Siti - Perempuan dan Dalamnya Hati

08 Feb 2016    View : 1451    By : Niratisaya


Mbok Darmi: Gusti Allah ora sare.

Siti: Ora mbok, lagi piknik.

 

Saya mengetahui tentang film Siti ketika saya asyik melihat-lihat jadwal bioskop di teater yang nggak jauh dari rumah saya. Nggak terlalu banyak yang dijanjikan oleh Siti lewat sinopsisnya yang saya baca dari portal jadwal bioskop Indonesia itu. Hanya tentang seorang wanita yang mesti menanggung beban kehidupan sendiri (merawat mertua, suami yang lumpuh total, dan anak yang masih kecil), sementara di sisi lain ada kehidupan yang lebih menjanjikan—lebih mapan bagi Siti untuk bersandar.

Benar-benar sederhana kan, Artebianz?

Bahkan nyaris membuat saya skeptis, kalau saya nggak ingat kebanyakan film Indonesia lainnya—drama kehidupan terutama—justru gemar mengumbar sinopsis yang bombastis. Jadi, saya pikir, kenapa nggak nyoba yang sederhana? Siapa tahu lebih ngena.

Jadilah saya kemarin (03/02) berangkat tanpa membawa harapan berlebih. Dan, inilah laporan saya tentang kesederhanaan Siti ke kamu, Artebianz.

 

Peringatan!

Sewaktu menonton Siti, Artebianz bukan hanya dilarang bawa makanan dan minuman, tapi juga anak di bawah 17 tahun. Dan, saya nggak perlu kasih tahu kenapa kan, Artebianz? Heuheuheu….

 

 

 

Siti – Kilasan Potret Perempuan dan Kehidupan

Berlatarkan kehidupan masyarakatan di pesisir Parang Tritis, Jogjakarta, Siti dibuka dengan adegan di sebuah rumah yang disatroni polisi-polisi. Dua orang polisi menggedor-gedor pintu tiap kamar yang ada di sana. Satu per satu penghuni kamar itu pun keluar dan kebanyakan adalah pria-pria setengah teler dan para perempuan yang keadaannya nggak lebih baik. Rupanya, rumah itu adalah sebuah rumah karaoke yang kena razia polisi karena dinilai nggak memiliki izin.

Mengira sudah membereskan orang-orang yang ada di rumah karaoke tersebut, para polisi pun bersiap-siap kembali ke markas. Tapi, ternyata ada satu orang yang lolos dari gerebekan polisi. Seorang perempuan bertubuh kurus dan tinggi (Sekar Sari) memanfaatkan kelengahan polisi dan bergerak ke belakang.

Sayang, salah seorang polisi menangkap pergerakan perempuan itu dan memaksanya ikut ke pelataran rumah karaoke tersebut. Para polisi pun menginterogasi pemilik, pelanggan, dan pekerja rumah karaoke—menanyakan nama dan KTP. Beberapa menyerahkan kartu identitas mereka sambil menyebutkan nama, sementara yang lain hanya bisa memberikan nama. Tiba giliran perempuan bertubuh dan tinggi. Alih-alih memberitahu polisi dan menyerahkan KTP-nya, perempuan itu malah melotot. Keruan saja, sikapnya itu membuat si aparat naik pitam dan membentaknya. Bentakan itu nggak membuat si perempuan kutilang patuh. Sebaliknya, setelah memberikan tatapan tajam, dia malah pingsan.

Ketika itulah para aparat, dan penonton bioskop, tahu namanya: Siti.

Siti adalah seorang wanita nggak minta muluk-muluk dalam hidup, bahkan cenderung puas dengan bayaran mimpi dan janji kebahagiaan yang diberikan oleh suaminya, Bagus (Ibnu Widodo), sebagai ganti cincin Siti yang dijual demi mewujudkan keinginannya punya kapal. Siti juga bukan wanita pemarah yang akan menjerit atau menghajar suaminya, ketika kapal Bagus tenggelam bersama janji-janji yang diucapkan laki-laki itu. Dia malah dengan telaten dan merasa puas dengan bayaran suara suaminya, yang sayangnya menghilang sejak Siti bekerja sebagai pemandu karaoke di tempat Pak Sarko (Agus Lemu Radia).

Meski demikian, Siti nggak meninggalkan mertuanya, Mbok Darmi (Titi Dibyo), yang sudah tua dan anaknya, Bagas (Bintang Timur Widodo).

