Warm Bodies - Menggali Kehidupan dari Kematian

28 Oct 2014    View : 6662    By : Niratisaya


“Why can’t I connect with people? Oh, right. It’s because I’m dead.

I shouldn’t be hard to myself. We’re all dead.”

 

Terima kasih pada Life After Beth, pada akhirnya saya menilik kembali film Warm Bodies yang diangkat dari novel Isaac Marion dengan judul yang sama. Satu alasan mendasar saya adalah baik Life After Beth maupun Warm Bodies mengusung genre yang sama (zombie-comedy). Namun tentu saja ada perbedaan yang kemudian menuntun saya untuk kembali menonton film besutan Jonathan Levine ini.

Dan karena Warm Bodies adalah film tahun 2013, saya rasa cukup aman kalau saya membuka seeedikit saja beberapa bagian dari film yang diproduksi oleh Summit Entertainment ini.

Yep, ini adalah rumah produksi yang sebagian besar filmnya diangkat dari novel. Dan yah… Summit jugalah yang mengangkat Twilight Saga. Tapi tenang Artebianz, meski awalnya saya juga agak meragukan kualitas Warm Bodies—apalagi dengan genre zombie-comedy yang diusungnya—saya nyatakan Warm Bodies sebagai salah satu film Summit yang sah ditonton.

Trailer Warm Bodies

So, let’s cut this chit-chat and start talk about this zombie movie.

Baca juga: Attack on Titan (進撃の巨人 - Shingeki no Kyojin)

 

 

Warm Bodies, Dimulai dengan Zombi dan Diakhiri oleh Zombi

Di bagian awal Warm Bodies kita dikenalkan langsung diperkenalkan pada tokoh utama yang juga menjadi narator, R (Nicholas Hoult), yang berjalan di tengah bandara penuh dengan sesama zombi berkeliaran, sambil sesekali saling bertabrakan dengan mereka. Tidak seperti kebanyakan zombi yang sekadar “hidup” dan berjalan mengikuti ke mana kaki mereka membawa mereka, R menempatkan dirinya sebagai pengamat yang mulai bertanya-tanya mengenai dirinya. Mengapa ia, dan orang-orang lainnya, bisa menjadi zombi, atau dalam film ini disebut "corpse" (mayat).

R

Dan tentu saja, karena ia telah menjadi mayat hidup yang harus memakan otak manusia untuk kembali merasakan kehidupan, R gagal mengingat identitasnya sama sekali. Yang tertinggal dari kehidupannya terdahulu adalah satu huruf dari namanya.

R kemudian membayangkan bagaimana kehidupan pra-zombi yang pernah ia dan orang-orang lain jalankan. Bagaimana setiap orang bisa mengekspresikan kata maaf ketika bertabrakan, ketimbang sekadar bertukar gumaman tak jelas.

Zombi Konvensional

Atau bagaimana setiap orang terhubung lewat percakapan. Hanya untuk mendapatkan betapa kehidupan pra-zombi mereka tak jauh berbeda dengan kehidupan mereka sekarang. Apalagi dengan ponsel pintar yang ada di tangan setiap orang.

Zombi Modern

*ouch, R!*

R kemudian berjalan lebih jauh dan bertemu dengan beberapa boneys (zombi dalam bentuk kerangka dengan daging membusuk), yang membuatnya memikirkan “masa depannya”. Ha! R menyadari betapa ia kesepian dan tersesat, secara figuratif dan harfiah, dalam kehidupannya, sebelum ia kembali ke “rumahnya”; sebuah pesawat yang penuh dengan barang jarahan R sebagai perwakilan tiap kenangan yang tak mungkin lagi disimpan oleh R dalam otaknya.

Meski mengakui sering merasa sendirian, R memiliki seorang teman bernama M (Rob Corddry). Berdua mereka sering duduk di longue bandara, saling tatap dan bertukar gumaman, layaknya dua orang sahabat-zombi sejati. Khusus dengan M, R mampu berkomunikasi dengan sedikiiit lebih aktif. Sesekali mereka bertukar sepatah kata dalam percakapan mereka

R n M

Setting kemudian beralih ke sebuah kota yang dikelilingi oleh tembok tebal dan tinggi yang dihuni oleh para manusia.

