Serendipity - Serangkaian Kejutan dalam Karya Kedua Erisca Febriani

24 Nov 2016    View : 9091    By : Niratisaya


Ditulis oleh

: Erisca Febriani
Diterbitkan oleh : Inari
Disunting oleh : Adeliany Azfar, Gita Romadhona
Desain sampul oleh : Indah Rakhmawati
Desain isi oleh : @teguhra
Diterbitkan pada : November 2016
Genre : fiksi, young adult, romance, drama, mellow, slice of life, coming-of-age
Jumlah halaman : 424
Harga : IDR89.000,-
Koleksi : Perpustakaan Artebia - Kerja Sama dengan Penerbit Inari

 

Dulunya, Arkan dan Rani adalah sepasang kekasih. Tiba-tiba, di sebuah taman kota, Arkan mengikrarkan bahwa mereka harus berpisah.

Dua bulan telah berlalu. Sekarang, meskipun mereka satu kelas, Arkan tidak pernah lagi menyapanya. Kadang, memang selucu itu; mereka yang dulu bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol tentang apa pun, kini bahkan tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan ‘hai’ atau ‘selamat pagi’.

Rani tahu Arkan membencinya. Rani tahu ini kesalahannya. Tapi Arkan seharusnya mendukungnya. Dia sedang berusaha bertahan hidup.

Dengan segala kemampuannya, dengan segala perisai dan kekuatannya, Rani berusaha bertahan dan berdiri tegak.

 Serendipity

Cinta dan kehidupan remaja adalah dua hal yang sering menjadi inspirasi seorang penulis. Selain karena keduanya selalu topik hangat, setiap orang pasti pernah mengalami masa remaja. Tidak terkecuali Erisca Febriani, penulis yang besar lewat platform kepenulisan Wattpad dan merebut hati para pembaca—khususnya remaja. Setelah sebelumnya berhasil dengan novel Dear Nathan, kini gadis kelahiran Bandar Lampung 25 Maret ini kembali dengan karya keduanya yang berjudul Serendipity.

Di novel Serendipity, Febriani menceritakan kehidupan sepasang kekasih: Rani dan Arkan. Dua orang yang duduk di bangku SMA ini memiliki latar belakang keluarga yang nyaris serupa. Mereka hidup dalam situasi keluarga broken home. Arkan dengan orangtuanya yang sering bertengkar karena ayahnya berselingkuh, sedangkan Rani harus hidup dengan ibunya yang acapkali berbohong dan bersikap acuh tak acuh kepadanya.

Hubungan Rani dan Arkan mulanya berjalan dengan baik, meski keduanya berbeda; Arkan dijuluki sebagai cowok yang sempurna (cerdas dan menjabat sebagai kapten tim basket sekolah), sementara Rani justru sebaliknya—kecerdasannya disebutkan standar dan nggak populer (hal. 27). Namun, itu nggak menjadi halangan bagi Arkan.

Taken from Hormones
"Arkan masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap Rani yang menjauh. Di genggamannya, masih terasa hangat dan rasanya dia masih tidak rela menghilangkan rasa itu." (halaman 282)

Sampai akhirnya Arkan menemukan Rani, yang terkenal polos di sekolah, masuk ke sebuah hotel bersama seorang pria yang kemudian diketahuinya bernama Andre. Keesokan harinya, Arkan pun menanyai Rani. Gadis itu nggak menjawab. Tetapi, sikap dan gestur tubuh Rani cukup bagi Arkan. Pada saat itu juga Arkan memutuskan hubungannya dengan Rani.

Selang sehari, mendadak di sekolah beredar gosip miring tentang Rani. Gadis itu pun secara otomatis mengarahkan tuduhan kepada Arkan yang bersikap dingin dan ketus kepadanya. Rani yakin Arkan-lah yang menyebarkan gosip yang nggak mengenakkan itu dan membuat semua teman-teman sekelas mereka menjauhi Rani, termasuk Jean, sahabatnya.

Beruntung, muncul Gibran, seorang murid baru di sekolah Rani yang tanpa henti berusaha mendekati Rani, meski gadis itu memasang sikap kasar kepadanya. Rani yang semula yakin Gibran nggak jauh berbeda dengan teman-teman sekelasnya yang lain—yang akan meremehkan dirinya. Tetapi, Rani salah. Bukan hanya bersikap bersahabat, Gibran juga menjadi sosok menghibur bagi Rani yang dikucilkan di sekolah.

Di sisi lain, Arkan yang bersumpah menjauhi Rani, justru merasa terganggu oleh kehadiran dan sikap Gibran terhadap mantan pacarnya. Arkan tadinya berhasil memasang dinding dan sikap tak acuh kepada Rani, perlahan mulai memperhatikan Rani kembali.

Apa Arkan mulai sadar kalau dia masih mencintai Rani?

Atau dia sekadar terganggu kehadiran Gibran yang menjadi pelindung Rani?

Benarkah Gibran jatuh cinta kepada Rani—atau dia hanya seorang playboy?

Apa benar Arkan yang menyebarkan gosip nggak menyenangkan tentang Rani?

Dan, yang paling penting; apa gosip mengenai Rani benar?

Ada banyak pertanyaan dan kejadian saling berkaitan yang dirangkai Febriani dalam Serendipity, yang menunggu kalian baca dan ungkap, Artebianz.

