Festival Foto Surabaya - Menggugah Kepedulian Melalui Lensa

18 May 2015    View : 1580    By : Amidah Budi Utami


Hari Sabtu kemarin, tanggal 16 Mei 2015, saya dan Kak Niratisaya mengunjungi Festival Foto Surabaya 2015 yang diselenggarakan di atrium utama Ciputra World, Surabaya. Festival Foto Surabaya (FFS) ini diselenggarakan mulai tanggal 11 sampai dengan 17 Mei 2015. Selain pameran foto, Festival Foto Surabaya juga menyajikan berbagai acara menarik selama festival berlangsung, antara lain seminar, talk show, workshop dan beberapa acara hiburan seperti fashion show, drama dan musik akustik. Baiklah Artebianz, mari mengenal lebih dekat apa sih Festival Foto Surabaya dan apa saja yang dihadirkan di festival tersebut.


Apa Sih Festival Foto Surabaya?

Festival Foto Surabaya digagas oleh Komunitas Matanesia dan Kopi Jahe Photo Community. Festival Foto Surabaya adalah sarana berkarya bagi para pecinta fotografi di tanah air. FFS digagas atas pentingnya ruang dan waktu bagi pelaku fotografi dan komunitas lintas genre untuk bertukar gagasan dalam konteks karya visual.

festival foto surabaya


Festival Foto Surabaya pertama kali diselenggarakan di tahun 2014. FFS yang saya hadiri kali ini adalah edisi kedua. Semoga akan ada edisi ketiga, keempat, dan selanjutnya.

 

Pameran Foto Oleh Festival Foto Surabaya

Menurut saya pameran foto oleh FFS kali ini adalah salah satu pameran foto terlengkap. Foto dari berbagai macam genre dihadirkan di pameran ini, mulai dari Portraiture Contemporary, Photo Story, Photo Journalism, Street Photography, Lanscape/Nature, sampai dengan Food Photography ada di sini.

Konsep ruang pameran pun sangat menarik menurut saya. Awalnya saya mengira Festival Foto Surabaya ini hanya akan terpusat di salah satu ruang saja. Tapi kenyataannya pameran foto oleh Festival Foto Surabaya ini menyebar di seluruh pelosok Ciputra World, mulai dari lantai dasar sampai lantai tiga. Dengan pengaturan lokasi pameran seperti ini membuka peluang pameran akan dilihat oleh lebih banyak orang. Hal menarik lainnya dari pemeran foto ini adalah banyak ide-ide orisinal yang diperlihatkan melalui foto-foto. Berikut saya akan memperlihatkan keindahan beberapa foto dan ide menariknya. Namun perlu Artebianz ketahui, saya tidak akan membahas semua tema yang dihadirkan di pameran foto ini. Saya akan mengangkat beberapa tema saja yang menarik menurut saya. Kita akan mulai dari:


Lantai Dasar: Photo Story

Di sini ada beberapa photo story yang menarik:
 

Photo Story 1

Fotografer: Go Dewi Sonanta
Judul: My Mom


Bentuk : Naratif
Alasan ketertarikan:
Cerita: Dalam cerita ini Go dewi Sonanta akan menyajikan beberapa foto yang ada kaitannya dengan kegiatan sehari-hari mamanya.
Relevanssi: Dapat digunakan sebagai contoh untuk para wanita yang berusia lanjut untuk mengisi waktu sehari-hari supaya tidak bosan dan tidak cepat pikun.

keterangan foto :
1. Lagi jenuh, nonton TV, sambil berbaring.
2. Menelepon teman.
3. Koleksi handphone dan ipod.
4. Koleksi alat jahitnya.
5. Koleksi buku-buku kunonya.
6. Melihat-lihat album lama.
7. Menggendong buyutnya.
8. Senyum ceria.

photo story : my mom part 1

photo story : my mom part 2

 
 

Photo Story 2

Fotografer: Adhi Kusumo
Judul: Ordinary People

Ordinary people adalah seri potret tentang orang-orang yang biasa kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Hanya satu hal yang membedakan mereka dengan orang kebanyakan, mereka positif HIV/AIDS.

seri potret ini adalah sarana bagi mereka untuk bercerita. Untuk melindungi kehidupan sosial mereka dari stigma negatif. Subjek-subjek di foto ini sengaja "berlindung" dibalik benda-benda yang personal dan identik dengan kisah dan kehidupan mereka, supaya identitas mereka tidak sepenuhnya "hilang" dari tubuh mereka. Selain itu, sebenarnya "penghilangan" identitas wajah tersebut juga untuk menyindir kita sebagai masyarakat, betapa kita masih mempunyai ketakutan berlebihan terhadap ODHA. Apakah kita masih mau memeluk erat teman kita apabila ternyata dia adalah salah satu subjek di foto ini? Atau masih maukah kita membeli ikan dari ibu penjual ikan di seri potret ini apabila kita mengenali wajahnya?

