Maleficent - Dekonstruksi Cinta Sejati dan Dongeng Putri Tidur

12 Jul 2014    View : 8055    By : Niratisaya


“Let us tell an old story a new and we will see how well you know it”

 

Tahun 2014 menjadi tahun kebangkitan dongeng Putri Tidur. Satu diproduksi oleh Amazon Instant Streaming dan disutradarai oleh aktor Casper Van Dien, sedangkan yang lain diproduksi oleh Disney dan disutradarai oleh Robert Stromberg.

Dengan pengalaman Stromberg sebagai sutradara, desainer, dan ahli efek—pilihan saya tentu akan dengan mudahnya jatuh pada Maleficent. Namun bukan itu saja alasan saya memilih film yang turut dibintangi oleh salah satu mantan kepala sekolah Harry Potter ini.

Satu faktor yang akan selalu berhasil membuat saya terpikat terhadap sebuah cerita adalah dekonstruksi. Seperti yang telah diketahui umum, sebuah cerita (baik dalam bentuk novel, komik, drama, maupun film) akan selalu berkisar pada formula yang sama: pertemuan antara pemuda dan seorang gadis. Meski pada beberapa kasus pemuda itu akan menjelma sebagai seorang pria dan gadis itu menjadi seorang wanita.

Faktor dekonstruksi pulalah yang membuat saya penasaran setengah mati dengan iming-iming Disney atas cerita Putri Tidur (Aurora) yang lain dari biasanya. Rasa tertarik saya semakin meningkat manakala Disney mengumumkan bahwa pihaknya mengusung sosok Maleficent, seorang peri yang mulanya hanya sebagai peran pembantu dan sekadar nancap di ingatan sebagai pemberi kutukan. Sebuah penampilan yang hanya butuh waktu sekitar tiga sampai lima menit, sementara imbas dari keberadaan Maleficent sendiri mempengaruhi jalan cerita Putri Tidur. Tak terbayang rasanya seandainya Maleficent tak ada, apa jadinya Aurora dan mimpi panjangnya?

Dan perlukah saya menambahkan Angelina Jolie dalam daftar ini?

Tanpa penjelasan panjang lebar lagi, izinkan saya mengulas cerita peri kita yang selama bertahun-tahun mengalami “ketidakadilan” dalam dunia sinema ini.


SPOILER ALERT!

Walau saya berusaha untuk melewati beberapa bagian penting dalam cerita, tapi bagi Artebianz yang berharap bisa menonton cerita Putri Tidur era milennium dengan segala elemen mengejutkannya, silakan keluar dari sini. Kecuali kalau Anda adalah tipe yang tak terpengaruh dengan ulasan atau pendapat orang lain, serta bisa dengan santai menonton film. Silakan, teruskan niat Anda membaca posting ini.

Baca juga: Stand By Me Doraemon

 

 

Guliran Cerita Maleficent

Alkisah, pada zaman dahulu berdirilah dua negara dengan perbedaan yang begitu mencolok. Satu negara dihuni oleh para manusia dan dipimpin oleh Raja Henry (Kenneth Cranham), yang tak pernah puas dengan luas ataupun kekayaan kerajaannya. Sementara kerajaan lainnya, Moors, ditinggali oleh makhluk-makhluk ajaib yang percaya bahwa mereka tak memerlukan raja atau ratu. Penduduk Moors percaya satu sama lain untuk menjaga kedamaian dan kerukunan sesamanya. Setiap penghuni Moors memiliki kekuatan dan mereka berperan sesuai dengan kelebihan masing-masing. Salah satu di antara mereka adalah Maleficent (Maleficent muda diperankan oleh Isobelle Molloy, sedangkan Maleficent remaja oleh Ella Purnell), seorang peri muda dengan ukuran tubuh serupa dengan manusia.

