The Voices - Komedi Kelam tentang Suara-Suara di Kepala Kita

07 Dec 2015    View : 2243    By : Niratisaya


Jerry: But even though there are bad moments.

Dr. Warren: Very bad moments.

Jerry: Very bad. [But] There’re also moments of the inspiration and beauty when all the world make sense. And the other can see mechanics of man and God that reveal in their many dimensions in the universe that’s laid before my eyes, and it is a pleasant place.

Jerry and Dr. Warren

Saya mengenal Ryan Reynolds pertama kali lewat film romance-comedy The Proposal. Di film itu, Reynolds beradu akting dengan Sandra Bullock. Dan jujur, saya nggak terlalu ingat banyak soal akting Reynolds. Yang saya ingat hanya Reynolds akting cukup decent dan dia menawan. 

Sampai akhirnya, suami Blake Lively ini bermain ala one-man show dalam film Buried. Saat itulah saya sadar; Reynolds punya sesuatu dalam dirinya yang membuat perhatian orang bukan hanya terpancang pada dirinya. Tapi juga memercayai “kebohongan” yang dirancang lewat ekspresi dan aktingnya. Reynolds hanya membutuhkan sebuah naskah yang tepat untuk membuktikan kemampuan aktingnya. Dan The Voices memberikan “ruang” itu untuk aktor kelahiran Vancouver, Kanada, ini.

Sayangnya, film arahan Marjane Satrapi—dengan segala kegelapan dan ke-gory-an yang mungkin hanya akan lolos jika muncul dalam format novel— ini sama sekali nggak mungkin tayang di bioskop Indonesia. Entah bagaimana reaksi masyarakat Indonesia saat menonton cerita film drama black comedy ini. Memboikot bioskop-bioskop atau menuntut distributor menariknya? Bisa jadi itu dilakukan. Khususnya beberapa ormas mewarnai diri dengan atribut keagamaan.

Atau bisa jadi nggak terjadi apa-apa, karena film ini “digunting dan kelim” pihak lembaga sensor.

But to be honest, The Voices is a very interesting movie. Artebianz yang suka film absurd yang nggak bisa dijelaskan langsung dengan logika umum, dan menantang kamu untuk berpikir serta memikirkan ulang tentang kehidupan, mungkin bakal menikmati The Voices.

Walau sebenarnya sampai detik ini nggak ada yang bisa mengalahkan keabsurdan dan ke-gory-an film The Human Centipedes.

 

Spoiler Alert!

Mempertimbangkan kecil kemungkinan The Voices tayang di bioskop Indonesia, saya akan mengulas film yang tayang setahun lalu ini dengan sebebas-bebasnya. Jadi, seandainya Artebianz pengin sebelumnya sudah nemu film ini dan pengin nonton, considered that you’re warned before about the spoiler in this movie review.

The Hickfangs

 

Peringatan!

The Voice bukanlah film dark-comedy yang bisa kamu tonton bersama mereka yang....

1. Nggak punya nyali (karena ada banyak adegan berdarah-darah di film ini).

2. Masih di bawah 18 tahun (karena alasan no. 1, juga karena bahasa kasar yang bertebaran di satu dialog ke dialog lain).

3. Gampang terbawa mimpi (nggak kebayang kan kalau besoknya si temen ini berubah jadi Jerry Hickfang 2.0?).

Okay, Artebianz?

Now, you may read this review Smile

 

 


The Voices: Masa Lalu dan Suara-Suara Itu....

Cerita dibuka dengan pemandangan jalanan lengang menuju Milton, sebuah kota industri dengan populasi 4.504 orang. Kemudian, pemandangan itu kemudian berganti asap pekat serupa mendungyang dihasilkan oleh tiga cerobong perusahaan perabotan untuk kamar mandi bernama serupa dengan kota tempat setting cerita.

Milton

Di tempat itulah tokoh utama kita, Jerry Hickfang (Ryan Reynolds) bekerja. Jerry dipekerjakan di perusahaan Milton sebagai bentuk salah satu program dari dokternya, Dr. Warren (Jacki Weaver), agar lelaki itu bisa beradaptasi dengan masyarakat sekitar, sekaligus agar dia mempelajari kehidupan selayaknya manusia normal lainnya.

