Teluk Biru: Sambil Menyelam Tanam Terumbu

20 Mar 2016    View : 1588    By : Nadia Sabila


Destinasi wisata di Banyuwangi semakin berwarna-warni, setelah ada Teluk Hijau, Pulau Merah, dan kini Teluk Biru. Teluk Biru atau Blue Bay adalah salah satu obyek wisata di Banyuwangi yang baru saja dipromosikan ke publik sekitar tahun 2015. Apa keunggulan Teluk Biru Banyuwangi? Terumbu karangnya yang luar biasa indah!

 

 

Menuju Teluk Biru, Banyuwangi

Berbeda dengan Teluk Hijau dan pantai-pantai sekitarnya yang masih masuk wilayah Taman Nasional Meru Betiri, Teluk Biru letaknya jauh lebih "nyempil" lagi ke ujung paling tenggara propinsi Jawa Timur yakni di Muncar dan dikelola oleh Dinas Perikanan dan Bakorlak.

Dari Surabaya, saya dan rombongan Jelajah Senja berangkat dengan Elf malam pukul 21.00 WIB dan baru tiba di Muncar sekitar pukul 04.00 WIB dini hari. Kami pun dipersilakan untuk "transit", meletakkan barang-barang bawaan kami di sebuah wisma tamu milik Dinas Perikanan Muncar yang sudah dipesan oleh Tim Jelajah Senja. Jarak wisma ke pelabuhan hanya tinggal jalan kaki saja 3 menit.

Rencananya sih, begitu tiba, kami ingin menikmati matahari terbit di tengah laut sambil menuju spot snorkeling. Tapi apa daya, laut sedang surut sehingga kapal-kapal yang akan kami tumpangi kandas tak bisa berlayar. Manusia hanya bisa berencana, kami pun menikmati matahari terbit dari pinggir pelabuhan saja. Nggak kalah indahnya kok, Artebianz:

matahari_terbit_di_teluk_biru

Pukul 06.00 WIB kapal baru bisa diberangkatkan menuju spot snorkeling. Sebelum berangkat, guide yang bertugas membimbing kami ke Teluk Biru, Pak Ismail yang sekaligus penggagas misi pemeliharaan terumbu karang Teluk Biru Banyuwangi, memberikan pengarahan terlebih dahulu.

Mungkin ada sebagian Artebianz yang tahu kalau Muncar merupakan daerah di Jawa Timur yang terkenal dengan pelelangan ikannya. Memang benar, tapi sayangnya tempat penjualan ikan ini dulu sangat kotor.

Sedikit cerita yang saya kutip dari Pak Ismail, kampung nelayan Muncar tempat kami bertolak ke Teluk Biru ini dulunya adalah sebuah kampung nelayan yang sangat kumuh. Begitu pun dengan nasib laut dan terumbu karangnya, sangat menyedihkan. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan sebelumnya sangat rendah, sehingga Pak Ismail dan tim, dibantu Dinas Perikanan Muncar, akhirnya tergerak untuk menyudahi keadaan miris ini.

Baca Juga: WTF Markets - Moire: A One-Stop Entertainment Market

 

 

Misi Mulia Di Teluk Biru

Perbaikan kampung dan pemulihan terumbu karang pun dilakukan sampai akhirnya, di awal tahun 2015, Teluk Biru mulai dipromosikan untuk dibuka sebagai destinasi wisata bagi umum. Eits, tapi nggak sembarangan lho, Artebianz! Demi tetap menjaga kelestarian laut Teluk Biru, semua pengunjung Teluk Biru diharapkan untuk ikut membantu misi mulia menjaga alam, yakni dengan membantu menanam terumbu karang di lautan. Wisata dapat, sumbangsih bagi alam terlaksana. Keren ya misinya!

karang_meja

Selain itu, jumlah pengunjung juga dibatasi, yakni maksimal 30 orang dalam sekali kunjungan. Acara-acara TV tentang traveling bahkan ditolak meliput ke Teluk Biru demi menghindari banjir pengunjung yang dikhawatirkan dapat membahayakan pemulihan yang sebetulnya masih berjalan.

Dua sisi mata uang yang dilematis memang. Di satu sisi, potensi wisata di suatu wilayah memang berpeluang menambah pemasukan warga setempat, di sisi lain, ada kelestarian alam yang terancam jika wisatawan tidak terkendali. Pak Ismail dan kawan-kawan lebih memilih sisi kelestarian alam karena dampaknya jauh lebih panjang dan kritis ketimbang sekedar pemasukan. Masuk akal kan, Artebianz?