Namun alih-alih kota dengan kehidupan modern, tempat tersebut lebih terasa seperti camp perlindungan berisikan PBB dan tentara-tentara yang siap menyerang para zombi yang berkeliaran. Pada hari itu, kelompok manusia yang selamat mengirimkan beberapa orang untuk mengambil obat-obatan, satu barang yang entah kenapa tidak bisa diproduksi oleh manusia-manusia yang selamat.

Beberapa di antara mereka adalah Julie Griggio (Teresa Palmer) dan kekasihnya Perry Kelvin (Dave Franco), serta Nora (Analeigh Tipton). Meski termasuk sebagai kru penyelamat, Julie dan Perry memiliki pandangan yang sama sekali berbeda. Sementara Julie ingin mencari obat yang bisa mengembalikan para mayat agar bisa kembali hidup, Perry sama sekali tidak memiliki kepercayaan bahwa mereka masih bisa menyelamatkan para zombi. Meski mereka berbagi latar belakang yang sama: ibu Julie dan ayah Perry menjadi zombi.

Julie dan Perry tidak hanya berselisih pendapat tentang zombi, mereka juga tidak sependapat tentang hal yang paling penting dalam misi tim mereka. Julie beranggapan seberapa pentingnya obat-obatan bagi para manusia, yang lebih penting dari semua adalah keselamatan tim. Sementara Perry sebaliknya. Yang kemudian membawa tim mereka pada kematian, ketika para zombi menyerbu gedung farmasi yang dikunjungi oleh Julie dkk.

R and Perry

Dalam waktu singkat keadaan berubah, dari tenang menjadi ajang pertarungan antara para zombi dan manusia. Di antara para zombi, tampak R yang segera tertawan pada sosok Julie yang menembak salah seorang kawan zombi R dengan senjata laras panjang.

Yep, tidak ada yang lebih seksi ketimbang cewek dengan senjata laras panjang ya kan, Artebianz Smile

Julie Meet R

R yang tertawan pada sosok tangguh Julie bergerak mendekati gadis itu, tapi sebuah tembakan dari Perry mengalihkan perhatiannya. Sebagai gantinya, R pun menyerang Perry dan memakannya. Namun sebagai zombi yang memiliki hati, R tidak sekadar memakan daging pemuda itu. Ia juga menghancurkan tulang tengkorak Perry dan memakan otak kekasih Julie itu, agar Perry nggak jadi zombi. Imbasnya, R pun merasakan kenangan-kenangan yang dimiliki Perry. Mulai dari masa kecil pemuda itu, hingga kenangannya bersama Julie.

Mengira para manusia telah habis di tangan teman-temannya, R pun mendekati Julie. Ketakutan, Julie secara spontan melemparkan sebilah pisau yang tepat mengenai dada kiri R. Alih-alih marah, R mendekati Julie dan melumuri gadis itu dengan darahnya yang membusuk, agar tak seorang pun di antara para zombi dalam kru berburunya bisa membaui Julie. Dan sebagai zombi yang aneh, tanpa berpikir panjang R mengajak Julie ke bandara. Tak seorang zombi pun yang menyadari jika teman Julie, Nora, bersembunyi di bawah meja.

Interaksi R dengan Julie perlahan-lahan mengembalikan detak dalam jantung pemuda itu. Dan dengan bantuan otak Perry yang disimpan R dalam kantung jumper-nya, R berhasil mereka-reka kehidupan Julie dan mendekati gadis itu. Perlahan-lahan, Julie pun menaruh kepercayaan pada R yang berulang kali menyelamatkannya dari para zombi. R sendiri akhirnya merasakan perasaan lain terhadap Julie, bukan sekadar rasa penasaran yang diakibatkan oleh pengaruh otak Perry yang ia makan.

Grooming with R

Julie pun menyadari, R tidak seperti zombi kebanyakan yang ditakuti oleh kaum manusia.

