Lockwood & Co.: Screaming Staircase - Misteri Jeritan di Undakan Rumah Berhantu

21 Oct 2014    View : 2726    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Jonathan Stroud
Diterbitkan oleh  Gramedia Pustaka Utama 
Diterjemahkan oleh  Poppy D. Chusfani 
Genre  fiksi, young-adult, misteri, horror, suspense, comedy
Diterbitkan pada  Januari 2014 
Jumlah halaman  424
Nomor ISBN  978-602-03-0136-5
Harga  IDR70.000,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi 



Setelah gelap, bunyikan lonceng dan tunggu di luar garis besi.

Selama lima puluh tahun lebih, wabah hantu menyerang Inggris. Lucy Carlyle, penyelidik paranormal yang masih muda, menginginkan karier cemerlang. Namun, kenyataannya ia bergabung dengan agensi pembasmi hantu paling kecil, paling kumuh di London, dipimpin Anthony Lockwood yang karismatis.

Ketika salah satu kasus mereka berakhir dengan kekacauan fatal, Lockwood & Co. memiliki peluang untuk memperbaiki keadaan. Sayangnya, itu berarti mereka harus menginap di rumah paling berhantu di Inggris.

 

Setiap buku memiliki kenangan bagaimana perjalanan saya mendapatkan buku itu, atau mengapa saya memasukkannya ke dalam rak-rak buku saya. Salah satu buku yang berkesan adalah Lockwood & Co.: The Screaming Staircase karya Jonathan Stroud. Bukan hanya ditulis oleh penulis idola saya dan diterjemahkan oleh penerjemah idola saya, novel ini juga diterjemahkan dan diterbitkan tepat di bulan kelahiran saya, membuat saya berpikir saya HARUS MEMBELINYA!!!

Tapi sayangnya, pada saat itu saya kantong saya sedang menipis. Jadi saya memutuskan untuk membeli lewat toko buku online sewaktu ada diskon beberapa bulan kemudian. Sayangnya, stok toko tersebut habis. Walhasil… selama berbulan-bulan saya hanya bisa ngiler.

Sampai akhirnya, Gramedia dan program THRBuku-nya membuat saya mendapatkan buku ini. Program itu mengizinkan para pecinta buku mendapatkan satu buku yang benar-benar ingin dibacanya dengan syarat, mengirimkan THRBuku pada teman sesama pembaca lainnya. I’d like to thanks my THRBuku partner for her help Smile

Jadilah, saya mendapatkan buku ini di Agustus. Dan karena bertepatan bulan ini adalah Oktober, saatnya perayaan Halloween, saya rasa pas bila saya mengulas novel yang berkisah seputar seorang gadis muda yang memiliki indra keenam dan agensi pembasmi hantu tempatnya bekerja.

So, shall we hunt some ghosts and get haunted, Artebianz?

 

Impresi Saya terhadap Lockwood & Co.: Screaming Staircase (Undakan Menjerit)

Salah satu hal yang selalu istimewa dari novel-novel tebal karya Jonathan Stroud adalah dedikasinya dalam menggambarkan dunia rekaannya. Pada Trilogi Bartimaeus dedikasi ini terlihat pada catatan kaki yang ditulis dengan gaya kocak Bartimaeus, sehingga mengesankan bahwa novel tersebut ditulis oleh Bartimaeus sendiri yang menceritakan pengalaman-pengalamannya, bukannya Stroud.

Sementara Lockwood & Co., yang dari beberapa penjelasan Mbah Google ternyata memiliki sekuel, mengusung detail dan tampaknya penelitian yang menyeluruh dari Stroud. Lelaki yang pada tanggal 27 Oktober nanti ini akan berulang tahun ke-47 ini menyertakan beberapa penjelasan—termasuk senjata-senjata yang digunakan oleh Lockwood dan kawan-kawannya, plus sejarah setiap kota berhantu di daerah Inggris.

Alih-alih membaca buku fiksi, rasanya seperti membaca otobiografi yang ditulis oleh seorang pembasmi hantu. Persis seperti Trilogi Bartimaeus, yang juga menjadi ciri-ciri gaya menulis Stroud.

