Pantai Pasir Putih Situbondo (Kawah Ijen Part 1)

27 Oct 2014    View : 6962    By : Nadia Sabila


PANTAI PASIR PUTIH SITUBONDO

Lokasi :  Kabupaten Situbondo, Jawa Timur
Tiket Masuk :  Rp7.000,00
Biaya Hotel :  Rp200.000,00
Kondisi pantai :  ramai dan agak kotor
Yang menarik :  matahari terbenam di dermaga dan event lomba layar

 

Halo Artebianz!

Kali ini Tim Pelesir Artebia akan mengulas hasil petualangan di pantai Pasir Putih, Situbondo. Pantai ini merupakan bagian dari perjalanan saya sebelum menuju Kawah Ijen, Banyuwangi. Sebetulnya, tujuan saya ke pantai ini hanyalah untuk berkumpul bersama teman-teman kuliah saya, karena pada dasarnya tak ada yang terlalu istimewa dengan pantai ini. Namun saat sore hari ini, kesan biasa saya terhadap pantai Pasir Putih ini terhapuskan. Apa gerangan yang mengubah pikiran saya?

 

 

Berangkat dari Pasir Putih Situbondo

Kawah Ijen ini sebetulnya bukan tujuan utama saya dan teman-teman. Berangkat dari Kota Malang dengan mobil sewaan, sebenarnya tujuan utama kami adalah pantai Pasir Putih di wilayah Situbondo. Baiklah Artebianz, ada baiknya jika saya ceritakan sekilas mengenai pantai Pasir Putih ini, karena juga merupakan bagian dari perjalanan saya ke Kawah Ijen.


hotel_pasir_putihHotel pasir putih (foto: pasir putih situbondo.com)

Pantai Pasir Putih di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, ini sebetulnya merupakan objek wisata yang sudah umum. Walaupun namanya Pantai Pasir Putih, namun pasirnya berwarna coklat kehitaman. Kawasan pantai sudah ramai dan sudah banyak hotel-hotel dan penjual makanan di tepian pantai. Bisa dibilang situasi Pantai Pasir Putih ini sudah ramai pengunjung. Saya sampai di Pasir Putih pada siang hari dan menginap di sebuah hotel bintang satu dengan kamar VIP yang menghadap langsung ke barat sekaligus ke laut pasir Putih yang tenang. Jarak pintu kamar dan laut hanya sekitar 30 meter.

 

 

Kesan Pertama Biasa Saja....

Sepintas, tak ada yang begitu istimewa dengan pantai Pasir Putih ini. Tak perlu khawatir dengan kamar yang sedekat itu dengan laut karena ombaknya tenang, kecil, dan hanya berkecipak-kecipak saja saat mencapai tepian pantai.

Pada bulan Juni, yakni saat saya datang ke pantai ini, cuaca sangat panas. Perahu-perahu layar berwarna-warni dan disewakan untuk umum tertambat di bibir pantai. Seorang pemilik perahu datang menawarkan perahunya untuk disewakan pada saya dan teman-teman dengan tarif 250.000 rupiah per-jam per perahu. Tapi siang bolong yang begitu terik membuat kami kurang tertarik untuk berlayar. Saya memilih untuk makan bakso saja, sedangkan teman yang lain lebih suka bergolek-golek saja di kamar hotel yang ber-AC.

depan_hotel_pasir_putihDermaga depan hotel pasir putih foto: dokumen pribadi artebia

Lingkungan hotel yang sudah riuh oleh tingkah polah anak-anak kecil dan rombongan keluarga, serta kondisi sekitaran pantai yang agak kotor membuat wisata ke objek yang satu ini mungkin akan terasa biasa-biasa saja jika kita tidak membawa orang-orang yang spesial. Untungnya, saat itu saya kemari bersama 7 orang teman kuliah saya yang heboh-heboh, sehingga kekhawatiran akan perjalanan yang biasa saja bisa ditepis.

 

 

Dermaga Matahari Terbenam....

Dan benar ternyata memang, masih ada yang istimewa dengan pantai Pasir Putih ini: pemandangan matahari terbenam atau sunset point. Meskipun kesan pertama saya pada Pantai Pasir Putih ini adalah biasa saja, ternyata ada satu spot yang mengusik perhatian saya, yakni sebaris dermaga kayu yang tiangnya saling-silang menjorok ke laut.

Dermaga itu berada di sisi utara hotel tempat kami menginap, sekitar 20 meter dari kamar kami. Di ujung dermaga yang menjorok ke laut tersebut ada sebentuk pos yang disediakan khusus untuk menikmati pesona matahari terbenam. Kami sangat bersemangat ke dermaga itu, tapi sayangnya, ada karcis seharga 2.000 rupiah yang dikenakan untuk menikmati pemandangan laut dari atas dermaga.

Saat itu masih pukul setengah tiga siang, jadi sepertinya "terlalu pagi" untuk buru-buru naik ke dermaga itu demi sunset. Nun jauh ke utara lagi, rupanya masih ada sebuah dermaga lagi yang menjorok ke laut, bahkan ukuran dermaga itu lebih panjang daripada dermaga di depan hotel ini.

