Life After Beth - Kehidupan Setelah Kematian

17 Oct 2014    View : 16502    By : Niratisaya


Zach Orfman: Beth, you're so beautiful. I'm so happy you're back. You don't want to eat me, do you?

Beth Slocum: Not right now.

Zach Orfman: No, I mean, really eat me.

Beth Slocum: Not with my parents around.

Don't Eat Me

Artebianz pasti pernah mendengar film bergenre horor, komedi-romantis, aksi, suspense, thriller, misteri, dan lain-lain. Namun, seiring dengan perkembangan dunia film, apa yang dulunya menjadi tools atau karakter dalam cerita, kini ikut berkembang dan menjadi genre. Salah satunya adalah zombi.

Jujur, saya sama sekali tidak menyangka apa yang biasanya menjadi tools (World War Z) atau menjadi karakter (Warm Bodies), sekarang menjadi sebuah genre. Tapi kali ini saya tidak akan meributkan tentang apa yang layak dan tidak layak menjadi genre dalam sebuah film. Seperti biasa, dalam review film, saya akan mengulas tentang sebuah film yang beberapa bulan lalu ditayangkan di Festival Film Sundance, yaitu Life After Beth.

Saat pertama kali menonton, dan kedua kalinya, saya berusaha meraba-raba demi menemukan genre film yang disutradarai oleh Jeff Baena. Tapi saya masih kesulitan. Sampai akhirnya saya membaca sebuah artikel yang menyebutkan genre film ini zombi-komedi. Sebuah film horor yang dipadukan dengan komedi, saya pikir.

Ah, tapi bagaimana dan apa yang dimaksud dengan film genre zombi-komedi jelasnya? Nah, mari kita pelajari bersama-sama tentang hal itu lewat film Life After Beth ini, Artebianz.

I'm Beth


Spoiler Alert!

Ulasan saya kali ini kental dengan spoiler. Jadi, untuk penggemar film yang penasaran dan tak mau diganggu dengan komentar dan celotehan saya ini saat menonton... saya sudah memperingatkan kamu, Artebianz.

Trailer Life After Beth

Peringatan:

Untuk Artebianz yang berusia di bawah 18 tahun dan berniat nonton dengan teman sebaya, atau Artebianz yang akan nonton ini dengan anak kecil atau remaja, sebaiknya batalkan.

Meski mengusung genre komedi di dalamnya, ada beberapa adegan percintaan yang tidak pantas ditonton oleh remaja dan anak-anak. Dan ada beberapa adegan gory penuh darah yang bisa jadi tontonan buruk bagi anak-anak.

Baca juga: SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh Film - Filsafat Eksistensi

 

 

Kehidupan dalam Life after Beth

Layaknya kebanyakan cerita horor, cerita diawali sebuah adegan seorang gadis yang mendaki gunung sendirian sambil terus memperhatikan ponselnya. Sebelum penonton tahu siapa dan apa yang dilakukan gadis itu selanjutnya, layar menjadi gelap.

Cerita pun berganti ke sebuah scene di supermarket dan seorang pemuda mengenakan jas hitam yang mencari tisu hitam dan harus puas dengan tisu putih standar, yang dirasanya tidak akan pernah bisa mewakili perasaannya saat itu; sedih, hancur, sekaligus hampa.

Beth

Pemuda itu, Zach (Dane DeHaan), baru saja kehilangan kekasihnya yang mendaki gunung sendirian dan meninggal dunia akibat gigitan ular berbisa. Ya, gadis yang muncul di adegan awal film ini adalah kekasih Zach. Yang juga menjadi judul film ini, Beth (Aubrey Plaza).

Saking sedihnya, Zach tak bisa membaur dengan siapa pun di rumah keluarga Slocum, rumah orangtua Beth. Termasuk orangtua Beth. Zach seakan kehilangan gairah. Ia tak mau keluar dari rumahnya lagi dan memilih duduk menyendiri di depan kolam renangnya ketimbang berbaur dengan teman-temannya yang lain. Tak tahan dengan rasa sedihnya, Zach pergi ke rumah Beth karena menganggap orangtua kekasihnya itu akan mengerti penderitaannya.

