Jejak Kaki Artebia: Menyusuri Sejarah Surabaya Edisi Siola

03 Dec 2014    View : 8524    By : Niratisaya


Beberapa minggu ini Tim Artebia menghabiskan akhir pekan dengan menyusuri Surabaya dan menyusuri jejak sejarah Kota Pahlawan ini. Dimulai dengan daerah Peneleh dan rumah yang dulunya ditinggali oleh H.O.S Tjokroaminoto, berikutnya Tim Artebia mengelilingi daerah Genteng Kali. Di daerah ini kami menemukan beberapa bangunan dengan sejarah yang cukup menarik, salah satunya adalah Gedung Siola.

Jujur, Artebianz, sebagai warga kelahiran Surabaya asli, saya mengenang Siola sebagai sebuah pusat perbelanjaan yang penuh sesak dengan pedagang kaki lima di lorong-lorong jalan. Satu hal yang selalu saya nikmati juga tidak sukai saat masih kecil. Saya suka melihat interaksi pembeli dan pedagang di sana yang dibandingkan dengan situasi Siola saat ini yang begitu sepi. Namun, saya tidak menyukai ketidakteraturannya.

Sewaktu saya menyusuri Jalan Genteng Kali dan menyeberang ke kawasan Tunjungan, saya diserang oleh rasa rindu dan kenangan yang menyeruak saat saya menjejakkan kaki di tempat yang penuh kenangan masa kecil saya ini. Kini, Siola telah lenyap dan hanya menyisakan sebuah gedung bergaya artdeco dengan nama Tunjungan City. Akan tetapi, sejarah dan kenangan mereka yang sempat mencecap riuh dan serunya mengunjungi Siola akan selalu ada.

Jika Artebianz ingin mengunjungi daerah Genteng Kali atau Jalan Tunjungan, caranya cukup mudah. Artebianz bisa menggunakan bus tujuan Jembatan Merah dan turun di daerah Blauran. Dari sana, Anda bisa bisa berjalan ke kanan dan lurus menuju Jalan Tunjungan.

Baca juga: Patirthan Candi Kidal yang Tersembunyi

 

 

Sejarah Awal Gedung Siola: Whiteaway Laidlaw & Co.

Gedung Siola berdiri sejak tahun 1877. Ia dibangun atas prakarsa seorang pemodal asing asal Inggris bernama Robert Laidlaw. Dari nama pria inilah gedung yang menjadi landmark kawasan Tunjungan ini diberi nama Whiteaway Laidlaw & Co..

Konon, bentuk awal Gedung Whiteaway Laidlaw, cikal bakal Siola, tidak seperti sekarang. Namun sejak awal ia memang dibangun sebagai tempat perniagaan.

Surabaya kala itu terkenal sebagai pusat perdagangan yang tersibuk di Hindia, bahkan dikatakan setara dengan Singapura yang identik sebagai Surga Belanja. Naluri bisnis Laidlaw mendorong pria ini untuk membeli sebidang tanah di pojok Jalan Tunjungan dan Genteng Kali. Sekitar tahun 1800-an, Tunjungan masih berada di bagian selatan kota dan tidak seramai sekarang karena adanya tembok benteng kota.

Gedung Siola Tempo DuluWhiteaway Laidlaw: Siola Tempo Dulu - diambil dari idnugrohospecialpicture.blogspot.com

Robert Laidlaw menguasai pasar retail di Eropa dan Asia Timur hingga tahun 1900-an. Kabarnya, Laidlaw memiliki 20 cabang perbelanjaan di India sampai Malaysia. Pria ini selalu mampu menemukan lokasi strategis di tiap kota tempat gedung perbelanjaan retailnya berdiri. Namun tidak dengan gedung miliknya di Surabaya.

Saat itu mungkin orang-orang meragukan kejelian Laidlaw dalam membaca situasi. Akan tetapi, keadaan ini berbalik ketika tembok tersebut dibongkar pada tahun 1880. Pembongkaran itu membuat kawasan Tunjungan berkembang pesat dan menjadi pusat perdagangan. Laidlaw pun menjadikan Whiteaway Laidlaw sebagai sentra perkulakan, yang kemudian menjadi terbesar dan terkenal di Hindia-Belanda.

Karakteristik gedung milik Laidlaw terlihat pada kubah di ujung. Salah satu ciri khas Gedung Siola yang masih bisa kita jumpai sampai sekarang, Artebianz.

Pada tahun 1935 Robert Laidlaw tutup usia dan bersamaan dengan itu, pamor Whiteaway Laidlaw meredup. Satu per satu bisnis ritel Laidlaw pun tutup, termasuk di Surabaya.

Baca juga: Perpustakaan Balai Pemuda

 

 

Gedung Siola Pada Masa Perjuangan Kemerdekaan: Gedung Chiyoda

Meski Laidlaw telah tiada dan Whiteaway Laidlaw tidak lagi ada di Surabaya, tetapi pamor bangunan berkubah itu masih ada. Hal ini terbukti oleh digunakannya gedung ini sebagai pusat perdagangan oleh Jepang.

Seorang pemodal Jepang, yang tidak diketahui namanya, mengambil alih Whiteaway Laidlaw dan mengubahnya menjadi Chiyoda. Barang-barang yang dijual tidak berbeda dengan ketika gedung ini berada di tangan Robert Laidlaw. Akan tetapi tekstil tak lagi menjadi primadona kala itu. Ia digantikan oleh tas koper dan sepatu.