Baca Juga: Rujak Cingur Ala Bu Dah

 

 

Teluk Biru Dan Aneka Terumbu Karang

Pengarahan selesai dan perjalanan panjang pun dimulai. Dengan kapal berkapasitas 15 orang, saya dan rombongan Jelajah Senja bertolak menuju 3 spot snorkeling di Teluk Biru. Spot-spot itu ternyata sangat jauh dari pelabuhan dan memakan waktu 3 jam untuk menuju ke sana. Lebih jauh daripada dari Kalianget Sumenep ke Gili Labak, ya?

teluk_biru_banyuwangi

Menurut Pak Ismail, sebetulnya sudah ditemukan 12 spot snorkeling yang bagus untuk diselami, tetapi, dalam satu kali kunjungan, hanya 3 spot yang dibuka bergantian. Ini dilakukan dengan tujuan memberi kesempatan bagi satu spot terumbu karang untuk memulihkan diri. Bisa jadi, jika nanti Artebianz berkunjung ke Teluk Biru, spot yang akan Artebianz datangi akan berbeda dengan spot yang saya datangi ini.

Di sepanjang jalur menuju spot, alas purwo, dan pantai-pantai kecil perawan berpasir putih menjadi pemandangan. Kami juga berpapasan dengan perahu-perahu nelayan yang lebih besar. Awalnya menakjubkan, tapi karena sangat panjang dan seolah tak habis-habis, kami pun mengantuk dan tertidur di kapal.

Baca Juga: Pantai Sedahan: Sebuah Keindahan Tersembunyi

 

Spot 1: Karang Otak

karang_otakSetelah berjam-jam kemudian sampailah kami di spot pertama, di sini, zona waktu sudah bukan lagi WIB melainkan masuk WITA. Spot ini memiliki kedalaman sekitar 4 meter.

Byurr! Satu per satu dari kami pun menceburkan diri ke air. Di spot pertama ini, tampaklah terumbu karang-terumbu karang yang memang baru pulih. Spot pertama ini didominasi karang otak. Dinamakan karang otak karena bentuknya mirip dengan otak manusia meski warnanya ada yang hijau dan ada yang kuning.

Di spot pertama ini, misi mulia langsung dieksekusi. Tim Jelajah Senja yang bisa menyelam plus Pak Ismail, bahu-membahu mengikat terumbu karang di ember yang sudah kami bawa dari Muncar. Semoga dengan ini, terumbu karang di laut Teluk Biru dapat tetap lestari sampai akhir zaman, ya! Kami bangga pernah turut menyumbang untuk kelestarian alam meskipun hanya sedikit.

 

Spot 2: Karang Meja Dan Makan Siang Tepi Pantai

karang_mejaDi spot kedua ini saya dan rombongan berhenti lebih lama karena sekalian makan siang dan foto-foto. Pemandangan terumbu karang di spot kedua ini didominasi oleh karang meja. Terumbu karang dengan permukaan lebar-lebar serupa meja banyak ditemukan di sini. Ikan-ikan pun lebih banyak yang ada di spot kedua ini daripada di spot pertama. Saya juga kembali ketemu si Patrick biru alias bintang laut. Ada juga palung laut yang dalam di sini.

Di sini sempat hujan rintik-rintik, jadi saat kami snorkeling, cuaca tidak terlalu panas. Nyaman sekali. Setelah puas ber-snorkeling ria, kami naik kapal lagi sebentar untuk melipir mencari pantai guna makan siang. Kebalikan dengan pagi tadi yang surut, siang ini air laut pasang. Jadi pantai-pantai kecil di bawah Alas Purwo ini banyak yang terendam air.

Tapi tak apa. Pak Ismail berhasil menemukan pantai yang tepiannya tak terlalu terendam air pasang meski sedikit berbatu. Yang penting, makan siang bisa diturunkan dan kami bisa makan di pinggir pantai dengan tenang. Bayangkan Artebianz, setelah lelah berenang, kami makan siang di tepi pantai berpasir putih di bawah hutan rimbun. Nasi hangat, pepes ikan, tumis sayur manisa, dan krupuk cumi beralas piring rotan dan daun. Hmmm.... Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?

makan_siang

Pantai kecil ini tak bernama, tapi cukup apik, pasirnya putih lembut dan airnya bening kehijauan karena dangkal. Hati-hati karena ada juga ubur-ubur nakal yang sesekali berenang dan bisa menyengat siapa saja yang lengah.

Sayangnya, kami sempat menemukan sampah plastik yang mungkin ditinggalkan oleh nelayan-nelayan yaang belum sadar lingkungan. Setelah makan, kami masih menyempatkan diri berenang-renang dan bermain (baca: foto-foto) air, lalu mengangkut sampah dan sisa makananan kami tadi.

 

Spot 3: Karang Warna-Warni

karang_mejaSetelah puas di spot 2, kami pun sampai di titik terakhir sebelum pulang. Mungkin karena sudah lelah ditambah perut yang cukup kenyang, beberapa anggota rombongan mulai malas turun dari kapal. Padahal sayang sebetulnya.

