Dieng: Sebentuk Nirwana di Indonesia - Edisi Setyaki dan Pesona Alam Dieng

04 Feb 2015    View : 2628    By : Niratisaya


Allo, Artebianz :)

Rasanya tidak akan ada habisnya bila kita membicarakan keindahan Dataran Tinggi Dieng. Dari sebuah situs wisata saya mengetahui bahwa Dieng memiliki, kurang lebih, 33 cagar alam dan tempat wisata. Setelah sebelumnya saya menceritakan ekspedisi Tim Artebia menuju Dataran Tinggi Dieng edisi Kompleks Candi Arjuna, kali ini giliran saya mengulas candi-candi lain yang tersebar di Dieng dan pesona alam salah satu kawasan yang menjadi wisata andalan di Jawa Tengah ini. Dimulai dari sebuah candi yang berada tidak jauh dari Kompleks Candi Arjuna: Candi Setyaki.

 

Kompleks Candi Setyaki

Kompleks Candi Setyaki terletak tidak jauh dari Kompleks Candi Arjuna. Artebianz cukup berjalan lurus dari pintu masuk, melewati padang rumput luas dan perkebunan sayur di lahan luas yang ada di kanan-kiri jalan. Setelah itu, Artebianz akan menemukan Candi Setyaki.

Tidak seperti Kompleks Candi Arjuna yang berisi beberapa candi, Kompleks Candi Setyaki hanya terdiri dari Candi Setyaki dan beberapa reruntuhan yang belum sempurna rekontruksinya. Sekilas candi utama di Kompleks Candi Setyaki mirip dengan kontruksi Candi Arjuna dan Candi Puntadewa. Bedanya, bagian atap Candi Setyaki terbuka sehingga pengunjung bisa mengintip ke bagian dalam. Namun, saran saya bila Artebianz mengunjungi daerah situs cagar alam yang ringkih semacam candi-candi adalah memperlakukan tiap situs dengan hati-hati. Hal ini untuk mencegah kerusakan peninggalan nenek moyang kita yang menjadi bukti perkembangan peradaban kita.

Perbedaan lainnya antara Candi Setyaki adalah kompleks ini dikelilingi air, termasuk salah satu situs di dalamnya.

Candi Setyaki

Sekilas cerita mengenai sosok Setyaki
Setyaki memiliki beberapa julukan yang salah satunya adalah "Bima Kunting" (Bima Mini). Ia mendapatkan julukan ini kaena bentuk badannya yang tidak terlalu besar tapi berotot dan perkasa seperti Bima.

Meski ada perbedaan silsilah Setyaki antara cerita dalam Kitab Mahabaratha dan cerita pewayangan Jawa, dari keduanya tersirat bahwa Setyaki memiliki hubungan kekerabatan dengan Kresna dan pandawa. Inilah alasan utama mengapa Setyaki membela pihak pandawa, selain karena Kresna adalah kakak iparnya.

Dalam Kitab Mahabaratha diceritakan bahwa Arjuna adalah guru memanah Setyaki. Namun, dalam pewayangan Jawa, yang menjadi murid memanah Arjuna adalah Srikandi, sedangkan Setyaki cenderung menggunakan gada sebagai senjata utama saat bertarung—sama seperti Bima.

Candi Setyaki

Setyaki diceritakan memiliki sifat perwatakan pemberani, cerdas, kuat, keras hati, dan nekat. Akan tetapi, semua sifat baik Setyaki pudar karena pengaruh minuman keras. Diceritakan 36 tahun setelah perang Mahabaratha, bangsa Wresni (bangsa Setyaki), bangsa Yadawa, dan bangsa Andaka mengadakan upacara. Meski dilarang, tapi ada saja pihak yang membawa minuman keras. Akibatnya, Setyaki yang mabuk menghina salah satu pihak yang memihak Kurawa. Pertarungan gada pun terjadi dan Setyaki berikut seluruh peserta upacara meninggal dunia.

Dari cerita Setyaki kita bisa mengambil hikmah, Artebianz. Sebaik apa pun seorang tokoh, tapi bila ia membiarkan akal sehatnya hilang dan nafsunya menguasai diri, maka ia tak ada bedanya dengan setan yang mampu menghabisi segala yang ada di dunia—termasuk dirinya.