Pak Sarko begitu menyayangi Siti di antara semua pegawainya. Ini semua berkat Gatot (Haydar Saliz), anggota polisi, yang jatuh hati pada Siti. Semua teman Siti mengasihani Siti yang harus bekerja banting tulang sebagai penjual peyek jingking (sejenis kepiting yang berukuran kecil) di pagi hari, dan sebagai pemandu karaoke di malam hari. Mereka pun berusaha mendekatkan Siti dengan Gatot.

Awalnya usaha teman-teman Siti, Sri dan Wati, nggak berhasil. Sampai akhirnya, penagih utang, Pak Karyo datang dan menuntut Siti segera mengembalikan uang yang dipinjam Bagus. Tertekan oleh keadaan keluarganya dan ingin segera menuntaskan masalah utang-piutang, yang sebenarnya nggak dimulai oleh dia sendiri, Siti nekat meminjam uang pada Gatot—yang tentu saja memberikannya secara cuma-cuma.
Atau seperti itu yang dia katakan.

Nyata-nyatanya, Gatot berharap Siti mau menikah dengannya. Tapi, satu yang bisa dipastikan; laki-laki itu tulus mencintai Siti dan sempat menolak saat perempuan itu mengajaknya asyik masyuk di toilet rumah karaoke.

Antara kemapanan hidup dan beratnya deraan hidup, mana yang akan dipilih Siti?
Siti berjalan keluar rumah menuju laut Parang Tritis yang menjadi kecintaan suaminya, sekaligus yang merenggut kehidupan laki-laki yang dicintainya.

Baca juga: SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh Film - Filsafat Eksistensi

 

 

Siti, Para Tokoh, dan Karakterisasi Mereka


1. Siti Dan Sekar Sari

Awal kemunculan tokoh Siti saya menilainya sebagai sosok yang keras. Gimana nggak, Artebianz. Dia keluar dengan seenaknya dan langsung masuk ke kamar kecil tanpa menggubris polisi yang memanggilnya. Lalu, berteriak tegas bahwa dia pengin pipis.

Detik itu, saya terbayang betapa keras kehidupan yang dijalani Siti. Suami yang melakukan kekerasan rumah tangga, ibu mertua yang keras, orangtua yang nggak memedulikannya, dan seabrek masalah monoton yang biasa digambarkan di film drama.

Tapi bukan itu yang saya temukan pada karakter Siti. Buktinya, di adegan selanjutnya, saya mendapati mertua Siti begitu lembut dan sama sekali nggak merendahkan menantunya. Well, ini bisa jadi ada hubungannya dengan karakter general sosok masyarakat Jogjakarta yang identik dengan sifat kalem. Dan Siti, dia nggak sekeras seperti yang dia perlihatkan di adegan pertama. Siti bisa bersikap lembut sekaligus tegas dan penuh kasih pada putra semata wayangnya. Sementara itu, terhadap suaminya—yang menjual cincin pernikahannya, membeli kapal kemudian kehilangan kapal itu, dan kembali dalam keadaan  lumpuh total—Siti tetap bisa bersikap begitu manis dan romantis.

Kompleksnya karakter dengan nama sederhana ini diperankan dengan apik oleh Sekar Sari, yang bisa menampilkan kepolosan seorang wanita yang berusaha menanggung beban di punggungnya secara setimbang agar nggak satu pun jatuh. Sekar Sari looks so raw, delicate, and at the same time strong. Sekar tampak mampu memahami karakter Siti yang namanya berarti “lemah” (tanah).

Seperti filsafat dan sifat nama “Siti” atau tanah yang dalam kebudayaan Jawa dianugerahkan pada perempuan, Siti tampil sebagai sosok pengayom; penghasil keturunan; meski tampak lemah, tapi dia juga kuat.

Ketika tanah marah, dia akan melesapkan diri dan membawa kehancuran pada sekitarnya.

 

2. Bagus

Tidak banyak interaksi, khususnya verbal yang dilakukan oleh Bagus dalam film ini. Dia hanya tidur, diam, mengawasi sekitar. Mendengar penolakan dari sekitarnya yang menusuk ego dan harga dirinya, terutama dari anaknya, Bagas. Tapi nggak satu pun penolakan interaksi Bagas yang menyakiti Bagus. Justru kasih sayang dan perhatian yang didapatkan dari istrinyalah yang membuat Bagus sakit hati.

