Kala Kali: Hanya Waktu yang Tak Pernah Terlambat

29 Dec 2014    View : 3523    By : Amidah Budi Utami


Ditulis oleh  Valiant Budi, Windy Ariestanty
Diterbitkan oleh  Gagas Media
Disunting oleh  Gita Romadhona
Aksara diperiksa oleh  Alit Tisna Palupi
Sampul didesain oleh  Dwi Anissa Anindhika
Penata letak oleh  Wahyu Suwarni, Dian Novitasari
Diterbitkan pada  2012
Genre fiksi, romance, young adult, slice of life
Jumlah halaman  332
Nomor ISBN  979-780-581-6
Rating:  4/5


 

Gagas dan waktu tak pernah bisa berbagi ruang, apalagi, berbagi cerita. maka, saling mencarilah mereka, berusaha menggenapi satu sama lain. Hingga satu titik, kala menjadi mula dan kali mengakhiri cerita.

***

Aku merasa kembali menjadi balita, mengentak-entakkan kaki ke lantai sambil bertepuk-tepuk tangan gembira. Tidak ingin membuang-buang waktu, aku segera meniup lilin sambil berharap dalam hati akan ada lilin serupa untuk tahun depan, di atas sepotong kue yang dibawakan Ibu. AMIN!

Berbagai potongan kenangan dengan Ibu berkelebat hebat di benakku. Aku mungkin berbeda dengan remaja lainnya yang kala mengingat masa kecil selalu dengan tawa dan kebersamaan yang hangat; seperti yang kulihat di lembaran iklan-iklan susu balita atau es krim literan itu.
Dan, setiap kenangan itu hadir, ingin rasanya membalikkan langkah.
(Ramalan dari Desa Emas, Valiant Budi)

Setiap kali berulang tahun, aku semakin mendekati tempat asalku: ketiadaan. Ibu bilang, dunia ini sendiri pun lahir dari ketiadaan. Karena lahir dari ketiadaan, mengapa pula harus mencemaskan kehilangan?

Ketiadaan itu meluaskan, kata Ibu, dan mempertemukan orang dengan banyak hal, di antaranya cinta. 'Aku harap bisa melindungimu dari patah hati. Tapi itu tidak mungkin.'
(Bukan Cerita Cinta, Windy Ariestanty)

 

Seperti yang telah diilustrasikan di sampul belakang, Kala Kali terdiri dari dua cerita yang berdiri sendiri, namun masih dalam tema yang sama atau lebih tepatnya tema yang saling melengkapi. Bagian depan berjudul Ramalan dari Desa Emas yang ditulis oleh Valiant Budi, sedang bagian belakang berjudul Bukan Cerita Cinta ditulis oleh Windy Ariestanty. Pada review ini saya akan membahas persub cerita.

 

Review Ramalan dari Desa Emas

Sinopsis Cerita Ramalan Dari Desa Emas

Kisah yang ditulis oleh Valiant Budi ini diawali dengan kenangan buruk si tokoh utama, cewek tujuh belas tahun bernama Keni. Sebuah peristiwa besar terjadi ketika Keni masih berusia kanak-kanak. Di suatu malam yang naas orangtuanya bertengkar hebat yang berujung pada pembakaran rumah oleh keduanya. Peristiwa itu menjadi titik balik Kehidupan Keni dari mulai usia kanak-kanak sampai Keni remaja.

Salah satu akibat dari peristiwa itu adalah Keni harus tinggal bersama neneknya tanpa mengetahui keberadaan kedua orangtuanya. Saya menafsirkan peristiwa itu merepresantasikan Kala pada judul novel ini.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-18, Keni memutuskan untuk berlibur ke desa Sawarna, sebuah desa tepi pantai di provinsi Banten, untuk merayakan ulang tahunnya seorang diri. Dari sini Artebianz bisa melihat bahwa si tokoh utama ini memiliki karakter yang mandiri dan suka traveling. Selain dua karakter tersebut saya ingin menambahkan satu karakter lagi yaitu karakter "cukup nekat" mengingat usianya yang masih belia, tapi berani pergi jauh seorang diri. Mungkin itu salah satu dampak positif dari kondisi dibesarkan tanpa orangtua: mendorong seseorang menjadi lebih mandiri, berani, dan cukup nekat.

Meskipun niat awalnya ingin menikmati suasana desa yang damai dan pantai yang indah, yang terjadi justru sebaliknya. Keni bertemu dengan seorang bocah yang meramalkan bahwa dia akan meninggal sebelum usiannya 18 tahun. Meskipun awalnya Keni tidak ingin percaya pada ramalan itu, tapi peristiwa-peristiwa yang dialaminya membuatnya memikirkan kembali ramalan itu. Merasa hidupnya terancam membuat Keni teringat pada hal-hal yang selama ini sengaja diabaikan. Ada hal-hal esensial yang harus dia lakukan segera atau tidak sama sekali.