 

 

Dermaga Di Ujung Utara....

Kami pun lebih memilih untuk ke dermaga yang lain itu sambil foto-foto. Ternyata dermaga itu hanya dekat di mata tapi jauh di kaki. Jaraknya hampir dua kilometer dari kamar hotel kami. Untuk mencapainya pun harus berjalan melewati pantai berbatu-batu tajam dan memanjat ke tepian jalan raya saat ada bagian pantai yang benar-benar tak bisa dilewati.


Sesampai di dermaga itu, matahari belum terbenam. Namun sinarnya mulai lembut karena sudah hampir pukul empat sore. Sebetulnya, untuk ke dermaga yang satu ini, pengunjung tak perlu bayar. Hanya saja saat itu ada tukang-tukang yang sedang membangun gerbang dermaga dan meminta "pajak" pada pengunjung, yang ketika itu hanya rombongan kami. Jadilah kami membayar 2.000 rupiah per orang.


dermaga_sunset_pantai_pasar_putihDermaga matahari terbenam (foto: dokumen artebia)

Angin di dermaga kayu ini begitu kencang mengacak-acak rambut atau penutup kepala. Kami semua narsis dulu sebelum menikmati matahari terbenam. Berfoto di dermaga laut sebenarnya merupakan impian saya sejak lama. Hanya saja dulu saya belum tahu, di mana ada dermaga yang bagus untuk jadi obyek berfoto. Ternyata dermaga matahari terbenam Pantai Pasir Putih Situbondo ini bisa jadi pilihan.

Sekitar pukul lima dua puluh, matahari mulai mensejajarkan dirinya dengan garis cakrawala. Semburat jingga, biru, kuning, ungu bergurat di langit sore. Kami tak mau ketinggalan moment. Jeprat-jepret dari berbagai kamera yang kami bawa berusaha mengabadikan momen yang maha romantis ini.

dermaga_sunset_pantai_pasar_putihdermaga matahari terbenam (foto: dokumen artebia)

Beberapa teman saya kemudian meninggalkan dermaga ini dan bergegas menuju dermaga depan hotel. Mereka penasaran dengan sunset jika dilihat dari sana. Mereka berlari-lari takut sang surya senja keburu menghilang. Namun saya lebih memilih menikmati matahari tenggelam dengan berjalan tenang menyusuri tepian pantai (lagi pula saya kurang lincah lompat-lompat di antara batu karang yang terjal, hihihi).



Barbeque di pinggir pantai....

Setelah puas dengan pemandangan matahari tenggelam, kami pun barbeque-an membakar sosis yang kami bawa menggunakan peralatan bakaran seadanya di dekat pantai ini. Bahan bakar menggunakan sabut kelapa yang berserakan di pinggir pantai ditambah dengan arang yang kami beli dari penjual sate di pinggir pantai. Sebenarnya arangnya tidak dijual, tapi kami mendekati dengan membeli gorengan (penjual sate itu juga menjual gorengan) untuk kemudian membeli arangnya.

Benarlah, objek yang biasa saja jadi seru dengan teman-teman yang luar biasa. Setelah kenyang dengan sosis bakar, gorengan, dan tertawa-tawa, kami membersihkan diri dilanjut dengan main kartu uno bersama.

Nah, saat berkumpul inilah pembicaraan mengenai Kawah Ijen tebersit. Salah seorang teman mengusulkan bagaimana kalau besok pagi kami langsung checkout dan menyambangi Kawah Ijen. Setahu dia, Situbondo dekat dengan Banyuwangi, tempat Kawah Ijen berada. Tidak ada satu pun dari kami yang paham jalan menuju Kawah Ijen dari tempat kami saat ini, termasuk teman yang mengusulkan tadi. Tapi kami sepakat untuk tetap ke Kawah Ijen keesokan harinya. Yak! Petualangan baru ke Kawah Ijen dimulaiii....

(bersambung)

Baca juga: Kawah Ijen Banyuwangi (Kawah Ijen Part 2)




Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Wisata Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Traveling: Mimpi, Destinasi, Tujuan, Makna


Alvi Syahrin - Semua Berawal Dari Mimpi Dan Kemudian Menjadi Nyata


Aku Ingin Tahu #1: Jawaban dari Ratusan Pertanyaan


SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh Film - Filsafat Eksistensi


Adele's Hello - Apa Kabar Masa Lalu?


Nasi Goreng dan Mi Goreng Pak Is


7 Mal Dan Tempat Nongkrong Dengan Toilet Asyik Di Surabaya


BaseCamp Home Stay Ranu Pane: Sudut Pandang Tepat


Diskusi Bersama Alvi Syahrin dan Ika Vihara: Wattpad dan Sastra Digital


My Toilet Prince - Pintu Pertama


Pengelanaan Sempurna


Lepas (Tak) Bebas