Cinderella dan Wanita Masa Kini: Sebuah Dekonstruksi Dongeng

06 May 2014    View : 2430    By : Niratisaya


Seberapa banyak dari Artebianz (terutama kaum perempuan) yang mengenal sosok Cinderella?

Saya yakin kebanyakan kita sudah mengenal sosok upik abu ini. Dan kita semua menganggapnya sekedar sebagai sosok damsel in distress, tapi sosoknya yang mewakili perempuan masa kini lolos dari pengamatan kita. Termasuk saya, yang baru menyadarinya setelah sekian lama.


Dekonstruksi Cinderella ala Artebia

Berawal dari iseng-iseng mengurai kembali beberapa cerita berbau putri-putrian yang sering saya baca, dan tonton semasa kecil, saya terbawa pada satu pemahaman baru.

Sebelum kita terjun ke pembahasan, Artebianz mari bayangkan bila Cinderella bukanlah anak yatim dan dia bukanlah anak tiri dari seorang wanita kejam yang menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah tiada henti. Bayangkan dia sebagai seorang gadis manja, yang mengeluhkan pekerjaan rumah yang mesti dia lakukan - sehingga dia menganggap dirinya bagaikan pembantu di rumahnya.

Nah, kalau seperti Cinderella terdengar lebih nyata dan dekat dengan kita semua, kan? Ketimbang sosok gadis lemah yang ditindas oleh ibu tirinya dan ditinggal mati oleh ayahnya. Lalu ditolong oleh peri. Ini kehidupan nyata dan dongeng semacam itu tak memiliki tempat di sini. Jadi, mari rapatkan kehidupan Cinderella dengan kehidupan kita.

Anyways, dari dekonstruksi yang saya jabarkan sebelumnya, terlihat pola kehidupan keluarga sederhana dan pendidikan orangtua yang berusaha membiasakan seorang anak (terutama perempuan) untuk mengenal pekerjaan rumah. Seseorang mungkin suatu saat akan menjadi ratu, Artebianz, tapi semuanya tidak lantas menjadi ratu begitu saja. Ada beberapa tahapan yang mesti dilalui.

Dalam cerita Cinderella, dia digambarkan sebagai sosok yang menderita dengan mengerjakan segala pekerjaan rumah—yang semestinya tidak dilakukan oleh seorang putri dari kalangan menengah ke atas. Namun dengan penderitaan yang dialaminya, Cinderella menjadi paham, bagaimana rasanya menjadi orang yang teraniaya. Cinderella yang selama ini dimanjakan oleh ayahnya—yang menuruti apa pun keinginan Cinderella, perlahan mulai berubah seiring dengan tempaan yang diberikan oleh Sang Ibu. Dia mengerti bagaimana mengerjakan pekerjaan rumah. Paham bahwa seorang perempuan tidak bisa pergi ketika pekerjaan rumah masih belum beres. Dia pun tahu bahwa seorang perempuan tidak baik pulang di atas jam dua belas.


Wanita dan Jam MalamDiambil dari blindgossip.com

Kaum feminis mungkin menentang dongeng Cinderella. Namun menurut saya Cinderella cukup baik bila diimplementasikan dengan beberapa petuah dari orangtua yang memberi dongeng. Bukannya sekadar membiarkan anak menonton acara kartun, yang hanya membuat anak membayangkan hidup menyenangkan menjadi ratu dengan menunggu keajaiban. Hal semacam ini mungkin saja terjadi, kalau Artebianz tinggal di dalam televisi, tapi pada faktanya kita hidup di dunia nyata. Bukan khayalan atau teve.

Ini juga yang mendorong saya untuk bercita-cita; suatu hari, saya akan mendongeng untuk anak dan memastikan dia tidak sekadar menelan cerita dan pencitraan dari media-media yang mengutamakan visual.

