Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Mahfud Ikhwan, dan Kambing

21 Nov 2016    View : 646    By : Niratisaya


Ruang outdoor Oost Thee and Koffie malam itu tampak ramai dengan orang-orang yang memperhatikan seorang lelaki berkaus hijau. Lelaki itu duduk di sebuah sofa, membelakangi layar yang memproyeksikan sebuah wajah lelaki itu dan sebaris tulisan: "Ngobrol Bareng Mahfud Ikhwan".

Rupa-rupanya lelaki berkaus hijau itu adalah bintang utama acara literasi Oktober Goodreads Indonesia Regional Surabaya (GRI Surabaya) dan Klub Buku Surabaya. Dialah Mahfud Ikhwan.

Berbeda dengan talkshow yang dibalut diskusi santai khas GRI Surabaya sebelumnya, yang fokus pada novel terbaru sang penulis (Faisal Oddang), pada talkshow kali ini para audiens dipersilakan untuk bertanya mengenai apa pun, memberi apresiasi terhadap karya Ikhwan, bahkan menyelidiki kebiasaan-kebiasaan penulis yang sudah menerbitkan lima karya ini.

Jadilah, malam itu talkshow berjalan dengan gayeng.

 

 

Membaca di Mata Ikhwan Mahfud

Di awal acara talkshow, Nabila Budayana, moderator, menyinggung tentang Ikhwan yang tinggal di Lamongan dan kebetulan datang ke Surabaya untuk menyambangi Big Bad Wolf.

Sebagai seorang penulis, tentu saja Ikhwan memiliki minat baca yang tinggi. Membaca di mata lelaki yang pernah memenangkan penghargaan DKJ ini punya tiga tujuan:

a. Sebagai pekerjaan karena Ikhwan harus melengkapi kekurangan dalam tulisannya.

b. Sebagai rekreasi karena melalui sebuah buku, Ikhwan bisa 'melihat' serangkaian perkembangan seseorang, sebuah organisasi, bahkan sebuah negara.

Ikhwan mengaku bahwa ia lebih senang membaca karya nonfiksi, khususnya yang berkenaan dengan sejarah, ketimbang fiksi.

Salah satu buku nonfiksi yang dibaca oleh Ikhwan adalah sejarah kepolisian Indonesia. Lelaki ini merasa buku tersebut membawa fragmen kecil dalam kehidupannya. Ini karena di sana terangkum peristiwa pembakaran pabrik tebu yang terjadi semasa ia masih kecil.

Dengan pengalaman semacam ini, tiap kali lelaki ini membaca buku sejarah, ia seakan menjelajahi kembali momentum penting dalam hidupnya.

c. Sebuah beban. Khusus untuk alasan ini, Ikhwan mengurai beberapa kebiasaan yang kerap muncul dalam diri pembaca. Lelaki ini membandingkan antara kuantitas buku yang dibaca seseorang dengan kualitas bacaannya. Kadang, dua hal itu tidak sebanding karena bergantung kepada niat awal si pembaca—kepada alasannya membaca buku tersebut.

Mahfud Ikhwan

Seseorang bisa saja membaca karena mengikuti tren yang ada—buku populer dari penulis populer yang jadi pembicaraan, atau membaca karena ingin menyaingi teman. Menurut Ikhwan, “seorang pembaca harus tahu mengapa kita membaca buku tersebut”, Bukan sekadar mengikuti tren.

Mengenai kebiasaannya membaca, Ikhwan menuturkan bahwa sejak kecil ia suka membaca. Akan tetapi, karena kesulitan mendapatkan bahan bacaan, lelaki ini akan membaca apa pun yang bisa dibacanya ketika dirinya masih kecil. Ikhwan baru menemukan fasilitas bacaan ketika ia berusia 18 tahun. Ia pun segera menuntaskan rasa dahaganya dengan membaca segala macam buku secara acak. Namun, di antara bahan bacaannya, ia lebih sering membaca buku agama dan politik karena pengaruh perang di Afganistan.

Ikhwan dulu juga gemar membaca majalah Rolling Stones yang sangat jarang ada di Indonesia, khususnya rubrik ulasan musik.

Anehnya, Ikhwan tidak terlalu yakin bahwa semua buku yang sudah ‘dilahapnya’ memengaruhi gaya kepenulisannya. Menurut lelaki yang lebih suka membaca kajian sastra ketimbang sastra (fiksi) ini ada hal lain yang membuatnya jatuh hati kepada dunia fiksi.

