SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh Film - Filsafat Eksistensi

09 Jan 2015    View : 9772    By : Nadia Sabila


SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh adalah sebuah film yang diangkat dari novel laris karya penulis berbakat, Dewi Lestari atau bernama pena Dee. Sebelum mengulas mengenai film ini lebih lanjut, saya merasa perlu untuk menjelaskan perihal pemilihan film ini sebagai review Artebia kali ini.

novel_supernova
Pertama, saya menggemari karya-karya Dee terutama serial Supernova. Sekadar pemberitahuan, novel Dee yang diangkat sebagai film ini adalah seri perdana Supernova yang terbit pada tahun 2001. Dan saya terakhir kali membaca novel tersebut sekitar tahun 2008. Dapat dikatakan, saya sudah lupa-lupa ingat dengan alur cerita dalam novel SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh ini. Lagi pula, saya memang sengaja untuk tidak mengulang membaca novel tersebut sebelum menonton filmnya, agar sudut pandang saya dalam mengulas film Supernova ini menjadi murni sudut pandang seorang penikmat film.

Kedua, mengulas sebuah film yang notabene adalah visualisasi dari sebuah novel populer seperti film Supernova ini, sangat sulit untuk tidak membandingkannya dengan isi novelnya. Bagi yang belum membaca novelnya, mungkin tidak akan melayangkan banyak protes. Tapi bagi yang sudah membaca, kemungkinan akan banyak pertentangan dan kontradiksi semacam: "Lho kok begini? Di novelnya tidak begini," atau "Adegan ini tidak ada di novel", bisa juga "Ah, adegan filmnya tidak selengkap novel". Dan berbagai macam paradoks lainnya.


Nah, di sini, saya sebagai seorang reviewer yang sudah sedikit "amnesia" dengan alur cerita di novelnya akan berupaya mengulas film Supernova murni sebagai sebuah sinema tanpa terlalu membandingkan dengan novelnya.

Baca juga: Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Adaptasi Dari Cerita Pendek

 

 

Imajinasi Dua Pria Homoseksual

Adegan pertama bermula dari dua orang pemuda bernama Reuben (Arifin Putra) dan Dimas (Hamish Daud) yang terlibat dalam sebuah percakapan serius mengenai eksistensi kehidupan. Isi percakapan mereka sarat dengan filsafat mengenai eksistensi manusia di muka bumi. Tentang siapa diri kita, untuk apa kita diciptakan, dan untuk apa semua benda yang ada di muka ini hadir.

Reuben dan Dimas memiliki pertanyaan dan pemikiran yang serupa dalam mengkritisi hal tersebut. Mereka berdua merasa sangat "klik", sehingga akhirnya muncullah sebuah pengakuan mengenai orientasi seksual mereka yang sejatinya adalah HOMOSEKSUAL. Bedanya, Reuben mengakui bahwa ia menyukai laki-laki dengan ringan, tanpa beban. Bahkan, orangtuanya pun mendukung keputusan Reuben untuk menjadi seorang gay.

".... Apabila Tuhan menghukum saya atas dosa saya yang seperti Sodom dan Homorah, maka orangtua saya juga akan mengajukan diri untuk dihukum. Apabila saya yang menjadi seorang homoseksual dianggap sebagai produk gagal, berarti mereka juga."

Ungkapan berani Reuben tersebut berlawanan dengan Dimas, yang masih harus bersusah payah menyembunyikan identitasnya sebagai penyuka sesesama jenis. Reuben mengatakan bahwa menjadi seorang pria homoseksual bukan berarti harus menjadi pria yang gemulai seperti perempuan. Mereka tetap bisa menjadi seorang pria sejati. Bagi Dimas, mengenal Reuben adalah sebuah anugrah layaknya bertemu dengan belahan jiwa.

Akhirnya mereka berdua pun berkomitmen untuk saling mencintai dan menyusun paradigma mereka yang rumit nan unik ke dalam wujud sebuah novel sci-fi (sience fiction). Alur novel yang disusun oleh pasangan ini paralel persis dengan kisah cinta segitiga yang dialami oleh Ferre (Herjunot Ali), Rana (Raline Shah), dan Arwin (Fedi Nuril) di belahan bumi lain di realita.

