The Chronicles of Audy - Refleksi Kehidupan Seorang Gadis dalam Outline Skripsi

15 Oct 2014    View : 5352    By : Niratisaya


Ditulis oleh   Orizuka
Diterbitkan oleh   Haru
Diterbitkan pada  Juli 2014
Genre  fiksi, young adult, romance, comedy, drama
Jumlah halaman  308
Nomor ISBN   978–602–7742–37–2
Harga   IDR57.000,00
Koleksi
 Perpustakaan Pribadi



 

Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R.

Aku sempat berhenti, tapi mereka berhasil membujukku untuk kembali setelah memberiku titel baru: "bagian dari keluarga".

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka,
pada suatu siang,
salah seorang dari mereka mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku tidak tahu harus bagaimana!

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan,
terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy.

 

Menyambung tulisan saya di artikel ini dan ini, pada artikel kali ini saya akan mengulas novel karya Orizuka. Kali ini fokus saya tertuju pada seri The Chronicles of Audy, khususnya seri kedua: The Chronicles of Audy:21. Untuk Artebianz yang bertanya-tanya tentang review seri pertama, saya telah mengulas seri pertama The Chronicles of Audy:4R, sila tilik di sini Smile

Mestinya ulasan ini berurutan dengan dua artikel tentang gaya penulisan Orizuka, tapi karena satu-dua hal akhirnya saya baru bisa menyelesaikannya dan mengantarkannya pada Artebianz hari ini.

 

Impresi Saya terhadap The Chronicles of Audy: 21

Seri The Chronicles of Audy menurut saya merupakan salah satu novel yang menunjukkan tingkat kematangan Orizuka dalam mengantarkan kehidupan karakter-karakter fiktif ke imajinasi pembaca. Yes, she’s already showed it through numerous works.

Namun ada yang berbeda di di dalam The Chronicles of Audy: 21. Artebianz, terutama mereka yang suka membaca, pasti sering bertemu dengan karakter heroine yang tampak hopeless dan sering tampil sebagai sosok yang ceroboh. Meski tampak remeh, tapi tipe karakter semacam ini menurut saya cukup riskan bila penulis tak memiliki “kendali” atas pergerakan dan reaksinya. Tokoh semacam ini bisa menjadi begitu mengganggu dan menyebalkan di mata pembaca.

Sound gibberish, huh?

Tapi sungguh Artebianz, walau tampak fiktif, pada kenyataannya karakter-karakter dalam buku menjadi hidup dan merefleksikan kehidupan manakala mereka bersentuhan dengan alam imajinasi pembaca. Kalau tidak, mustahil kita sebagai pembaca akan turut merasa geregetan, sedih, dan bahagia sewaktu membalik halaman demi halaman sebuah novel. Ya, kan?

Segala hal yang sederhana namun imajinatif yang dimiliki oleh Orizuka-lah yang selalu membuat saya penasaran dengan karya-karyanya. Albeit, sometimes some of them aren’t my cup of tea. Namun entah bagaimana, saya selalu dibuat penasaran dengan bagaimana Orizuka meramu cerita sederhananya hingga menjadi luar biasa. Termasuk sosok Audy dan kronik kehidupannya.

Yang ingin membayangkan sosok nyata tokoh-tokoh novel ini, sila, berkhayal setelah melihat gambar ini Laughing

Imagenary Cast The Chronicles of Audy(diambil dari t4tz.blogspot.com)

Bagaimana perkembangan seorang Audy dengan segala “ketidakacuhannya” terhadap kehidupannya sendiri terungkap bersamaan dengan proses penyusunan skripsi, serta pertemuannya dengan 4R.