Didorong oleh perbedaan masing-masing kerajaan, manusia dengan keserakahannya dan Moors dengan kebebasannya, friksi antara peri dan manusia tak terhindarkan. Hingga suatu kali Moors kedatangan seorang penyelundup, seorang anak lelaki bernama Stefan (Stefan muda diperankan oleh Michael Higgins, sementara Stefan remaja oleh Toby Regbo). Terdorong oleh persamaan nasib dan rasa kesepian, Maleficent dan Stefan pun menjalin persahabatan. Satu hal yang kala itu tak pernah terbayangkan dalam dunia peri dan manusia.

(courtessy to fanpop.com)

Entah apakah kepercayaan bahwa seorang lelaki dan perempuan tidak akan bisa berteman itu benar, atau Stefan kadung nyaman dengan peri kita, hubungan Maleficent dan Stefan pun berkembang menjadi cinta. Tentu saja, dengan perbedaan mendasar antara mereka berdua—peri yang hidup bebas tanpa memiliki ambisi, sedangkan manusia… yah, seperti yang kita tahu—Stefan dan Maleficent tak bisa menjalin hubungan yang normal. Di luar perbedaan fisik antara keduanya. Dan tentu saja, kita tidak sedang membicarakan Twilight di sini, Artebianz.

Perbedaan antara Stefan dan Maleficent semakin kentara tatkala Raja Henry, yang dipermalukan oleh Maleficent (Angelina Jolie) dalam pertempuran mereka, mengumumkan bahwa dia akan menikahkan siapa pun yang berhasil membunuh Maleficent dengan putrinya. Stefan dewasa (Sharlto Copley) yang bekerja sebagai OB di kerajaan Raja Henry mendengar hal itu. Kontan saja, dalam benak Stefan yang sejak kecil bermimpi hidup enak, muncul pikiran busuk. Dalam waktu singkat, dia melupakan persahabatan—dan apa yang sempat dijanjikannya pada Maleficent.

Namun persahabatan bertahun-tahun dengan Maleficent, membuat Stefan tak mampu menghabisi nyawa peri bertubuh bongsor tersebut. Pada akhirnya dia hanya mengambil sepasang sayap Maleficent dan menyerahkannya pada Raja Henry. Di lain pihak, Maleficent terkejut saat dia terbangun dari tidurnya dan menemukan dirinya telah kehilangan sayap kebanggaannya. Maleficent lebih kecewa lagi saat mengetahui bahwa Stefanlah yang melakukannya, demi mendapatkan tahta kerajaan Henry. Dan bola salju dendam Maleficent terhadap Henry pun mulai menggelinding, siap melindas siapa pun yang ada di depannya.

Tak lagi bisa terbang, Maleficent kemudian mengambil seekor burung gagak, Diaval (Sam Riley) dan menyihirnya menjadi manusia jejadian. Merasa berutang budi pada Maleficent yang menyelamatkannya dari rajaman seorang manusia, Diaval pun bersumpah untuk setia pada Maleficent. Sejak itu, Diaval mengabarkan segala hal yang terjadi di istana yang kini jadi milik Stefan pada Maleficent. Inilah mengapa, walau tak diundang, Maleficent tahu tentang pesta kelahiran putri Aurora yang diadakan oleh Raja Stefan dan ratunya.

Dan seperti yang kita tahu, dari cerita dongeng lama—untuk Artebianz yang sewaktu kecil membaca atau dibacakan dongeng—atau dari animasi lama Disney, Maleficent memberikan kutukan pada Bayi Aurora bahwa ketika mencapai usia 16 tahun dia akan tertusuk jarum mesin pemintal, kemudian jatuh dalam tidur abadi. Sampai dia menerima ciuman dari cinta sejatinya.

Seperti yang kita tahu, setelah itu Putri Aurora dikucilkan dari pergaulan sampai di hari ulang tahunnya dan semua mesin pemintal dibakar oleh sang raja.