Sementara tugas setiap manusia adalah menjadi rahmat (anugrah) bagi semua yang ada di dunia.

Baca juga: Patirthan Candi Kidal Yang Tersembunyi

 

Candi Gatotkaca

Lain Kompleks Candi Setyaki, lain pula Candi Gatotkaca. Sesuai dengan sosoknya yang memiliki kemampuan terbang meski tak memiliki sayap, Candi Gatotkaca terletak di pintu masuk bagian atas Pegunungan Tinggi Dieng.

Candi Gatotkaca adalah situs cagar budaya yang akan Artebianz lihat pertama kali jika Anda masuk ke kawasan daerah wisata dari pintu masuk bagian atas. Dari cerita penduduk sekitar, keindahan alam di sekitar Candi Gatotkaca membuat candi ini menjadi pilihan pertama bagi para calon pengantin sebagai latar belakang foto pre-wedding mereka.

Gatotkaca

Sekilas cerita mengenai sosok Gatotkaca
Saya yakin, fakta bahwa Gatotkaca adalah putra Bima membuat salah satu anggota keluarga pandawa ini akrab dengan Artebianz. Dibanding sosok Setyaki, misalnya. Tidak seperti anak-anak pandawa lainnya, Gatotkaca lahir dari hasil pernikahan Bima dengan Arimbi, putri raja raksasa (Prabu Arimbaka).

Gatotkaca telah menjadi jagoan para dewa semenjak ia masih bayi. Ia dijadikan andalan melawan Prabu Pracona dan patihnya yang mengamuk karena pinangannya terhadap putri Batara Guru ditolak. Untuk mempersiapkan pertarungan Gatotkaca dengan Prabu Pracona, Gatotkaca yang masih bayi dimasukkan ke dalam Kawah Candradimuka. Ia direbus bersama magma, berbagagai macam senjata para dewa yang sakti, dan racun. Alih-alih terluka, Gatotkaca justru tumbuh besar dan menjadi sakti.

Setelah Gatotkaca berhasil mengalahkan Prabu Pracona, para dewa memberinya tiga pusaka sakti:
- Kutang Antakusuma yang membuat Gatotkaca sanggup terbang meski tak memiliki sayap,
- Caping Basunada yang memancarkan radiasi dan membuat Gatotkaca tidak kepanasan atau kehujanan saat terbang,
- Kasutpada Kacarma yang terbuat dari kulit naga dan mampu membuat pemakainya kebal dari sihir dan ilmu hitam.

Kalau di masa sekarang, Gatotkaca mungkin setara dengan sosok Superman ya, Artebianz Smile

Tentang Gatotkaca sendiri, kelahirannya menjadi simbol peralihan sebuah generasi, bahwa kita harus menjaga peralihan generasi agar ada kesinambungan dalam meneruskan sejarah dan peradaban masa lalu secara alami. Agar terjadi keharmonisan—baik secara sosial maupun budaya—antara para orang tua dengan generasi penerusnya.
Kelahiran Gatotkaca menurut buku Rupa dan Karakter Wayang Purwa adalah representasi kewajiban generasi tua untuk mendidik generasi penerusnya agar menjadi “…. sosok yang tangguh, terdidik, unggul, dan lebih maju dibanding generasi sebelumnya” (Sudjarwo dkk, 2010:697).

Baca juga: Gapura Wringin Lawang, Mojokerto: Gerbang dari Masa Kini ke Masa Lalu

 

Telaga Cebong

Dari Candi Gatotkaca, Artebianz akan bisa melihat pemandangan indah Telaga Cebong yang berada di ketinggian 2.300 m dpl. Dari beberapa situs yang menjadi referensi saya, dikatakan bahwa pengunjung Dieng dapat berkemah di kawasan telaga yang terletak di Desa Sembungan ini. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati keindahan dan kesejukan udara Dieng dengan menaiki perahu dan mengitari Telaga Cebong.