Yang menjadi masalah R adalah apakah ia bisa selamanya membohongi Julie? Ia tidak bisa menahan gadis itu di dalam pesawat, karena suatu hari nanti ia bisa menjadi anggota boneys. Selain itu, Julie juga ingin pulang. Di sisi lain, R tidak bisa mencintai Julie dan pada saat yang sama membohongi gadis itu tentang Perry dan sebab kematiannya.

Waktu terus bergulir, perubahan dalam diri R tidak terhenti, sementara para boneys mulai menyebar dan tentara kiriman ayah Julie, Colonel Griggio (John Malkovich) tak lagi bisa bersabar.

Apa yang akan terjadi dengan R?

Bagaimana dengan Julie? Bisakah dia mencintai R?

Apakah R bisa jujur dengan apa yang ia lakukan?

Tonton film dengan kombo menarik ini, Artebianz, untuk mendapatkan jawabannya.

Baca juga: Malam Minggu Miko Movie - Mockumentary Kegalauan Kaum Muda Indonesia

 

 

Pahlawan dan Pahlawati(?) dalam Warm Bodies

Salah satu hal yang menarik dalam Warm Bodies adalah sebagian besar tokoh dalam film ini tampil sebagai sosok yang tangguh. Termasuk Julie, tokoh utama wanita kita. Nah, mari kita ulas satu per satu tokoh dalam film yang disutradarai dan naskahnya ditulis oleh Jonathan Levine ini.

R

R
Diambil dari dearchoki.blogspot.com

Sedari awal R digambarkan sebagai sosok zombi yang lain dari zombi lainnya. Ia tidak sekadar menggumam tak jelas atau memakan siapa pun yang lewat di depannya. R digambarkan sebagai sosok yang cukup sarkastis dan kritikal dengan lingkungannya. Hal ini terlihat ketika R melihat Boneys dan membandingkan kehidupan yang jalani saat ini dengan kehidupan yang menantinya nanti.

Corpse to Boneys“We all become them [Boneys] someday. At some point you just give up, I guess. You lose all hope. After that, there’s no turning back.”

Sifat kritikal dan kebiasaan mengamati setiap kejadian sekitarnya yang dimiliki R bisa jadi diakibatkan oleh harapan dalam diri pemuda itu untuk tidak berubah dari corpse menjadi boneys. Dari cuplikan pengamatan R terhadap corpse yang berubah menjadi boneys, terlihat bahwa setiap zombi yang berubah menjadi boneys adalah mereka yang kehilangan harapan dalam hidupnya dan menyerah begitu saja.

Oleh sebab itu, R selalu tertarik dengan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan dan segala yang bisa membuatnya lebih hidup. Mulai dari barang-barang koleksinya hingga sosok Julie yang melawan para zombi dengan gagahnya.

Julie vs Zombie

Entah kenapa, melihat sosok R dan bagaimana ia memandang kehidupannya sebagai zombi, saya teringat pada sosok Decartes dan slogan pemikirannya yang terkenal: “aku berpikir maka aku ada”. Ia tidak lagi sekadar melihat kehidupan dari kacamata filsafat “aku makan maka aku ada”.

Nicholas Hoult dan R

Bisa dikatakan saya cukup tertarik dengan bagaimana Hoult menggambar sosok R dalam Warm Bodies. Well, saya sebelumnya sudah beberapa kali menonton. Dan hanya beberapa filmnya yang membuat saya terus mengingat sosok Hoult. Namun baru pada Warm Bodies saya jatuh hati pada akting aktor berkebangsaan Inggris ini.

Hoult mampu menampilkan sosok zombi dengan sempurna di mata saya. Bukan hanya karena bantuan tim make-up, tetapi juga karena murni kemampuan yang dimiliki oleh Hoult. Ia berjalan dengan kaku, berbicara dengan gumaman dan terkadang sepatah kata, serta gestur yang cukup mendekati sosok zombi seperti yang kita kenal selama ini, Artebianz.

