Tentang Gaya Penceritaan Orizuka - Dari Manisnya Cinta Sang Pangeran Hingga Pahitnya Skripsi (II-The End)

03 Oct 2014    View : 2509    By : Niratisaya


Seorang penulis tidak cukup sekadar menuliskan apa yang dikuasainya. Inilah yang saya tangkap dari perkembangan tulisan Orizuka. Berhasil menguasai genre romance-comedy, di 2008 Orizuka seakan berusaha menerjuni genre-genre lain. Pada tahun itu ia menulis The Truth about Forever17 Years of Love Song, dan The Shaman. Tidak seperti dua novel sebelumnya—yang berkonsentrasi pada genre drama, romansa, dan potongan kisah kehidupan—The Shaman adalah novel horor yang ditulis berdasarkan film dengan judul yang sama.

 

Drama and So Many More from Orizuka

Nah, mari kita mulai dengan The Truth abouth Forever. Setelah membaca karya-karya Orizuka sebelumnya yang senapas, saya cukup terkejut ketika pertama kali membaca novel ini dan mendapati kenyamanan yang dulu tidak saya dapatkan dari Summer Breeze. Meski terdapat warna yang sama (emosi dan permasalahan kehidupan remaja), saya tidak lagi merasa kecewa. Secara keseluruhan pace The Truth about Forever nyaris sama dengan Summer Breeze, akan tetapi pada novel yang berlatar belakang kota Yogyakarta ini Orizuka menggunakan deskripsi kontemplatif menggunakan sudut pandang Yogas, tokoh utama novel.

Melalui Yogas—si pemuda penyendiri, emosional, dan sedikit antisosial—Orizuka menghadirkan warna The Truth about Forever, yang sedikit biru dan gelap. Mungkin itulah yang membuat saya “siap” dengan segala apa yang akan dihadirkan oleh Orizuka ketika saya membalik lembar demi lembar novel terbitan Gagas Media tersebut.

The Truth about Forever bercerita tentang perjalanan Yogas, seorang pemuda yang divonis tidak akan berumur panjang. Vonis tersebut membuatnya kembali teringat pada seorang temannya, yang menyalakan dendam dan menghidupkan kegelisahannya. Di tengah pencariannya, ia bertemu dengan Kana dan tantenya. Tinggal di lingkungan keluarga Kana yang begitu “hidup” perlahan mengubah sosok Yogas dan pandangannya tentang kehidupan.

Bila di Summer Breeze saya merasa Orizuka masih mengandalkan dialog demi menggambarkan karakter, dalam The Truth about Forever dengan seimbang Orizuka memberikan porsi untuk paragraf deskripsi dan dialog. Selain itu, aspek lain yang membuat drama dalam novel ini tidak terlalu berlarut adalah kehadiran sosok Kana dan Bulik yang ceria serta tak tanggung-tanggung saat menerobos masuk ke dalam hidup Yogas.

Dan endingnya… apa saya harus menceritakan endingnya Artebianz? Saya yakin Anda akan lebih puas saat membaca novel ini. Seperti saya ketika sampai di halaman terakhir.

Bagai seorang pembalap yang tengah berpacu di sirkuit, usai menerbitkan The Truth about Forever Orizuka menerbitkan 17 Years of Love Song.

Mulanya saya mengira dengan judul mencatut kata “song”, novel ini akan bercerita tentang kehidupan pecinta musik, tapi tidak. Novel ini justru berangkat dari sudut pandang Leo yang menggemari baseball. Namun ia berakhir main baseball sendiri sejak kedua orangtuanya berpisah dan ia ikut dengan ibunya ke sebuah desa, tempat di mana ia bertemu dengan Nana. Seorang gadis yang mengubah kehidupan Leo. Dan dari kegemaran gadis itulah judul novel ini mengambil kata “song”.

(Diambil dari ertalin.blogspot.com)

To tell you the truth, Artebianz dan readerizuka, pada saat membaca novel ini entah mengapa saya kembali teringat pada Summer Breeze.

“Hei… kok bandinginnya sama Summer Breeze melulu?!”

“Kenapa nggak bandingin sama The Truth about Forever?”

Sorry, can’t help it. And I’ll get there. Izinkan saya menjelaskan dulu satu per satu.

Bukan hanya karena memiliki genre dan “warna” akhirnya saya membandingkan 17 Years of Love Song dengan Summer Breeze, tetapi juga karena setting dan background karakter juga terasa sama. Walau sebenarnya usia karakter-karakter dalam Summer Breeze lebih tua ketimbang 17 Years of Love Song. Namun pace serta bagaimana Orizuka mengurai kehidupan Leo dan Nana pun rasanya serupa.

Penggunaan kata ganti yang dipakai Leo pun tak kurang membuat saya kurang bisa menikmati novel ini. Mungkin memang ada remaja laki-laki yang berbicara dengan menggunakan kata “saya”—bahkan saya pun menggunakan kata ganti ini. Tapi hanya saat tertulis dan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, atau dalam suasana bisnis. Namun Leo berbicara dengan teman sebayanya menggunakan kata ganti “saya”, yang rasanya janggal.

Dan itu adalah sebab mengapa saya tak menyamakannya dengan The Truth about Forever. Berbeda dengan Leo, Yogas menggunakan kata ganti “gue”, bahkan setelah ia dan Nana saling memahami perasaan masing-masing.

