Figur: Lia Indra Andriana - Dari Seorang Calon Dokter Gigi Menjadi Salah Satu Penerbit Berpengaruh

24 Mar 2015    View : 4801    By : Niratisaya


"Do your best and God will do the rest"

 

Telah aktif menulis sejak tahun 2006 dan empat tahun membangun sebuah penerbitan dengan corak unik, siapa yang sangka perempuan kreatif ini adalah seorang dokter gigi? Apalagi dengan jumlah buku yang ditulisnya—DUA PULUH TIGA Artebianz! Ia adalah Lia Indra Andriana, salah satu penulis Indonesia yang namanya saja cukup menjadi pertimbangan saya untuk membeli buku yang ditulisnya.

Dan rasanya sangat mengejutkan, ketika Andriana setuju untuk menjadi narasumber saya untuk rubrik figur kali ini. Terutama belakangan ini perempuan kelahiran Ponorogo tersebut sibuk dengan bisnis penerbitan yang dirintisnya sejak tahun 2011 (Haru) dan imprint-nya (Spring). But here she is, answering my request Smile

Sosok Andriana dan perjalanan evolusi karirnya yang cukup mengejutkan inilah yang membuat saya tertarik untuk menjadikannya sebagai narasumber figur inspiratif artebia.com. Dari jalur stabil (profesi dokter gigi), Andriana memilih dunia bisnis kreatif (industri penerbitan) yang bisa dibilang cukup riskan. Apalagi di Indonesia yang belum serius dan fokus menggarap dunia literasi. Penasaran seperti apa sosok Andriana dan apa yang membuatnya memilih dunia kepenulisan sebagai mata pencaharian?

Let’s jump to the next section, shall we Artebianz?

 

 

Dunia Kepenulisan, Ruang Tempat Passion Andriana Berkecimpung

Tumbuh dan besar di Ponorogo, pada tahun 2004 Andriana memutuskan untuk pindah ke Surabaya untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pilihannya jatuh pada jurusan Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Meski demikian, Andriana tak mampu melupakan passion-nya yang dibangun semenjak ia masih kecil: menulis.

Sedari kecil, Andriana telah bergumul dengan dunia buku. Keberadaan ayahnya yang gemar membaca buku dan kakaknya yang suka menulis, sedikit banyak memengaruhi Andriana. Saking kuatnya pengaruh ayahnya, ia pun ikut tertular membaca buku favorit sang Ayah (Kho Ping Hoo). Passion Andriana semakin kental terhadap dunia menulis saat tahu kakaknya, Andry Setiawan, yang berbagi passion yang sama dengannya. Akan tetapi, ia baru tertarik terjun ke dalam dunia kepenulisan setelah membaca majalah Mentari. Ini mungkin sebabnya mengapa Andriana merasa nyaman dengan dunia kepenulisan yang lebih dulu mengakar dalam dirinya, ketimbang dunia medis yang di dalaminya hanya beberapa tahun.

Marrying AIDS

Hal ini terlihat pada karyanya Marrying AIDS yang saya duga mengambil fondasi dari salah satu penelitiannya semasa kuliah: “Tingkat Pengetahuan Homoseksual Tentang Manifestasi Oral Sifilis Di Organisasi Gaya Nusantara Surabaya Tahun 2008”. Novel ber-setting Korea Selatan dan Indonesia inilah yang membuat saya jatuh hati pada gaya menulis Andriana. Ia seolah memiliki stok ide cerita yang unik di dalam sebuah kotak yang dirahasiakannya. Ia pernah menceritakan cerita romantis yang logis lewat Seoul Cinderella, kehidupan romansa mellow sekaligus ceria pasangan AIDS, hingga peliknya kondisi psikologis manusia dalam Khokkiri. Selain buku-buku fiksi, Andriana juga menulis beberapa buku nonfiksi yang salah satunya mewakili pendidikan akademiknya (Dentistory).