Kaver Buku Versi Inggris(diambil dari readbetweenpages.blogspot.com)

Sekilas mengenai Lockwood & Co. dan dunia pembasmi hantu Inggris dalam novel karya Stroud; umumnya sebuah agensi pembasmi hantu terdiri dari seorang penyelia (seorang pembasmi hantu senior) dan operatif lapangan (senior dan junior), tetapi tidak dengan Lockwood & Co.. Meski memiliki izin, agensi ini terdiri dari tiga orang muda yang percaya bahwa melibatkan pembasmi hantu senior sebagai penyelia akan mengganggu kinerja mereka. Maka, mereka pun bekerja tanpa menghiraukan peraturan-peraturan dasar yang telah ditentukan oleh Departemen Riset dan Kendali Cenayang (DEPRAC)—semacam lembaga pemerintah yang mengendalikan dan mengatur hal-hal psikis di Inggris. Cara kerja Lockwood & Co. selalu membawa aura petualangan yang menyenangkan dalam novel ini. Sampai akhirnya, Lucy dan Lockwood membuat kesalahan dan klien menuntut agensi mereka, serta DEPRAC ikut turun tangan.

Di sisi lain, saya juga merasa kecewa. Kekecewaan saya mengenai novel ini hanyalah pada cover. Rasanya aneh saja, dengan judul terjemahan "Undakan Menjerit", novel Stroud malah diberi cover lubang kunci dan seorang Pengunjung (baca: hantu) yang duduk di atas mainan kuda. Memang ada adegan yang berhubungan dengan cover ini—juga gambar di balik lubang kunci itu lumayan menakutkan, tapi adegan itu bukan bagian esensial dari cerita ini. Rasanya cover aslinya lebih pas.

Selain cover, saya tak punya keluhan lain yang bisa membuat saya patah arang saat menikmati novel karya Jonathan Stroud ini.

Nah, dengan impresi semacam itu, bagaimana Anda bisa melewatkan seri pertama Lockwood & Co. ini, Artebianz?

Mari baca, dan terjun ke dalam dunia ajaib tiga orang pembasmi hantu kita :)

Baca juga: Girls in the Dark - Hal-Hal yang Terjadi Ketika Sekelompok Gadis Berkumpul dalam Gelap

 

 

Tokoh-Tokoh Lockwood & Co.: Screaming Staircase (Undakan Menjerit)

Ada beberapa tokoh dalam cerita ini, tapi tiga orang pembasmi hantu muda kita ini adalah tokoh-tokoh utama yang terlibat langsung dengan agensi Lockwood & Co., berikut beberapa asistennya yang turut saya ulas pula.

Lockwood & Co. crew(diambil dari tumblr.com)


Pemimpin sekaligus pemilik agensi: Anthony Lockwood

Sama sekali tidak suka bila dipanggil Tony, Ant, apalagi Big A. Ia lebih sering dipanggil “Lockwood” oleh dua rekannya. Dari pengamatan Lucy, Lockwood memiliki "wajah tirus, hidung panjang, rambut gelap tebal dan kusut" (hal. 88). Meski ia pemimpin Lockwood & Co. sekaligus pemilik rumah yang menjadi kantor sekaligus kantor agensinya, Lockwood tidak memiliki kemampuan yang menonjol. Akan tetapi, ia memiliki Daya Lihat berkenaan dengan Pengunjung yang cukup tajam.

Hal lain yang menonjol dan memberikan Lockwood kualitas sebagai pemimpin adalah sikap positifnya dalam menghadapi masalah, bahkan ketika ia dan dua rekannya berada di ujung tanduk. Lockwood juga mempunyai sifat humoris. Perpaduan antara sikap positif dan sifat humoris membuat pertemuan pertama Lockwood dan Lucy, yang saat itu melamar menjadi asistennya, menjadi salah satu hal yang tak terlupakan.

“…. Apa yang terjadi pada asistenmu yang terakhir?”
“Robin yang malang? Oh, dia… pergi.”
“Mencari pekerjaan lain?”
“Barangkali lebih tepatnya ‘pergi dari dunia ini’. Atau, sebenarnya, ‘pergi ke alam lain’. Ah—bagus! Teh!” (hal. 92)

Dari percakapan Lucy dengan Lockwood di atas memang sekilas Lockwood terkesan sebagai pemuda yang ceria, tapi saya menangkap ada yang disembunyikan oleh Lockwood di balik tawanya, Artebianz. Seakan-akan ia enggan membahas mengenai kematian dan kehilangan, sehingga ia menyembunyikannya lewat tawa atau mengalihkan pembicaraan. Hal ini juga tampak pada keengganan Lockwood membicarakan almarhum orangtuanya. Beberapa kali Lucy berusaha untuk membicarakan tentang orangtua Lockwood, langsung pada Lockwood atau pada George. Tapi keduanya dengan tegas menolak membicarakan topik tersebut. Dan ini, Artebianz, adalah salah satu hal yang membuat saya penasaran.