Baca juga: Stand By Me Doraemon



Dilema Cinta Segitiga

Adapun Ferre adalah seorang eksekutif muda sukses, cerdas, dan tampan; sosok sempurna idaman setiap wanita. Sayang, kehidupan cinta Ferre tak sesukses karirnya. Pria ini belum pernah jatuh cinta hingga akhirnya ia bertemu dengan Rana, seorang wartawan sebuah majalah wanita yang cantik, muda, dan cerdas. Sesi wawancara Rana pada Ferre menjadi pembuka jalan bagi keduanya untuk menyelami pribadi satu sama lain.

Pembicaraan Rana dan Ferre dimulai secara tak berkonsep. Dari kekaguman mereka berdua pada kupu-kupu hingga sudut pandang mereka mengenai kehidupan dan cinta. Perdebatan, saling tukar pengalaman hidup, mengobarkan chemistry antara dua insan ini. Rana dan Ferre saling mengagumi. Belakangan diketahui Ferre, Rana, wanita cantik yang ia kagumi itu ternyata adalah istri pria bernama Arwin.

Sosok Arwin di sini juga bukan laki-laki sembarangan. Arwin adalah anak dari keluarga ningrat, ganteng, sopan, dan memiliki pekerjaan yang bagus pula, Arwin dan Rana menikah atas dorongan sudut pandang sosial kedua orangtua mereka.

supernovaadegan Ferre makan siang dengan Rana setelah wawancara

Ferre, sosok pria bebas, besar di negara sekuler Amerika Serikat, dan dengan latar belakang keluarga yang berantakan karena ibunya bunuh diri dan ayahnya pergi entah ke mana, jatuh cinta pada sosok Rana yang berlatar belakang sebaliknya.

Rana dibebani oleh status sosial keluarga beradat ketimuran, di mana menikah adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan hubungan tanpa status yang menjurus ke perzinahan. Rana dibesarkan di lingkungan keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang. Pernikahan Rana dan Arwin terkesan kaku meskipun tampak jelas bahwa keduanya saling menghormati sebagai suami istri. Rana terus berupaya menjadi sosok istri yang baik dan lembut untuk Arwin, sementara Arwin sangat perhatian pada istrinya dan jelas tergambar bahwa ia tulus mencintai Rana.

Sedangkan cinta Rana ke Arwin mulai goyah semenjak ia mengenal Ferre. Rana tak bisa membohongi hatinya bahwa ia lebih bahagia bersama Ferre ketimbang bersama suaminya. Rana merasa lebih lengkap saat bersama Ferre.

Baca juga: Me Sharing A Copy of My Mind

 

 

Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh

Tiga tokoh tersebut adalah tokoh dalam dongeng yang terus dikhayalkan oleh Ferre sejak kecil.

Alkisah, seorang ksatria jatuh cinta pada seorang putri. Namun putri tersebut terbang ke langit sementara sang ksatria tak bisa terbang. Demi cintanya, ksatria pun belajar terbang mulai dari belajar pada kupu-kupu hingga pada bintang jatuh yang sanggup mengajarinya terbang menembus lapisan galaksi. Namun, di tengah jalan saat ksatria berhasil terbang mendekati posisi sang putri, bintang jatuh malah mengempaskan ksatria itu hingga menjadi debu tanpa sempat bertemu dengan sang putri cantik.

Setelah bertemu Rana, Ferre menganggap bahwa dirinya adalah Sang Kstaria dan Rana adalah Sang Putri yang selama ini ia cari. Malang, jalinan cintanya denga Rana lama kelamaan menemui jalan buntu. Tak mudah bagi Rana untuk bercerai dengan Arwin dan terbang ke pelukan Ferre yang lebih dicintainya mengingat pertalian sosial yang juga menikah saat Rana dan Arwin menikah. Begitu kompleks dan rumit hingga kemudian hadirlah sosok Supernova sebagai penengah.

Diva (Paula Verhouven), adalah seorang model cantik profesional sekaligus pelacur kelas tinggi. Diva sejatinya adalah sosok wanita misterius, yang di akhir film ini, sosoknya terungkap sebagai Sang Supernova sekaligus Si Bintang Jatuh.

 

 

Supernova: Sebuah Jaring

supernovaDiva - Sang model

Dalam skema novel rancangan Dimas dan Reuben, Supernova adalah sosok netral yang menengahi polemik hidup antara Ksatria dan Putri. Supernova adalah jaringan internet. Sedangkan bagi Ferre, Rana, dan Arwin, Supernova adalah sebuah kanal di internet yang mereka gunakan untuk berkonsultasi tentang masalah-masalah mereka. Menurut saya pribadi, Supernova dalam film ini adalah solusi. Supernova sesungguhnya adalah refleksi kata hati Rana, Arwin, Ferre, Dimas, dan Reuben sendiri.   