Dari percakapan kami, Andriana mengaku bahwa—meskipun pendidikan akademisnya tidak terlalu memengaruhi gaya menulisnya—ia menyukai genre cerita yang berlatar belakang medis. Mulanya saya mengira Andriana akan menggunakan pendidikannya dan bekerja sebagai dokter gigi, sedangkan passion-nya dalam dunia kepenulisan hanya akan menjadi pekerjaan sampingan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan penulis. Namun tidak. Bila dianalogikan, Andriana bagaikan berdiri di antara dua kolam, salah satunya kolam dunia medis dan yang lain adalah kolam dunia kepenulisan, dan tanpa ragu ia masuk ke kolam ke dua. Bukan hanya sekadar mencelupkan kakinya dan perlahan masuk, Andriana melompat ke dalamnya.

Baca juga: Alvi Syahrin - Semua Berawal Dari Mimpi Dan Kemudian Menjadi Nyata

 

 

Evolusi Seorang Andriana: Dari Calon Dokter Gigi Menjadi Penerbit Yang Berpengaruh

Dikatakan Andriana berubah haluan dari calon dokter gigi menjadi seorang penulis, tidak sepenuhnya benar. Sebab sejak awal ia telah merasakan ketertarikan lebih dulu terhadap dunia tulis-menulis. Akan lebih tepat bila dikatakan Andriana menemukan apa yang harus dilakukannya dan didalaminya. Dan, seperti semua orang yang berusaha menemukan jalannya, Andriana menghadapi berbagai rintangan. Salah satunya adalah pengalaman yang kerap dirasakan para penulis pada umumnya: ditolak oleh penerbit. Nyatanya, meski memiliki pengalaman seabrek sebagai penulis, satu-satunya perempuan dari tiga bersaudara ini mengungkap bahwa ia sering kali menerima penolakan.

“Yang paling berkesan saat itu, saya pernah beberapa kali ditolak oleh sebuah penerbit. Sang Editor yang kayaknya kasihan saya selalu ditolak, menyempatkan menelepon saya dan menjelaskan kenapa karya-karya saya ditolak. Ia juga menjelaskan naskah seperti apa yang sebenarnya dicari oleh penerbit tersebut.” Andriana bercerita pada saya.

Lia Indra Andriana bersama teman-temanPhoto credit to: Edwin Joo.

Meski kerap menerima penolakan dari penerbit, Andriana merasa sangat berterima kasih. Daripada menyerah dan beralih profesi, penolakan-penolakan yang diterima Andriana seakan menjadi pendorong semangat agar ia lebih menyeriusi dunia menulis. Bisa jadi, percakapan plus penolakan itu jugalah yang menginspirasi dan mendorong Andriana untuk selangkah lebih maju serta mengubah visinya, dari sekadar penulis menjadi seorang penerbit.

Ketika saya menanyakan hal ini, Andriana menjawab bahwa sesungguhnya ia tidak pernah memiliki niatan untuk membuat sebuah penerbitan. Haru yang tahun 2015 ini berusia 4 tahun pun awalnya hanya didirikan oleh Andriana untuk menerbitkan novelnya dan sekadar eksperimen isengnya. Ia hanya berpikir, “Oh, menerbitkan buku sendiri itu ternyata bisa.”
Kita tahu, Artebianz, sudah banyak perusahaan penerbitan self-published di Indonesia. Tapi seorang penulis yang dengan pedenya menerbitkan sendiri novelnya dengan nama sebuah perusahaan dan berhasil? Saya rasa Andriana adalah salah satu dari sedikit penulis yang memiliki peruntungan tersebut.

Rahasianya, masih ada di passion dan rasa nyaman. Andriana tampak bukan hanya mengejar target menerbitkan buku dan meraup untung. Ia mengatakan bahwa ia menyukai seluruh kegiatan penerbitan mulai dari sebelum produksi (penyuntingan, perencanaan sampul, dan lain-lain) sampai setelah produksi (promosi dan pemasaran). Dari merasa nyaman karena bergulat dalam dunia yang sesuai dengan passion-nya, Andriana mulai merasa “ketagihan” untuk menerbitkan buku. Dan buku yang ia terbitkan pun meluas. Perempuan yang sempat menekuni profesi penulis skenario ini mulai menerbitkan karya penulis lain (Clara Canceriana, Orizuka, Fei, Yosephine Monica, Andry Setiawan, dan lain-lain) dan dengan genre yang bermacam-macam (fantasy, drama-psychology, drama-paranormalcy, drama-misteri dan lain-lain).