Orfman and Slocum

Setibanya di rumah Beth, Zach dikejutkan oleh pembantu keluarga Beth yang bergegas keluar. Sebelum meninggalkan rumah, pembantu tersebut memperingatkan Zach agar tidak masuk ke dalam rumah keluarga Solcum. Namun Zach tidak memedulikan peringatan itu dan masuk saat Maury (John C. Reilly), ayah Beth, mengundangnya.

Sembari bermain catur, Zach mengungkapkan penyesalannya bahwa ia tak bisa menjadi kekasih yang baik dan tak pernah mau menemani Beth mendaki. Maury pun mengungkapkan hal yang sama. Ia dan Geenie, ibu Beth (Molly Shannon), tidak memiliki satu pun foto Beth. Dan kini mereka menyesalinya. Tak lama kemudian, Zach meninggalkan rumah Beth. Ia pulang dengan syal Beth melilit di lehernya.

Seolah menemukan tempat curhat, Zach kembali mengunjungi rumah Beth keesokan harinya. Ia menjadikan kedua orangtua Beth sebagai ganti Beth; Zach sering menelepon mereka. Tapi baik Maury maupun Geenie tidak menjawab. Curiga dan khawatir, Zach pun mendatangi kediaman keluarga Beth dan menyusup masuk ke taman rumah Beth. Ia sudah siap bila orangtua Beth menjadi pemurung dan penyendiri seperti dirinya. Namun Zach tak pernah menyiapkan hatinya saat ia melihat Beth melintas di depannya. Seperti orang gila, Zach pun memanggil-manggil kekasihnya tersebut tanpa ada seorang pun di dalam rumah itu yang keluar.

Beth Head

Alih-alih mendapati Maury atau Geenie, Zach justru ditemui oleh kakaknya, Kyle (Matthew Gray Gubler), yang mendapat telepon dari Maury bahwa Zach telah mengganggunya. Kyle adalah petugas polisi. Zach pun terpaksa pulang sambil diikuti oleh Kyle. Namun itu bukan berarti Zach menyerah. Pada malam harinya ia kembali ke rumah Beth untuk membuktikan bahwa apa yang ia tidak salah lihat.

Dan penglihatan Zach memang tidak salah. Sosok yang dilihatnya melintas di lorong rumah keluarga Scolum memang Beth, kekasihnya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Jelas-jelas beberapa hari yang lalu Beth dimakamkan. Lalu sekarang, gadis itu muncul lagi di hadapannya. Zach pun pergi ke pemakaman. Ia tidak bermimpi, nisan Beth tertancap. Hanya saja di sana ada sebuah lubang besar seukuran manusia.

Baca juga: Maleficent - Dekonstruksi Cinta Sejati dan Dongeng Putri Tidur

 

 

Ceracau Saya Mengenai Life After Beth

Jujur, pada saat pertama kali menonton Life After Beth saya merasa terganggu dengan alur plot dan beberapa hal teknis yang ada di dalamnya. Ketika menonton film ini untuk kedua kalinya, saya masih belum mampu mengenyahkan kernyitan di dahi.

1. Apa dan Bagaimana Zombi-Komedi

Mari kita mulai dari meluruskan logika mengenai genre zombi-komedi.

Karena dalam bahasa aslinya kata "zombi" memang ditulis sebelum komedi, saya menganggap film dengan genre ini akan mengutamakan konsep zombi, yang (sekali lagi menurut pemahaman saya) umumnya menakutkan dan penuh ketegangan. Sehingga selain horor, di dalamnya juga seharusnya ada unsur suspense.

Saya menemukan ketegangan dalam Life After Beth di dari awal hingga menit ke-13. Tentang bagaimana Zach yang dimabuk cinta berusaha menemukan kebenaran tentang apa yang tengah terjadi dengan almarhum kekasihnya. Namun di menit ke-18 ketegangan yang dibangun dari awal runtuh sewaktu Zach pulang dan berinteraksi dengan keluarganya. Dari detik itu unsur drama dalam Life After Beth pun terasa lebih kental ketimbang horor atau ketegangan.