 

Latar Tempat: Desa Sawarna dengan Sejuta Pesona

Lebih dari setengah kisah ini menceritakan pengalaman Keni di Desa Sawarna. Layaknya membaca buku traveling, perjalanan menuju desa Sawarna, suasana penginapan, dan spot-spot wisata dijelaskan dengan detail, seperti membaca sebuah novel yang berbonus buku traveling. Atau bisa jadi ini adalah promosi terselubung?

pantai sawarna(gambar diambil dari wisata.eu)

Oh ya, apakah Artebianz penasaran mengapa desa Sawarna dijuluki Desa Emas? Silakan temukan jawabannya dengan membaca buku ini.

Baca juga: People Like Us - Sekelumit Kisah Sendu yang Manis

 

Impresi Saya pada Ramalan dari Desa Emas

Berhubung saya penyuka traveling dan selalu penasaran dengan tempat-tempat baru, saya sangat menikmati kisah ini. Dan berhubung saya percaya karakter seseorang serta pandangannya terhadap hidup sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekat, saya berempati dengan remaja yang bernama Keni ini.

~~~

 

Review Bukan Cerita Cinta

Sinopsis Cerita Bukan Cerita Cinta

Kisah yang ditulis oleh Windy Ariestanty ini menceritakan si tokoh utama bernama Bumi yang berprofesi sebagai editor bersahabat dekat dengan penulisnya yang bernama Akshara. Tidak seperti karirnya yang gemilang, kisah percintaan Akshara sering kali kandas di tengah jalan. Sebagai sahabat setia, Bumi bersedia menjadi tempat sampah untuk segala rasa patah hati yang dialami Akshara. Lambat laun Akshara semakin tergantung pada Bumi, begitu juga Bumi merasa nyaman dengan ketergantungan Akshara. Di saat yang sama Bumi tertarik dengan perempuan ekspresif dan mandiri bernama Koma dari Komang yang berprofesi sebagai fotografer.

 

Para Tokoh Bukan Cerita Cinta

1. Bumi Sang Editor

Bumi digambarkan sebagai cowok yang melankolis yang betah ngobrol lama-lama dengan para cewek dengan tema cinta dan perasaan. Saya rasa dengan karakter seperti ini, Bumi sangat cocok berprofesi sebagai editor novel teenlit atau metropop.

Bumi juga digambarkan sebagai cowok yang cari aman.

Aku berusaha sedapat mungkin memasang wajah datar. Wajah yang kerap kali menyelamatkanku dari momen-momen sulit, terutama saat deadline dan rapat redaksi. (halaman 165)


2. Akshara Si Penulis

Akshara adalah si cewek mandiri yang rapuh. Walaupun Bumi menggambarkan Akshara sebagai wanita yang mandiri dan tidak bergantung pada apa pun. Namun saya melihat Akshara adalah seorang yang "cewek banget". Cewek banget di sini saya artikan sebagai sebuah karakter yang mudah dimabuk cinta, mudah termakan bualan cowok, kebahagian dan kesedihannya bersumber dari orang lain.

Hati-hati jika Artebianz memiliki karakter yang sama dengan Akshara karena akan rentan dengan patah hati. Namun di sisi lain seseorang yang memiliki karakter ini juga lebih loveable.

Aku mengambil iPhone yang disodorkannya dan menatap lekat gambar yang ada di akun instagram milik perempuan itu. Sebuah foto gembok dan gantungan hati dikaitkan pada pagar. Dilihat dari data lokasinya, foto ini diambil di N Seoul Tower. "I love you @akshara." Begitu saja judul foto itu.

I love you. Dan, perempuan ini memercayainya? Aku pikir ia tak mudah dipuaskan dan juga tak senaif itu. Tapi kali ini, she buys it! Yang benar saja.

"It's very sweet of him. Iya kan?" Senyum manis terkulum di bibirnya yang polos tanpa lipstik.

Aku mengendikkan bahu. "Mana aku tahu."

"Terang saja kamu tidak tahu."

"Bukan aku yang pacaran dengan lelakimu."

"Bima namanya. Bima."

Lagi, mata itu berkilat ketika menyebutkan nama Bima. Ia meletakkan telunjuknya di kaca jendela yang berpemandangan langit malam Jakarta. (halaman 168)


3. Koma Sang Fotografer

Koma adalah seorang cewek yang easy going, dia puas dengan dirinya, profesinya dan kehidupannya. Pada tingkat seperti ini kebanyakan orang bisa menjadi karakter yang bijaksana.

"Koma itu ibarat proses. Dan, titik adalah hasilnya."

Koma mengangguk berkali-kali, seolah hendak menekankan itu SANGAT benar. "Koma itu kalau buat saya seperti sesuatu yang akan terus berproses. Juga membuka diri untuk banyak kemungkinan."

Koma dari komang ini tampaknya sangat menyukai namanya. Walaupun mungkin sejarah namanya tak seperti ini. Si Kakek hanya suka kepada nama Komang. Mungkin nama Komang mengingatkannya kepada gadis Bali yang pernah ditemuinya di tepi sawah dan membuatnya suka. Atau, bisa saja Komang adalah nama seorang yang pernah menyelamatkan hidupnya. Entah kenapa, aku menaruh syak. Ini bukan sekedar si Kakek yang menyukai nama Komang.

