. Karena hujan yang turut mengantar kepergiannya.

Dia benci hujan. Karena setiap kali hujan, dia selalu mengingatnya. (hal. 8)

 I have to admit, Pratiwi cukup mampu mengontrol perkembangan cerita sehingga plot pun bergulir dengan cukup lancar dan mengantar pembaca pada twist dalam cerita. Walau untuk perkara twist, seperti cerita dan tema novel Annoying Boy, saya nggak menemukan yang baru. Twist ini sering dipakai di drama seri atau film di tahun 1990-an sampai 2000-an.

Di sisi lain, plot cerita Dear Nathan berkembang mengikuti hubungan Salma dan Nathan. Gadis itu semula menghindari Nathan karena takut terhadap reputasi cowok itu yang memang terkenal badung.

Nggak seperti di hadapan teman-temannya yang lain di SMA Garuda, Nathan memperlihatkan sisi lainnya kepada Salma. Cowok badung itu bersikap lembut, menggoda, dan bahkan menyatakan langsung perasaannya:

“Kamu benci saya?”

Salma menatap heran kemudian tertawa renyah. “Jelas enggaklah. Emangnya kata siapa?”

“Bagus kalau gitu.” Nathan memasukkan ponselnya ke dalam saku tapi matanya tertuju pada seraut wajah cewek di depannya. “Saya cinta kamu,” lanjut Nathan skakmat. (hal. 150) 

Berbeda dari Annoying Boy yang memfokuskan cerita dan plot kepada hubungan dua tokoh utama, sesuai dengan judulnya, fokus plot Dear Nathan bukan hanya kepada hubungan Salma dan Nathan. Tetapi juga mengungkap latar belakang kehidupan Nathan, serta alasan kebadungannya.

Dear Nathan

Baca juga: Cheese in the Trap 

 

2. Tokoh dan Karakterisasi

Sebelumnya saya sudah menyebutkan inti dari cerita Dear Nathan dan Annoying Boy (seorang cewek yang jatuh hati pada bad boy di sekolahnya). Maka di sini saya akan menjelaskan lebih jauh persamaan dan perbedaan Dear Nathan dan Annoying Boy, siapa dan bagaimana tokoh-tokoh kedua novel tersebut.

Dear Nathan: Nathan Annoying Boy: Asyraf

1. Merokok:
[Salma] otomatis menolehkan kepala saat mencium aroma rokok menyengat di dekatnya (hal. 5)

2. Penampilan berantakan dan urakan:
Mata Salma memperhatikan cowok itu. Kemeja sekolahnya tidak dimasukkan ke dalam celana, tidak memakai dasi, rambutnya sedikit melewati kerah dan dua kancing teratas terbuka sehingga kaus dalam putih yang dikenakannya dapat terlihat (hal. 6).

1. Asyraf Verdino adalah si ketua geng yang nyaris sempurna dengan kepintaran dan ketampanannya. Gayanya yang cool sukses membuat cewek-cewek semakin gemas dengannya. Karakter dingin dan misterius…. (hal. 9)

2. Asyraf Verdino si cowok ganteng keturunan Pakistan yangpaling populer satu sekolah (hal. 18)

Secara penampilan kedua tokoh utama cowok sesuai dengan karakter dan peranan masing-masing dalam cerita. Dalam Dear Nathan Febriani sempat menjelaskan tentang ketampanan Nathan, seperti Pratiwi menjelaskan tentang ketampanan Asyraf, tapi hanya lewat celetukan salah seorang tokoh (Rahma, di halaman 22). Pilihan Febriani membuat saya merasa ketampanan Nathan nggak terlalu ditonjolkan.

Sebaliknya, pembaca diarahkan untuk mengembangkan imajinasi mereka kepada kenakalan Nathan dan sifat pemberontaknya lewat seragam yang berantakan, juga kebiasaannya merokok. In a way, Febriani secara tidak langsung menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam kehidupan Nathan—dari faktor keluarga, atau mungkin pergaulan Nathan.

Selain itu, penjelasan tentang sosok Nathan secara nggak langsung menunjukkan karakter Salma yang sederhana, polos, dan mewakili pandangan umum. Kalau ditarik lebih jauh, rasa-rasanya wanita selalu mewakili pandangan etika dan moral masyarakat tentang kebersihan, kerapian, dan nilai-nilai. But, I don’t think Febriani was going to take her story that far. As this story merely about the life and love relationship of two teenagers.