Baca juga: Cinderella Teeth - Kisah Cinderella dan Para Peri Gigi Modern

 

Karakter The Chronicles of Audy: 21

Audy Nagisa

Audy Nagisa

Tidak terlalu banyak yang berubah dalam diri Audy dari seri pertama (The Chronicles of Audy: 4R). Dia masih ceroboh dan kurang tangkas dalam memasak. Kecerobohan dan kekurangtangkasan Audy-lah yang membuat novel ini terasa hidup dan berwarna. Terutama ketika ia tak lagi sekadar menjadi babysitter/pembantu bocah-bocah lelaki di keluarga Rashad.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, tipe karakter tokoh semacam Audy sering sekali muncul dalam novel-novel. Ketika beruntung, saya akan mendapati tokoh tersebut masih bisa ditoleransi. Dan ketika tidak beruntung, saya sering memilih ngempet—menahan diri dan berusaha terus membaca sampai di halaman terakhir. Atau menutupnya untuk dibaca lagi lain kali saat cerita dan perkembangan plot sama sekali tidak mengurangi kejengkelan.

Namun rasa jengkel itu tidak saya jumpai dalam diri Audy. Hal ini karena keseimbangan interaksi antara Audy yang polos-nyaris-gullible dengan 4R. Karakter Audy dan perkembangannya terasa renyah. Seperti kerupuk yang mekar setelah digoreng. Atau seperti suara ayam goreng bertepung dalam iklan-iklan teve.

Kresss!

Meski acapkali interaksi yang terjadi antara Audy dan 4R adalah Audy yang menjadi korban “bully” mereka yang disaluti sikap atau kata-kata manis.

Seperti saat Rex menghampiri Audy dengan payung di tangan sewaktu gadis itu mengangkat jemuran agar tidak terkena hujan.

Rex mendecak, “Jangan nekat. Kita nggak punya uang cadangan untuk kamu berobat.” (Hal. 13)

Atau seperti sewaktu Audy bersin dan Rafel menyahut, “Minum obat, Au.” Dan membuat Audy terharu, sampai akhirnya bocah itu menambahkan, “Aku nggak mau ketularan.” (Hal. 72)

Interaksi antara Audy dan 4R ini membuat saya terkikik bahkan ketika saya membaca ulang novel ini. Kekonsistenan Orizuka terhadap sikap dan sifat karakter-karakternya ini, khususnya 4R, benar-benar patut diacungi jempol.

Tentu, Audy bisa menghindari bully yang dilakukan 4R karena berbeda dengan di seri sebelumnya, Audy tak lagi terikat kontrak sebagai babysitter/pembantu. Ia bahkan naik pangkat menjadi “bagian dari keluarga” 4R. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Audy mulai bertanya-tanya… apa benar dirinya adalah bagian dari keluarga Rashad? Apakah yang disebut sebagai anggota keluarga berarti ia masih harus bekerja layaknya ART?

Apa sih, sebenarnya yang dimaksud R1 sebagai “bagian dari keluarga”?

4R

Just who the heck is 4R?

Untuk yang belum baca seri The Chronicles of Audy, mereka adalah empat bersaudara:

1. R1 (Regan Rashad)

Regan Rashad

2. R 2 (Romeo Rashad)

Romeo Rashad

3. R3 (Rex Rashad)

Rex Rashad

4. R4 (Rafael Rashad)

Rafael Rashad

R4 bisa diartikan “empat anggota keluarga Rashad” atau sekumpulan bocah lelaki yang namanya berawalan R. Sedikit banyak keberadaan R4 mengingatkan saya pada tokoh-tokoh pemuda di High School Paradise. Bedanya, di sini ada di kecil Rafael (R4) dengan sikap polosnya yang berpadu dengan kegeniusan tingkat tinggi dan kedewasaan sebelum waktunya.

Bagus kalau yang dicontoh Rafael adalah kedewasaan dalam bersikap dan menghadapi masalah. But nope, yang ditiru Rafael adalah kedewasaan Rex (R3), yang selalu menanggapi setiap situasi di sekitarnya dengan sikap lempeng dan logis. "Kedewasaan" lainnya dari bocah 4.5 tahun ini ditirunya dari Romeo (R2) lewat game yang ia mainkan dan lagu-lagu yang ia dengar.