Ketakutan akibat dari ketidak tahuan. Kini saatnya kita lebih "aware" terhadap HIV/AIDS. Dengan memahami HIV/AIDS, kita bisa menghilangkan stigma negatif terhadap ODHA, karena akhirnya kita mengetahui bahwa HIV/AIDS hanya dapat menyebar melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain(seperti sperma, cairan vagina, dan air susu ibu) dan bukan dari kontak biasa (kontak kulit). Dari situlah akhirnya timbul kesadaran, kepedulian, dan kewaspadaan kita terhadap pencegahan penyebaran HIV/AIDS.

photo story : ordinary people

photo story : ordinary people

 


Photo Story 3

Fotografer: Yoppy Pieter
Judul: Voice For Jokowi

Joko Widodo - popuarly knows as Jokowi - is writing a new history in the post-New Order Indonesia's Politics. touted as contemporary, free from coruption, and his down-to-earth leadership style, his victory flowed in along with public enthusiasm that has never been before. It is hard to argue that most of Indonesian put a great amount of expectation towards Joko Widodo.

photo story : voice for jokowi

photo story : voice for jokowi part 2



Lantai Satu: Nominasi Lomba Foto Hari Jadi Kota Surabaya

Di lantai Dua ini terdapat kumpulan foto-foto hasil lomba yang diselenggarakan sebelum pameran. Ada lomba foto kategori pelajar, lomba foto hari jadi kota Surabaya, lomba foto selfie, dan lomba foto kuis melalui instagram.

nominasi lomba hari jadi kota surabaya(nominasi lomba hari jadi kota Surabaya)


Lantai Dua: General Pictorial

Sesuai dengan temanya "General Pictorial" yang artinya kumpulan foto-foto bertema umum/campuran, di ruang pameran lantai dua ini saya menemukan berbagai macam tema foto, mulai dari foto alam (nature/landscape), aktivitas masyarakat (human interest), objek kecil (macro) dan tema-tema lainnya. Walaupun temanya acak, namun secara artistik foto-foto di lantai dua ini yang paling indah. Dan tentu saja menjadi favorit saya. All of them are really beautifull.

foto oleh gathot subroto(foto oleh Gathot Subroto)

foto berjudul semangat gotong royong oleh Widiyanto Wibawa
(foto berjudul "Semangat Gotong Royong" oleh Widiyanto Wibawa)

foto berjudul pewaris oleh leo gemati
(foto berjudul "Pewaris" oleh Leo Gemati)


Lantai Tiga: Comfort Women oleh Jan Banning

Jan Banning (lahir Almelo, 4 Mei 1954) adalah seorang fotografer yang berasal dari Belanda. Banning lahir dari orangtua yang berasal dari Hindia-Belanda. Dia belajar sejarah ekonomi dan sosial di Universitas Radbout, Nijmegen, dan telah berprofesi sebagai fotografer sejak tahun 1981. Tema utama dari karya Jan Banning adalah kekuasaan negara, seperti karyanya tentang konsekuensi jangka panjang dari peperangan dan dunia birokrasi pemerintah.

Akar Hindia-Belanda yang dimilikinya terlihat melalui subjek-subjek yang dipilihnya, misalnya "Comfort Women".

Comfort Women

Perkosaan terhadap perempuan sepertinya telah menjadi hal yang lumrah dari perang. Bahkan militer Jepang membuat sebuah sistem perbudakan seks selama perang dunia II. Puluhan ribu "wanita penghibur" di Asia dipaksa untuk melakukan prostitusi di rumah-rumah bordil militer. Selain itu, banyak remaja-remaja wanita mendapat pelecehan seksual di gerbong-gerbong kereta, gudang pabrik, atau diperkosa di rumah setiap malam. Sejak saat itu sebagian besar dari mereka merasa trauma secara fisik dan kejiwaan.

Fotografer Jan Banning dan penulis Hilde Jensen mewawancarai perempuan-perempuan di Indonesia yang menjadi korban pemaksaan seksual. Untuk pameran ini beberapa korban berbicara melawan tabu tentang isu ini dan hasilnya adalah sebuah gambaran mencengkeram sebuah sejarah tersembunyi.

pameran foto berjudul comfort women oleh jan banning
(judul "Comfort Women" oleh Jan Banning)

 

Acara Edukatif Untuk Para Penggemar Fotografi

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, selain pameran foto juga terdapat seminar, talkshow dan workshop tentang fotografi, mulai dari wedding photography sampai travel photography dikupas tuntas di sini. Salah satu fotografer favorit saya, Nicoline Patricia Malina hadir untuk menjadi pembicara. Sayangnya, saya tidak berkesempatan untuk hari di seminar fotografer cantik tersebut. Untungnya di Sabtu siang itu saya masih bisa mengikuti seminar "Business and Creative Workflow in Wedding Photography" oleh Erwin Wijayanto.

seminar foto wedding di festival foto surabaya

Bagi Artebianz yang masih penasaran tentang seminar apa saja yang dihadirkan di Festival Foto Surabaya, berikut saya sertakan jadwal acara selama festival berlangsung.