Ya, Jerry adalah pasien psikiater yang tengah menjalani rawat jalan.

Sebenarnya, Jerry adalah korban kekerasan keluarga yang didalangi oleh ayah tirinya (Paul Brightwell). Semua terjadi ketika dia masih remaja. Ayah tiri Jerry, yang seorang mantan tentara, nggak tahan melihat anak tirinya (Jerry muda dimainkan oleh Gulliver McGrath) yang sudah beranjak dewasa, tapi masih berteman dengan teman khayalan berupa boneka. Keadaan keluarga Jerry semakin buruk dengan kenyataan bahwa ibu Jerry (Valerie Koch) sering mengalami halusinasi. Dia percaya malaikat sering mengunjunginya diam-diam. Namun, nggak dijelaskan apa yang membuat ibu Jerry punya kepercayaan demikian.

Jerry and his dad

Meski terdaftar sebagai pasien dengan masalah kejiwaan, interaksi sosial Jerry nyaris serupa seperti orang-orang di sekitarnya. Perbedaan Jerry dari orang-orang lain mungkin hanya reaksi dan ekspresinya yang lebih mirip anak-anak dengan wajah polosnya. Tapi, walau demikian—seperti lelaki pada umumnya, Jerry punya ketertarikan pada perempuan. Secara khusus, dia tertarik pada Fiona (Gemma Arterton), salah seorang pegawai bagian akuntansi dengan aksen Inggris yang sebenanya nggak naksir-naksir amat pada Jerry. Walau Lisa (Anna Kendrick), berpendapat sebaliknya.

Suatu hari, Perusahaan Milton mengadakan acara barbeku perusahaan untuk mendekatkan para pegawai. Jerry yang dianggap pekerja keras mendapatkan tugas dari bosnya, Mr. Kowalski (Paul Chahidi) untuk mengurus pesta barbeku tersebut. Semangat Jerry semakin tinggi manakala dia tahu Fiona juga tergabung dalam panitia pesta barbeku perusahaannya.

Tapi, ada yang nggak menyukai semangat Jerry.

Ketika pulang ke rumahnya yang ada di bekas gedung bowling, dan dia menyiapkan pakaiannya untuk rapat pesta, Jerry mendapatkan kritik dan celaan dari salah seorang penghuni gedung bowling yang lain. Yang kemudian kita ketahui bernama Mr. Whisker. Kucing Jerry.

Ya, kucing berjenis serupa dengan Garfield dan memiliki suara beraksen Skotlandia. Dan Mr. Whisker inilah salah satu suara yang menjadi judul film ini. Dia dan Bosco, anjing peliharaan Jerry. Sementara Bosco mendukung dan bersikap positif terhadap segala hal yang terjadi pada Jerry, tidak demikian dengan Mr. Whisker. Dia mencela, mengkritik, bahkan menghina Jerry. Termasuk menghancurkan harapan Jerry untuk bisa bersama Fiona. Wanita Inggris yang digambarkan Mr. Whisker sebagai peminum teh dan hanya mau berhubungan dengan lelaki bernama Aidan atau Nigel.

Baca juga: Life After Beth - Kehidupan Setelah Kematian

 

Good vs. Evil

Namun, berlainan dengan pendapat Mr. Whisker, harapan Jerry mendapat jawaban positif. Lewat beberapa interaksi kecil, dia berhasil mengajak Fiona berkencan.

Sayangnya, meski di awal Fiona mengiyakan ajakan Jerry, dia memilih menghabiskan waktu bersama dua pegawai bagian akuntansi yang lain: Lisa dan Alison (Ella Smith). Tapi sudah nasib Fiona untuk berkencan dengan Jerry, mobil perempuan itu mogok dan dia lantas meminta bantuan Jerry, yang kebetulan melintas di depan Fiona.

Kencan yang semula dikira Jerry batal, akhirnya terwujud. Lelaki yang tadinya merasa sedih dan lesu karena ditinggal sendirian di restoran yang sepi itu pun tersenyum lebar. Semua berkat hujan deras, mobil Fiona yang ngambek, dan ponselnya yang mati total.