Bisa membayangkan bocah yang menyanyikan lagu “Call Me Maybe” di depan kelas, alih-alih menyanyikan “Semut-semut Kecil” atau “Bintang Kecil”?

Seperti bocah satu ini.

Selain Rafael, saya dibuat jatuh hati pada sosok Rex oleh Orizuka. Yah… mungkin tepatnya takjub, bukan hanya pada sosoknya yang dingin dan selalu precise dalam setiap sikap dan sifatnya. Bahkan saat ia melakukan kesalahan. Saya benar-benar suka bagaimana Rex yang logis dan dingin menghadapi konfrontasi Audy. Nope, saya tidak akan menuliskannya di sini Artebianz. Kalau penasaran, sila beli novel Orizuka ini :)

Baca juga: P.S. I Still Love You - Psst... Ada yang Masih Cinta

 

 

Bagian per Bagian The Chronicles of Audy: 21

Audy, Novel Paket Lengkap

Bisa dikatakan The Chronicles of Audy: 21 adalah novel paket-lengkap. Di sana Artebianz bisa menemukan drama-keluarga, drama-percintaan, dan komedi-percintaan lewat interaksi dan perkembangan plot. Sebuah paket lengkap yang kemudian membuat saya jatuh hati pada seri The Chronicles of Audy. Semua genre tersebut terwakili oleh interaksi-interaksi yang terjalin antara setiap tokoh.

Kalau harus memilih di antara setiap interaksi yang dimiliki Audy dengan setiap tokoh di dalam novel, saya akan memilih interaksi antara Audy dan Rafael. Khususnya ketika Rafael mulai mendengarkan nasihat Audy tentang bagaimana bersosialisasi dengan sekitar.

“Makasih ya, Rafael.”
Rafael melirikku. “Buat apa?”
“Karena kamu nggak ngatain aku bodoh,” kataku lagi, setengah mati menyembunyikan senyuman.
Rafael menatapku, kerutan di mulutnya mengendur. Dia lalu mengangguk. “Cuma di dalam hati.” (Hal. 161)

Satu hal mengenai anak-anak: kepolosan mereka seperti pedang dengan dua sisi. Pada satu saat Artebianz mungkin dibuat tertawa dengan sikap dan tingkah polos mereka. Namun di saat lain, mungkin mereka akan membuat Artebianz jengkel dan emosi. Ambil contoh kasus Rafael yang tumbuh besar tanpa bimbingan orangtua, hanya kakak-kakak yang juga masih sibuk mencari jati diri mereka masing-masing. Walhasil, ketimbang besar di bawah bimbingan, Rafael lebih tepat bila dikatakan tumbuh besar dengan pengamatan dan peniruan.

Rafael meniru Rex yang selalu mengutarakan segala yang ada di dalam benak dan pikirannya tanpa melalui filterisasi. Ia juga meniru sikap Romeo yang acuh tak acuh dan bersikap seenaknya terhadap siapa pun di sekitarnya. Well, terutama Audy yang menjadi babysitter-nya.

Bisa dibilang ada perkembangan pada karakter Rafael. Dalam seri pertama The Chronicles of Audy sama sekali tidak menghiraukan segala apa yang dikatakan Audy—atau mungkin ini caranya sendiri bermanja-manja pada Audy? Baru pada seri kedua ini Rafael tampak mulai membuka diri pada Audy dan mendengarkan salah satu nasihatnya, yang meminta Rafael untuk memperhatikan perasaan orang lain sebelum bicara.

Walau terlihat jelas dalam kutipan tersebut masih ada sisa-sisa “kepolosan” dalam diri Rafael Smile

Baca juga: To All The Boys I've Loved Before - Siapa Bilang Hati Manusia Hanya Bisa Untuk Satu Orang?

 

Pengemasan Cerita

Sama seperti seri pertama, format dalam cerita ini dibagi menurut perkembangan proposal skripsi Audy. Mulai dari penjelasan identitas Audy, judul skripsi yang diajukannya, argumentasi, permasalahan yang hendak diajukannya dalam penelitian, dan metodenya.

