Merayakan Hari-Hari Indah bersama Nabi - Tradisi Asyura dan Tragedi Memilukan

28 Sep 2017    View : 303    By : Saiful Fawait


Judul  Merayakan Hari-Hari Indah bersama Nabi
Ditulis oleh  K.H. Husein Muhammad
Diterbitkan oleh  Qaf
Diterbitkan pada  Maret 2017
Genre  nonfiksi, religi, islami
Jumlah halaman  225
Nomor ISBN  978-602-60244-5-9
Harga IDR  50.000,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi

 

Kita sudah rutin memperingati hari-hari besar Islam. Mulai dari Maulid, Isra’-Mi‘raj, Hijrah, Nisfu Syakban, Asyura hingga dua Hari Raya. Lantas, apa yang kita petik dari perayaan demi perayaan itu? Sudahkah kita memahami konteks sejarahnya, menemukan makna terdalam, dan mereguk pelajaran berharga yang dapat menggerakkan kita untuk berbenah diri dan membangun kembali peradaban muslim yang telah lama dirasakan stagnan, jika tidak boleh disebut “mundur”?

Memuliakan al-Musthafa,
menghidupkan hatiku
Segala dosa dan salah diampuni
Aku berharap hidup bahagia bersamanya
Aku berharap bertemu dengannya
Hingga aku tak lagi berduka karena dosa
Dialah sang paripurna
Dialah puncak segala keindahan
Dialah sang kekasih
Menyebut namanya,
menyembuhkan segala duka lara
manakala ia menyapaku
Memuliakan dia
makin menambah rinduku kepadanya
Al-Musthafa bagai permata
dan mawar mewangi.

Buku ini hadir tak lain untuk mengambil pelajaran dan keteladanan dari Nabi Muhammad saw., manusia paripurna dan terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Bukankah Tuhan sendiri yang menyatakan: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang indah bagimu, (yaitu) bagi orang yang mendamba (rahmat) Allah dan hari kiamat serta dia banyak menyebut Allah.” Kaya inspirasi, menggugah nalar dan hati, kental referensi klasik tapi relevan dengan realitas kekinian.

 

Sebentar lagi kita akan memasuki hari ke-10 dalam bulan Muharram, bulan yang dihormati dan diharamkan untuk melaksanakan sebuah peperangan. Tanggal 10 dari bulan Muharram dalam kalangan umat Islam lebih dikenal dengan sebutan "Asyura", di Jawa lebih populer dengan sebutan "Suro". Asyura merupakan salah satu hari yang sangat istimewa dan umat Islam sangat dianjurkan untuk berpuasa, bahkan ada yang menyebutkan bahwa hari Asyura merupakan salah satu dari dua hari yang sangat disunnahkan untuk berpuasa (sunnah muakkad). Dengan kata lain, puasa Asyura menempati urutan kedua setelah puasa pada bulan Ramadhan (puasa wajib).

Ada banyak peristiwa penting dalam sejarah umat manusia yang terjadi pada hari Asyura, di antaranya: "Nabi Adam diciptakan, dan taubatnya diterima oleh Allah setelah melakukan kekeliruan dengan memakan buah terlarang; Nabi Ibrahim diselamatkan dari kobaran api Raja Namrud; Nabi Yusuf keluar dari penjara, dan sang ayanda (Nabi Ya’qub) bisa melihat kembali setelah sebelumnya tidak bisa melihat; Nabi Nuh beserta pengikutnya diselamatkan dari gelombang banjir besar yang berlangsung cukup lama, beliau mendarat di Ur" (hal. 137). Selain peristiwa agung itu, masih banyak peristiwa lain yang terjadi pada tanggal 10 Muharram.

Dikisahkan, setelah beberapa hari kapal Nabi Nuh terombang-ambing oleh ganasnya banjir bandang yang menimpa seluruh permukaan bumi, bekal yang dibawa oleh Nabi Nuh beserta rombongannya semakin hari semakin menipis, hingga akhirnya bekal masing-masing orang dari rombongan itu hanya tinggal segenggam tangan, dan itu terdiri dari aneka macam biji-bijian. Lalu, Nabi Nuh memerintahkan untuk mengumpulkan biji-bijian itu dan memasaknya, sehingga biji-bijian itu menjadi bubur.