Di dalam mobil, Jerry dan Fiona mulai membicarakan segala hal. Mulai dari urusan kantor sampai sosok Jerry yang dinilai misterius oleh para pegawai Milton lainnya. Jerry pun menerangkan pada Fiona beberapa hal tentang dirinya; dari mana dia berasal dan mengapa dia bisa berakhir di Milton. Sebagai gantinya, Fiona menjelaskan tentang dirinya. Terutama ketika Jerry berkata bahwa surga pasti lebih baik dibanding Milton, yang nggak memiliki banyak tempat hiburan. Fiona menjawab, “I’m from Redding. Redding is a lot close to hell.”

Fiona the AngelFiona the Angel, a mixture of Jerry's halucination and expectation.

Mendengar jawaban Fiona, Jerry teringat pada para malaikat dalam Al Kitab. Dia pun melontarkan trivia. “There’s tons of angels in the bible, but only four of them have names. Three of which are Michael, Raphael, and Gabriel. Who’s the fourth?”
Ogah berpikir mengenai hal-hal yang berbau reliji, dengan asal, Fiona menjawab Freddie si malaikat. Jerry menoleh, lalu mengingatkan bahwa orang selalu lupa bahwa sosok keempat itu adalah seorang malaikat.

Sebelum penonton mendapatkan reaksi Fiona atas trivia Jerry, wanita itu berteriak. Detik berikutnya, terdengar bunyi keras dan kaca pecah. Jerry tanpa sengaja menabrak seekor rusa yang melintas. Pada saat itu juga, terjadilah peristiwa yang sempat ditakutkan Jerry ketika dia menghadiri sesi konsultasi dengan psikiaternya; Fiona akan mengetahui tentang keadaan dirinya dan kondisi kejiwaannya.

Anehnya, pada saat melihat rusa itu kesakitan dan dia seakan mendengar permohonan rusa itu agar Jerry mengakhiri penderitaannya dengan memotong urat lehernya, lelaki itu sama sekali nggak memikirkan Fiona yang ada di sebelahnya. Dia bergegas mengambil pisau dan menggorok leher si rusa. Keruan saja, Fiona ketakutan saat melihat Jerry mengambil pisaunya dan memotong leher si rusa. Sementara itu, sambil menggorok si rusa, Jerry menjelaskan bahwa malaikat yang dianugrahi nama oleh Tuhan adalah Lucifer.

Detik itu, suasana ceria dan bubbly karena kegandrungan Jerry pada Fiona musnah. Berganti horror saat Fiona melompat keluar dari mobil Jerry, karena dia ketakutan melihat sosok lelaki itu yang bersimbah darah dan memegang pisau di salah satu tangannya. Hilang sudah sosok polos dari diri Jerry dalam benak Fiona, berganti  menjadi sosok pembunuh haus darah yang akan menghabisinya.

Fiona pun berlari ke hutan, dengan harapan Jerry akan kehilangan jejaknya dan dia berhasil meloloskan diri dari maut. Nahasnya, sewaktu melarikan diri, wanita itu terjerembab dan jatuh ke belakang. Jerry yang mengejarnya pun ikut tersungkur. Dan, tanpa sengaja, Jerry menghunuskan pisaunya ke perut Fiona—menempatkan wanita itu pada posisi yang sama dengan si rusa ketika Jerry berhasil menyusulnya.

The Killing

Sembari mencabut pisaunya, Jerry bertanya, “I’m sorry if I hurt you. Yo-you in pain? You suffering?” pada Fiona yang jelas-jelas kesakitan dan memuntahkan darah.

Sekilas pertanyaan Jerry terdengar konyol. Tapi, tentu saja, Jerry bertanya demikian bukan karena dia nggak bisa melihat penderitaan Fiona. Dia hanya ingin memastikan sesuatu sebelum mengambil satu tindakan. And I think you could pick some clues, Artebianz.

Saat melihat Fiona memberikan ekspresi memangnya-kamu-nggak-bisa-melihat-apa-?!, penonton diingatkan pada peristiwa rusa yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Minus suara mengiba dari Fiona agar Jerry mengakhiri hidupnya.
Nggak ingin Fiona menderita terlalu lama, Jerry pun kembali menggunakan pisaunya untuk “meringankan penderitaan” Fiona seraya membisikkan, “Aku cinta padamu” pada Fiona.