Saking terkenalnya sebagai pusat koper dan sepatu, Chiyoda memengaruhi semua toko yang ada di sekitarnya. Mereka meniru Chiyoda dan menjual koper dan sepatu. Artebianz bisa berkunjung ke Jalan Praban untuk melihat sisa-sisa pengaruh Chiyoda ketika itu. Di sepanjang jalan itu, Artebianz akan menjumpai deretan toko sepatu. Sementara itu, koper merajai daerah Jalan Gemblongan. Namun tidak seperti Jalan Praban yang bertahan sebagai pusat sepatu di Surabaya, saat ini hanya ada satu penjual dan servis koper.

Inggris Memborbardir SurabayaInggris memborbardir Surabaya - gambar diambil dari lagak.blopgspot.com

Sayangnya, tidak seperti Whiteaway Laidlaw yang mampu bertahan lama, masa jaya Chiyoda terbilang singkat. Di masa revolusi, ia terpaksa tutup ketika para pejuang menjadikan gedung ini sebagai pusat konsentrasi. Pada 10 November 1945, saat Inggris menjatuhkan bom di atasnya, Whiteaway Laidway alias Chiyoda pun hancur. Yang tersisa saat itu hanyalah tembok luar.

 

 

Sejarah Gedung Siola Setelah Perang

Setelah perang kemerdekaan dan revolusi yang terjadi di Indonesia, gedung perbelanjaan yang memiliki jembatan yang juga langsung terhubung ke bagian dalam ini sempat mangkrak hingga 15 tahun. Sampai akhirnya negara mengadakan nasionalisasi aset asing di tahun 1950. Gedung yang mestinya jadi cagar budaya ini pun dimiliki oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Di akhir 1950-an, akhirnya ada lima pengusaha Surabaya yang berniat menghidupkan kembali kejayaan gedung retail yang terkenal ini. Mereka adalah Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem, dan Ang. Keempatnya lalu bekerja sama dan menghidupkan kembali gedung yang dirikan Robert Laidlaw.

Dari Whiteaway Laidlaw&Co., Chiyoda, akhirnya gedung ini diberi nama SIOLA yang diambil dari inisial nama kelima pengusaha.

Pada tahun 1960-an kongsi dagang SIOLA berhasil membuat gedung ini tenar. Meski tak mampu menjadi pusat perbelanjaan terbesar se-Indonesia, Siola menjadi toko ritel terbesar di Surabaya.

Siola Ramayana
Siola Ramayana - gambar diambil dari surabaya-dahulu-sekarang.blogspot.com

Ketenaran Siola disaingi oleh mal besar pertama di Surabaya, yang didirikan di atas lahan bekas Rumah Sakit Simpang yang bernama Delta Plaza. Pamor Siola semakin redup tatkala banyak mal-mal yang bermunculan di pusat kota, seperti Tunjungan Plaza dan THR Surabaya Mal.

Napas Siola semakin tersengal-sengal saat menghadapi persaingan dengan mal-mal modern dan tren belanja masyarakat yang berubah. Siola yang tak lagi besar dan lengkap akhirnya tutup pada tahun 1998.

Baca juga: Heerlijk Gelato                                                                                        

 

 

Pasang Surut Gedung Siola Sebelum Akhirnya Lenyap

Setelah kongsi dagang SIOLA berakhir, gedung ini pun kembali terbengkalai. Demi mengembalikan sejarahnya, Pemerintah Kota Surabaya kemudian merenovasi beberapa bagian gedung ini agar serupa dengan desain awal yang dibuat oleh Robert Laidlaw. Pemerintah mengembalikan kubah yang menjadi ciri khas bangunan toko retail Whiteaway Laidlaw dan ornamen lama.

Pos Polisi dan Siola Sekarang Ini
Tim Artebia dari Jalan Gemblongan ke Jalan Genteng Kali, lanjut ke Jalan Tunjungan

Entah karena terdorong oleh bentuk baru Siola atau karena melihat potensi letaknya yang strategis, Ramayana Department Store melirik gedung ini dan menyewanya. Ingin mempertahankan pamor yang dihidupkan oleh kongsi dagang SIOLA, pada tahun 1999, Ramayana pun menggunakan gedung ini dengan nama Ramayana Siola. Namun, 9 tahun kemudian masa sewa Ramayana Department Store habis dan peritel ini tidak memperpanjangnya lagi.

Jalan Depan SiolaLorong Gedung Siola yang sepi

Untuk beberapa lama, gedung yang berdiri sebelum Toko Nam lahir ini kembali kosong, Artebianz. Sampai akhirnya entah inisiatif siapa, nama bangunan ini pun diubah menjadi Tunjungan City lalu disewa oleh penjual mobil bekas dan sebuah restoran yang menjual makanan khas Surabaya.

Namun entah mengapa, Artebianz, saya merasa Siola kehilangan rohnya. Lorongnya begitu sepi dan jalanan di depannya tak lagi riuh dan seru. Bahkan jembatannya yang melintang di atas Jalan Tunjungan tampak "kesepian".

Baca juga: Melihat Sisi Lampau Surabaya di Museum Surabaya

 

 

Referensi:
sawoong.com
wikipedia.org

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Wisata Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Agama dan Tuntutan Masyarakat


Alvi Syahrin - Semua Berawal Dari Mimpi Dan Kemudian Menjadi Nyata


The Geography Of Bliss - Penggerutu yang Mencari Kebahagiaan


The Voices - Komedi Kelam tentang Suara-Suara di Kepala Kita


Kataji - Awal Mula Saya Terpikat pada Yura


Ajibnya Bubur Kacang Hijau Ciliwung


Latarombo Riverside Cafe - Menikmati Vietnam Drip dengan Suasana Asyik


Goa Lawah Nan Berselimut Sejarah


Tea Tasting Bersama Havelteh


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Twist and Shout (Part 2)


Sunyi yang Tak Dicari