Lebih dari sekadar outline-outline skripsi pembuktian hasil studi Audi, saya menganggap outline tersebut sebagai perkembangan kehidupan Audy. Setiap perubahan outline dalam novel seakan menunjukkan perkembangan kehidupan dan mentalitas Audy, yang dari sekadar mahasiswa yang menuntut ilmu di luar kota, menjadi sesosok gadis yang berusaha menemukan jati diri. Yang dalam novel kali ini diwakili oleh tema “keluarga”.

 

Diksi, Pilih Kata untuk Mewakili Emosi

Diksi.

Apa saya harus menceritakan tentang bagaimana pilihan diksi Orizuka?

Tidak bisakah saya mengatakan kalau The Chronicles of Audy nomor satu dalam daftar novel-untuk-dibaca-ulang saya?

Tidak?

Well, kalau begitu izinkan saya membagi beberapa kutipan yang akan membuat Anda, Artebianz, kelepek-kelepek!

Modus pertama:
“… kalo kamu kasih kepastian, dia kan jadi bisa move on.”
“Kata Einstein, tidak ada yang pasti selain ketidakpastian,” balas Rex.
Aku menatapnya tanpa berkedip. “Terus, dia harus berharap-harap sampai kapan?”
“Yang tahu Cuma yang punya harapan, kan?” kata Rex lagi. “Menurutmu?” (hal. 144-145)

Rex!!! *tepok jidat*

Modus kedua:
“Kamu terlalu luas untuk dijelaskan secara singkat.”
(Hal. 292)

Aw!

Modus ketiga:
“Kamu adalah entitas yang jadi kelemahan sekaligus kekuatanku; yang membuatku merasa lebih hidup.” (Hal. 294)

Daw…. My heart!

 

 

Akhir Kata untuk The Chronicles of Audy: 21

Ada perbedaan yang cukup kentara dari seri pertama dan kedua The Chronicles of Audy. Dibandingkan seri pertama, seri The Chronicles of Audy:21 terasa agak biru dan sendu (tidak percaya, Artebianz? Coba ke toko buku dan lihat sendiri buku ke-22 Orizuka ini).

Perbedaan ini bukan sekadar karena Orizuka ingin memberi warna lain dalam kehidupan Audy. Menurut pendapat saya, perbedaan ini dibutuhkan demi perkembangan karakter dalam novel ini. Yang untungnya tidak terjadi dengan dipaksa. Anda, Artebianz yang juga seorang readerizuka, masih bisa menemukan kelincahan gaya bercerita dan diksi yang serupa—lincah, ekspresif, dan mengalir.

Thus, I give four out of five stars for this series.

Saya menunggu seri ketiga The Chronicles of Audy.

Dengan warna kuning, mungkin? Smile

Baca juga: Sayap-Sayap Kecil - Mengintip Sepotong Kisah Rahasia Seorang Gadis SMA

 

 

PS: Artebianz yg pengin tahu review seri pertama kronik kehidupan Audy, sila klik di sini.

 

 

 

Your book curator,

N

 

 

PPS: gambar tokoh-tokoh The Chronicles of Audy saya ambil dari dianputu26.blogspot.com






Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?


Indah Kurnia, Memimpin Tanpa Kehilangan Identitas Sebagai Wanita


Tango - Surealisme Hubungan Wanita-Pria dan Diri


Crazy Little Thing Called Love: Dari Itik Si Buruk Rupa Menjelma Menjadi Snow White yang Sesungguhnya


HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi


Goyang Kaki Dan Goyang Lidah Di Lontong Kikil Bu Dahlia


Libreria Eatery - Tempat Pas untuk Memberi Makan Perut dan Otak


Goa Lawah Nan Berselimut Sejarah


POPCON Asia Surabaya: City of Superheroes


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Pria Asing Di Pos Kamling


(K)Aku