Atau mungkin semua sakit yang dirasakan Bagus nggak seperti lara yang dia derita ketika melihat istrinya berganti baju—mengenakan celana pendek dan pakaian mini, hanya untuk dipamerkan pada lelaki-lelaki asing.

Kebencian dan rasa sakit itulah yang mengantarkan Bagus pada kondisinya sekarang: diam dan hanya menjadi pengamat di rumahnya.

Apakah dia merasa kehilangan harga diri sebagai laki-laki sekaligus kepala rumah tangga? Mungkin, kalau dilihat dari keengganannya saat berinteraksi dengan Siti, yang membicarakan masalah utang dan kesulitan kehidupan. Juga kemarahannya sewaktu Siti bersiap berangkat bekerja di malam hari.

Apa Bagus merasa cemburu atau jijik?

Minimnya interaksi dan komunikasi antara para tokoh lain dengan Bagus, mengharuskan kita yang ingin mengetahui perasaan laki-laki pecinta laut ini untuk melihat ekspresinya. Masalah dengan interpretasi adalah setiap orang bisa jadi punya cara pandang dan hasil temuan yang berbeda. Jadi… untuk memastikannya, sila Artebianz lihat film Siti sendiri Smile

Baca juga: Guru Bangsa Tjokroaminoto

 

3. Mbok Darmi

Mbok Darmi menurut saya adalah gambaran wanita tradisional Jawa pada umumnya: penyayang, bertutur kata lembut, dan menempatkan diri dengan baik di area abu-abu.

Mbok Darmi dengan standar moral konvensional jelas-jelas nggak suka kalau menantunya bekerja di rumah karaoke, tapi logika wanita yang berprofesi sebagai penjual rempeyek jingking ini setiap detik disadarkan oleh keadaan ekonomi keluarganya. Mereka nggak bisa lagi hanya mengandalkan berjualan rempeyek, tidak ketika anak laki-lakinya hanya sanggup terbaring di tempat tidur.

 

4. Bagas

Salah satu permasalahan menggunakan talent anak adalah kesanggupan mereka tampil natural, untuk mengimbangi penampilan para aktor dewasa. Itu satu hal. Hal lain adalah ketika peran talent anak itu cukup krusial.
Misalnya seperti Bagas.

Sebagai anak Siti dan Bagus, tentu saja Bagas memegang peran penting dalam cerita Siti. Dia menjadi salah satu “penggerak” sosok Siti, yang membuatnya sanggup mempertahankan logika dan berpijak di kenyataan, sementara di tepian hidup yang lain ada Gatot dan kehidupan bak mimpi ala Cinderella.

Di awal saya merasakan kekagokan akting Bintang Timur Widodo sewaktu dia harus bertelanjang bulat di belakang rumah, dan membiarkan Sekar Sari memandikannya. Setelah itu pun saya masih merasakan kekagokan yang sama.

Beruntung, Sekar Sari sanggup mengajak larut lawan mainnya ke dalam suasana cerita. Termasuk Bintang.

 

5. Para Tokoh Pembantu

Di antara beberapa tokoh pembantu yang ada (Gatot, Sarko, dan teman-teman kerja Siti), yang cukup mencuri perhatian saya adalah sosok Wati. Bukan karena dia memiliki peran yang signifikan dalam cerita, sebab kalau dipandang dari sisi tersebut ada tokoh Gatot yang lebih berperan penting terhadap reaksi dan aksi yang dilakukan oleh Siti—bahkan termasuk para tokoh lainnya.

Wati memiliki keluwesan ala wanita dengan bahasanya yang lepas dan cenderung blakblakan. Satu adegan yang melibatkan Wati, dan benar-benar saya suka, adalah ketika Wati menghampiri Siti yang tengah berjualan rempeyek di Pantai Parang Tritis. Kemudian mengajari temannya itu marah dan misuh-misuh pada suaminya, Bagus.

Dan, komentar nakalnya tentang pisang.

Wati bisa dibilang secercah warna di antara kelamnya kisah Siti.

Salah satu wujud sekaligus bukti keapikan sebuah karya tecermin pada bagaimana setiap tokoh bergerak dalam cerita. Sementara itu, dalam film, kita bisa melihatnya bukan hanya dari “pergerakan” karakter, tapi juga bagaimana para aktor menerjemahkan setiap tokoh dan memainkan perannya.

