Supernova 1: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

04 Mar 2015    View : 3375    By : Amidah Budi Utami


Ditulis oleh  Dee Lestari
Diterbitkan oleh  Bentang Pustaka
Disunting oleh  Dhewiberta
Aksara ditata oleh  Endah Aditya
Aksara diperiksa oleh  Intan D, Pritameani dan Septi Ws
Sampul didesain oleh  Fahmi Ilmansyah
Genre fiksi, sains, filsafat, adult, romance, kontemporer
Jumlah halaman  343
Nomor ISBN  978-602-291-052-7
Rating:  4.5/5


Menunaikan ikrar mereka untuk berkarya bersama, pasangan Dimas dan Reuben mulai menulis roman yang diberi judul Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Paralel dengan itu, dalam kehidupan nyata, sebuah kisah cinta terlarang terjalin antara Ferre dan Rana. Hubungan cinta mereka merepresentasikan dinamika yang terjadi antara tokoh Kesatria dan Putri dalam fiksi Dimas dan Reuben.

Tokoh ketiga, Bintang Jatuh, dihadirkan oleh seorang peragawati terkenal bernama Diva, yang memiliki profesi sampingan sebagai pelacur kelas atas.

Tanpa ada yang bisa mengantisipasi, kehadiran sosok Supernova menjadi kunci penentu yang akhirnya merajut kehidupan nyata antara Ferre-Rana-Diva dengan kisah fiksi karya Dimas-Reuben dalam satu dimensi kehidupan yang sama.

***

Artebianz, inilah satu-satunya novel berseri yang membuat saya bertekad untuk menamatkan semua episodenya karena semakin dibaca semakin membuat penasaran alih-alih membosankan. Oke, saya mengaku ada seri lain yang sudah saya tamatkan yaitu novel The Chronicles of Audy. Namun karena novel karya Orizuka ini hanya terdiri dari dua seri maka bukanlah perbandingan yang seimbang.

Kebanyakan novel berseri lainnya memiliki tokoh sentral yang sama di setiap episodenya. Supernova tidak demikian, novel berseri ini menghadirkan tokoh sentral baru di setiap episodenya. Masing-masing tokoh memiliki karakter, latar belakang, sudut pandang, serta spesialisasi yang berbeda. Namun, semua tokoh sentral yang dihadirkan ternyata memiliki benang merah yang tentu saja belum bisa dilihat oleh pembaca awam seperti saya. Itulah kerennya Dee Lestari!

Hal lain yang menarik dari serial Supernova adalah teori-teori sainsnya yang mengagumkan walau kadang saya merasa ini terlalu berat untuk ukuran saya. Di antara semua serial Supernova, episode Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh dan episode Partikel adalah episode dengan teori sains paling rumit! Maka dari itu, mereview novel ini bukanlah pekerjaan yang mudah bagi saya.

Pertama kali membaca novel ini saya malas untuk memahami setiap teori yang dipaparkan Reuben (salah satu tokoh di Supernova episode Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh). Saya hanya menangkap semampu saya kemudian lanjut ke kalimat setelahnya demi menuruti rasa penasaran pada jalan cerita.

Namun, setelah saya membaca ulang perlahan-lahan dan mencoba memahami setiap detail isinya; saya menyadari ternyata novel ini padat, berisi, dan menakjubkan!

Baca juga: Supernova 3: Petir

 

Sinopsis Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh memiliki banyak tokoh sentral, mereka adalah Rueben, Dimas, Ferre, Rana, Arwin, dan Diva. Novel ini adalah satu-satunya seri Supernova dengan multi tokoh sentral. Enam orang yang berbeda pada titik waktu dan tempat tertentu dipertemukan oleh takdir, seperti ada benang merah, mengingatkan kita pada jaring laba-laba.

Cerita dimulai dari pertemuan Dimas dan Reuben di Georgetown, Washington, D.C. pada tahun 1991 saat mereka masih berstatus mahasiswa. Dimas adalah mahasiswa asal Indonesia dari golongan anak orang kaya. Sedangkan Reuben mahasiswa asal Indonesia dari golongan penerima beasiswa.

Dimulai dari obrolan ringan yang menjurus pada topik-topik serius. Dimas adalah tipe orang yang senang bertanya, sedang Rueben adalah tipe orang yang dengan senang hati mau menjelaskan. Obrolan mereka berdua sudah mirip diskusi di forum-forum. Mereka membahas segala fenomena yang menarik, kebanyakan adalah teori-teori fisika yang dikaitkan dengan psikologi.

Dimas merasa nyaman di obrolan pertamanya dengan Reuben, sehingga dia memutuskan untuk melakukan satu pengakuan pada orang yang baru saja dikenal namun membuatnya merasa nyaman: Reuben. Dimas mengaku bahwa dia seorang homoseksual. Reuben sama sekali tidak terkejut dengan pengakuan Dimas. Dia sudah memprediksi hal itu sebelumnya. Malahan Dimas yang dibuat terkejut oleh pengakuan Reuben bahwa Reuben juga seorang homoseksual. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk menjadi sepasang kekasih.