SeoulMate

Sewaktu disinggung konsentrasi Penerbit Haru yang fokus pada literatur di Asia, Andriana sekali lagi menjawab bahwa awalnya ia tidak berniat demikian. Ia sama sekali tidak berencana untuk konsentrasi pada negara di Asia. Dengan modal terbatas, Andriana mulanya hanya ingin menerbitkan novel-novelnya. Namun, pada satu titik, ia mulai mencari informasi mengenai novel Korea (khususnya Korea Selatan).

Kenapa ia memulai dari Korea Selatan? Simpel—karena seperti sebagian besar dari kita, Andriana gandrung dengan hal-hal yang berkaitan dengan Korea Selatan. Mulai dari musiknya, drama, sampai kebudayaan. Nah, salah satu wujud dari kebudayaan Negeri Ginseng yang membuat Andriana penasaran adalah sastranya.

“Saya penasaran kenapa novel Korea tidak ada di Indonesia, padahal dramanya begitu laris di sini,” kata Andriana.
Maka, Andriana pun menerbitkan novel-novel Korea. 4 Ways to Get a Wife (Hyun Go Wun), My Name is Kim Sam Soon (Ji Su Hyun), dan So, I Married the Anti-fan (Kim Eun Jeong) adalah beberapa di antara novel-novel Korea yang pertama diterbitkan Haru.

Rasa penasaran Andriana pun merambah ke sastra Jepang. Ia merasa aneh, kalau novel-novel dengan isi dan tema berat bisa diterbitkan di Indonesia kenapa tidak dengan sastra populer Jepang? Maka terbitlah Her Sunny Side (Osamu Koshigaya), Crying 100 Times (Kou Nakamura), dan The After-Dinner Mystery (Tokuya Hashigawa). Pada momen itulah, Andriana memutuskan bahwa Haru akan berkonsentrasi pada sastra-sastra dari negara Asia. Walau demikian, Andriana menolak bila Haru dikatakan menerbitkan “sastra”. Baginya istilah itu terlalu berat. Dan mungkin, Andriana ingin memberikan kesan ringan agar para pembaca muda tertarik membaca buku tanpa dibebani dengan hal-hal berbau berat semacam sastra. Keinginan Andriana untuk menularkan kebiasaan membaca pada pembaca muda ini jugalah yang membuat Andriana memberikan nama Haru untuk penerbitannya. Dalam bahasa Korea, “haru” memiliki arti “hari” yang selaras dengan moto Penerbit Haru: menciptakan hari yang tak terlupakan.

Di usianya yang masih belia sebagai penerbitan, kini Haru telah menerbitkan novel-novel dari berbagai negara di Asia: Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, dan Taiwan. Dan ssst… Artebianz, Andriana membocorkan satu rahasia khusus pada Artebia, lho. Katanya, Haru sedang menyiapkan 2 label baru di tahun ini.

Penasaran negara mana yang diincar Haru kali ini? Ada yang bisa menebak? Laughing

Selain novel-novel Asia, Andriana sejatinya juga mengincar novel-novel Barat, khususnya dari Negeri Paman Sam. Namun, Haru difokuskan menerbitkan karya-karya penulis Asia. Tak kehabisan akal dan tekad, Andriana pun mendirikan sebuah penerbitan lagi: Spring. Imprint Penerbit Haru ini telah menerbitkan dua buah novel yaitu Fangirl (Rainbow Rowell) dan To All the Boys I’ve Loved Before (Jenny Han). Seperti Haru (yang berasal dari bahasa Jepang), Spring memiliki makna musim semi. Bisa jadi, dengan pemilihan nama tersebut, Andriana memiliki harapan bahwa Haru, Spring, serta karya-karya yang diterbitkan lewat keduanya akan selalu bersemi dan berkembang.

Maskot Haru dan SpringMaskot Haru dan Spring, foto diambil dari koleksi Penerbit Haru.