Young Love

Ketimbang fokus pada pada bagian zombi, Life After Death terasa menaruh perhatiannya pada drama tentang seorang pemuda yang tengah dilanda kebingungan mengenai transformasi kekasihnya. Zach mulanya merasa berduka, lalu ia terobsesi dengan keluarga kekasihnya, sebelum akhirnya terbakar amarah karena orangtua Beth membohonginya tentang keadaan Beth, dan... kembali dimabuk asmara. Despite the fact that he already knew that his girlfriend has dead.

Tolong... saya bingung di sini *lambai-lambai ke kamera*

Baru pada menit ke-29 unsur zombi dalam cerita ini ketika seorang tukang pos yang telah lama menghilang kembali bertugas dan memberikan surat-surat pada Zach, yang kebetulan keluar rumah. Hanya saja, tukang pos tersebut kembali dalam keadaan pucat dan surat-surat yang diberikannya pada Zach tak satu pun ditujukan untuk pemuda itu atau keluarganya.

Rasanya, dengan genre zombi-komedi yang diusung, Life After Beth seharusnya bisa fokus pada bagian ini. Apalagi nantinya bukan hanya satu-dua orang zombi yang muncul.

Berbalik dengan unsur zombi, unsur komedi dalam Life After Beth terasa lebih kuat. Misalnya lewat interaksi Zach dengan keluarganya.

Mengendap-endap

Di malam pertama Zach tanpa Beth, pemuda itu kabur membawa mobil orangtuanya ke rumah Beth dan baru kembali tengah malam. Sambil mengendap-endap, Zach masuk, mengunci pintu, dan meletakkan kunci mobil kembali ke tempatnya—hanya untuk dipergoki oleh ibunya. Sambil berteriak dari kamarnya, ibu Zach menginterogasi putranya.

Zach and Beth

Atau ketika Zach bertemu dengan Beth yang meninggal dengan beberapa "urusan yang belum selesai", yaitu hubungannya dengan Zach dan ujian yang harus ditempuhnya. Walhasil, setiap kali bertemu dengan pemuda itu, Beth selalu ingin berada di dekatnya. Tanpa peduli kalau orangtuanya berada di satu ruangan yang sama.

Terimpit

Atau ketika Beth yang sudah hampir berubah menjadi zombi berlari ke arah mobil Zach dan tertabrak, sehingga ia berada di bawah ban mobil pemuda itu.

Dan beberapa momen lainnya yang selalu melibatkan sosok Beth. I wish they wrote more about Beth in it.

Baca juga: Pee Mak Phra Khanong (พี่มาก..พระโขนง): Cinta Tanpa Batas


2. Teknik Pengambilan Gambar dan Warna Film

Sebagian besar gambar di Life After Beth diambil dengan metode shaky camera. Metode ini membuat saya merasa dibanding film bergenre zombi-komedi, Life After Beth terasa seperti dokumenter-drama mengenai kehidupan seorang pemuda pasca meninggalnya sang kekasih.

Beth Before Death

Ditambah dengan warna film yang terbilang standar, tanpa ada sedikit pun corak muram atau gelap untuk menonjolkan unsur zombi dalam beberapa adegan. Bahkan Twilight yang mengusung kisah vampir menekankan perubahan warna dalam beberapa adegan. Atau seperti dalam film Warm Bodies, yang bisa dibilang berbagi genre yang sama. Di film tersebut setiap adegan menegangkan (yang jelas melibatkan zombi dan karakter mereka) dibuat dengan warna berbeda dibanding ketika adegan melibatkan genre percintaan dan drama.

 

3. Karakter yang Terstruktur dan Terwakili dengan Apik dan yang Tidak

Seperti kebanyakan film, Life After Beth juga memiliki beberapa karakter yang terstruktur dengan baik dan diterjemahkan dengan apik pula oleh para aktor. Dan, tentu saja, karakter yang ditulis dengan buruk, sehingga memengaruhi cara para aktor dalam menerjemahkan karakter tersebut.

a. Zach Orfman

Sayangnya, untuk Life After Beth, karakter utama film ini justru ditulis dengan buruk. Pertama, sebagai lelaki Zach kurang memiliki kekuatan yang bisa menarik perhatian penonton (dalam hal ini saya). Yah, kecuali perhatian untuk membuat penonton jadi gemas.