Bahkan setelah saya menutup buku. Saya masih menekuri sampul belakang sambil mencoba membayangkan kehidupan dan nasib seperti apa yang pernah dijalani oleh orangtua Lockwood.

Wakil Pemimpin dan Sekretaris Lockwood & Co.: George Cubbins

Sama seperti Lockwood, George memiliki Daya Lihat. Perbedaannya adalah George juga memiliki Daya Sentuh walau samar. Perbedaan lain antara keduanya adalah kepribadian mereka. Lucy selalu menggambarkan Lockwood sebagai pribadi yang selalu bisa memotivasi orang lain, tenang, dan enerjik. Ia bahkan gembira membayangkan dirinya berjalan di samping pemuda itu, meski dalam kegelapan. Sementara Cubbins menurut Lucy….

… setampan kaleng margarin yang baru dibuka, sekarismatik lap basah yang teronggok di lantai. (hal. 112)

Saat membaca kesan Lucy terhadap George tersebut, tak pelak saya dibuat terbahak-bahak. Apa yang tampan dari sekaleng benda lembek yang berwarna kuning? Yang seluruhnya berwarna kuning. Dan apa yang karismatik dari lap basah yang teronggok? Tidak ada. Bahkan jika yang digunakan adalah jubah Superman Laughing

Lucy dan Lockwood selalu suka terjun langsung ke TKP dan membasmi segala Pengunjung atau mengungkap Sumber yang menyebabkan sebuah rumah mendapatkan “kunjungan”. Namun tidak dengan George. Ia sangat suka meneliti dan membuat perencanaan. George jugalah yang mengurus arsip-arsip dan meneliti “trofi-trofi” Lockwood & Co. yang berupa para Pengunjung yang disimpan di dalam wadah.

Salah satu kebiasaan George adalah ia selalu meminta waktu sebelum tim pembasmi hantu Lockwood & Co. mendatangi rumah klien mereka. Dengan rajin ia membersihkan dan mempersiapkan senjata-senjata yang akan digunakan untuk membasmi Pengunjung di rumah klien Lockwood & Co.. Pendek kata, persiapan adalah satu hal yang penting dalam kamus George. Sementara dua rekannya yang lain lebih suka membawa diri dan keyakinan sebagai bekal mereka. Perbedaan di dalam kelompok agensi inilah yang membuat mereka selalu berseteru. Well, terutama George dan Lucy.

Menurut pengakuan Lucy, ia dan George selalu berseteru. Akan tetapi, gadis itu berusaha bertahan bekerja dengan George. Tampaknya, ada yang istimewa dalam diri pemuda berkacamata ini. Terutama fakta bahwa ia sempat bekerja di Fittes and Rottwell agensi pembasmi hantu yang paling terkenal di seantero Inggris, dan agensi itu mau mempertahankan George selama enam bulan. Sementara ada banyak remaja dengan Bakat yang siap direkrut Fittes and Rotwell.

Narator sekaligus operatif lapangan Lockwood & Co.: Lucy Carlyle

Lucy adalah satu-satunya perempuan yang tergabung dalam agensi Lockwood & Co.. Namun tidak seperti dua rekannya, ia memiliki Bakat yang nyaris lengkap. Lucy punya Daya Dengar dan Daya Sentuh, dua Bakat yang acapkali membantu Loockwood dan George dalam menyelesaikan kasus. Ia juga mempunyai Daya Lihat, tapi tidak sebagus Lockwood atau George.

Selain itu, dibanding Lockwood atau George, Bakat Lucy lebih riskan.