Di pertemuan pertama itu juga mereka sepakat untuk membuat sebuah karya, sebuah masterpiece pada sepuluh tahun yang akan datang!

Sesuai dengan ikrar mereka, di tahun 2001 mereka mulai mengerjakan sebuah karya berdua, sebuah roman sains tentang "Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh".

Paralel dengan karya rekaan Dimas dan Reuben, dalam kehidupan nyata, ada seorang eksukutif muda bernama Ferre yang sedang jatuh cinta pada seorang jurnalis bernama Rana. Sosok Rana mengingatkan Ferre pada karakter seorang putri di  sebuah dongeng masa kecilnya.

Alkisah, ada seorang kesatria yang jatuh cinta pada seorang putri bungsu dari Kerajaan Bidadari. Kesatria merasa sedih saat ditinggal terbang tinggi oleh sang Putri. Kesatria pun belajar terbang agar bisa bertemu dengan sang Putri. Kesatria belajar pada Kupu-kupu, Burung, Angin, hingga Bintang Jatuh. Dengan bantuan Bintang Jatuh akhirnya Kesatria bisa sampai di kerajaan bidadari dan bertemu dengan sang Putri. Tidak disangka Bintang Jatuh malah jatuh cinta dengan sang Putri dan ingin memilikinya. Bintang Jatuh melepaskan Kesatria dan menemui sang Putri. Kesatria melesat menuju kehancuran. Perjuangannya untuk bertemu sang Putri sia-sia.

Kisah cinta Ferre pada Rana senasib dengan kisah cinta Kesatria pada sang Putri. Cinta Ferre pada Rana terhalang moralitas dan norma masyarakat. Rana yang dicintainya adalah seorang istri laki-laki lain.

Bagi seorang Rana, Ferre adalah gerbang bifurkasi-nya. Selama ini Rana hidup sebagai seorang yang diinginkan orang lain, sesuai dengan standar masyarakat. Dia sudah lama tidak bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang dia inginkan? Apa yang menjadi pilihannya? Apa yang membuatnya bahagia? siapa Rana sesungguhnya? Hingga di satu titik Rana jatuh cinta pada Ferre. Rana merasakan kembali hidup saat bersama Ferre. Ferre adalah satu-satunya yang dia inginkan. Di saat-saat seperti ini rumah tangganya bersama Arwin serasa neraka baginya.

Arwin menyadari ada yang berbeda dengan istrinya. Rana sering terlihat sedih di rumah, melamun dan menangis diam-diam. Arwin menyadari selama ini dia tidak pernah mendapatkan hati Rana seutuhnya. Yang dia dapatkan adalah kepatuhan istri terhadap suami dan saat ini istrinya telah jatuh cinta pada laki-laki lain. Cinta yang selama ini tidak pernah dimiliki Arwin. Arwin menyadari bahwa istrinya telah berselingkuh, anehnya dia tidak bisa membenci istrinya, dia semakin membenci dirinya sendiri.

Arwin tidak sanggup terus menerus melihat Rana menderita, dia memutuskan untuk melepas istrinya bersama dengan laki-laki yang dicintai. Rana kaget dengan keputusan Arwin. Rana tidak menyangka suaminya memiliki cinta yang sangat besar hingga mampu menampung cinta Rana pada laki-laki lain. Menyadari bahwa di hati suaminya terdapat cinta yang membebaskan. Sekali lagi Rana menemui gerbang bifurkasi. Rana yang memilih dengan penuh kesadaran untuk kembali berjalan di setapak kecilnya.

Adalah Ferre, orang yang tergoncang atas keputusan Rana. Ferre yang supersibuk tiba-tiba mengurung diri berhari-hari di rumah. Rana adalah makna hidupnya saat ini. Tanpa Rana untuk apa dia hidup? Ferre jatuh ke dasar jurang paling gelap dalam hidupnya untuk kedua kalinya. Pertama kali adalah saat Ferre masih kecil harus menyaksikan ibunya bunuh diri karena ayahnya selingkuh. Sejak saat itu ayahnya pergi entah ke mana. Ferre memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun sesaat sebelum dia menarik pelatuk pistol, Ferre mendengar bisikan-bisikan halus. Seperti sebuah keajaiban, Ferre takjub! Suara tadi memanggil namanya, suara tadi adalah suaranya sendiri yang telah menyadarkannya untuk bangkit menjadi Ferre yang kuat, bukan Ferre yang mengasihani diri sendiri.

Aksi Ferre yang mengurung diri telah membuat khawatir seorang tetangganya bernama Diva. Sebelumnya Ferre dan Diva hanya mengamati dari jauh satu sama lain. Kejadian ini telah membuat keduanya berbicara langsung dan kemudian menjalin pertemanan. Diva bukanlah gadis biasa. Dia adalah seorang model terkenal yang memiliki profesi sampingan sebagai pelacur kelas atas. Diva memiliki wawasan yang luas dan pemikiran merdeka. Dialah sang Supernova, sebuah avatar yang beroperasi di jaringan internet. Banyak orang bertanya permasalahan mereka pada avatar ini, tidak terkecuali Ferre, Rana dan Arwin. Supernova adalah sebuah sekolah bawah tanah yang mengolah apa saja: sejarah, mitos, sains untuk menunjukkan simpul-simpul benang perak dalam jaring laba-laba kehidupan.