Sementara itu, Pratiwi menampilkan tokoh utama Annoying Boy dalam gambaran yang cukup sederhana dan sering digunakan oleh penulis cerita remaja: sosok cowok blasteran ganteng dan luar biasa populer yang punya banyak penggemar. Ini bisa jadi karena cerita Annoying Boy berfokus pada hubungan Veera dan Asyraf serta trauma gadis itu. Sehingga, meski judul cerita menyorot the boy, sebenarnya yang menjadi sorotan Pratiwi adalah Veera dan traumanya, yang berhubungan dengan si cowok menyebalkan—aka Asyraf.

Personally, I much comfortable with Febriani way’s of explaining her male main character. Kebanyakan pembaca, apalagi remaja, sudah pasti membayangkan setiap tokoh cowok (atau cewek) dalam sebuah cerita sebagai tokoh yang ganteng (atau cantik). Thus, an author should focus more on physical traits and the habit of the main character(s) which can be seen. From that point, the author can subsequently explain the attractiveness of the main character(s) without really guiding and point out directly about how (physically) attractive is the main character.

Boy Meets Girl

Dear Nathan: Salma Annoying Boy: Veera
  Untungnya, wajah Veera nggak jelek-jelek banget. Dengan kulit putih pucat, tubuh mungil, dan wajah oriental yang imut, dia bisa dibilang cukup cantik dan berbeda. Setidaknya tida tidak terlalu memalukan untuk digandeng seorang Asyraf (hal. 18-19).

Koreksi saya kalau saya salah, Artebianz. Tapi saya merasa tidak menemukan penjelasan apa pun mengenai ciri-ciri fisik Salma yang dipaparkan Febriani dalam novel Dear Nathan. Kecuali penjelasan mengenai nama dan posisinya di sekolah: …nama kepanjangannya Salma Alvira. Murid pindahan dari Bandung… (hal. 10).

Saya hanya mendapatkan sedikit penjelasan mengenai karakter Salma dari kalimat-kalimat yang secara nggak langsung menerangkan bagaimana sosok Salma. Misalnya seperti kalimat di halaman 10: Dulu di Bandung, Salma sekolah di SMA yang rata-rata anak lakinya kalem dan tidak banyak ulah. Kebanyakan di kelasnya adalah murid kutu buku dan berkacamata.

Fakta bahwa Salma adalah murid pindahan dari sebuah sekolah yang kebanyakan muridnya bersikap kalem dan penurut, mengatakan bahwa Salma berbeda dari teman-teman di sekolah barunya. Dia nggak ceplas-ceplos seperti Afifah yang langsung mengatakan apa pun yang ada dalam pikirannya. Atau Rahma yang bisa dengan menggebunya mengejar sesuatu, terutama bakso di salah satu warung di kantin sekolahnya. Salma adalah seorang gadis (yang kemungkinan) kalem seperti teman-teman di sekolah lamanya.

Masalah apakah dia cantik atau nggak… mungkin bisa dibilang Salma punya daya tarik—dari gayanya yang (mungkin) lembut dan kalem. Ini terbukti dari sikap Nathan yang berbeda terhadap Salma. Cowok yang terkenal badung dan suka mencari gara-gara di sekolahnya itu malah menolong Salma. Sementara itu, tentang teman-teman Nathan yang menggoda Salma (hal. 29-30), ada dua kemungkinan: itu hanya reaksi remaja laki-laki saat melihat lawan jenis, atau Salma memang menarik perhatian mereka karena dia cantik dan belum mereka kenal. She’s the new student at the school.

Selain itu, fakta bahwa Febriani nggak menjelaskan penampilan fisik Salma mengizinkan pembaca (khususnya cewek) untuk membayangkan diri mereka sebagai Salma, sekaligus menjadikan Salma sebagai wakil dari para cewek kebanyakan. Remember how she saw Nathan for the first time and what she thought about him when they’re standing together? Saya merasa di situ Salma menjadi wakil dari kebanyakan prim and proper girl yang menilai cowok dari penampilan luar mereka. Seperti tokoh Cinta dalam AADC. Sayangnya, Febriani kurang menggarap bagian ini.

Alih-alih menampilkan Salma sebagai cewek prim and proper, seperti kesan pertama yang saya tangkap dari sosok Salma, saya merasa Febriani menampilkan Salma sebagai Bella Swan. Seorang cewek pindahan yang tertawan pada pesona bad boy di sekolahnya, tapi terlalu takut untuk mendekat. Sampai akhirnya Nathan sendirilah yang mendekati Bella Salma lebih dulu. Di sini saya merasa menyayangkan pilihan dan perkembangan yang dilakukan Febriani.