Dengan bantuan dari naskah dan arahan Levine—akhirnya sosok R berevolusi—dari zombi dengan gerakan ala gerakan patah-patah, R akhirnya perlahan menjadi normal. Ia bisa berlari, tidak sekadar berjalan seperti siput.

Baca juga: Pee Mak Phra Khanong (พี่มาก..พระโขนง): Cinta Tanpa Batas

Julie Griggio

Palmer_Griggio

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, tidak banyak tokoh perempuan dalam film ini yang tidak tangguh. Salah satunya adalah Julie yang dengan gagah memegang senjata laras panjang dan menembak para zombi tepat di kepala, atau membawa mesin pemotong untuk menyerang zombi yang mengepungnya, atau sewaktu ia melempar pisau untuk mempertahankan hidupnya.

Cool Julie

Singkat kata, dalam Warm Bodies tidak ada satu tempat pun untuk para damsel in distress, yang menangis dan ketakutan saat melihat zombi. Yang menurut saya pas untuk film ini.

Di sisi lain, Julie juga ditampilkan sebagai sosok logis dan cukup bisa mengambil keputusan. Salah satu contohnya adalah ketika ia menghibur Perry yang rindu pada ayahnya. Julie tidak menunggu, sebaliknya, ia mengajak Perry melewati jalan tikus dan menemui ayah Perry, yang ternyata sudah berubah. Sementara Perry ketakutan, Julie dengan sigap segera mengarahkan moncong senjatanya ke kepala ayah Perry dan membawa Perry kembali ke kota yang menjadi suaka mereka.

Meski tampil sebagai cewek pemberani, Julie tidak digambarkan sebagai sosok tomboy. Ia masih memiliki sifat feminin dalam dirinya. Hal ini terlihat dari bagaimana ia masih memiliki konflik sebagai gadis muda yang terjebak antara perasaannya terhadap Perry dan R.

R and Julie

Julie:  I… I guess I kinda new that….
R    :  You knew that….
Julie:  Yeah…. I guess I hope that you didn’t…. I’m sorry.

Ia bisa saja menangis habis-habisan karena telah salah menilai Perry dan R, atau memukul-mukul R karena sikapnya, tapi Julie tidak melakukannya. Ia hanya meneteskan air mata dan berbalik memunggungi R.

Sleep

Teresa Palmer dan Julie Griggio

Warm Bodies adalah film kedua Palmer yang saya tonton setelah I Am Number Four. Dalam I am Number Four, Palmer hanya tampil di saat-saat terakhir, sehingga saya tidak bisa menikmati secara utuh akting artis kelahiran Adelaide, Australia, ini. Selain itu, sosoknya yang mirip dengan Kristen Stewart cukup membuat saya berpikiran negatif tentang artis ini. Saya mengira Palmer akan berakting kaku dan sama sekali tidak bisa menerjemahkan karakter Julie. Tapi saya salah.

Palmer sama sekali tidak mirip Stewart, kecuali di bagian wajah. Ia bisa tampil sebagai gadis muda yang tangguh, seorang remaja yang dimabuk cinta, serta gadis yang patah hati. Bisa dibilang akting Palmer lumayan oke. Saya tidak bisa mengatakan akting Palmer bagus, karena seperti yang sudah saya katakan, ini baru film kedua Palmer yang saya tonton.

Selain itu, Palmer membutuhkan satu peran yang bisa menantang kemampuan aktingnya.

Baca juga: SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh Film - Filsafat Eksistensi

 

 

Apa dan Bagaimana Sih, Zombie-Comedy (Perkenalan Lewat Warm Bodies)?

Mungkin ada beberapa dari Anda, Artebianz, yang masih kebingungan dengan istilah zombie-comedy yang akhir-akhir digunakan sebagai penggambaran ide genre film yang akhir-akhir ini mulai booming. Oleh karena itu, saya akan mencoba menjelaskan mengenai genre ini lewat film Warm Bodies.

  • Pelayan! Zombi Porsi Besar, Dong!