Di awal adegan dia moping around, bersedih, sampai terbayang-bayang dan nyaris masturbasi menggunakan syal milik Beth. Seandainya saja ia tidak dipergoki Kyle. Kemudian, setelah marah dan tidak bisa memahami mengapa orangtua Beth tidak menyerahkan Beth atau menjelaskan pada Beth bahwa gadis itu sebenarnya sudah meninggal, Zach sendiri malah dengan bahagianya menghabiskan waktu dengan Beth.

Oke, Zach memang bersedih dan di awal mengatakan ingin melakukan semua yang tidak sempat dilakukannya dengan Beth, tapi di setiap kesempatan ia bisa menjelaskan pada gadis itu tentang fakta yang disembunyikan orangtuanya, Zach selalu melewatkannya. Entah apa ini karena naskah ini ditulis oleh sutradara film ini (Jeff Baena) sehingga ia kewalahan dan tak mampu memberi jarak antara porsinya sebagai penulis naskah dan sutradara.

b. Beth Slocum

Dari semua karakter saya sangat menyukai karakter gadis zombi yang satu ini. Alasan pertama saya adalah ia lebih terstruktur. Beth lebih memiliki kekuatan dibanding Zach. Ia tahu apa yang ia mau dan dalam saat-saat tertentu ingatan terakhirnya bertarung dengan sifat zombinya.

Beth kadang diam, seolah kehilangan kesadaran. Namun detik berikutnya ia kembali sadar dan mengeluh kalau ia gugup mengenai tes yang sebenarnya telah lewat dan tak pernah ia ambil. Dan harus saya katakan cara Aubrey Plaza menerjemahkan bahasa tubuh, gerak, dan postur Beth yang bertransformasi menjadi zombi sangat bagus. Ia adalah salah satu karakter menarik yang ada di Life After Beth.

Beth the Zombie

c. Maury Slocum

Selain Beth, salah satu tokoh yang ditulis dengan baik adalah Maury. Ia teguh dengan sifat dan sikapnya sebagai ayah yang over-protective pada putrinya. Yang kemudian membuatnya menolak fakta mengenai putrinya telah berubah menjadi monster. Bahkan hingga akhir.

d. Geenie Slocum

Salah satu faktor yang menggerakkan sosok Geenie adalah ia seorang ibu. Akan tetapi dalam perkembangannya, faktor tersebut membuat saya sedikit bingung dengan sifat Geenie yang bisa dibilang tidak teguh. Yes, it's very human, Artebianz, tapi saya malah merasa aneh ketika melihat perkembangan karakter tokoh Geenie.

Mulanya ia sependapat dengan Maury, tapi kemudian ia berubah dan mendukung putrinya yang ingin menghabiskan waktunya bersama Zach di luar rumah pada siang hari. Dan saat tindakan Beth itu justru membuat kulitnya meleleh, Geenie tetap membelanya. Padahal sikap Beth itu bisa membuatnya meninggal atau penyamarannya terbongkar dan semua orang tahu kalau Beth bangkit dari kematian.

Geenie bahkan rela memotong tangannya untuk memberi makan Beth yang sudah jadi zombi sepenuhnya. I get that it's supposed to be sarcastic-joke, tapi saya malah tidak bisa tertawa sama sekali.

Masih ada beberapa tokoh Life After Beth lainnya, tapi karena tokoh-tokoh tersebut lebih seperti pelengkap, saya tidak akan berceloteh tentang mereka.

Hiking with Beth

Baca juga: The Grand Budapest Hotel - Mereka Yang Layak Disebut "The Best Partners In Crime"

 

 

Kernyitan dan Kerutan Akibat Life After Beth

Saya pertama kali tertarik dengan film ini setelah membaca blurbs-nya yang bercerita mengenai kehidupan Zach setelah kematian Beth, serta keterkejutannya sewaktu ia mendapati orangtua Beth menutupi fakta kalau Beth bangkit dari kuburnya.

Dari penjelasan itu saya membayangkan cerita semacam film animasi Frankenweenie yang lucu, manusiawi, dan masih melibatkan zombi (mayat hidup) berupa anjing. Atau akan seperti Warm Bodies yang sukses membuat saya ketakutan dengan segala macam jenis zombi yang ada di sana, serta peperangan antara zombi dan manusia. Satu hal yang dilewatkan oleh Jeff Baena saat menulisnya.

