Kuntum-Kuntum Surga - Para Wanita Mulia

26 Feb 2017    View : 490    By : Toni Al-Munawwar


Ditulis oleh :  Ririn Astutiningrum
Diterbitkan oleh :  Mizania
Diterbitkan pada :  Juli 2016
Jumlah halaman :  272
Harga :  Rp49.000
ISBN :  978-602-418-035-5
Koleksi :  Perpustakaan Pribadi

 

Asiyah, wanita cantik nan salehah yang dipaksa menerima lamaran dan hidup bersama Fir‘aun, sang raja yang zalim. Adapula Fathimah, pelipur lara dan putri keasayangan Rasulullah saw. yang dirundung duka karena perlakuan kaumnya yang menyakitkan. Khadijah, belahan jiwa Muhammad saw. yang kedermawanannya tak dapat ditawar dan menenangkan sang nabi ketika beliau mendapat wahyu. Terakhir, Maryam, wanita suci yang dianggap kontroversial karena hamil tanpa disentuh lelaki. Penasaran dengan kisah keempat wanita ini?

Mereka adalah wanita-wanita yang tak asing lagi, terutama di kalangan kaum muslimah. Kisah lengkap keempat wanita tangguh dan penuh dedikasi tersebut tersaji di dalam buku yang sedang Anda baca ini. Dikemas dalam balutan cerita yang penuh inspirasi dan motivasi, Kuntum-Kuntum Surga memberikan dimensi lain tentang sosok wanita-wanita ahli surga yang dapat dijadikan teladan, khususnya bagi para muslimah.

 

 

Kuntum-Kuntum Surga merupakan sebuah novel islami karya Ririn Astutiningrum. Novel ini berkisah tentang wanita-wanita mulia yang hidup pada zaman para nabi. Pembaca akan disuguhi cerita-cerita yang memilukan dalam mempertahankan keimanan di Zaman Jahiliyah tersebut. Tidak hanya itu, cerita yang dipaparkan oleh penulis akan semakin menambah keimanan kita kepada Allah swt.

Kisah pertama, diawali oleh cerita seorang wanita yang cantik nan jelita. Ia bernama Asiyah. Wanita yang cantik nan salehah ini selalu menjaga keimanannya kepada Allah. Ia terpaksa menikah dengan Fir’aun, seorang raja yang amat pongah dan kejam. Fir’aun mengancam akan membunuh orangtua Asiyah bila tidak mau menikah dengannya. Beruntung, Allah selalu menjaga wanita mulia ini. Dia mengirimkan iblis yang menyerupai Asiyah, hingga Fir’aun tak menyadari siapa yang diajaknya tidur (hal 23).

Puncaknya, wanita ini ketahuan meyakini agama yang dibawa oleh Nabi Musa a.s. Fir’aun pun geram. Ia menghukum istrinya yang sangat cantik dan ia cintai itu. Asiyah diseret ke tempat penyiksaan. Tubuhnya ditelentangkan di bawah terik matahari. Tangan dan kakinya diikat pada empat buah pasak sehingga ia tak dapat bergerak (hal 61). Belum cukup sampai di situ, Fir’aun yang kejam memerintahkan prajuritnya untuk menaruh batu besar di atas tubuh wanita mulia itu (hal 62). Hingga Asiyah kembali dalam keadaan beriman.

Melati itu telah mekar di sisi-Nya. Aroma harumnya menebar di surga hingga tercium di dunia. (hal. 63)

Asiyah sungguh wanita yang mulia. Ia tetap mempertahankan iman di tengah terpaan siksaan yang begitu dahsyat. Perihnya dunia memang tak sebanding dengan manisnya akhirat.

Lain lagi kisah yang dialami oleh putri Rasulullah saw: Fatimah. Fatimah begitu menyayangi dan mencintai ayahnya. Bahkan, ketika sang ayah dilempari kotoran oleh orang-orang Quraisy, ialah orang pertama yang membersihkannya. Begitu mulia pribadinya. Ia selalu menangis tersedu-sedan saat mendapati ayahnya disiksa oleh kaum kafir Quraisy. Maka, nabi sangat mencintai putrinya itu (hal 77).

Kuntum-Kuntum SurgaSource: nu.or.id

Baca juga: Bubur Spicy ala Kayseri

 

Kisah berikutnya datang dari Khadijah. Istri Rasullullah saw. ini selalu mendukung kegiatan dakwah suaminya. Seluruh hartanya habis untuk memberi makan fakir miskin saat terjadi pemboikotan. Khadijah bahkan dikucilkan oleh keluarga dan saudara-saudaranya, seperti yang ditunjukkan kutipan pada halaman 195 berikut:

Allah tidak akan menggantikan untukku perempuan yang lebih baik
daripada dia. Dia beriman kepadaku saat semua orang mengingkariku. Dia
percaya kepadaku saat semua orang mendustakanku. Dia mendukungku
dengan hartanya saat semua orang menahan hartanya dariku. Dia pula
yang memberiku keturunan saat istri-istriku yang lain tidak
memberikannya. (HR. Ahmad)

Ketika hendak melahirkan, tak ada satu pun orang dan kerabat yang menemani Khadijah. Ia hanya ditemani seorang pelayan. Khadijah harus menanggung perihnya melahirkan sendirian. Tetapi, Allah tidak membiarkannya sendirian. Dia kirimkan bidan-bidan terbaik dari surga. Merekalah yang membantu proses persalinan. Hingga lahirlah Fatimah (hal 157).

Kisah wanita mulia yang berikutnya datang dari Maryam. Ia selalu menghabiskan waktunya untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah.  Ia tenggelam dalam lautan cinta kepada-Nya. Maryam memiliki kemuliaan dari wanita-wanita lain di zamannya, ia dapat hamil tanpa adanya suami. Begitulah cara Allah memberi kemuliaan kepadanya.

Buku ini cocok sebagai teman bacaan. Kisah-kisah di dalamnya begitu menggugah jiwa dan menambah keimanan. Pembaca tidak hanya disuguhkan dengan kisah yang menggetarkan jiwa, tetapi juga terdapat buah-buah ranum yang dapat dipetik sehingga bertambahlah kemantapan kita dalam beriman kepada Allah swt.

Baca juga: Humood Al Khuder - Kun Anta

 


Tag :


Toni Al-Munawwar

Toni Al-Munawwar merupakan nama pena dari Sultoni Solikhon, lulusan terbaik MA. Nasy'atul Khair.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Generasi Global dalam Industri Pertelevisian: Menelisik Makna di Balik


Voici - Duo Multi Talenta Dari Surabaya


Hujan dan Pelangi


Me Sharing A Copy of My Mind


Gambaran Cinta dalam Potret Sendu Lirik Lagu Eyes, Nose, Lips Versi Tablo


Depot Gresik


Taman Bungkul - Oase dan Kebanggaan Warga Surabaya


Gedung De Javasche Bank Surabaya - Saksi Sejarah Panjang Perbankan Indonesia


WTF Market - Moire: A One-Stop Entertainment Market


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Twist and Shout (Part 3-Final)


Hati Terlelap Bahagia