Setiap penerbit memiliki selera masing-masing, demikian pula dengan Haru dan Spring. Selain tak ingin dilabeli menerbitkan karya yang berat, Andriana berkata bahwa secara umum Haru dan Spring fokus pada genre cerita romance. Untuk menghindari cerita romantis yang pasaran, ia mewajibkan adanya mix genre untuk novel yang akan diterbitkannya. Misalnya saja fantasi, horor, medis, dan lain-lain. “[Selain itu,] yang pasti kami sebisa mungkin menghindari tema yang sama antar satu buku dengan buku yang lain,” ungkap perempuan yang akhir-akhir ini tertarik pada dunia digital marketing.

Mungkin Artebianz sama seperti saya, penasaran dengan keseharian Andriana yang di usia muda telah memiliki dua penerbitan—belum lagi kesibukannya sebagai penulis. Saat saya menyodorkan pertanyaan ini, Andriana menjawab bahwa itu adalah hal yang lumayan mudah diatur.

alienEeeeeh?!!

Apa Andriana sebenarnya seorang android? Atau ada suplemen khusus yang ia minum?! Rupanya tidak, Artebianz. Rahasia Andriana ada pada sistem manajemen yang dimilikinya. Ia dengan mudah mengatur Haru dan Spring karena dibantu oleh editor, desainer, bagian administrasi, dan lain-lain. Bisa jadi juga, ini disebabkan moto yang dimilikinya: Do your best and God will do the rest.

Untuk urusan menulis sendiri, Andriana mengaku ia kesulitan mengatur niat menulis. Jujur disampaikannya bahwa ia akhir-akhir ini jarang menulis.

Baca juga: Indah Kurnia, Memimpin Tanpa Kehilangan Identitas Sebagai Wanita

 

 

Dunia Kreatif dan Pengalaman Andriana

Beberapa penulis memilih satu genre dan setelah cocok memutuskan untuk tetap berkutat di dalamnya. Beberapa penulis lainnya mencicipi satu per satu genre yang ada. Salah satu di antara penulis golongan kedua ini adalah Andriana. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, Andriana sempat menulis cerita bergenre fantasi, drama-psikologi, hingga nonfiksi (Seoulvivor dan (Not) Alone in Other Land). Tak jauh berbeda dengan sebuah karya ilmiah, menulis cerita fiksi pun diperlukan riset.

Salah satu kisah Andriana yang berkesan adalah saat ia menggarap Khokkiri. Walau memiliki latar belakang dan pengalaman di dunia medis, tapi sisi psikologi yang ada dalam novel berlatar Indonesia-Korea Selatan tersebut membuat Andriana harus bolak-balik ke perpustakaan kampus. Hal tersebut ia lakukan untuk mendapatkan informasi yang cukup mengenai kondisi psikologis karakter rekaannya, lewat jurnal dan buku-buku mengenai psikologi. Selain itu, Andriana juga memanfaatkan bantuan internet.

Perempuan yang mengaku kurang bisa fokus saat menulis ini mempunyai kebiasaan menulis sesaat setelah bangun tidur (waktu pagi atau siang hari). Andriana berkata pada kondisi tersebut ia merasa lebih fresh. Namun, jangan harap Artebianz akan menemukan Andriana di kedai kopi atau tempat keramaian saat menulis karyanya. Sebab penulis yang mengidolakan Sophie Kinsella ini kurang bisa berkonsentrasi di suasana ramai. Bahkan di sebuah tempat dengan iringan musik.

Dengan 23 buku yang ditulisnya, Andriana tentu memiliki banyak pengalaman. Akan tetapi, ada satu pengalaman yang begitu diingatnya. Yakni sebuah pengalaman yang melibatkan salah satu novelnya, Seoul Cinderella. Berkat buku keenamnya, Andriana mendapatkan seorang teman lewat sebuah surat pembaca.

Lia dan OrizukaLia dan Orizuka, foto diambil dari instagram Orizuka.

Tak ada yang lebih menakutkan bagi orangtua saat melihat kegagalan anaknya. Hal inilah yang membuat kebanyakan orangtua menentang anak-anak mereka yang ingin terjun ke dalam pekerjaan berbau seni—termasuk menulis. Saya sempat menanyakan hal yang sama kepada Orizuka. Walau tidak seratus persen sama, orangtua Andriana mendukung keputusan putri mereka. Tetapi, Andriana tahu, orangtuanya tidak sepenuhnya menyetujui pilihan yang ia ambil. Apalagi dengan latar belakang medis yang dipunyai perempuan berzodiak Sagitarius ini.