Di tempat dan waktu berbeda, pada bulan Muharram ini, sebagian umat Muslim di Indonesia, khususnya di daerah Madura, mempunyai tradisi membuat makanan nasi atau bubur, di Madura disebut dengan "tacin sora". Bubur ini dibuat oleh masing-masing keluarga yang mampu membuatnya, kemudian mereka saling bagi-membagi sesama tetangga, terutama kepada fakir miskin (hal. 140).

Hal demikian merupakan sebuah tradisi warisan dari nenek moyang, entah ada kaitannya dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Nuh atau tidak, yang jelas tradisi ini patut dilestarikan, karena di dalamnya terdapat dimensi sosial yang bisa membuat hubungan antar masyarakat semakin erat, bubur atau tacin sora memiliki nilai luhur yang mampu mengantarkan manusia memenuhi tugas sebagai hamba Tuhan dan makhluk sosial. Dengan kata lain, membagikan bubur suro pada satu sisi bernilai ibadah kepada Allah. Di sisi lain ia bisa dijadikan media untuk semakin memperkuat tali persaudaraan sesama umat Islam dan sesama warga Indonesia.

 

 

 

Tragedi Karbala

Dalam buku ini juga dijelaskan bahwa 10 Muharram bagi kaum Syi’ah merupakan hari yang sangat memilukan, hari yang menyayat dan mengiris hati. Karena pada hari itu junjungan mereka Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, keluarga, serta para pengikutnya terbunuh dan dibantai secara kejam oleh pasukan yang dipimpin oleh Ubaidillah Ibn Ziyad di sebuah daerah bernama Karbala. Penyebabnya adalah Sayyidina Husein menolak tawaran Ibn Ziyad untuk tunduk di bawah kekuasaan Yazid bin Mu’awiyah (hal. 143).

Rombongan cucu kesayangan Nabi Muhammad tersebut kurang dari 100 orang, mereka harus menghadapi tentara Yazid yang berjumlah jauh lebih besar, lebih dari 3.000 tentara. Perang tak sebanding pun terjadi, Husein dan pasukan laki-lakinya dibantai habis-habisan, bahkan kepala Sayyidina Husein dipisah dari badannya, ditaruh di sebuah wadah semacam mangkuk dan dibawa ke hadapan Yazid bin Mu’awiyah. Ada yang mengatakan bahwa kepala Sayyidina Husein dikubur di Kairo, Mesir (Masjid Husein), sementara tubuhnya dikubur di Karbala, Irak.

Peristiwa Karbala ini dikenang sepanjang masa dan diperingati setiap tahun sebagai hari perkabungan internasional oleh kaum Syi’ah. Muslim Syi’ah menganggap bahwa peristiwa itu merupakan sebuah tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarahnya. Dalam pandangan mereka, 10 Muharram ini merupakan ritus keagamaan terpopuler dan paling besar, sampai saat ini kaum Syi’ah di seluruh dunia memperingatinya dengan berbagai ritual dalam rangka mengenang kematian Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, bahkan tidak sedikit di antara mereka sengaja memukul-memukul dada, melukai tubuh mereka sendiri sampai berdarah-darah, berteriak dan meraung-raung menyebut cucu Nabi tersebut, hal ini mereka lakukan agar mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh Sayyidina Husein tempo dulu (hal. 144).

Dari beberapa peristiwa sejarah yang disebutkan di atas, 10 Muharram nampaknya merupakan hari yang sangat istimewa bagi semua umat Islam, bahkan Nabi Muhammad sendiri berpuasa pada hari itu, dan juga menganjurkan kepada umatnya. Selain itu, umat Islam dianjurkan untuk bersedekah terutama kepada keluarganya, memohon perlindungan, dan membaca do’a.

Husein Muhammad, sang penulis juga menyertakan do’a hari Asyura dalam buku ini berikut juga artinya.


Tag :


Saiful Fawait

Saiful Fawait adalah seorang pelajar dari pulau yang terkenal dengan lahan garam dan karapan sapinya.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan


Edwin Ruser dan KoreanUpdates - Menghidupkan Mimpi Lewat Passion


Double Spin Round - Menikmati Putaran Kehidupan


Billionaire a.k.a Top Secret: Kisah Sukses Seorang Pengusaha Muda


HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


Heerlijk Gelato


Peneleh Daerah Penuh Pesona dan Sejarah: Rumah HOS Tjokroaminoto


The Backstage Surabaya (Bagian 1) : How To Start A StartUp


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Pria Asing Di Pos Kamling


Jingga Senja Sewarna Darah