Ranu Kumbolo: Sebuah Pelajaran Hidup Tentang Jerih Payah

16 Dec 2015    View : 2271    By : Aulia Arsinta Herdiana


Salam, Artebianz!

Berbicara tentang kecantikan, nampaknya tidak hanya perempuan yang bisa dikatakan cantik. Alam juga bisa dikatakan cantik. Salah satu pesona kecantikan alam yang "cetar membahana" adalah Ranu kumbolo.

Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang terletak di kawasan gunung tertinggi di tanah Jawa: Gunung Semeru. Ranu alias "danau" terletak di tengah gunung, sudah kebayang betapa cantiknya. Ranu Kumbolo akhir-akhir ini juga makin populer sejak adanya film yang diangkat dari novel best seller Indonesia: 5cm. Sudah pada nonton dong? Yang belum, yaaah! Hehehe. Tapi tak apa, ini dia salah satu foto Ranu Kumbolo yang diabadikan langsung dari kamera teman saya:

ranu_kumbolo

Cantik bukan? Ranu Kumbolo memang salah satu anugerah Tuhan berupa alam yang paling cantik menurut saya. Namun, di balik kecantikan yang dimiliki Ranu Kumbolo, tersimpan sejuta amanat tetang kehidupan. Tuhan nggak akan menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia Artebianz, pasti ada pesan yang terkandung di dalamnya. Pesan itulah yang harus kita gali guys, sebagai replika kehidupan kita selanjutnya.

Nih, saya akan mengupas sedikit cerita pengalaman pribadi saya, saat menapaki keindahan Ranu Kumbolo.

Baca juga: Pantai Pasir Putih Situbondo (Kawah Ijen Part 1)

 

Cinta Pertamaku Untuk Ranu Kumbolo

Awalnya saya diajak teman untuk berkemah di Ranu Kumbolo. Nah, waktu itu, saya sedang kanker (kantong kering) alias nggak punya banyak duit. Tapi teman saya bilang,"GRATIS, LHO!". Wah, siapa yang nggak mau jalan-jalan gratisan. Iya, kan? Akhirnya, saya pun nggak bisa menolak.

Sebagai informasi, saya sebelumnya belum pernah mendaki gunung sama sekali lho, Artebianz. Tapi sekalinya mendaki, saya langsung berhadapan dengan sang Mahameru. Nekat ya? Nggak masalah, kan gratis! Hehehe.

Tentu, ini akan menjadi pengalaman yang tak akan pernah terlupakan dalam benak saya. Tanpa pemanasan sebelum pendakian, membuat saya pesimis akan bisa ke puncak Mahameru. Namun, mengingat ada kebesaran Tuhan yang akan dihadiahkan untuk para pendaki gigih di Semeru, membuat saya optimis bahwa saya bisa.

 

Teman Sejati Adalah Teman Ketika Mendaki

Dan, berangkatlah saya ke Semeru.

Kisah hidup di Semeru dimulai dari berjalan kaki sejauh ±1 km bersama teman yang mengajak saya plus teman-teman yang baru saja saya kenal di sana. Yup! Hiking makes friends, begitu kata orang. Menemukan kawan-kawan baru dalam pendakian adalah hal yang lumrah.

Jadi, buat Artebianz yang merasa kesepian, cobalah mendaki. Cukup kenal dengan satu orang saja, sisanya, kenalan. Saat itu juga teman kalian akan bertambah, dan mungkin juga akan menjadi teman sejati karena kalian memulai pertemanan saat kalian berjuan bersama dalam pendakian menuju Ranu Kumbolo atau Mahameru. Who knows, right?

ranu_kumbolo_2

Pada potret di atas, saya berada di perjalanan menuju pos pemberangkatan. Waktu itu, jalan yang kami tempuh masih dalam perbaikan jadi kami harus berjalan sekitar ±1 km sampai ada pos ojek. Dari perjalanan pendek itu, saya benar-benar diuji untuk membuktikan slogan "berakit-rakit kita kehulu, berenang kita ketepian". Dari situlah saya mengilhami apa yang namanya berjuang.

Eits, padahal perjalanan yang sesungguhnya masih belum dimulai lho, Artebianz! Saya sudah keburu mellow. Habis, ini benar-benar pengalaman pertama saya menapaki gunung tinggi dan berjalan jauh. Selama di perjalanan menuju pos pemberangkatan, saya disuguhi lukisan yang Tuhan buat begitu cantik.