Mengenai hal ini, Andriana bercerita, “Sebelum ada Haru, saya sempat bekerja selama dua tahun di sebuah kantor animasi sebagai penulis skenario. Saat saya mengajukan untuk bekerja di kantor, orangtua saya tidak berkomentar banyak dan mendukung, meski sebenarnya saya tahu mereka tidak seratus persen setuju. Dalam kurun dua tahun itu, beberapa kali orangtua saya menanyakan rencana saya, tapi saat itu saya hanya bisa mengatakan kalau saya lebih menyukai dunia tulis-menulis.”

Beruntung, meski tidak sepenuhnya menyetujui profesi yang digeluti putri mereka, orangtua Andriana tetap menunjukkan dukungan mereka. Dorongan dari orangtua memotivasi Andriana untuk mewujudkan impiannya. Pada tahun 2011, Haru pun lahir. Dan, sewaktu Andriana memperlihatkan kesungguhannya lewat profesi yang dipilihnya, orangtuanya pun memberikan dukungan penuh.

Andriana memiliki dua orang penulis favorit yang diidolakannya selain Kinsella. Mereka adalah Ilana Tan dan Orizuka. Kini, yang menjadi keinginan Andriana adalah menulis sebagus Kinsella, Tan, dan Orizuka. Semoga berhasil dan semoga makin banyak novel out of the box Andriana yang diterbitkan Laughing

Baca juga: When the Star Falls - Yang Terjadi Ketika Bintang Terjatuh

 

 

Daftar Karya Lia Indra Andriana

1. My Cousin is Gay (Puspa Swara, 2006)
2. Pretend to be Nice (Puspa Swara, 2007)
3. Benang Jodoh (2007)
4. The Secret (2007)
5. Sven (Penerbit Andi, 2008)
6. Seoul Cinderella (Penerbit Andi, 2008)
7. Non fiksi: Ga-Gi-Gu Gigi (Penerbit Gradien Mediatama, 2009)
8. Marrying AIDS (Penerbit Andi, 2009)
9. Non fiksi: Gokilboy/Gokilgirl (ditulis bersama Andikobe: 2009)
10. Dentistory (Leutika, 2010)
11. SeoulMate (Penerbit Haru, 2011)
12. Khokkiri (Penerbit Haru, 2011)
13. Bubble Love (ditulis bersama Fei: Penerbit Andi, 2011)
14. Non fiksi: SeoulVivor (Penerbit Haru, 2011)
15. Oppa&I (ditulis bersama Orizuka: Penerbit Haru, 2011)
16. SeoulMate is You (Penerbit Haru, 2012)
17. Non fiksi:(Not) Alone in Otherland (ditulis bersama Fei & Andry Setiawan: Penerbit Haru, 2012)
18. Oppa&I: Love Missions (ditulis bersama Orizuka: Penerbit Haru, 2012)
19. Paper Romance (Penerbit Haru, 2013)
20. Good Memories (Penerbit Haru, 2013)
21. Oppa & I: Love Signs (ditulis bersama Orizuka: Penerbit Haru, 2013)
22. This is How I Do (Penerbit Gagasmedia, 2014)
23. Intertwine (ditulis bersama kelompok penulis FLOCK: Penerbit Haru, 2015)

 

 

 

Gambar header diambil dari yes24.co.id

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Figur Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Agama dan Tuntutan Masyarakat


H.O.S Tjokroaminoto: Priyayi dengan Profesi Teknisi Sekaligus Politisi yang Berjiwa Pendidik


Aku Ingin Tahu #1: Jawaban dari Ratusan Pertanyaan


Ada Apa Dengan Cinta? 2 - Setelah Beberapa Purnama Terlewati


Nash - Ya Rabbana Anta Maulana


Jeju Ice Cream: Es Krim Unik Rendah Lemak


Heerlijk Gelato


Pantai Sedahan: Sebuah Keindahan Tersembunyi


Deja Vu: Pesta Ketiga WTF Market di Surabaya (Bagian 2 - End)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Kabut Rindu


Aku Berjalan (Dan Dua Puisi Lainnya)