Baca juga: The Grand Budapest Hotel - Mereka Yang Layak Disebut "The Best Partners In Crime"

 


Review Sinematografi

Jika ditilik dari segi mise-en-scene dalam elemen pengambilan gambar kamera, menurut saya film Supernova ini terbilang sangat jeli dalam mengambil angle-angle bermakna. Shooting camera yang kebanyakan diambil dari atas, melukiskan keseluruhan setting yang digunakan oleh film ini dengan dramatis. Pantai di Bali, jalan layang, gedung-gedung pencakar langit di kota besar tempat Ferre tinggal, ditegaskan dengan jelas dalam film yang disutradarai oleh Rizal Mantofani ini. Adapula sekilas scene animasi bisu yang digunakan saat menceritakan scene dongeng Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

 

 

Ulasan Pribadi

Sebagai seorang penikmat film, menurut saya film Supernova sudah cukup representatif terhadap novelnya. Tetapi, tokoh Gio tidak diceritakan dalam film ini, meskipun di novel tokoh tersebut cukup penting. Yang saya sukai dari film Supernova ini adalah kefokusannya pada kompleksitas masalah. Plot cerita dibuat fokus pada tokoh-tokoh utama tanpa banyak interupsi dari pemeran-pemeran figuran yang saya rasa tak perlu, karena terkadang bisa mengaburkan pesan yang ingin disampaikan.

Film ini berusaha memenuhi kepuasan penontonnya yang malas membaca atau memang tak sempat membaca novelnya, sehingga mungkin karena itulah, menurut saya plot ceritanya dibuat padat dan bermakna.

Dialog-dialog yang diucapkan oleh para pemeran film ini disampaikan sebagian besar dalam bahasa Indonesia dan selintas-selintas dalam bahasa Inggris. Namun menurut saya, sebagian pemeran masih ada yang kurang jelas artikulasinya karena berbicara terlalu cepat, terutama pemeran Dimas, Reuben, dan Diva.

Adegan yang paling menyentuh menurut saya adalah saat Arwin menyatakan kerelaannya untuk melepas Rana pada Ferre, jika memang hal itu bisa membuatnya bahagia. Film ini seolah ingin menyampaikan bahwa pada akhirnya cinta akan merujuk pada kebebasan jiwa. Kebebasan untuk mencintai dan dicintai. Cinta Rana pada Ferre mengkristal layaknya cinta Arwin pada Rana meskipun pada akhirnya mereka bercerai dan Rana tak menikah dengan Ferre. Film Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang jatuh ini sarat akan pesan filsafat mengenai eksistensi manusia, Tuhan, serta hubungan antara emosi dan hormon. Dari angka satu sampai lima, saya beri bintang empat untuk film ini.

Baca juga: Guru Bangsa Tjokroaminoto



Film  SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh
Genre         : Drama
Produser    : Sunil Soraya
Sutradara   : Rizal Mantovani
Pemain      

: Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Paula Verhouven,
  Arifin Putra, Hamish Daud, Hany Pattikawa

Produksi    : PT Soraya Intercine Films (2014)
Story         : Diangkat dari Novel Kesatria,Putri,& Bintang Jatuh,
  karya Dee 
Durasi        : 2 jam
Rate           : 4 / 5 

 


Tag :


Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Review Film Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Indah Kurnia, Memimpin Tanpa Kehilangan Identitas Sebagai Wanita


Tentang Gaya Penceritaan Orizuka - Dari Manisnya Cinta Sang Pangeran Hingga Pahitnya Skripsi (I)


The Swimmer (Fak Wai Nai Kai Ther): Ketika Persahabatan Menjadi Dendam


Kun Anta - Humood Al Khuder: Jadilah Diri Sendiri


Happy Squid Dan MatchaPekoe: Kuliner Unik Ala Bazar Tematik


Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya - Perpustakaan Umum Senyaman Perpustakaan Pribadi


Grojokan Sewu: Seribu Cerita Dari Grojokan


Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 2)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Balada Sebuah Perut


Perjalanan, Pergulatan Waktu