Peristiwa Fiona dan rusa ini kemudian membangkitkan salah satu alter ego dalam diri Jerry, berikut ingatan akan trauma masa kecilnya. Jerry nggak lagi menjadi sosok polos seperti dia sebelum menit ke-27:41. Dia nggak hanya mendengar suara Mr. Whisker atau Bosco, tapi juga Fiona—yang tubuhnya sudah dicincang Jerry jadi potongan-potongan kecil dalam semacam kotak Tupperware, serta kepalanya disimpan di dalam lemari pendingin.

Tapi… Fiona nggak meminta Jerry untuk mengakhiri (penderitaan) hidupnya, pastinya—wong Fiona sudah meninggal. Dia meminta Jerry untuk mencarikannya teman.

Another head.

Fiona the Head 2

Baca juga: The Swimmer (Fak Wai Nai Kai Ther): Ketika Persahabatan Menjadi Dendam

 

 

Ceracau Saya tentang The Voices (dan Ryan Reynolds)

Meski menyertakan embel-embel “dark-comedy” (notice I put underline and bold on the word "comedy") dalam filmnya; entah mengapa, saya nggak bisa tertawa lepas saat menonton The Voices.

Ya, ada beberapa momen konyol memang di film ini. Tapi untuk bisa membuat saya tertawa lepas… sayangnya nggak. Bahkan ketika saya menonton film ini untuk kesekian kalinya. Sebaliknya, saya justru tertarik pada sisi thriller dan dark dari film The Voices. Kecerdasan naskah dan pengarahan film yang nggak terlalu digaung-gaungkan oleh tim marketing Satrapi—atau Lionsgate dalam hal ini.


Normalnya Dunia Abnormal Jerry Hickfang

Umumnya, cerita yang tentang tokoh dengan masalah kejiwaan akan memiliki warna yang gelap—kalaupun toh tone yang dipilih cerah, pasti ada sesuatu yang off dari scene atau setting—tapi nggak demikian dengan The Voices. Film ini, atau lebih tepatnya Satrapi, memilih untuk membidik cerita tentang kehidupan multi-dimensional milik Jerry Hickfang secara berjarak, sehingga penonton akan melihat Jerry hanya sebagai laki-laki dengan mental seperti anak kecil yang tengah beranjak dewasa dan dimabuk asmara, serta kota kecil yang nyaris terpencil yang ditinggalinya.

Meski Milton digambarkan sebagai kota minus hiburan dan tiap paginya dihiasi asap perusahaan furnitur kamar mandi, yang memiliki nama serupa dengan kota tersebut, tapi seragam tempat Jerry bekerja melenyapkan semua gambaran itu. Warna pink mencolok yang jadi seragam dan ekspresi pria yang mengenakannya segera membuat pikiran saya fresh. Dan siap untuk segala banyolan yang bersumber dari khayalan Michael R. Perry, penulis skenario.

Namun, alih-alih disambut dengan dialog atau adegan humor slapstick, saya disuguhi kehidupan normal seorang pasien kejiwaan yang tengah berusaha beradaptasi dengan kehidupan normal. Termasuk perasaan jatuh cinta. Siapa pun yang melihat interaksi antara Jerry dengan Kowalksi hanya akan menangkap tanda-tanda bahwa Jerry punya rasa pada Fiona, “that cute English chic in accounting”. Yang kelihatan banget dari bagaimana percakapan Jerry-Kowalksi mengalami overlapping.

Mr. Kowalski and Jerry

Namun, nggak ada yang menyangka bahwa kecenderungan Jerry untuk ber-overlapping dalam sebuah percakapan bisa berarti lain. Bahwa di pikiran Jerry terdapat suara-suara yang selalu membuatnya sibuk sendiri.

Dengan halus, Satrapi menggiring penonton untuk berpikir bahwa Jerry hanyalah lelaki dewasa yang polos dan tengah mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan manusia dewasa lainnya. Yang mayoritas nggak bersikap manis dan berpikiran polos semacam Jerry.

Percakapan lain antara Jerry dengan sosok misterius di rumahnya juga menjadi salah satu clue.