Baiklah, saya mengakui kekalahan kecantikan saya. Dikelilingi bukit-bukit, disapa oleh burung-burung beterbangan, dan tak lupa semangat dari teman-teman yang begitu luar biasa. Hingga sampailah kami di gerbang awal perjalanan sesungguhnya.

Baca juga: Mengenang Sejarah Dukuh Kemuning Dan Menguak Peninggalan Kepurbakalaannya

 

Ranu Kumbolo: Ganjaran Dari Tetesan Keringat

Pemanasan yang luar biasa, saya yakin kalau pasti bisa menaklukkan jalan yang terjal ini. Setelah melakukan registrasi di pos keberangkatan pendakian Semeru dan isi perut sebentar, saya melanjutkan perjalanan dengan semangat 45.

Perjalanan menuju Ranu Kumbolo tidak bisa dibilang mudah, apalagi untuk pemula seperti saya. Jalan setapak yang ditempuh jauh dan tidak rata. Belum lagi beban ransel di punggung dan rasa lelah yang harus saya tanggung. Seseorang yang sangat lelah biasanya emosional, bahkan, bisa jadi terbersit rasa menyesal sudah "melibatkan diri" dalam perjalanan yang sesulit dan semelelahkan ini.

Tapi, Tuhan Maha Bijaksana. Diciptakan-Nya pemandangan yang indah di kanan kiri menuju Ranu Kumbolo sehingga manusia yang lelah bisa sedikit terhibur. Dan, di sini pulalah fungsi teman sesungguhnya, penyemangat saat kalian sedang bejuang. That's what friends are for sangat terasa dalam pendakian. Kurang lebih 4 jam saya dan kawan-kawan berjalan kaki, lelah, lemah, letih, lesu, sampai akhirnya terbayar sudah... surga dunia itu nyata.

Here we come: Ranu Kumbolo.

ranu_kumbolo

Ranu Kumbolo begitu mengagumkan dan begitu indah. Saya terpana dibuatnya, hingga tak sadar meneteskan air mata. Ini menjadi pengalaman pertama yang paling indah. Dan tak lupa bersyukur telah diberi mata untuk bisa diberi kesempatan melihat anugerah Tuhan yang indah. Sungguh!

Dalam kondisi seperti ini, bahkan memiliki mata sehat saja sampai saya syukuri luar biasa. Padahal, dalam kondisi biasanya, kita seringkali lupa mensyukuri nikmat mata. Memang benar apa yang dikatakan orang, ingin dekat dengan Tuhan maka dekatlah dengan alam. Peribahasa bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian juga terbukti. Lelah kita dibayar dengan pesona yang mengagumkan.

Baca juga: Pantai Pulau Merah Nan Meriah Di Banyuwangi

 

Ranu Kumbolo: Ranu Untuk Kumpul Dengan Bolo

Teman atau bolo adalah berkah yang diberikan Tuhan lewat Ranu Kumbolo. Sebelumnya saya tidak saling mengenal dengan teman seperjalanan saya, tapi Ranu Kumbolo telah mengakrabkan saya dengan teman-teman baru, bahkan rasanya sudah seperti keluarga saja. Saat saya lelah dalam berjalan, mereka selalu memberikan semangat untuk bisa tetap berdiri melawan jalan yang begitu melelahkan. Di balik keindahan yang begitu luar biasa, tersimpan cerita dan pesan yang terkandung di dalamnya. Kebersamaan dan tolong-menolong merupakan dua dari beberapa banyak pesan yang saya peroleh.

ranu_kumbolo

Baca juga: Taman Nasional Baluran - Afrika-nya Indonesia

 


Tag :


Aulia Arsinta Herdiana

Aulia Arsinta Herdiana adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa Jepang di salah satu universitas di Kota Malang, yang bercita-cita bisa jalan-jalan ke Jepang.

Profil Selengkapnya >>

Wisata Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Happily Ever After - Mencari Makna Kebahagiaan Abadi


Life After Beth - Kehidupan Setelah Kematian


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


Taman Patung Kuda Gunung Sari - Taman Segala Usia


Candi Minak Jinggo - Candi Kecil nan Istimewa di Trowulan


Basha Market Chapter 2 - Merayakan Kreatifitas Lokal


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)


Sunyi yang Tak Dicari