“Punya Daya Dengar itu bisa berbahaya,” kata George. “Ada gadis yang bekerja di Epstein and Hawkes tahun lalu. Telinganya bagus, sangat sensitif. Tapi dia ketakutan akibat suara-suara yang didengarnya, akhirnya dia bunuh diri dengan melompat ke Thames.”
(hal. 117)

Ucapan George itu menyiratkan dua kemungkinan:

  1. Daya Dengar mampu mengantar seorang agen pada Pengunjung dan Sumber sehingga ia mampu menyibak misteri yang menyebabkan gangguan-gangguan.
  2. Daya Dengar mampu mengantar seorang agen pada kematiannya, karena lewat pendengarannyalah Pengunjung memengaruhi dan membuatnya mengambil keputusan yang kalut.

Ini logika saya, Artebianz, daripada mata yang langsung menghubungkan objek yang dipandang seseorang pada logika, sedangkan pendengaran lebih terhubung pada emosi. Sehingga, seperti yang dikatakan oleh George, seseorang bisa bersikap dan mengambil keputusan yang sama sekali tidak masuk akal.

Namun untuk kasus Lucy, yang sebelumnya pernah melihat langsung apa akibat dari tidak mendengarkan bakatnya, sulit untuk mengabaikan Daya Dengarnya. Terutama sikapnya yang tak mengacuhkan bakatnyalah yang mendorong Lucy minggat dari rumah dan agensi lamanya, tanpa mengurus kenaikan Kelas Empat—yang semestinya bisa menempatkan Lucy menjadi salah satu agen hebat.

Salah satu kelebihan karakter Lucy adalah keyakinannya pada dirinya sendiri. Ketika George mengajukan argumentasinya tentang Bakat Lucy, gadis itu dengan tangkas menjawab:

Aku tersenyum tipis. “Marissa Fittes juga punya Bakat sepertiku,” kataku. “Dia tidak melompat dari mana-mana.” (hal. 117)

Satu hal yang sepertinya nyambung dengan Lockwood, yang tampaknya juga tidak terlalu sreg dengan riset berkepanjangan ala George, karena ia menanggapi argumentasi Lucy dengan tawa.

 

Para asisten dalam Lockwood & Co.

1. Rapier (pedang tipis bermata ganda)

Senjata resmi semua agen investigasi cenayang. Ujung pedang yang terbuat dari besi kadang-kadang dilapisi perak.

Rapier(diambil dari wikipedia.org)

2. Greek Fire (Peluru Api Yunani)

Nama lain untuk suar magnesium. Senjata jenis ini yang lebih kuno rupanya digunakan untuk menangani hantu di zaman Kekaisaran Byzantine (atau Yunani), seribu tahun yang lalu.

Greek Fire(diambil dari wikipedia.org)

3. Rantai Besi (Iron/Besi)

Proteksi kuno dan penting terhadap hantu dalam berbagai jenis. Manusia biasa membentengi rumah mereka dengan dekorasi yang terbuat dari besi, dan membawa besi di tubuh merek dalam bentuk penangkal. Agen-agen membawa rapier dan rantai besi, maka mereka bergantung pada besi untuk menyerang maupun bertahan.

Dan beberapa benda lain khas agensi pembasmi hantu yang bisa Artebianz tilik sendiri di kamus Lockwood & Co.

Baca juga: Dunia Cecilia - Dialog Surga Dan Bumi

 

 

Bagian per Bagian Lockwood & Co.: Screaming Staircase (Undakan Menjerit)

Seperti yang sebutkan sebelumnya dan dari contoh benda-benda yang diterangkan oleh Jonathan Stroud dengan begitu jelas, tampak bahwa ia tidak sekadar menceritakan sebuah kejadian, Stroud juga membangun dunia tempat karakter-karakter fiktifnya hidup dan bergerak seperti manusia nyata. Hal inilah yang membuat saya segera kecantol pada Lockwood & Co., walau novel ini terbilang cukup tebal.

Saya bisa membayangkan bagaimana kehidupan Lucy, Lockwood, dan George seperti sebuah film yang jauh lebih bermutu dibanding cerita antah berantah di dalam kotak ajaib yang kita sebut televisi dan acara yang kita kenal dengan sinetron.

Lucy Carlyle
(rekaan sosok Lucy Carlyle, diambil dari kurohaai.tumblr.com)

Satu hal lain yang menurut saya cukup istimewa di sini adalah pemilihan Lucy Carlyle oleh Stroud sebagai narator cerita.