Dongeng Cinderella juga dapat dimanfaatkan untuk mendidik anak agar bisa membagi waktunya. Mungkin dongeng berhenti di bagian Cinderella yang diangkat menjadi putri karena sang pangeran jatuh cinta padanya. Tapi berkaitan dengan pendidikan keras yang diberikan Sang Ibu, Cinderella saya rasa memiliki dasar kuat untuk menghadapi segala aral dan rintangan yang menghalangi cita-citanya.

Dia ingin bertemu dengan Pangeran dan keinginan Cinderella itu akhirnya terkabul, bukan? Bahkan ketika dia ingin—oh, saya yakin, Artebianz, dia benar-benar menginginkannya—menjadi pengantin sang Pangeran. Inilah salah satu poin yang dilupakan para kaum feminis dari dongeng ini; bahwa seorang perempuan dalam hal paling kecil pun mampu mengendalikan segala yang ada dalam dunia. Bila dia mampu mengendalikan kekuatannya, dengan melembutkan hati dan mengontrol pikirannya.

Baca juga: Maleficent - Dekonstruksi Cinta Sejati dan Dongeng Putri Tidur

 

 

Wanita dalam Pandangan Agama

Muhammad sempat berkata mengenai keberadaan wanita:

"Nasihatilah perempuan dengan cara yang baik. Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, sementara yang paling bengkok itu bagian teratasnya. Jika engkau bersikeras meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika engkau membiarkannya, ia akan bengkok selamanya. Maka nasihatilah perempuan dengan cara yang baik."

Secara sekilas, hadis tersebut terlihat mengisyaratkan keburukan wanita dengan menganalogikan sosoknya dengan tulang rusuk yang bengkok. Namun, Artebianz, bila ditelaah lebih jauh lagi, "bengkoknya" seorang wanita bisa dilihat sebagai perwakilan figurnya yang dipengaruhi oleh perubahan hatinya. Oleh besarnya romantisme yang dimiliki seorang wanita dibanding pria. Sebab itulah, seseorang tidak bisa begitu saja mengubah seorang wanita. Di sinilah kelemahan, sekaligus kekuatan kaum perempuan.

Kekuatan WanitaDiambil dari inyourshoesblog.wordpress

Walau dikatakan lembut, sesungguhnya sosok wanita disaluti oleh sifat keras. Sekeras tulang yang menopang tubuh dan mendukung pergerakan manusia. Oleh karena itu, ia tidak bisa "diluruskan" lewat nasihat serta perintah begitu saja. Butuh waktu dan kesabaran, serta contoh nyata dalam kehidupan, agar seorang wanita yang memiliki kekuatan serta ketabahan layaknya tulang ini mampu menjadi lurus serta penopang yang baik bagi kehidupan manusia. Bagi kehidupan generasi berikutnya.

Bisa dikatakan, ketika wanita diisyaratkan sebagai tulang rusuk, diisyarakat pula bila seorang wanita adalah unsur penting dalam kehidupan manusia. Jadi, Artebianz, khususnya para wanita, mari memperkuat diri dengan pengetahuan dan memperluas wawasan serta pandangan. Sebab, bila para wanita lemah (secara akal, mental, serta jiwa), niscaya generasi yang dibesarkan olehnya pun menjadi lemah (secara akal, mental, serta jiwa).

Baca juga: Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Meragajiwa Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


Lucio - Menemukan Rahasia Gelap Baja Alatas dan Dewi Swis


Bangkok Knockout: Permainan Maut antara Hidup dan Mati


How Deep Is Your Love - Calvin Harris: Dalamnya Cinta Lewat Deep House Music


Depot Asih Jaya, Pusat Soto Lamongan


Oost Koffie & Thee - Rumah Kopi dan Teh yang Menawarkan Lebih Dari Kenyamanan


Peneleh, Daerah Penuh Pesona dan Sejarah: Peneleh Gang VII


Literasi Oktober: Big Bad Wolf Menghantui (Pecinta Buku) Surabaya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Interaksi di Galaksi


Aku dan Kau