Memang, ini masalah kecil. Tapi Artebianz dan readerizuka, menurut pendapat saya, penggunaan kata ganti akan mendukung penggambaran sosok tokoh hingga menjadi “manusia” yang utuh. Bukan hanya sekadar karakter yang mulutnya dipinjam oleh seorang pengarang untuk menyampaikan suatu hal. Selain itu, pada bagian monolog Leo, ia berulang kali menggunakan kata “aku”, yang saya rasa lebih pas.

Bicara tentang penggunaan kata ganti “saya”, menurut pendapat pribadi saya, Orizuka baru menerapkannya dengan pas ketika menulis Jurnal Raya, yang dipostingnya di situsnya (orizuka.com). Di sana Raya menjelaskan mengapa ia menggunakan kata “saya” ketimbang "aku" saat menulis jurnalnya.

Akan tetapi, ada yang saya sukai dari novel 17 Years of Love Song ini, yaitu bagaimana Leo ditampilkan sebagai sosok yang kontemplatif. Sekuen cerita 17 Years of Love Song bukan hanya disampaikan dari sudut pandang Leo, tapi juga dengan gaya mengenang, di mana Orizuka menampilkan Leo di masa mudanya dan ketika pemuda itu berada 17 tahun dari masa tersebut. Hence, the "17 Years of Love Song" title.

Meski saya sempat menyinggung tentang The Shaman sebelumnya, tapi di artikel ini saya tidak akan membahasnya. Tidak. Bukan karena genre novel tersebut atau cerita pengalaman Orizuka saat menyelesaikan novel tersebut membuat saya takut. Tapi karena saya tidak membacanya Laughing

Karena itu, mari kita lanjutkan dengan Fate yang diterbitkan tahun 2010. Mengusung cara bercerita yang sederhana tidak akan pernah terasa membosankan. Setelah menulis dengan “dua kesadaran” dalam 17 Years of Love Song, Orizuka kembali dengan gaya menulis umum dan paling dasar pada novel ini.

(Fate cover baru)

Fate menceritakan kehidupan dua bersaudara Min Ho dan Min Hwan. Walau memiliki nama keluarga yang sama, keduanya hidup di dua benua yang berbeda dan lahir dari ibu yang berbeda. Min Ho lahir dari istri resmi Jang Dae Gwan, sedangkan Min Hwan dari seorang wanita yang berprofesi sebagai pelacur.

Setelah bertahun-tahun tak bertemu, Min Ho dan Min Hwan kembali dipertemukan dalam suasana pelik akibat kematian ayahnya yang kemudian mengungkap segala rahasia keluarga Jang. Termasuk cinta segitiga dua bersaudara tersebut dengan teman semasa kecil mereka, Adena

Semenjak kecil, Adena yang tinggal bersama keluarga Jang jatuh hati pada sosok Min Ho. Akan tetapi yang jatuh hati pada gadis itu justru Min Hwan. Sementara Min Ho hanya menganggapnya sebagai adik, sampai akhirnya ia mengerti apa yang dirasakannya.

Entah karena menceritakan situasi yang didominasi oleh dua karakter berlatar Negeri Ginseng, novel ini ditulis dengan gaya semi-baku dan kalau saya boleh mengatakan, nyaris seperti buku terjemahan kalau saja Orizuka tidak mengimbanginya dengan dialog yang serupa bahasa sehari-hari (khususnya Denam panggilan Adena). Secara sekilas, paduan keduanya mungkin akan terasa aneh. Namun Orizuka mampu menampilkannya dengan apik sehingga saya sama sekali tidak merasa terganggu.

Bila ada yang mengusik saya itu adalah sosok Adena, yang nyaris seperti kebanyakan karakter rekaan Orizuka,yang jatuh hati dengan kebudayaan asing (Korea). Tapi sosok Adena ini tidak sampai mengganggu proses saya dalam mencerna Fate.

Mengenai beberapa tokoh yang tergila-gila dengan kebudayaan oriental, hal ini mungkin karena latar belakang Orizuka sendiri yang menggemari hal-hal berbau Korea dan Jepang, sehingga berimbas pada kehidupan para tokoh rekaannya. Serta kebanyakan jalan cerita dalam novel-novel Orizuka.

Dengan saya mengulas Fate, berakhirlah review saya atas perkembangan tulisan Orizuka.

Memang masih banyak karya Orizuka yang belum saya ulas, saya bahkan belum sampai di novel The Chronicles of Audy: 21 (seri kedua Audy). Selain itu, Fate bagi saya menjadi titik di mana Orizuka mengembangkan kemampuannya. Bukan hanya sebagai penulis yang mampu menguasai area romance-comedy, tetapi juga drama dan sepotong kisah kehidupan. Tapi saya janji, akan segera mengulas seri novel yang mematahkan satu pendapat saya tentang Orizuka.

Apa itu?

Sila tunggu Smile

 

 

 

Artikel terkait:

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Edwin Ruser dan KoreanUpdates - Menghidupkan Mimpi Lewat Passion


Einstein Aja Ingin Tahu! (Jilid 2)


Orange Marmalade: Saat Cinta Tidak Memandang Dunia (2015)


Happy - Mocca Band (Dinyanyikan Ulang Oleh Aldin)


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


Lembah Rolak


Wana Wisata Sumberboto - Keindahan Alam yang Masih Dipandang Sebelah Mata


WTF Market Kembali All Out Untuk Surabaya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Murni dan Tahun Baru


Mimpi Retak dan Angan-Angan di Biru Langit