 

Senin, 11 Mei 2015
- Pembukaan FFS & penyerahan Hadiah Lomba Hari Jadi Kota Surabaya oleh Ibu Risma
- Talkshow "Dani the Highlander" oleh Ebi Arbay
- Talkshow "My Best 10 Pictures" oleh Jerry Aurum

Selasa, 12 Mei 2015
- Talkshow "Macro Photography" oleh Monica Anontyawati
- Seminar oleh Anton Ismael
- Seminar "Merekam Sejarah Alam Indonesia" oleh Riza Marlon

Rabu, 13 Mei 2015
- Seminar "B&W Photography" oleh Kayus Mulia dan Daniel Tjongari
- Talkshow "Chinese in Southeast Asia" oleh Zhuang Wubin (Singapura)

Kamis, 14 Mei 2015
- Workshop "Street Photo" oleh Erik Prasetya
- Workshop "Studio Lighting" oleh Boedhi Ipoeng
- Fashion Show di eskalator, 20 MC Models
- Talkshow FPSI "Salon Foto Indonesia" oleh Sandy Wijaya
- Talkshow "Conceptual Photography" oleh Adhitya Zen
- Seminar oleh Nicoline Patricia Malina
- Talkshow "Pictorial Photography" oleh Johnny Hendarta
- Artist Talk "Contemporary Photography: Beyond Reality" oleh Jim Allen Abel dan Wimo Ambala Bayang

Jum'at, 15 Mei 2015
- Presentasi oleh Bank Sinar Mas
- Seminar oleh Kristupa Saragih
- Talkshow "Photobook: Behind the Scene" oleh Lans Brahmantyo
- Seminar "Estetika Banal: Sebuah Pendekatan untuk Fotografi Jalanan Asia Tenggara" oleh Erik Prasetya

Sabtu, 16 Mei 2015
- Seminar Canon "Sport Photography" oleh Peksi Cahyo
- Drama, STIKES Hang Tuah
- Talkshow "Documentary Photography" oleh Yannick Cormier(Perancis)
- Seminar "Business and Creative Workflow in Wedding Photography" oleh Erwin Wijayanto
- Vocal Group Santa Clara
- Fashion Show McModels
- Seminar "Detail Beauty Shot with Art Filter" oleh Hary Subastian
- Seminar oleh Agus Leonardus

Minggu, 17 Mei 2015
- Presentasi Komunitas Kamera Analog oleh Kokaang saja
- Seminar "Videography" oleh Upie Guava
- Fashion Show McModels
- Akustik Dharma Mulya
- Talkshow "Travel Photography" oleh Maryssa Tanjung Sari
- Seminar oleh National Geographic
- Pengumuman pemenang lomba, Performance oleh disbudpar, dan Penutup


Jika Artebianz menyukai fotografi seperti saya, pasti tidak ingin melewatkan acara keren ini. Semua topik seminar benar-benar menarik dan semuanya gratis. Dan yang paling penting disampaikan langsung oleh ahlinya. 

Foto-foto yang dipamerkan juga mampu menyegarkan jiwa-jiwa yang jenuh dengan kesibukan sehari-hari. Lebih penting lagi beberapa foto sanggup menyadarkan pengunjung untuk lebih peduli dengan apa yang sedang atau telah terjadi di sekitarnya. Sebuah kritik cerdas dari orang-orang berdedikasi. 

 

 

Liputan Lainnya:




Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Liputan Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan


Edwin Ruser dan KoreanUpdates - Menghidupkan Mimpi Lewat Passion


(Not) Alone In Otherland - Sendiri, Bukan Berarti Sendirian


Art Idol


Kataji - Awal Mula Saya Terpikat pada Yura


Bakmi dan Sate Klathak Ala Djogdja: Menikmati Jogjakarta di Surabaya


Omnivoro Ciputra World, Fusion Cafe untuk Para Omnivora


Terbang Dengan Kursi Mabur Di Sindu Kusuma Edupark


Deja Vu: Pesta Ketiga WTF Market di Surabaya (Bagian 1)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Interaksi di Galaksi


Tentang Waktu