Dan saya suka bagaimana tiap pemain film Siti menerjemahkan tokoh yang mereka perankan. Khususnya Siti, Bagus, dan Mbok Darmi.

Hubungan Siti dengan kedua tokoh terbilang lebih pelik dan rumit dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain. Misalnya saja hubungan Siti dengan Bagus. Meski mencintai istrinya, tapi Bagus punya cinta yang lebih besar pada laut. Saking besarnya sampai-sampai dia nekat menjual perhiasan istri guna membeli sebuah perahu.

Konon, perahu itu untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Saya percaya hal ini, melihat betapa Siti merelakan segalanya demi Bagus. Tapi, beberapa kilasan dan percakapan Bagus dengan Siti di masa lalu, membuat saya meragukan hal ini.

Siti : Kowe percoyo surgo, Mas?
Bagus : Ora. Aku percoyo laut.

Dari percakapan Siti dan Bagus, kita bisa menebak seperti apa Bagus mencintai laut. Bisa jadi, dia bukan hanya mencintai laut, tapi juga memujanya.

Meski demikian, Siti masih tetap mencintai suaminya. Sewaktu Bagus marah dan bertahan nggak berbicara dengannya hingga setahun lebih, Siti justru memilih untuk aktif berkomunikasi dengan Bagus. Dia menceritakan kekonyolan Bagas yang menolak sekolah karena ada setan di sekolahnya. Pun, sewaktu dia merasa tertekan dengan kehadiran seorang laki-laki yang menagih sisa utang Bagus. Siti melakukan percakapan monolog dengan Bagus sambil tersenyum.

Inilah yang membuat karakter Siti menarik di mata saya. Dia mampu mengubah energi dari sekitarnya, yang semestinya bisa membuatnya marah, menjadi energi positif dengan tersenyum.

Tentu saja, setiap orang memiliki batas kesabaran, demikian pula dengan Siti dan karakter lainnya. Yang saya suka, setiap karakter menggambarkannya bukan cuma lewat nada suara, pilihan kata, atau ekspresi. Tetapi semua berpadu menjadi satu.
Siti dengan menginjak-injak pakaian keluarganya saat mencuci.

Bagus dengan tatapan nanar saat Siti berganti pakaian.

Bahkan Bagas pun memamerkan kemarahannya:

Golek duwit terus, opo ora iso ngancani aku dolanan?

Dan luapan amarah Bagus bukan saja menempatkan Siti sebagai potret kehidupan marginal masyarakat Indonesia, khususnya Bantul, tetapi juga sebagai gambaran masalah kompleks yang dialami setiap keluarga Indonesia: antara memenuhi tuntutan ekonomi dan tuntutan anak.

Baca juga: Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Adaptasi Dari Cerita Pendek

 

 

Siti dan Detailnya yang Indah

Hal lain yang patut dipuji dari Siti adalah pemilihan warna, tone, serta angle kamera oleh Sang Sutradara: Eddie Cahyono.

Tidak seperti kebanyakan film bergenre serupa, yang menampilkan tone dengan warna mencolok atau warna sendu ala “slumber” kalau menurut Instagram, Siti tampil dengan warna hitam putih. Pilihan ini menurut saya cukup cerdas sekaligus menipu.

Cerdas, sebab dengan warna film demikian, penonton akan terfokus pada aksi dan reaksi para tokoh. Setidaknya pada kasus saya, warna film Siti membuat saya fokus pada pergantian mimik wajah Siti dan larut dengan emosi wanita itu.

Menipu, sebab pada kenyataannya Siti nggak menunjukkan hitam-putih kehidupan. Bagaimana Siti bisa bersikap tegas kalau tokoh utamanya berdiri di area abu-abu—bekerja di pagi hari sebagai penjual rempeyek, merawat keluarganya (termasuk ibu mertuanya), dan menjadi tulang punggung menggantikan suaminya; kemudian bekerja di rumah karaoke di malam hari, menemani para laki-laki hidung belang, serta mencari pelampiasan kasih sayang pada sosok Gatot.

Anda melakukan hal yang tepat, Cahyono!