Stroud bisa saja memilih Anthony Lockwood sebagai narator dan menceritakan kehidupannya, yang menurut saya sama menariknya dengan kehidupan Lucy sebagai agen muda. Namun Stroud tidak melakukannya. Ia memilih seorang gadis yang blakblakan, keras kepala, dan cukup cerewet sebagai sosok yang menjadi sosok yang menghubungkan pembaca dengan cerita Lockwood & Co.. Pun, ia sama sekali tidak seistimewa bakat-bakat yang dimilikinya. Dan bisa saya katakan saya cukup puas. Ah, tidak. Malah sangat puas dengan format yang dipilih Stroud untuk novel ini Laughing

Sampul versi Indonesia(diambil dari readbetweenpages.blogspot.com)

Di awal review saya menyebutkan bahwa novel ini diterjemahkan oleh salah seorang penerjemah idola saya. Dan menurut saya, terjemahan Lockwood & Co. cukup membuat saya nyaman dalam membaca kisah tiga pembasmi hantu muda. Walau beberapa kali saya harus membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia karena ada beberapa kata yang sebelumnya tidak pernah saya dengar. Tapi gaya bahasa Poppy D. Chusfani yang mengalir membuat proses membaca saya tidak terlalu bumpy.

Title(diambil dari ramdomhousechildrens.co.uk)

Secara pribadi saya melihat nyaris tidak ada bedanya antara film dengan novel. Yang menjadi pembeda hanyalah satu ditayangkan secara visual, sedangkan yang lain membutuhkan daya khayal serta faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik yang pas untuk mendukung hal tersebut. Dan saya menemukannya semua faktor itu dalam Lockwood & Co. sehingga semua misteri, horor, dan suspense yang menjadi genre novel ini terjalin dengan sempurna—termasuk komedi yang bahkan tidak terlalu mengambil porsi besar. Satu hal yang tidak saya jumpai dalam Life After Beth.

Lockwood & Co. di satu titik mampu mengantar pembaca pada poin misteri, lalu berayun ke horor, kemudian melayang sampai jantungan karena suspense yang ada di dalamnya. Dan semuanya disampaikan dengan jalinan baik di setiap pengembangan plot cerita (dan karakter para tokoh). Mungkin ini mengapa Stroud memilih kasus yang ditangani Lockwood dan Lucy sebagai awal cerita, dibanding perkenalan seperti yang biasa dilakukan oleh novel-novel pada umumnya. Untuk menitikberatkan pada faktor misteri dan meneruskannya dengan kehidupan Lucy di masa lampau, sampai akhirnya ia bertemu dengan Lockwood.

Yaaah… saya masih agak kecewa dengan penceritaan Life After Beth, Artebianz *menghela napas*

Baca juga: Sayap-Sayap Kecil - Mengintip Sepotong Kisah Rahasia Seorang Gadis SMA


 

Akhir kata untuk Lockwood & Co.: Screaming Staircase (Undakan Menjerit)

Secara pribadi, saya tidak meragukan kemampuan Jonathan Stroud dalam menjalin kata demi menciptakan cerita penuh misteri-suspense-horor dengan bumbu fantasi di sana-sini. Saya juga tidak sangsi dengan kemampuan Poppy D. Chusfani dalam menerjemahkan tiap kata dan rasa novel Stroud. Oleh sebab itulah, saya tidak ragu memberikan penilaian penuh untuk novel Lockwood & Co.: Screaming Staircase.

Untuk Artebianz yang menggemari cerita horor, misteri, dan suspense… saya merekomendasikan Lockwood & Co.: Screaming Staircase (Undakan Menjerit) untuk kamu Smile

 

 

 

Your book curator,

N.

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan


Indah Kurnia, Memimpin Tanpa Kehilangan Identitas Sebagai Wanita


Embroideries: Menyusup Dalam Kehidupan Para Wanita Timur Tengah


The Voices - Komedi Kelam tentang Suara-Suara di Kepala Kita


Kun Anta - Humood Al Khuder: Jadilah Diri Sendiri


Wakul Suroboyo - Berwisata Kuliner Khas Surabaya di Satu Tempat


Kedai Tua Baru Surabaya: Sajian Ala Malaysia-Jawa


Bukit Pawuluhan: Bukan Bukit Biasa


Literasi Agustus: GRI Regional Surabaya - Muda untuk Sastra


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Oma Lena - Part 4 (TAMAT)


Setitik  Tuba