Sampai di sini, naskah yang ditulis oleh Linda Woolverton nyaris mengikuti keseluruhan cerita asli dalam dongeng Putri Tidur. Selebihnya, di awal film dan bagian pertengahan hingga akhir, Woolverton mengembangkan imajinasinya sendiri mengenai kehidupan peri (yang konon jahat) kita ini. Dan harus saya katakan, saya menyukai hasil karya Miss Woolverton.

Baca juga: Warm Bodies - Menggali Kehidupan dari Kematian

 

 

Dekonstruksi Dongeng Ala Disney Dalam Maleficent

Bagi saya kebanyakan cerita Disney, apalagi yang terkait dengan putri-putrian, selalu memiliki “cita rasa” yang manis dan masih berbau dongeng. Namun lewat Maleficent, Disney berhasil mengubah pandangan saya. Ya, kita masih memiliki putri yang tak bisa lepas dari tudung “Damsel in Distress”-nya lewat tokoh Aurora (Elle Fanning). Ini mungkin karena cerita ini fokus pada kisah Maleficent, sehingga Aurora terkesan sebagai pelengkap cerita. Sampai akhirnya cerita nyaris bergulir ke akhir dan Aurora hadir sebagai pemberi kejutan dalam plot Maleficent. Satu hal yang sama sekali lain dan tak ada dalam cerita.

Mengenai sosok Maleficent sendiri, ia mengalami banyak perubahan. Dari sekadar muncul sebagai pemberi kutukan dan musuh yang entah kenapa di dalam dongeng tak lagi disentil, Maleficent ala Jolie tampil sebagai sosok wanita yang utuh—yang bisa jatuh cinta, patah hati, kemudian menuntut balas. Serius, para lelaki di luar sana, kalau tidak ingin sesosok Maleficent menuntut balas dendam kepada kalian, jangan pernah menyakiti wanita!


Dengan sosoknya yang demikian, rasanya jadi masuk akal, mengapa Maleficent nekat datang ke pesta raja, sementara dia tidak diundang. Tentu saja, alasannya lebih dari curhat Desy Ratnasari di lagu Tenda Biru (yang kelahiran tahun 80-an, angkat tangan!). Serta mengapa dia memberi kutukan seperti itu dan penangkal demikian pada Aurora.

Di mata saya, dekonstruksi Putri Tidur dalam Maleficent menjawab semua pertanyaan yang selama ini tak terjawab dalam benak saya mengenai kisah dongeng ini.

Hal lain yang diciptakan oleh Woolverton dalam Maleficent adalah hubungan salah satu peri Moor itu dengan Aurora. Boleh dibilang semua adegan yang melibatkan Maleficent dan Aurora selalu menarik bagi saya, nyaris sama menariknya dengan semua adegan yang memperlihatkan akting Jolie sebagai Maleficent. Interaksi antara dua perempuan ini menjadi pelengkap sosok Maleficent, sebagai wanita. Dan menjadi semacam obat bagi “luka” Maleficent.

(courtessy to channel24.co.za)

Baca juga: Life After Beth - Kehidupan Setelah Kematian

 

 

Impresi Personal Saya terhadap Maleficent

Perlukah saya menyebutkan tentang akting Angelina Jolie di sini? Kalau dipikir-pikir, rasanya perlu.

Kebanyakan dari kita tentu tahu, kekasih Brad Pitt ini selalu tampil sebagai sosok wanita yang tangguh dalam setiap filmnya. Dan menempatkan karakter Jolie yang kuat dalam Maleficent, benar-benar keputusan yang cerdas! Bukan hanya itu saja—pemeran lain, kostum, dan CG dalam film Maleficent pun layak dipuji. Bravo tim Stromberg!!


Diambil dari brightestyoungthings.com

Kalau ada yang aneh dalam film ini, itu adalah pelayan di kerajaan Raja Stefan. Serius, sewaktu melihat Aurora lari dari kamarnya, reaksinya cuma memanggil si putri dan baru mengejar setelah beberapa saat.

Serius?