Salah satu syarat utama untuk film bergenre zombi tentu saja adalah keberadaan zombi itu sendiri. Entah sekadar sebagai perangkat pendukung cerita yang nantinya mesti dibabat habis oleh para manusia, sebagai perangkat yang membuat cerita berputar (seperti dalam kasus Life After Beth), atau seperti dalam Warm Bodies—sebagai tokoh utama dan poros cerita dalam film.

Dan sebagai poin yang muncul lebih dulu dibanding komedi, tentu saja, porsi zombi dalam cerita harus lebih besar.

Ambil contoh film Warm Bodies. Cerita ini diawali dengan kemunculan tokoh utamanya yang seorang zombi. Kemudian ia meletakkan dasar-dasar “hukum” cerita falam film zombi menurut versinya pada menit-menit pertama, sehingga membuat penonton merasa cukup nyaman dan bisa memfokuskan perhatian pada alur dan perkembangan plot cerita film.

  • Satu Porsi Zombi yang Disajikan dengan Campuran Komedi

Sebagai genre dengan campuran komedi, porsi lelucon tentu saja tidak boleh dilupakan.

Dalam Warm Bodies, lelucon film ini disampaikan oleh R lewat observasinya terhadap sekelilingnya.

Salah satunya adalah ketika R membayangkan kehidupan lama para zombi, yang dalam bayangannya tidak semembosankan saat ini, sekadar berjalan luntang-luntung tanpa tujuan pasti kecuali saat ketemu makanan. Hanya untuk mendapati mereka tetap sama tertutup dan tidak ekspresif karena terlalu sibuk dengan ponsel mereka.

 Zombi Modern

Atau ketika sahabat R menceritakan mengapa para zombi harus berjalan berkelompok setiap kali berburu makanan.

“Traveling in packs just kinda make sense. Especially when everyone and their grandmother is trying to shoot you in the head all the time.”

Zombie Airport

Adegan yang masih membuat saya tertawa cekikikan setiap kali menonton Warm Bodies.

  • Bumbu Paling Penting: Horror!

Dan tentu saja. Horor. Kita tidak boleh melupakan yang satu ini. Setiap film zombi selalu berkaitan dengan horor, entah apakah ia akan dicampur dengan dark-comedy atau terpisah di tiap adegan yang ditampilkan.

Untuk kasus Warm Bodies, porsi antara setiap genre berpadu dengan baik. Namun tidak seperti zombi dan komedi yang bisa berbaur dengan rapi di setiap adegan, horor dalam Warm Bodies terpisah lewat adegan dan warna film.

Boneys

Baca juga: Me Sharing A Copy of My Mind

 

 

Keindahan “Kematian” dalam Warm Bodies

  • Bandara

Sebagai salah satu setting yang cukup signifikan, bandara, seperti kata-kata R, adalah tempat menunggu. Ia juga tempat transit para manusia yang hendak bepergian, entah untuk pulang atau pergi.

Zombie Airport

Bandara adalah simbolisasi bagi para zombi dalam film ini yang hendak menuju ke kehidupan pasca-zombi, menjadi Boneys. Atau menjadi seperti R dan M, yang masih tak tahu arah kehidupan mereka dan hanya bisa menunggu dan menunggu, sampai akhirnya sosok seperti Julie menghampiri mereka dan mengubah kehidupan mereka—kembali ke masa pra-zombi.

R house

  • iPod vs Piringan Hitam

Julie sempat takjub saat dia melihat koleksi piringan hitam R dan bertanya-tanya apakah cowok-zombi itu tak tahu bagaimana cara menggunakan i-Pod. Ternyata sebaliknya. Piringan hitam yang tertumpuk dan menjadi salah satu benda yang dikoleksi R adalah simbol dari kerinduan R terhadap kehidupan.

Ia mungkin tak mengatakannya secara langsung, tapi jawabannya atas pertanyaan i-Pod vs. Piringan Hitam yang diajukan Julie cukup mewakili kerinduan pemuda tersebut.

More Alive

“Mmm.… Morrre… alive.”