“Saya menyukai fiksi karena pengaruh sandiwara radio. Saya percaya kalau [semua sandiwara] yang saya dengar mewarnai gaya tulisan dan proses kreatif [saya],” papar Ikhwan.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat Ikhwan akhirnya terjun ke dalam dunia kepenulisan?

Kepada Goodreaders dan penggemar sastra yang ada di Surabaya, Ikhwan mengungkapkan bahwa semua bermula dari kecintaannya membaca serta keterbatasan fasilitas ketika ia masih seorang pelajar. Kala itu, Ikhwan yang menempuh pendidikan di bangku kuliah merasa demikian haus bacaan.

Sayangnya, ia hanyalah seorang mahasiswa miskin yang tinggal di masjid. Satu-satunya jalan bagi Ikhwan untuk memperoleh dana membeli buku adalah dengan menulis di koran. Dan, ia pun melaksanakan idenya tersebut. Untuk pertama kalinya, pada tahun 1998, Ikhwan menulis sebuah cerpen dan mengirimkannya ke koran.

Oost Koffie and Thee

Satu lagi kebiasaan membaca yang diterapkan Ikhwan kepada dirinya adalah ia jarang membaca sebuah buku hanya karena orang lain novel atau buku itu. Untuk mengetahui mana bacaan yang bagus, Ikhwan berusaha mencari info dari orang-orang yang mengerti tentang bacaan-bacaan sesuai genre buku tersebut.

“Sekarang ini peran kritik hampir nggak ada [di Indonesia], karena Goodreads,” kelakar Ikhwan yang memancing tawa audiens di Oost Thee and Koffie, yang berlokasi di Jalan Kaliwaron no. 60.

Baca juga: Nasib Literasi di Era Digitalisasi

 

 

Antara Kambing, Film India, dan Ikhwan Mahfud

Artebianz penggemar Ikhwan pasti tahu kalau lelaki yang juga bekerja sebagai editor ini nyaris selalu menulis tentang kambing. Malam itu (20/10), ia mengungkap alasan di balik keterlibatan kambing dalam tulisannya.

Seperti peristiwa pembakaran pabrik tebu dalam buku sejarah kepolisian Indonesia, kambing memiliki keterkaitan dengan masa lalu Ikhwan. Lelaki kelahiran 7 Mei 1980 sempat menjadi penggembala semasa kecil.

“Tapi saya bukan penggembala kambing yang baik. Karena itu, lewat tulisan-tulisan saya, saya ingin menjadi penggembala yang baik.”

Meski tidak membaca banyak karya fiksi, tapi bukan berarti Ikhwan sama sekali tidak mawas terhadap perkembangan literatur di Indonesia. Terbitnya novel Kambing dan Hujan sendiri tidak lepas pengaruh karya fiksi lainnya.

Untuk hal ini, secara blakblakan Ikhwan mengaku bahwa inspirasi menulis novel Kambing dan Hujan datang setelah Ikhwan membaca Para Priyayi karya Umar Kayam. Di mata Ikhwan, seekor kambing sama seperti hamba—seperti rakyat jelata di film-film India, khususnya yang bertemakan perpecahan.

Bicara tentang penulis-penulis Indonesia, sebagai seorang pengamat dan penikmat buku, Ikhwan berpendapat, “Persoalan penulis Indonesia adalah mereka nggak sadar kalau mereka bermasalah dengan teknik.”

Mahfud Ikhwan

Menurut Ikhwan, seseorang bisa mengetahui kekurangan karya seorang penulis, dan mungkin karyanya sendiri, lewat berkuliah sastra. Namun, tentu mustahil dan sia-sia jika kita semua berkuliah sastra. Selain berkuliah, kita juga bisa belajar dari karya seorang maestro. Seperti dalam kasus Ikhwan yang belajar dari Umar Kayam.

Keunikan lain dalam diri Ikhwan adalah obsesinya terhadap film India. Lelaki ini mengaku bahwa ia menyukai film India karena jarang ada yang menonton. Film India mengingatkan Ikhwan kepada film Indonesia lama.

Ikhwan menuturkan, “[Dari film India belajar bahwa] ada yang harus lebih kita perhatikan ketimbang detail-detail kecil yang remeh.”