Sosok Misterius:  What you doing Jerry?
Jerry:  Something for work.
Sosok Misterius:  Who's hustle give you homework-night?
Jerry:

 Trying out shirt for tomorrow. I got something they want me to
  do. 

Sosok Misterius:  A shirt? Should not be a straight-jacket? 
Jerry:  Shut up.  
Sosok Misterius:  You act like the dude in your favor let you work there. Bet they
  should be able to f**k you in the **s without lube whenever
  they want. Like some big privilege, let you work for free
  in their picnic.
Jerry:

  (Terkejut) How do you know about the picnic?

Sosok Misterius:  I know everything Jerry—
Jerry:

 I'm not talking to you. (Menutup kerai pembatas kamar)

Sosok Misterius:  —they mock you the second you leave the room, Jerry. You're an unstabble cry baby.
Jerry:  I'm not a cry baby.
Sosok Misterius:  You cry right now. I heard you.
Jerry:  (Menghapus air mata)

Pada awalnya, Satrapi membiarkan penonton berpikir bahwa si sosok misterius ini adalah teman sekamar Jerry, yang seperti umumnya teman sekamar dalam film-film komedi, mencela Jerry dan membuat lelaki itu menyadari kondisi kejiwaannya, serta bagaimana orang-orang memandang Jerry.

Sampai akhirnya tabir itu dibuka pada 10:53 dan ternyata si sosok misterius itu adalah salah satu peliharaan Jerry: Mr. Whiskers. Dia memiliki kecenderungan berbicara kasar, selalu mencela, dan menjerumuskan Jerry pada hal-hal negatif. Pendek kata, Mr. Whiskers adalah perwakilan untuk suara setan dalam diri Jerry. Dan pastinya anjingnya; Bosco—yang kalem, menenteramkan, memberikan jalan keluar yang logis, dan selalu mengajak Jerry jalan-jalan—adalah perwakilan si malaikat. 

Kronologi
Antara halusinasi dan rasa "hidup" versus kenyataan yang dipisahkan butiran pil.

Seperti kebanyakan film yang melibatkan suara-suara dan hewan peliharaan, sumber comedy yang paling utama The Voice berasal dari percakapan Jerry dan dua binatang berbulu yang jadi teman sekamarnya. Khususnya, pertengkaran Bosco dan Mr. Whisker, serta bagaimana mereka berusaha "menguasai" Jerry.

Sayangnya, "kutub" yang seimbang di rumah Jerry menjadi agak kacau begitu Fiona muncul. Well, mulanya dia bersikap sebagai logika Jerry yang menyuruh laki-laki itu untuk segera meminum pilnya. Tapi, keesokan harinya, Fiona malah bersikap seolah dia menyalahkan obat itu.

Fiona:  Beastly drugs. They make me look like a sodden Jack o Lattern.
Jerry:

 You know what? And you stinky too. (Mengendus puncak kepala Fiona)

 And now you smell like…. (Mengendus puncak kepala Fiona sekali lagi)

 You smell….  (Mengendus kembali) like a baby shampoo. You’re beautiful.

Fiona the Head

Pada detik itu, saya sadar; Fiona adalah sosok Jerry. Dia mewakili hasrat mendalam Jerry sendiri (untuk membunuh dan merasa "hidup") dan kesadaran laki-laki itu akan apa yang tengah terjadi, serta akibat dari perbuatannya.

Kompleksnya permainan suara Jerry dan kesadaran dirinya inilah yang membuat saya nggak mudah tertawa lepas bersama guyonan The Voice. Comedy, apa pun caranya, semestinya bisa membuat pendengar/penonton tertawa dengan lepas tanpa berpikir. Semacam film Pee Mak Phra Kanong yang mengadaptasi cerita rakyat Thailand.