  • Zombi Modern vs. Zombi Kuno

Meski tidak secara langsung, Warm Bodies menyindir kehidupan manusia pada zaman ini dan teknologi modern. Hal ini terlihat pada bagaimana R membayangkan kehidupan lampau para zombi. Ia mengharapkan kehidupan yang lebih komunikatif dan ekspresif, hanya untuk mendapati para zombi sewaktu masih menjadi manusia tidak terlalu berbeda dengan para zombi saat ini.

Jadi, apakah kita termasuk zombi modern yang terlalu sibuk dengan ponsel pintar dan media yang tak terlalu menjadikan kita sebagai makhluk sosial.

Baca juga: The Voices - Komedi Kelam tentang Suara-Suara di Kepala Kita

 

 

Yang Tidak Terlalu Oke dalam Warm Bodies

Meski saya cukup menyukai Warm Bodies, saya masih menemukan beberapa keanehan dalam film ini.

1. Bau Badan R

Tidak, tidak, tidak. Saya tidak bermaksud mengatakan Nicholas Hoult punya masalah dengan bau badan. Tapi yang jadi masalah di sini adalah tidak adanya bau dari R.

Kalau R masih termasuk corpse, tentu saja ia masih memiliki bau di awal-awal film, tapi kenapa Julie bisa bersikap biasa? Dan baru menjengit saat R mengoleskan darahnya ke wajah Julie? Padahal saat itu R belum warmed up dan berangsur pulih dari penyakit zombinya.

2. Kantong Ajaib!

Bagaimana Julie bisa menemukan lampu senter, sementara di awal ia sama sekali tidak membawa tas.

MagicUwooo... Julie, how did you do that?

Apa Julie secara tidak sengaja bertemu dengan Doraemon?

3. Foto polaroid R

Di rumah yang menjadi tempat singgah sementara mereka, Julie dan R menemukan kamera polaroid. Julie pun iseng memfoto R, yang spontan nyengir, tapi entah kenapa, foto yang tercetak malah R dengan tampang kaget.

Polaroid R

Memang lebih normal foto yang tercetak, tapi… agak aneh.

 

 

Warm Bodies, Akhir Kata

Saya tidak akan menyebutkan bagian oke dari film ini, karena film yang dinobatkan sebagai film paranormal-romantic dan zombie-comedy di tahun 2013 ini lumayan oke secara keseluruhan. Warm Bodies lumayan menghibur sebagai film romantis dan menyediakan komedi nyaris di setiap adegan. Namun di saat yang sama film besutan Jonathan Levine ini masih menyediakan spot untuk adegan horor yang cukup menegangkan. Saya tidak mengatakan menakutkan, karena efek komedi dalam film ini cukup besar.

Tapi, Warm Bodies, cukup menegangkan dengan keberadaan para Boneys yang mulai tidak ragu untuk memakan Corpse.

Well, itu adalah jawaban diplomatis saya.

Jawaban pribadi saya?

Setidaknya Warm Bodies tidak membuat saya mengantuk seperti saat saya menonton Twilight. Dan ada yang bisa dinikmati selain wajah cantik atau ganteng. Saya juga tidak menjadi bosan dan akhirnya kecewa seperti saat menonton Life After Beth.

Baca juga: Maleficent - Dekonstruksi Cinta Sejati dan Dongeng Putri Tidur

 

Preview Warm Bodies

 

 

Rating Warm Bodies Menurut Saya:

Rating Film 

 

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Film Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Perempuan, Terlahir Sebagai Penghuni Neraka


H.O.S Tjokroaminoto: Priyayi dengan Profesi Teknisi Sekaligus Politisi yang Berjiwa Pendidik


Intertwine - Takdir Yang Berjalin


SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh Film - Filsafat Eksistensi


HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


La Ricchi - Gelato Kaya Rasa di Surabaya


Misteri serta Sejarah Jatimulyo dan Mojolangu, Malang (Bag. 1)


Literasi Oktober: GRI Regional Surabaya - Menimbang Buku dalam Resensi


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Twist and Shout (Part 1)


Merah Balada