Sebagai penyempurna film yang lebih dulu premiere di luar Indonesia pada tahun 2014, Cahyono memilih pengambilan gambar dengan gaya shaky camera. Gaya ini mengingatkan saya pada film Life After Beth. Bedanya, teknik pengambilan gambar shaky camera pas digunakan di film Siti, sebab menurut pendapat saya teknik ini berhasil menangkap drama kehidupan Siti. Teknik ini kemudian menempatkan Siti seperti sebuah film dokumenter tentang kehidupan keras seorang wanita penjual rempeyek jingking.

Tingginya perhatian kru film Siti pada detail berbuah manis, karena bukan hanya diganjar berbagai penghargaan. Mulai dari Singapore International Film Festival 2014, 19th Toronto Reel Asian International Film Festival 2015, hingga Festival Film Indonesia 2015. Total ada 8 festival film dan 14 kategori yang diikuti oleh Siti. Film dengan anggaran 150 juta rupiah ini menyabet 9 penghargaan!

Baca juga: Malam Minggu Miko Movie - Mockumentary Kegalauan Kaum Muda Indonesia

 

 

Siti dan Film Indonesia pada Umumnya

Entah sudah berapa lama sejak saya terakhir menyaksikan tontonan Indonesia dengan plot sederhana dan menggambarkan kehidupan masyarakat ekonomi menengah ke bawah, yang begitu apa adanya dan tanpa selubung topeng atau romansa yang mediocre. Terakhir saya menonton film Alangkah Lucunya Negeri Ini, yang menyajikan cerita masyarakat marginal bercampur lelucon satir.

Bukannya saya membenci cerita cerita ala dongeng, we do need to escape once in a while. Tapi, kadang kita juga butuh tempat bernaung, yang menyadarkan kita tentang kesejatian hidup dan masalah yang mustinya kita hadapi dan selesaikan.

Inilah yang diberikan oleh Siti—opsi tontonan yang nggak melulu tentang cinta dan mereka yang berkoar-koar tentangnya. Atau tentang jalinan romansa yang penuh dengan jebakan yang bisa bikin penontonnya menderita darah tinggi. Entah karena saking padatnya adegan dan dialog manis, atau karena begitu menyebalkan alur atau akting pemainnya.

Pemilihan cerita dan tokoh yang khas dari film Siti inilah yang kemudian membedakan film ini dari film Indonesia yang sudah saya tonton, yang membekas sampai saya menulis artikel ini. Seandainya Eddie Cahyono dan Four Colours Film berniat untuk menjual Siti dalam bentuk DVD, sudah pasti saya akan menjadi salah satu orang yang membelinya.

 

 

Siti, Akhir Kata dari Saya

Bagi saya, Siti merupakan salah satu film Indonesia yang memuaskan pada tahun 2016. Dia punya drama ala serial Keluarga Cemara (albeit darker), komedi yang diselipkan secara pas tanpa merusak sisi drama, dan cerita tragis cinta dengan segi-segi nggak terhingga—yang mungkin akan luput dari perhatian kita.

Tapi lebih dari semuanya, yang membuat saya puas adalah perasaan lega bahwa akhirnya saya menemukan film Indonesia yang fit to my cup of tea, Artebianz. Untuk yang pengin tontonan alternatif, you’ve got to watch this slice-of-life-blend-with-noir movie, Artebianz!

 

 

Profil Siti dan Rating Film

Disutradarai oleh Eddie Cahyono
Naskah ditulis oleh Eddie Cahyono
Diproduseri oleh Ifa Isfansyah
Dibintangi oleh Sekar Sari
Bintang Timur
Haydar Saliz
Ibnu Widodo
Titi Dibyo
Didistribusikan oleh  Four Colours Film
Bahasa Jawa
Durasi 88 menit
Negara Indonesia
Anggaran 150 juta

 



Bagus: Kowe ngerti ora Ti, ning laut kuwi ora ono rasa sedih. Mung ono roso seneng.

Siti: Moso, sih?

Bagus: Kowe ora percoyo?

Baca juga: Present Perfect: Seandainya Waktu Dapat Diputar Kembali




Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Film Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya


Life After Beth - Kehidupan Setelah Kematian


Adele's Hello - Apa Kabar Masa Lalu?


Bakmi dan Sate Klathak Ala Djogdja: Menikmati Jogjakarta di Surabaya


Libreria Eatery - Tempat Pas untuk Memberi Makan Perut dan Otak


Leiden, Kota Sarat Sejarah Dalam Balutan Puisi Indah


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya, Gol A Gong, dan Tias Tatanka


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Pria Asing Di Pos Kamling


Hujan Sepasar Kata