Kalaupun ada adegan yang membuat saya ketawa lepas itu adalah ketika Dr. Warren untuk pertama kalinya bertemu dengan (kepala) Fiona. Secara otomatis, Dr. Warren berteriak, kemudian disusul Fiona dan Mr. Whiskers. Yang tentu saja sebenarnya hanya terjadi di pikiran Jerry, dan Dr. Warren nggak tahu ini. Tapi adegan ini sontak membuat saya cekakan. Apalagi Mr. Whiskers berteriak dengan suara soprano Laughing

Baca juga: Attack on Titan (進撃の巨人 - Shingeki no Kyojin)

 

The Voice dan Unsur Thriller-Psychology

Tentu saja, tidak adil rasanya jika saya membandingkan film thriller-mystery-psychology Psycho karya Alfred Hitchcock yang menjadi tolok ukur semua film thriller-mystery-psychology yang ada di dunia. Tapi, mau nggak mau saya jadi teringat pada film misteri pertama yang saya tonton dan gandrungi, sampai sekarang.

Jerry's House
Berada di kota yang minus hiburan dan tinggal di rumah yang terpencil dari masyarakat.... kebayang sepi dan sendirinya seperti apa, Artebianz?

Terutama karena adanya (beberapa) alter-ego dalam The Voice, yang sebenarnya hanyalah permainan kesadaran Jerry. Bedanya, kalau Psycho terfokus pada pengungkapan misteri pembunuh dan latar belakang sosok pemilik motel, The Voice—yang membuka misteri pada menit 20-an—menaruh fokus pada perkembangan sosok Jerry dan bagaimana dia pada akhirnya tumpuan pada dunia nyata tempat dia sekarang berada.

Dan pada prosesnya, kita sebagai penonton diajak untuk berpikir ulang tentang makna kehidupan lewat sosok Jerry yang dipanggil ayah tirinya dengan "Creep". Tentang batas tipis tentang yang baik dan yang buruk. Tentang hati dan logika serta kompleksitas psikologi manusia yang nggak bisa dinilai, seperti kita menilai cokelat berdasarkan bungkusnya.

Ambil contoh percakapan pertama antara Jerry dan si Suara Misterius yang tadinya saya kira teman sekamar Jerry (baca: manusia). Dia berkata sesuatu tentang para pria yang memperkosa Jerry. Sekilas ini mungkin hanya cerminan ketakutan Jerry, apalagi di film nggak diceritakan tentang kekerasan seksual yang dialami pegawai baru Milton Fixture & Faucet itu.

Tapi, melihat bagaimana Jerry begitu ketakutan dan risih saat Mr. Kowalski menaruh tangannya di pundak Jerry saat berbicara, bisa jadi itu adalah kenyataan. Bahwa Jerry sempat mengalami kekerasan seksual saat dia berada dalam institusi (yang kemungkinan besar penjara).

Sedikit latar belakang, Jerry masuk ke dalam institusi karena dia membunuh ibunya sendiri. Tetapi, dalam ingatan Jerry kecil, si ibulah yang meminta dia untuk mengakhiri hidupnya. Ibu Jerry, sama dengan Jerry, juga mendengar suara. Hanya saja, dia nggak mendengar suara hewan atau benda mati seperti boneka Bunny-Monkey layaknya Jerry. Dia mendengar suara malaikat-malaikat, yang disebut Dr. Warren sebagai "Her way to cope".

To cope with what? The Voice nggak menjelaskan dengan detail. Tapi, menilai kekerasan yang diterima Jerry dari ayah tirinya, bisa jadi Ibu Jerry berusaha melindungi diri dan psikologinya dengan mengalihkan kesadarannya, lalu menganggap suara-suara batin dan pikirannya sebagai suara-suara malaikat.

Lisa and Jerry

Dan, lebih dari dorongan membunuh demi merasa hidup, apa yang diinginkan oleh Jerry adalah menemukan orang yang menerimanya. Membuatnya nggak merasa sendirian di dunia.

Jerry menemukan hal itu dalam diri Lisa. 

Tapi sayangnya, kehidupan percintaan Jerry nggak berjalan mulus.

Two heads are better than one?

Baca juga: The Grand Budapest Hotel - Mereka Yang Layak Disebut "The Best Partners In Crime"

 

Ryan Reynolds versus Jerry Hickfang

Reynolds lebih banyak memainkan peran sebagai superhero, baik sebagai villain maupun hero itu sendiri (X-Men Origins: Wolverine, Green Lantern, Blade: Trinity), romance-drama-comedy (The Proposal, The Change-Up, Adventureland, dll) dan aksi (R.I.P.D., Smokin' Aces, dan yang terbaru: Self/less).