Aku menyukai Koma dari Komang yang menciptakan cerita untuk namanya sendiri. Ia tidak kehilangan cerita atas sejarah namanya yang tampak terlalu sederhana. Ia membuat cerita atas namanya sendiri sehingga menjadi sesuatu yang menarik untuk diceritakan.

"Kalau kau memiliki kesempatan untuk bertemu kakekmu, apa yang akan kau tanyakan?"

"Apa makanan kesukaannya."

"Kupikir kau akan bertanya tentang misteri nama 'Komang' yang diletakkannya sebagai nama tengah."

Koma menggeleng. Sama kencangnya ketika dia mengangguk ketika menyetujui sesuatu. Menanyakan makanan kesukaan kakeknya lebih penting buat Koma dibandingkan bertanya tentang sejarah namanya. Rupanya, ia ingin memasakkan makanan kegemaran si Kakek. Masakan selalu menjadi sesuatu yang bisa mencairkan suasana dan juga membuat suasana menjadi lebih menyenangkan. Juga cara paling sederhana untuk menunjukkan betapa kita menyayangi seseorang.

Baca juga: Supernova 1: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

 

Semua Teori Cinta Dibahas Di Sini

Dalam kisah Bukan Cerita Cinta ini dipenuhi oleh diskusi-diskusi panjang mengenai teori cinta oleh tokoh utama Bumi dan sahabatnya Akshara. Berikut akan saya kutipkan sebagian dari teori-teori cinta yang dibahas di buku ini.

 

Cinta Itu Realistis

Teori ini menjelaskan bahwa sebuah hubungan cinta harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan. Hubungan cinta harus menyesuaikan dengan kesibukan, profesi, kepentingan, dan segala atribut yang melekat pada pasangannya.


Definisi Pacar Yang Manis

"Baiklah. Jadi lelaki ini sedang sibuk dengan meeting-nya. Dan sebagaimana sebuah cinta yang realistis, kamu memiliki pemahaman atas kesibukannya ini. Dan, tak keberatan kalau ia tidak bisa datang di acaramu. Kesimpulanku, kamu pacar yang manis." (halaman 175)


Cinta Memang Tidak Harus Membuat Cemas

Perempuan Kenangan meninggalkan luka yang berusaha kupahami pada tahun-tahun awal perpisahan kami. Hasilnya nihil, selain berusaha menghindari setiap pertemuan dan bersikap tak peduli. Namun, lambat laun aku paham. Cinta memang seharusnya tidak membuat cemas. Cemas karena mencintai sesuatu, rasanya bukan cinta. Bisa saja itu obsesi. Atau rasa takut kehilangan barang yang disukai, seperti anak kecil yang takut mainan kesayangannya diambil orang. (halaman 184)


Cinta yang Menunggu

Setiap kali melihat jendela, aku selalu teringat kepada Shah Jahan.

Shah Jahan, Raja India, yang sangat mencintai istrinya, Arjumand Bann Begum. Taj Mahal dibangunnya untuk mengenang istri tercinta. Ia, konon, menghabiskan sisa hidupnya sambil menatap keluar jendela di Taj. Itu cara dia merindukan Arjumand, cinta sejatinya, yang tak akan pernah lagi ia lihat. Ia belajar mengenang dengan menunggu di tepi jendela.

Jendela selalu mengingatkanku pada cinta yang menunggu itu.

Dan, lagi-lagi perempuan itu menunggu di tepi jendela. Di kafe yang sama dengan ekspresi yang sama.

cinta yang menunggu

 

Akhir Kata untuk Bukan Cerita Cinta

Bukan Cerita Cinta Karya Windy Ariestanty ini memiliki plot sederhana, namun tertata apik. Dialog dan kejadian ditata seperti sebuah petunjuk yang mengarahkan pembaca pada bagian akhir cerita. Dan, sepertinya memang sudah direncanakan oleh penulisnya, bagian paling manis dari cerita ini adalah di bagian akhir. Bagian yang berfungsi sebagai penggenap, bukan hanya menggenapi Bukan Cerita Cinta, namun juga menggenapi seluruh cerita Kala Kali.

Baca juga: Supernova Akar

 




Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Generasi Global dalam Industri Pertelevisian: Menelisik Makna di Balik


Edwin Ruser dan KoreanUpdates - Menghidupkan Mimpi Lewat Passion


Attachments - Ikatan Benang-Benang Halus Tak Kasatmata


Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Adaptasi Dari Cerita Pendek


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Dak-Galbi Korean Resto And Caffe


Pandu Pustaka: Perpustakaan Keteladanan Di Pekalongan


Penelusuran dan Napak Tilas Reruntuhan Situs Candi Pendharmaan Ken Angrok di Kabupaten Malang (Bagian 1)


Literasi Oktober: Big Bad Wolf Menghantui (Pecinta Buku) Surabaya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)


Sebilik Ruang