Taken from Hormones

"Lo nggak tahu apa-apa, Gib. Ada sesuatu yang di dunia ini nggak bisa diubah. Kalau seseorang ngebenci lo, bagaimanapun cara lo terlihat baik, semua pasti bakal kelihatan salah di matanya...." (hal. 69)

Baca juga: Ngobrol Santai dengan Goodreads, Klub Buku, dan Mahfud Ikhwan

 

 

Serendipity dan Serangkaian Perkembangan Erisca Febriani

Sebagai karya kedua, tentu saja wajar bila pembaca Febriani (baca: saya) membandingkan Serendipity dengan Dear Nathan. Sebagai salah satu pembaca yang dibuat penasaran dengan perkembangan penulis yang berkuliah di Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, ini. Syukurlah, saya menemukan perkembangan yang berarti dalam karya kedua Febriani dibanding karya perdananya.

Beberapa di antaranya:

1. Bagaimana Febriani meramu plot dan cerita Serendipity.

Jujur, saya harus mengatakan plot dan cerita Dear Nathan benar-benar loose. Beberapa tokoh seakan menjadi filler dalam cerita karena nggak muncul di awal cerita. Hal ini berbanding terbalik dengan Serendipity.

Setiap tokoh dalam Serendipity nggak sekadar menjadi filler untuk mendukung pergerakan plot dan cerita. Misalnya saja sosok Jean, sahabat Rani….

Jean, gadis berambut hitam sebahu itu adalah teman sebangku Rani, sekaligus sahabatnya sejak kelas 10. Beruntung sekali karena di kelas 11 ini, mereka kembali menjadi teman sekelas. (hal. 19)

Sedari awal, Jean muncul sebagai sosok sahabat Rani yang diceritakan memiliki hubungan pertemanan yang demikian erat dengan Rani. Jean selalu setia berada di sisi Rani, bahkan ketika gosip yang nggak mengenakkan tentang Rani terdengar olehnya. Tetapi, untuk memperkuat konflik dan memunculkan karakter kuat dalam sosok Rani Andromeda ini, Febriani harus memutuskan ikatan persahabatan antara Rani dan Jean—tanpa memutuskannya dengan seenak hati atau nggak memperhatikan detail-detail kecil dalam cerita.

Seperti fakta bahwa remaja lebih banyak dipengaruhi oleh orang-orang terdekatnya. Dalam kasus Jean, pacarnya.

Arkan Kamajaya

Di setiap embus napas yang dihelanya, meskipun Arkan membunuhnya berkali-kali, kenangan itu terus hidup. (hal. 83)

 Baca juga: Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri

 

2. Peranan karakter pendukung dalam Serendipity

Dalam buku Warren dan Wellek, Theory of Literature, karakter dalam dunia fiksi yang baik adalah karakter yang ‘hidup’, dalam artian nggak sekadar menjadi boneka bagi si penulis untuk membangun cerita. Untuk hal ini, saya merasa Febriani cukup berhasil.

One of the examples is Gibran, the second male lead in Serendipity.

Beberapa cerita percintaan, baik Young Adult maupun Adult, lebih sering memanfaatkan second male lead sebagai “sosok second”—ada untuk melengkapi cerita dan membuat the first male character cemburu dan kembali kepada (atau dalam beberapa kasus segera menunjukkan perasaannya) the first female.

Gibran dalam Serendipity menurut saya malah terasa hidup dan mencuri perhatian saya dibanding sosok Arkan.

Gibran menggeleng. Seketika dia sadar, reaksinya terhadap apa yang dialami Rani salah. Seharusnya, dia lebih bersimpati. Namun, rasa cemburu menutupi hatinya. (hal. 203)

Semula, saya mengira kehadiran Gibran hanya akan menjadi pemanis dan pemicu perubahan hubungan Arkan-Rani—tipikal novel-novel kebanyakan. Tetapi, membaca halaman demi halaman, dugaan saya dipatahkan oleh Febriani yang dengan terampil memunculkan sosok Gibran bukan hanya sebagai sosok yang menceriakan tone cerita, tapi juga sebagai ‘lawan’ Arkan yang seimbang.

Bisa jadi, ini karena karakter Gibran lebih dinamis dibanding Arkan.

Atau ini karena lebih menyukai tipe cowok ngocol macam Gibran? Hehehe….

 

3. Karakter, plot, dan cerita Serendipity

Untuk plot dan cerita, Serendipity lebih padat. Kalau boleh, saya menganalogikan novel yang identik dengan butiran salju ini dengan jaring laba-laba. Sayangnya, saya nggak bisa berbicara banyak mengenai betapa padatnya Serendipity dibanding Dear Nathan. Bahkan bordering ke arah noir-ringan ala-ala serial Hormones; tentang seorang remaja yang berhadapan dengan kenyataan hidup yang pahit, sekaligus berbagai karakter orang di sekitarnya, yang mengharuskannya menjadi dewasa.

This point got me giddy when I read Serendipity.

Serendipity

 

Sekian early review dari saya untuk Serendipity.

Selamat #menantiserendipity, Artebianz!Laughing

Baca juga: Murni dan Tahun Baru


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Perempuan, Terlahir Sebagai Penghuni Neraka


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


The Palace of Illusions: Ketulusan Cinta Para Pandawa


The Grand Budapest Hotel - Mereka Yang Layak Disebut


HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi


Bakmi dan Sate Klathak Ala Djogdja: Menikmati Jogjakarta di Surabaya


Taman Patung Kuda Gunung Sari - Taman Segala Usia


Gapura Wringin Lawang, Mojokerto: Gerbang dari Masa Kini ke Masa Lalu


The Backstage Surabaya (Bagian 2) : Mindset Seorang Founder StartUp


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Tiga Puluh Tahunan (Part 1)


Perjalanan, Pergulatan Waktu