Di sisi lain, ada Pratiwi yang menjelaskan sosok Veera dengan cukup gamblang, seperti yang tertera dalam tabel. Meski demikian, saya nggak menangkap perbedaan yang terlalu mencolok dari sosok Salma dan Veera. Meski dikatakan “cukup cantik” sehingga nggak akan membuat malu Asyraf, Veera nyatanya memiliki masalah dengan kepercayaan dirinya. Di awal kalimat Veera dikatakan memiliki wajah yang “nggak jelek-jelek banget”, yang menurut saya kontradiktif dengan paparan “cukup cantik”.

Kata-kata “nggak jelek-jelek banget” menjelaskan bahwa Veera memiliki wajah yang biasa, tapi nggak terlalu jelek. Sementara itu, “cukup cantik” mengacu pada kenyataan bahwa Veera cantik tapi nggak secantik cewek populer di sekolahnya—katakanlah Bella, seperti alur dalam cerita Annoying Boy.

Entah Pratiwi ingin menunjukkan kerendahan hati—yang kemudian berubah jadi kerendahan diri, aka ketidakpercayaan diri—Veera saat berada di hadapan Asyraf, cowok populer yang nyaris sempurna. Saya paham bahwa ini adalah novel remaja dan kebanyakan novel remaja memang menggunakan penjelasan yang demikian. Tetapi, ada kalanya seorang penulis sebaiknya menghemat penjelasan dan fokus terhadap apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan lewat tokohnya dan bagaimana dia menggambarkan si tokoh tanpa penjelasan yang rumit dan kontradiktif.

Saya nggak ingat di mana, tapi saya pernah membaca sebuah kutipan dari seorang penulis yang mengatakan, pembaca nggak punya banyak waktu untuk membaca penjelasan yang bertele-tele, hematlah waku pembaca.

It is fairly fine if an author wanted to give a nitty gritty details in her/his story. However, it is a waste of time if her/his details is contradictive or doesn’t support her/his story.

Annoying Boy

 Baca juga: Orange Marmalade

 

3. Setting

Untuk setting, sebagai cerita remaja, tentu saja Dear Nathan dan Annoying Boy menggunakan setting yang sama: sekolah, khususnya SMA. Yang tentu saja membuat kedua novel remaja ini mempunyai kesamaan untuk karakter pendukung cerita mereka. Seperti teman-teman yang polos seperti Ucup untuk novel Dear Nathan dan Ojan untuk novel Annoying Boy.

Namun, untuk setting, saya merasa Febriani lebih detail dibanding Pratiwi. Dalam beberapa kesempatan, Febriani menggunakan setting untuk Dear Nathan. Baik berupa teman-teman yang menjadi penjelas latar belakang tokoh, terutama Nathan, maupun sekolah itu sendiri. Meski demikian, saya menemukan paparan cerita yang cukup kontradiktif. Misalnya seperti penjelasan singkat di halaman 10 yang menyebutkan bahwa sekolah Nathan, SMA Garuda, adalah salah satu sekolah favorit di Jakarta. Sayangnya, hal ini nggak diimbangi dengan perilaku teman-teman Nathan maupun Nathan sendiri, terutama di halaman 20-21, yang menceritakan bagaimana Nathan dan para seniornya di kelas tiga berkumpul di kantin sambil menyanyikan lagu dangdut.

Catatan, Artebianz, saya nggak keberatan dengan lagu dangdut atau pilihan Febriani yang memilih lagu dangdut sebagai karakteristik anak-anak bengal di sekolah Nathan. Tetapi, fakta bahwa sekolah Nathan dan Salma sebagai sekolah favorit membuat saya mengernyit. Tentu saja ada kemungkinan anak-anak bandel yang berkumpul dan berbuat onar di sekolah dengan bernyanyi, regardless whatever the song they sang. Tetapi ada baiknya Febriani nggak menyertakan embel-embel sekolah favorit.