Misalnya adegan tokoh yang bernyanyi sambil keliling taman atau memutari pohon. Sekilas adegan ini terlihat seperti satu hal yang konyol. Namun, di mata Ikhwan, adegan bernyanyi dan menari dalam film India mencerminkan betapa ekspresifnya orang India dan berbakatnya para aktor negeri yang terkenal dengan masakan karinya itu. Seandainya kita membandingkan dengan aktor Indonesia, berapa banyak yang bisa menari, menyanyi, sambil tetap konsentrasi berakting?

Kalau pertanyaan ini, silakan Artebianz jawab sendiri-sendiri Smile

Baca juga: Perpustakaan Keteladanan di Pekalongan

 

 

Ikhwan Mahfud: Karya Tulis dan Ikhtisar Kehidupan

Hal yang istimewa pada malam diskusi santai bersama Mahfud Ikhwan adalah kehadiran beberapa penikmat sastra dan penggiat literasi yang membuat acara lebih semarak dan hidup.

Salah seorang audiens menanyakan ide kepenulisan perang antara dua lembaga keagamaan yang ia duga berasal dari kejadian nyata. Ikhwan pun memberi contoh peperangan antara Israel dengan Palestina yang terjadi tutur lelaki ini berakar dari zaman Nabi Ibrahim, serta fakta bahwa nabi kita tersebut mempunyai dua anak dari dua istri. Ucapan Ikhwan mengisyaratkan bahwa peperangan tidak selalu mengenai agama. Perang lebih sering tercipta karena melibatkan permasalahan pribadi di kalangan pemimpin.

Oost Koffie and Thee

Selain audiens yang mengapresiasi karya Ikhwan, malam itu juga hadir Bu Ifa (owner Perpustakaan Umum Bait Kata yang berlokasi di Larangan Mega Asri B-10, Candi, Sidoarjo). Wanita ini mengungkapkan bahwa ia memutuskan untuk menjadi patron bagi Ikhwan sejak membaca Ulid.

Bu Ifa jatuh hati kepada karya Ikhwan sejak membaca Ulid yang dianggapnya memiliki diksi yang tidak klise. Selayaknya seorang patron sastra yang baik, Bu Ifa hafal dan tahu secara detail mengenai gaya menulis Ikhwan yang dianggap memiliki kekuatan di keruntutan logika saat bercerita. Hal ini ditengarai sebagai hasil dan pengaruh dari bahan-bahan bacaan yang dipilih Ikhwan.

Mengenai proses kepenulisan, berbeda dengan Oddang yang banyak menghabiskan waktunya di riset, Ikhwan mengaku bahwa ia justru menulis dengan lambat. Ini dikarenakan ia merasa ragu atas kemampuannya. Ikhwan menjelaskan, “Saya ragu apakah saya bisa mencapai standar yang saya tetapkan untuk saya sendiri.”

Sebelum memuaskan siapa pun yang membaca ceritanya, Ikhwan ingin memuaskan diri sendiri.
Untuk tips dan trik dalam menulis, menurut Ikhwan ada banyak cara. Ikhwan sendiri menggunakan metode mencari momen yang membuat atau memaksa kita untuk menulis. Seperti ketika kita jatuh cinta, kita menulis surat. Kita marah, kita menulis status.

Oost Koffie and Thee

Sementara itu, mengenai tips dan trik menulis, Ikhwan berkata bahwa “menulis itu identik dengan membangun.” Sebagai penulis kita harus tahu material yang akan kita gunakan. Misalnya seperti Pram yang menggunakan bahan dari kehidupannya.

Meski banyak yang memuja Pramoedya Ananta Toer, di mata Ikhwan, Pram adalah penulis dengan teknik terburuk. Ia menyamakan sosok Ellyas Pical yang “jelek tapi punya pukulan super.”

Acara diskusi santai bersama Ikhwan kemudian ditutup dengan foto bersama dan penandatanganan novel-novel.

Baca juga: Imajinasi, Mimpi, dan Harapan di Bazar Tematik

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Liputan Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Generasi Global dalam Industri Pertelevisian: Menelisik Makna di Balik


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Mari Lari - Sebuah Cerita tentang Tekad Hati Lewat Langkah Kaki


Siti - Perempuan dan Dalamnya Hati


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Berkuliner Ala Foodtruck Fiesta di Graha Fairground Surabaya Barat


Kopi Luwak - Nongkrong Aman Sambil Berbagi Kopi dan Gelak


Patirthan Candi Kidal Yang Tersembunyi


Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 2)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Oma Lena - Part 1


Nyata dan Ilusi