Sayang, pada saat itu Tim Artebia tidak melihat langsung keindahan telaga yang dikelilingi oleh ladang para penduduk sekitar ini. Selain karena waktu yang terbatas, juga karena peringatan dari penduduk sekitar yang mengatakan bahwa telaga ini dikelilingi oleh lumpur hidup.

Telaga Cebong

Meski bingung, mana yang benar, tapi saya memutuskan untuk tidak turun ke Telaga Cebong. Apa jadinya kalau Tim Artebia main ke sana dan tiba-tiba diisap lumpur hidup, Artebianz?

Baca juga: Leiden, Kota Sarat Sejarah Dalam Balutan Puisi Indah

 

Museum Kailasa

Oleh karena itulah, Tim Artebia langsung menuju ke museum Kailasa untuk melihat-lihat peninggalan kerajaan yang dulu berlokasi di Dieng.

Untuk mencapai Museum Kailasa cukup mudah, Artebianz. Anda tinggal naik dan berjalan mengikuti petunjuk yang ada.

Museum Kailasa

Dataran Tinggi Dieng cukup ramai pada hari kunjungan Tim Artebia. Tidak hanya ada wisatawan dari luar kota, tetapi juga ada banyak anak-anak sekolah yang mengunjungi daerah wisata ini. Tim Artebia pun dengan optimis berjalan menuju Museum Kailasa. Kami yakin, dengan kehadiran anak-anak SMA tersebut museum masih dibuka, meski kala itu cuaca mendung dan tampak tak mendukung.

Sayangnya, pada saat Tim Artebia sampai di Museum Kailasa semua anak-anak SMA sudah menyelesaikan kunjungan mereka. Tim Artebia cuma kebagian mengintip pintu tertutup museum Frown

Dari Museum Kailasa, Artebianz bisa naik ke anak tangga yang ada di sebelah kiri museum. Tangga itu akan mengantarkan Anda ke Dieng Plateu Theater yang memberikan informasi mengenai keajadian alam di sekitar Dieng.

Dieng Plateu Theater

Konon, tempat ini mampu menampung 100 kursi, memiliki taman yang asri dan sangat nyaman untuk Anda bersantai sambil dimanjakan dengan panorama indah dari rangkaian pegunungan sekitarnya.

Baca juga: Patirthan Candi Kidal Yang Tersembunyi

 

Nikmatnya Hasil Alam Dieng

Selain menikmati keindahan alam dan cagar budaya di Dataran Tinggi Dieng, Tim Artebia juga sempat icip-icip beberapa hasil alam Dieng, yaitu kentang dan teh tambi—teh khas Dataran Tinggi Dieng.

Sama seperti carica, buah khas Dieng, yang dijual di sepanjang jalan menuju daerah wisata Dieng, Artebianz dapat dengan mudah menikmati hasil alam Dieng. Tak peduli apakah Artebianz lewat pintu masuk atas atau pintu masuk bawah salah satu daerah wisata andalan Jawa Tengah ini.

Kentang Dieng

Tim Artebia sendiri memilih untuk menikmati kentang goreng dan teh tambi di sebuah warung yang ada di dekat pelataran parkir pintu masuk bawah, walaupun kami bisa menikmati keduanya di warung-warung yang ada di depan Museum Kailasa. Kentang goreng di Dieng terbilang murah, Artebianz. Hanya dengan merogoh kocek 10ribu rupiah Artebianz sudah bisa menikmati kentang potongan jumbo dan ambil bumbu sesuka hati. Teh tambi khas Dieng pun tak kalah sedapnya. Tim Artebia sepakat kalau teh itu begitu kental dan wangi. Tidak salah kalau hasil alam Dieng menjadi nomor wahid di dunia!

Alasannya adalah selain dekat dengan mobil yang kami sewa, warung-warung di pelataran parkir pintu masuk bawah Dieng ini menyajikan pemandangan yang luar biasa.

