Misteri serta Sejarah Jatimulyo dan Mojolangu, Malang (Bag. 1)

18 Mar 2017    View : 2902    By : Kopi Soda


Desa atau kampung di suatu wilayah seringkali dipandang sebelah mata karena dinilai kurang memiliki nilai-nilai wisata yang menarik. Kebanyakan dari kita berpikir bahwa desa (baca: kelurahan), terutama yang letaknya tepat di wilayah kota, hanyalah sebuah pusat tempat tinggal penduduk yang sama sekali tidak menarik.

Kecuali di wilayah tersebut terdapat sebuah paket wisata berupa keindahan alam, tempat memetik buah, tempat rafting, dan lain-lain. Akan tetapi kategori demikian biasanya hanya berlaku untuk desa yang berada di dekat alam, masih asri, dan belum banyak terjamah manusia. Sementara itu, desa yang berada di wilayah kota cenderung dianggap tidak menarik.  

Maka dari itulah saya ingin mengajak Artebianz untuk mencoba alternatif wisata yang tidak mainstream, wisata sejarah dan arkeologi guna melihat refleksi masa lalu di suatu wilayah, dengan menjelajahi situs-situs sejarah dan bekas-bekas artefak yang tertinggal. Memanfaatkan jenis wisata baru ini, saya akan mengajak Artebianz menjadi detektif dan blusukan di desa-desa untuk ]guna mencari jejak-jejak artefak dan situs yang tersisa di suatu desa, kemudian menguak kesejarahan desa tersebut.

Ketika artefak dan situs tersebut berhasil diketemukan lalu diidentifikasi kesejarahannya, kita akan merasakan kepuasan tersendiri bagaikan seorang detektif ternama yang berhasil memecahkan suatu kasus yang rumit. Dengan keberhasilan kita dalam mengidentifikasikan situs dan artefak tersebut, maka sekelumit kesejarahan suatu desa akan terkuak. Suatu hal yang menarik bukan, Artebianz.   

PetaGambar 01: Peta Kotamadya Malang
Sumber: blogpunyashofa.blogspot.co.id

Nah, pada kesempatan kali ini saya akan mengajak Artebianz berpetualang dan menelusuri situs-situs yang berada di dua desa di salah satu sudut Kota Malang. Kedua desa itu adalah Desa Jatimulyo dan Desa Mojolangu, yang secara administratif masuk ke wilayah Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Di kedua desa tersebut ternyata terdapat situs-situs bersejarah yang tidak banyak diketahui orang dan menarik untuk dikuak kesejarahannya. Jadi, selamat membaca!

Baca juga: Penelusuran Kehidupan Sosok Ken Angrok dan Pendharmaannya

 

 

Jatimulyo dan Mojolangu pada Zaman Dulu

Kelurahan Jatimulyo dan Kelurahan Mojolangu secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Sebelum peraturan tersebut disahkan Kelurahan Jatimulyo dan Kelurahan Mojolangu masih berstatus desa yang masuk wilayah Kecamatan Blimbing sesuai Peraturan daerah Nomor 4 Tahun 1967. Peraturan ini meneruskan peraturan ‘Gemeenteblad No. 108 Tahun 1937’. Baru kemudian tahun 1987, ketika Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1987 dikeluarkan, terjadi pemekaran. Kecamatan yang semula berjumlah tiga kecamatan menjadi lima kecamatan. Tiga kecamatan awal itu adalah Kecamatan Klojen, Kecamatan Blimbing, dan Kecamatan Kedungkandang—yang kemudian mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Klojen, Kecamatan Blimbing, Kecamatan Kedungkandang, Kecamatan Lowokwaru, dan Kecamatan Sukun.

Kelurahan Jatimulyo dan Kelurahan Mojolangu saat ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Lowokwaru berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1987 (Suwardono dan Rosmiayah, 1997:52-54).    

Mundur lagi ke belakang, pada masa pendudukan Jepang di Kota Malang, Gadang masuk dalam struktur administrasi baru yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang yang tidak begitu berbeda dengan Pemerintah Kolonial Belanda di Kota Malang. Puncak pimpinan daerah ada di Malang-syutyokan (residen) yang kala itu dipimpin oleh Minoru Tanaka. Dia membawahi beberapa kentyo (kabupaten) dan shityo (kotapraja). Salah satunya Soewarso Tirtowijogjo, walikota Malang.  

Masing-masing ken dan shi membawahi beberapa son atau shi-koe (kecamatan), sedangkan setiap son membawahi beberapa koe (kampung). Malang-shi membagi wilayah administratif Malang menjadi tiga shi-koe antara lain Blimbing-shi-koe, Klojen-shi-koe dan Kedungkandang-shi-koe. Masing-masing shi-koe membawahi beberapa koe. Kelurahan Jatimulyo dan Kelurahan Mojolangu sendiri termasuk dalam wilayah Blimbing-shi-koe bersama dengan koe (kampung) Blimbing, Purwodadi, Purwantoro, Pandanwangi, Arjosari, Polowijen, Tunjungsekar, Tulusrejo, Lowokwaru, dan Bunulrejo (Hudiyanto, 2011:62-63).

maja

Menurut toponiminya, Kelurahan Jatimulyo dan Kelurahan Mojolangu sama seperti kelurahan/dukuh/desa lain yang banyak menggunakan nama tumbuhan. Nama “Jatimulyo” terdiri dari dua kata yaitu “jati” dan “mulyo”. “Jati” adalah nama pohon, sedangkan “mulyo” atau “mulya” berasal dari kata “mulia” (Prawiroatmojo, 1988: 179 dan 384). Berdasarkan arti kata tersebut bisa jadi pada zaman dahulu di wilayah Kelurahan Jatimulyo banyak sekali tumbuh pohon jati yang berkualitas atau memberi manfaat yang baik (mulya).

Sementara itu, nama “Mojolangu&rd