Di spot ketiga ini, terumbu karangnya lebih beragam dan lebih warna-warni meski tak sebesar di spot-spot sebelumnya. Saya bisa menyaksikan dengan jelas ada karang yang berwarna ungu, hijau terang, dan biru muda. Ada juga yang berwarna merah dan merah muda. Ikan-ikan kecil juga cukup banyak di sini.

Menurut saya, ragam ikan di Teluk Biru tak sebanyak di Pulau Menjangan. Sangat sulit menemukan Nemo (ikan badut) di Teluk Biru ini kalau tidak sedang beruntung. Ikan-ikan juga malu-malu di sini, jadi tak jarang saya hanya melihat karang-karang saja tanpa ikan.

Baca Juga: Traveling: Mimpi, Destinasi, Tujuan, Makna

 

Teluk Biru: Wisata Yang Bertanggung Jawab

Setelah puas snorkeling di 3 spot, menjelang sore kami pun kembali ke Muncar. Selamat datang kembali berkapal selama 3 jam yang kali ini dengan baju basah dan badan pegal sehabis snorkeling. Hehehe! Tapi tak apa, kami puas dan bahagia. Wisata di Teluk Biru mengajarkan kami tentang wisata yang bertanggung jawab.

teluk_biru_banyuwangiMengikat Terumbu Karang Di Teluk Biru, Photo by: Jelajah Senja

Setiap manusia berhak menikmati keindahan yang telah diciptakan Tuhan untuk kita, tapi jangan lupa, ada tanggung jawab di baliknya, yakni untuk menjaga kelestariannya. Apabila kita tidak bisa menanam atau memberikan sesuatu setidaknya jangan merusak dan mengotorinya.

Kita musti bijak ya, Artebianz, mohon jangan alay! Alay yang saya maksud di sini adalah sikap semacam ini:

"Hellaaww.. kami bayar mahal untuk berwisata ke sini jadi kami berhak melakukan apa saja sesuka hati karena kami sudah mengeluarkan uang untuknya."

Jika ada, saya mohon buang jauh-jauh pemikiran tak dewasa seperti itu. Pikiran semacam itulah yang sudah merusak keaslian Semeru dan bunga-bunga di Jogja yang terinjak-injak. Wisata tanpa tanggung jawab itulah yang merusak semuanya.

Sampai kapan pun, uang kita tidak akan pernah bisa "membeli" keaslian alam yang sudah Tuhan berikan. Alam Tuhan tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang, tidak akan sebanding.

Baca juga: Generasi Global dalam Industri Pertelevisian

 

 

Tips Berwisata Ke Teluk Biru Banyuwangi:

  • Sarapan atau makan sebelum naik kapal. Ini penting. Perjalanan sangat lama, Artebianz bisa mabuk laut jika perut kosong.
  • Tidak perlu membawa dompet saat naik kapal menuju spot snorkeling. Kalau ingin jaga-jaga, cukup bawa selembar uang puluh-ribuan saja.
  • Tidak ada pemandian di spot snorkeling. Tas dan baju ganti ditinggalkan saja di wisma atau di mobil jika tidak menyewa wisma.
  • Disarankan untuk menyewa wisma karena kalian akan sangat lelah dan membutuhkan tempat yang layak untuk transit. Mandi bilas dan ganti baju bisa dilakukan di wisma karena wisma milik Dinas Perikanan ini sangat bersih dan ada tempat tidurnya.
  • Info lebih lengkap untuk traveling resmi ke Teluk Biru, bisa menghubungi Open Trip Travel Jelajah Senja.

Bagi Artebianz yang kesehariannya berada di dalam ruangan dan hanya menghadap komputer, saya sarankan untuk sekali waktu menyempatkan diri mengalihkan pandangan kalian secara total dari komputer maupun smartphone kalian lalu fokus menatap alam. 

Kita perlu sekali waktu untuk tidak meminjam mata orang lain—melalui laptop atau smartphone kalian—untuk menikmati keindahan yang diciptakan Tuhan untuk kita dan kita nikmati dengan mata kepala kita sendiri. Dengan begini, kita bisa merasakan sendiri betapa besar kuasa Tuhan dan bersyukur akan alam yang indah.

Sampai jumpa di pelesir berikutnya, Artebianz!

Baca juga: Marathon Kafe Recommended Di Malang






Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Wisata Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan


Figur: Lia Indra Andriana - Dari Seorang Calon Dokter Gigi Menjadi Salah Satu Penerbit Berpengaruh


Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya


Suicide Squad - A Sweet Treat... Or A Sweet Threat?


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Marugame Udon - Delicacy in Simplicity


Kopi Luwak - Nongkrong Aman Sambil Berbagi Kopi dan Gelak


Misteri serta Sejarah Jatimulyo dan Mojolangu, Malang (Bag. 2)


Deja Vu: Pesta Ketiga WTF Market di Surabaya (Bagian 1)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)


Dor!