SE.RI.US?!

Kemudian, apa yang terjadi pada hadiah peri ketiga? Si peri masih utang satu hadiah ke Aurora. Kalau saya jadi Aurora, saya akan menyewa pengacara dan menagih janji hadiah dari peri ketiga!

Mulanya saya mengira adegan bebatuan yang terbang sebagai adegan yang sia-sia, tapi setelah kau kehilangan satu hal yang kau miliki sejak lahir, rasanya kemarahan Maleficent cukup masuk akal. Apalagi setelah saya membaca artikel ini, yang menjelaskan makna dibalik adegan “Maleficent kehilangan sayapnya”.

Ada satu adegan yang langsung menarik di mata saya, Artebianz. Yakni sewaktu Stefan mencuri semacam berlian dari negeri Moor. Alih-alih menghukum Stefan, Maleficent sekadar mengembalikan berlian dengan “membuangnya” kembali ke alam. Adegan tersebut menggambarkan dua hal, bagaimana keserakahan manusia mendorongnya untuk mengambil dan memanfaatkan apa pun di sekitarnya, tanpa berpikir panjang mengenai alam itu sendiri.

Pada adegan yang sama hadir pula percakapan yang cukup menarik antara Stefan, Maleficent, dan Balthazar. Stefan yang ketakutan akan dibunuh oleh Balthazar yang memergokinya mencuri batu berharga, memilih untuk bersembunyi. Ketika Maleficent menyuruhnya untuk keluar dari persembunyiannya, Stefan yang ketakutan terhadap sosok Balthazar menolak. Ia mengatakan berkata, sosok Balthazar begitu mengerikan. Mendengar itu, Baltahazar si pelindung Moor tersinggung. Maleficent pun berkata pada Stefan, bahwa sikapnya itu sangat kasar. Ia lalu beralih pada Balthazar dan berujar, “Jangan dengarkan dia, Balthazar. Kau tampan.”

Oke, ini memang sekadar film. Tapi salahkah, jika kita belajar dari sana untuk menghargai semua yang ada di sekitar kita dan berhenti menilai sesuatu dari penampilannya? Maksud saya, benar-benar menghargai sekitar. Terlepas apakah itu adalah sesama manusia, hewan, atau tanaman—karena kita tinggal di alam yang sama, tak ada salahnya kita saling menghargai, bukan?

Mengenai cinta sejati itu sendiri, terkadang kita terlalu fokus pada satu hal yang begitu memabukkan. Seperti pecandu minuman bersoda, yang tak bisa hidup tanpa minum minuman berkarbonasi tersebut, sementara di pihak lain dia sadar—dirinya takkan bisa menghapus rasa hausnya dengan terus meminum minuman tersebut.

Untuk detail yang satu ini, saya benar-benar menyukainya!!!

Maleficent adalah satu dongeng yang saya sarankan bagi Anda, Artebianz, untuk anak/keponakan/adik perempuan Anda. Dia mengajarkan lebih dari sekadar menunggu ciuman/kehadiran lelaki agar seorang perempuan bisa mengaktualisasikan dirinya.

Baca juga: The Grand Budapest Hotel - Mereka Yang Layak Disebut "The Best Partners In Crime"

 

 

Rating Maleficent Menurut Saya:

Rating

 

 

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Film Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri


Legend of Sleepy Hollow - Cerita Horor Negeri Paman Sam


The Imitation Game - Menginspirasi Banyak Orang Tentang Makna Perbedaan


Kun Anta - Humood Al Khuder: Jadilah Diri Sendiri


Goyang Kaki Dan Goyang Lidah Di Lontong Kikil Bu Dahlia


Patbingsoo - Yang Gurih-Manis Ala Korea di Surabaya


Piknik Asyik Bersama Keluarga Di Pantai Teleng Ria


Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Mahfud Ikhwan, dan Kambing


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Your Dream (Not?) Comes True


Setitik  Tuba