Dia hanya sesekali memainkan sebuah karakter yang benar-benar terfokus pada perkembangan/perubahan karakter itu sendiri. Misalnya saja seperti sosok Jerry Hickfang, yang membuat laki-laki, yang hampir saja berprofesi sebagai polisi Kanada, ini kehilangan kegantengannya. Jerry—maksud saya Reynolds sama sekali nggak menampakkan karismanya. Sebaliknya, dia memberikan ekspresi yang paling polos dan paling dungu yang dia punya. Lebih lanjut, sosok Jerry dan kondisi kejiwaannya kemudian menginspirasi Reynolds untuk mengisi suara semua benda dan hewan yang berhubungan dengan Jerry.

Dan saat dia bertransformasi antara menyulih-suarakan Bosco, lalu menggantinya dengan suaranya sendiri saat setengah mabuk... rasanya benar-benar luar biasa! Saya seakan nggak melihat si ganteng Reynolds dalam Self/less. Saya melihat Jerry Hickfang dan obsesinya untuk diterima masyarakat dan menjadi bahagia.

The many faces of Mr. LivelyThe many faces of Mr. Reynolds

Ini... yang saya sebut akting!

Nggak heran kalau The Voices kemudian mendapatkan banyak kritikan positif dan diganjar berbagai penghargaan. Salah satunya dari L'Etrange Festival ke-20 yang diadakan di Paris, Perancis.

 

 

Akhir Kata untuk The Voices

Saya nggak akan menghabiskan waktu Artebianz lagi dengan segala pengalaman saya menonton The Voices lagi.

Baik atau buruk, semua bergantung pada konteks dan sudut pandang. Tapi, kalau semua di-gebyah uyah atau disamaratakan demikian, maka di dunia ini akan timbul kekacauan. Hanya, kita diajari untuk nggak langsung menilai seseorang dan menghakiminya. Seperti Dr. Warren yang masih bersikeras menolong Jerry, karena dia sadar (kejiwaan) Jerry sakit.

Dan, terkadang surga dan neraka bergantung pada si subjek sendiri. Kalau meminjam dialog salah satu tokoh drama "No Exit" karya J.P. Sartre, "Hell is other people", maka kita nggak perlu menunggu nanti untuk merasakan siksaan neraka. Sekarang pun, semasa kita masih hidup, kita bisa merasakannya. Begitu juga sebaliknya, kita bisa merasakan surga sekarang. Kuncinya, ada pada diri kita sendiri.

Anyhow, bukankah seharusnya kita kembali ke sisi Tuhan, bukan ke surga/neraka?

Jerry

Bagaimana kita memaknai keber-ada-an kita di dunia, serta bagaimana kita memaknai kesempurnaan kita sebagai ciptaan-Nya yang sempurna.

To sum up everything about The Voices, film garapan Satrapi ini adalah salah satu film ciamik yang wajib Artebianz tonton—terutama kalau Artebianz adalah jenis penonton yang suka nonton film antimainstream. Plus kangen dengan film thriller-psychology yang nggak sekadar mencekam lewat musik atau efek kejut yang mediocre.

Tapi tentu saja, menonton The Voices, Artebianz harus kritis karena pesan-pesan dan segala petunjuk yang disampaikan lewat guyonan nyatanya nggak selalu hanya bertujuan untuk mengajak kita tertawa.

Jadi, kalau nonton (dan baca atau melihat) sesuatu, jangan lupa....

Einstein

Dan... asalkan Artebianz bukan jenis penonton yang sudah saya sebutkan di bagian peringatan, ya Laughing

Baca juga: Gone Girl - Ketika Cinta Berakhir, Yang Tersisa Hanyalah Kematian

 

 

Rating

Rating

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Film Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Doodle Land, A Coloring Book for Grown-Up Children


Siti - Perempuan dan Dalamnya Hati


HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi


Dak-Galbi Korean Resto And Caffe


Libreria Eatery - Tempat Pas untuk Memberi Makan Perut dan Otak


Gili Labak - Surga Tersembunyi Di Pulau Garam


Literasi Agustus: GRI Regional Surabaya - Muda untuk Sastra


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Bersama Sebuah Buku dan Sebatang Rokok


(K)Aku