Meski saya tinggal di Surabaya, saya yakin situasi di sekolah favorit di satu kota dengan kota lain nggak akan terlalu berbeda. Senakal-nakalnya anak di sekolah favorit mereka nggak akan sampai mencuri parfum anak cewek, mengambil sepatu murid lain dan melemparnya ke luar kelas, atau mengambil kursi dan berniat melemparkannya ke murid cewek (hal. 16). Saya yakin, setiap sekolah favorit pasti punya guru BP yang ‘favorit’ juga sehingga kedisiplinan di sekolah terjaga. Menurut saya, situasi dan kenakalan di SMA Garuda lebih pas dan pantas dengan suasana di sekolah daerah pinggiran.

Baca juga: Looking Through Rose-tinted Memory

 

4. Bahasa dan Gaya

Setting dan tokoh yang memiliki latar belakang sekolah menengah atas, membuat bahasa dan gaya novel Dear Nathan dan Annoying Boy lebih bebas dan fresh. Saya sendiri nggak terlalu keberatan dengan gaya bahasa yang dipilih Febriani dan Pratiwi. Hanya, dalam beberapa kali kesempatan membaca kedua novel ini saya merasakan ketidaknyamanan pribadi.

Untuk novel Dear Nathan, saya merasa Febriani beberapa kali menggunakan kata “skakmat” seperti dalam kalimat: “Saya cinta sama kamu,” lanjut Nathan skakmat (hal. 150).

Kata “skakmat” seharusnya ditulis “sekakmat”. Selain itu, penggunaannya seharusnya didahului tanda koma “,” supaya nggak terkesan kaku. Atau ditulis saja “Nathan menyekakmati Salma”, sehingga lebih luwes saat dibaca.

Boy Meets Girl

Hal kedua adalah penggunaan kata “saya” oleh Nathan saat dia berbicara dengan Salma. Secara pribadi, menurut saya, penggunaan kata ganti ini mengurangi ‘kebengalan’ Nathan dan meng-counter kenakalan Nathan yang dikatakan bocah terbengal di sekolah. Apalagi setting yang dipilih oleh Febriani adalah Jakarta, bukan Bogor, Bandung, atau kota lain di Indonesia yang memungkinkan sosok tokoh bengal untuk bersikap lebih lembut kepada tokoh utama perempuan.

Detail lain yang terlewat dari pengamatan editor novel ini adalah penggunaan kata-kata “adek ini” dalam kalimat Duile, Adek ini manis deh, anak baru ya?....” (hal. 29).

Kata “adek” di sini seharusnya nggak perlu ditulis dalam format kapital karena lebih mengacu kepada subjek ketimbang menjadi kata ganti. Seperti "perempuan ini", "laki-laki ini", "orang tua itu", dan lain sebagainya.

Untuk keseluruhan, saya nggak terlalu mempermasalahkan gaya bahasa Febriani yang cukup seimbang dengan cerita dan sosok tokoh novel bergenre young adult ini. Selain kesalahan redaksi yang menjadi tanggung jawab editor dan anggota redaksi penerbit yang lain, saya merasa bahasa dan gaya Febriani masuk ke dalam kategori acceptable.

Di pihak lain, saya merasa agak kecewa dengan bahasa dan gaya pilihan Pratiwi yang sedikit flowery dan nggak diimbangi oleh perkembangan plot serta cerita. Misalnya pada bagian prolog:

Tak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan ditinggalkan tanpa alasan. Pergi begitu saja tanpa pamit, meninggalkan kekecewaan yang amat pahit.

Di dalam pekat, ia tercekat. Semakit dekat sang hitam melekat. Menangis sendirian sambil menjerit. Meremas dada yang amat sakit. Bersimpuh lemah diguyur hujan yang mengantarkan kepergiannya. Seseorang yang sudah ia tetapkan sebagai cinta pertama (hal. 5).

Dua paragraf itu menunjukkan betapa ‘berbunganya’ diksi Pratiwi. Saking berbunganya sampai nyaris menyerupai puisi atau puisi esai. Saya nggak akan keberatan seandainya Pratiwi meneruskan pilihannya sampai di halaman terakhir. Sayangnya, dia nggak melakukan hal ini. Atau seandainya Pratiwi, atau redaksi, mengubah bagian prolog tersebut menjadi tulisan tangan Veera, sehingga pembaca seolah tertarik lebih jauh ke dalam dunia Veera dan traumanya. Ketimbang sekadar diberi penggambaran tentang sakit hati Veera.