 Pintu Masuk Dieng

Ada satu lagi sebenarnya minuman khas Dieng, yakni purwaceng. Tanaman yang memiliki bentuk mirip ginseng dan konon memiliki khasiat sebagai obat kuat. Mendengar itu, saya tentu saja tidak mencoba minuman ini. Namun anggota Tim Artebia yang lelaki mencobanya. Komentar pertama mereka adalah "mahal!". Segelas kopi purwaceng setara dengan kopi dari gerai-gerai kedai kopi franchise yang ada di mal-mal Surabaya (45ribu rupiah). Walhasil, para lelaki anggota Tim Artebia pun membaginya berempat Laughing

Baca juga: Candi Minak Jinggo - Candi Kecil nan Istimewa di Trowulan

 

Cagar Budaya Lainnya yang Ada di Dieng

Saking banyaknya cagar alam dan spot-spot wisata yang memukau di Dataran Tinggi Dieng, Tim Artebia tidak bisa mengulas semuanya. Ada banyak yang terlewat, bahkan ketika saya sendiri sudah mencatat semuanya sesuai petunjuk. Beberapa cagar budaya dan keindahan alam Dieng yang Tim Artebia lewatkan di antaranya adalah:
- Sumur Jalatunda
- Gua Semar
- Candi Bima
- Perkampungan Bocah Gembel
- Kawah Candradimuka

Semoga Tim Artebia berkesempatan mengunjungi Dieng dan menikmati keindahan serta kelezatan kulinernya. Hehehe….

 

Rute Perjalanan

Saya tidak tahu tepatnya seperti apa rute yang diambil oleh Tim Artebia Desember lalu, selain karena berputar-putar dan beberapa kali tersasar, saya juga tepar di dalam mobil. Namun, secara umum Artebianz bisa menggunakan beberapa rute berikut:

a) Jogja – Wisata Dieng
Rute perjalanan adalah Jogja – Sleman – Tempel – Muntilan – Magelang – Wonosobo – Dieng
Perjalanan sejauh 120 km, waktu tempuh 3,5 jam.

b) Magelang – Wisata Dieng
Rute perjalanan adalah Magelang – Secang – Temanggung – Parakan – Kertek – Wonosobo – Dieng
Perjalanan sejauh 65 km, waktu tempuh 2 jam.

c) Solo – Wisata Dieng
Rute perjalanan adalah Solo – Kartasura – Boyolali – Ampel – Salatiga – Bawen – Ambarawa – Secang – Temanggung – Parakan – Kertek – Wonosobo – Dieng
Perjalanan sejauh 180 km, waktu tempuh 6 jam.

d) Semarang – Wisata Dieng
Rute perjalanan adalah Semarang -  Unggaran – Bawen – Ambarawa – Secang – Temanggung – Parakan – Kertek – Wonosobo – Dieng
Perjalanan sejauh 120 km, waktu tempuh 3,5 jam.

Baca juga: Wana Wisata Sumberboto – Keindahan Alam yang Masih Dipandang Sebelah Mata

 

Kesan-Kesan Setelah Mengunjungi Dieng

Daerah wisata Dataran Tinggi Dieng akan selalu menjadi tempat yang istimewa bagi saya. Bukan hanya karena tempat ini adalah tempat pertama dari beberapa cagar budaya di Indonesia yang saya lihat dalam ‘penglihatan’ saya, tetapi juga karena keasrian dan hawa spiritual yang masih lekat di tiap sudutnya.

Meski harus menghabiskan 10 jam lebih untuk mencapainya, meski menunggu lagi demi bisa mengunjunginya, saya pasti akan kembali menyambangi Dieng.

 

Bibliografi:
Sudjarwo, Heru S., Sumari, Undung Wiyono. 2010. Rupa dan Karakter Wayang Purwa: Dewa, Ramayana, Mahabarata. Jakarta: Kakilangit Kencana.

Referensi:
http://www.initempatwisata.com/
http://www.indonesia.travel/

 

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Wisata Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ayah Dan Hari Ayah


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Supernova 1: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh


Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Adaptasi Dari Cerita Pendek


Reason - Eva Celia: Sebuah Penemuan Jati Diri


Nasi Goreng dan Mi Goreng Pak Is


Omahku - Ngobrol dan Nongkrong dalam Kesederhanaan


Jelajah Pantai Pacitan: Pantai Banyu Tibo


Tea Tasting Bersama Havelteh


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Kisah Tentang Himawari


Perjalanan, Pergulatan Waktu