Meski tidak menaruh banyak harapan pada film ini, saya masih dirundung rasa kecewa saat menonton dan mengingat kembali setiap detail adegan. Bahkan saat menulis pun dahi saya masih berkernyit. Karena itu, saya ingin berbagi dengan Anda mengenai keanehan-keanehan yang membuat saya mengerutkan dahi:

Death

1. Zombi yang tidak menangkap Zach

Ada satu adegan Zach terkapar di aspal setelah dihantam dengan senapan oleh Maury. Ia baru sadar paginya dan menemukan seorang zombi berdiri di dekatnya. Yang anehnya hanya menatap Zach. Dan melihatnya pergi.

Whaaaaat?!


2. Bangkitnya para zombi

Proses skala kecil kecil kebangkitan orang mati yang diwakili Beth hingga menjadi skala kebangkitan orang mati yang besar kurang terasa. Hanya muncul sesekali dan dengan kulitnya yang pucat, tak ada seorang pun yang curiga. Termasuk Zach yang sudah lebih dulu mengetahui tentang zombi—bahkan ia sendiri yang pertama kali menyebutkan kata itu setelah melihat Beth.

The Death and the Living


3. Taman untuk berdua

Taman yang kosong di siang hari, tanpa ada seorang pun yang lewat atau ada anak-anak yang bermain di sana saat Zach dan Beth ber-rendevouz.

Aneh.

Kelewat aneh.

Baca juga: Me Sharing A Copy of My Mind

 

 

Sisi Keren Life After Beth

Meski terdapat kekurangan, tapi pada saat yang sama, Life After Beth memiliki beberapa adegan yang membuat saya berpikir dan menelaah ulang arti di balik adegan-adegan tersebut. Salah satunya adalah tentang kesempatan kedua.

Di awal film terdapat adegan yang menunjukkan baik Zach maupun Maury menginginkan kesempatan kedua agar mereka bisa menghabiskan waktu dengan Beth dan melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak bisa mereka lakukan bersama.
Sementara Maury berusaha selalu melindungi Beth dari segala yang ada di luar rumah yang bisa membuat Beth terluka (dan menyadari bahwa ia sudah meninggal), Zach melakukan hal 180 derajat berbeda.

Zach memang menghabiskan waktu berdua dengan Beth dari siang sampai malam. Ia juga bahkan membuat pertunjukkan kecil di tepi pantai khusus untuk Beth. Namun pada saat yang bersamaan ia tidak melakukan apa yang paling disukai Beth: mendaki.

Shoot

Zach baru melakukannya saat ia hendak mengirim Beth kembali ke dunianya. Ironis bukan?

Bang!

 

 

Akhir Kata untuk Life After Beth

Mungkin setelah membaca ulasan ini ada beberapa Artebianz yang urung menonton. Atau mungkin makin bersemangat untuk menemukan kejanggalan-kejanggalan yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Menurut saya, tidak ada salahnya menonton Life After Beth. Saya sendiri akan menontonnya sekali lagi saat senggang, hanya demi menikmati akting brilian Aubrey Plaza sebagai Beth sang Zombi. Penasaran seperti apa akting Plaza? Sila tonton bersama saya, tapi dari layar teve yang berbeda Smile

Baca juga: Stand By Me Doraemon

 

 

Rating Life After Beth Menurut Saya:

Rating

 

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Film Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Traveling: Mimpi, Destinasi, Tujuan, Makna


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Kuntum-Kuntum Surga - Para Wanita Mulia


Malam Minggu Miko Movie - Mockumentary Kegalauan Kaum Muda Indonesia


Anti-Hero - Menjadi Pahlawan dengan Tidak Menjadi Pahlawan


Dak-Galbi Korean Resto And Caffe


Kopi Luwak - Nongkrong Aman Sambil Berbagi Kopi dan Gelak


Leiden, Kota Sarat Sejarah Dalam Balutan Puisi Indah


Festival Foto Surabaya - Menggugah Kepedulian Melalui Lensa


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Twist and Shout (Part 2)


Menguak Luruh