Selain itu, ketidaknyaman saya lainnya adalah ketika Pratiwi gonta-ganti menggunakan kata “nggak” dan “tidak”, bahkan dalam satu paragraf. Misalnya seperti di halaman 18-19:

Untungnya, wajah Veera nggak jelek-jelek banget. Dengan kulit putih pucat, tubuh mungil, dan wajah oriental yang imut, dia bisa dibilang cukup cantik dan berbeda. Setidaknya tidak tidak terlalu memalukan untuk digandeng seorang Asyraf.

Secara pribadi, saya merasa bahasa cakapan seperti “capek”, “adek”, atau “nggak” lebih pas kalau digunakan dalam dialog. Saya merasa bahasa formal lebih pas digunakan untuk penjelasan dalam narasi, seperti penggunaan “tidak”. Namun, pilihan sekali lagi kembali kepada penulis dan cerita yang ditulisnya. Asalkan si penulis menggunakannya secara konsisten. Sekali menggunakan “nggak” dia harus menggunakannya hingga halaman terakhir cerita, begitu juga dengan kata “tidak”.

Kesamaan lain yang saya dapati setelah membaca halaman pertama adalah ketika saya mengetahui bahwa baik Dear Nathan maupun Annoying Boy memiliki editor yang sama. Di situ, saya merasa seharusnya sang editor bisa menyeimbangkan kualitas dan redaksi kedua novel sehingga lebih smooth dan nggak terkesan langsung terbit setelah melewati beberapa kali proses membaca.

Saya pribadi merasa secara redaksi dan kualitas tulisan, Dear Nathan lebih smooth ketimbang Annoying Boy. Seharusnya redaksi paling nggak bisa menyeimbangkan kualitas kedua novel, menimbang kedua penulis ditangani oleh editor yang sama.

Namun, entah kalau pada kenyataannya, sang editor dikejar-kejar oleh deadline yang ketat.

Baca juga: Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi?

 

 

Dear Nathan and Annoying Boy All In All

Sosok bad boy yang populer (entah karena ketampanan, kecerdasan, atau kebengalannya), cewek umum yang mirip sosok damsel in distress yang suka sastra, suasana sekolah yang diwarnai sahabat cewek yang hobi ngerumpi, teman sekolah yang polos bordering ke cupu…. Inilah yang beberapa hal yang sering saya jumpai dari novel young-adult Indonesia. Dua di antaranya adalah Dear Nathan dan Annoying Boy yang kemudian memancing saya menulis artikel ini.

Boy Meets Girl

Namun, lebih dari itu, saya terpukau kepada kekuatan Wattpad yang membuat siapa pun bisa menembus penerbit besar—asalkan ceritanya sudah dibaca 4 juta (menurut angka di cover Annoying Boy) sampai 10 juta (menurut angka di cover Dear Nathan) orang. Dari segi marketing, saya nggak menyalahkan pihak penerbit. Siapa pun pasti akan melirik penulis-penulis yang sudah memiliki pangsa pasar dan fanbase yang besar.

Di sisi lain, karena sudah dalam wujud fisik dan bersifat komersil, saya mengharapkan penerbit mampu mengangkat kualitas penulis-penulis yang besar dari komunitas Wattpad. Sehingga ada perbedaan antara tulisan yang lahir lewat tangan penulis sendiri dan melalui semangat si penulis untuk menceritakan sebuah kisah yang mengganggu pikirannya, serta tulisan yang lahir dari pengawasan penerbit yang menurut saya lebih memiliki pengalaman dalam menjaga kualitas tulisan.

Adalah berita baik ketika banyak penulis baru yang bermunculan di dunia kepenulisan. Namun, alangkah lebih baik lagi jika diimbangi dengan kualitas tulisan yang sepadan dengan semangat untuk menerbitkan buku. Apalagi dengan harga novel yang nyaris setara dengan harga makanan di restoran all you can eat.

Baca juga: (K)Aku




Your book curator,

N



Sumber ilustrasi logo boy meets girl: boymeetsgirlusa.com


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Petualangan bersama Einstein: Bumi yang Bergolak


The Fault in Our Stars - Secercah Kebahagiaan dalam Duka


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Baegopa Malang - Ada Harga Ada Rasa


Oost Koffie & Thee - Rumah Kopi dan Teh yang Menawarkan Lebih Dari Kenyamanan


Gili Labak - Surga Tersembunyi Di Pulau Garam


Literasi Agustus: GRI Regional Surabaya - Muda untuk Sastra


My Toilet Prince - Pintu Pertama


Twist and Shout (Part 3-Final)


Hujan Sepasar Kata