Di suatu hari yang tenang, Rueben dan Dimas dikejutkan oleh sebuah surel dari Supernova! Mereka terheran-heran mendapati seorang avatar yang sangat mirip dengan salah satu tokoh rekaan mereka kini hadir di dunia nyata bahkan menulis surel untuk mereka. Bukankah semua ini seperti jaring laba-laba? jejaring yang aneh dan ajaib!

Baca juga: Supernova: Akar

 

Teori Fisika-Psikologi oleh Rueben-Dimas

Dari semua tokoh dan jalan cerita yang dihadirkan di Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Reuben dan Dimas yang paling menyita perhatian saya. Teori-teori yang mereka sampaikan tidak pernah mudah namun sangat menarik. Berikut akan saya kutipkan beberapa teori yang layak diketahui. 


1. Teori Turbulensi

Sejak kali pertama Reuben membaca ulasan Beniot Mandlebrot, seorang matematikawan Perancis yang dengan revolusioner membuka gerbang baru untuk memahami ilmu turbulensi, ia langsung merasakan secercah keindahan harmoni antara dua sisi cermin kehidupan, antara keteraturan dan ketidakteraturan, yang tertebak dan yang tidak tertebak. Order dan Chaos.

Sesempurna apapun sebuah tatanan, dapat dipastikan chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Begitu sistem mencapai titik kritisnya, iapun lepas dan mengobrak-abrik. Bahkan dalam keadaan yang tampaknya ekuilibrum atau seimbang, sesungguhnya chaos dan order hadir bersamaan, seperti kue lapis, yang diantaranya terdapat olesan selai sebagai perekat. Selain itu adalah zona kuantum; rimba infinit di mana segalanya relatif, kumpulan potensi dan probabilitas.

Dalam realitas, turbulensi ibarat sebuah "Dapur Agung" yang transenden. Tak terikat ruang dan waktu, berinteraksi dengan sinyal-sinyal nonlokal. Tempat diraciknya semua probabilitas, potensi, dan loncatan kuantum. Lalu, dari dapur tersebut tersajilah sup kehidupan yang nyata dan terukur, realitas yang bisa dicicip atau dihirup baunya. (halaman 4-5)


2. Konsep Waktu

Waktu terbagi menjadi 3, yaitu:
1. waktu yang mekanis
2. waktu yang relatif
3. waktu yang ilusif (bertolak pada permis bahwa sesungguhnya waktu tidak ada)


Otak adalah generator bipolar. Setiap input yang masuk terbagi ke dua jalur. Jalur pertama diterima oleh cortex, yang fungsinya menerjemahkan stimulus ke dalam siklus atraktor yang terbatas, atau disederhanakan sedemikian rupa sehingga jadi informasi yang terkategori, entah itu bau, rasa, dan sebagainya. Dengan kata lain, cortex mengorganisasi chaos. Sementara jalur kedua, input ditampung oleh semacam generator acak. Input disitu bersifat nonspesifik, tidak terstruktur. Atau saking kompleksnya, tidak ada informasi yang bisa diterjemahkan. Matti Bergstrom, ilmuwan Findlandia yang meneliti masalah ini, bilang bahwa generator acak itu bisa kita rasakan waktu kita benar-benar baru bangun dari tidur. Kosong dan nggak ingat apa-apa, sampai akhirnya cortex kembali membanjiri kita dengan informasi. Mengingatkan namamu siapa, sejarah hidupmu bagaimana, hartamu apa saja, pacarmu yang mana.

Waktu adalah konsep hasil terjemahannya cortex. Dan, ingat, otak kita melakukannya di bawah sadar, macam service cuma-cuma, karena kita nggak bakalan sanggup mengerti chaos yang sebenarnya.

Kekekalan adalah chaos. Dan, cortex menerjemahkannya menjadi masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.
(halaman 132-133)

konsep waktu


3. Tujuh Respons Otak

Pertama, respons hidup dan mati. Respons paling dasar. Bahkan, kutu rambut pun memilikinya. Lewat respons ini, hidup diproyeksikan sebagai rimba perjuangan, dan tujuanmu satu, bertahan hidup. Kedua, respons reaktif. Ini adalah upaya otak menciptakan identitas. Setelah melewati tahap pertama, maka muncul kebutuhan  yang lebih kompleks, yakni ke-aku-an, kepemilikan. Ini jugalah perkenalan pertama kita dengan konsep kekuasaan, aturan, dan hukum. Ketiga, respons relaksasi. Di tengah hiruk pikuk dunia materi, otak yang senantiasa aktif pun menginginkan kedamaian. Ia ingin tenang, dan ia ingin yakin bahwa dunia luar bukanlah sumber segalanya. Nah, ketika ia mulai berpaling ke dalam, muncul respons keempat, respons intuitif. Otak mencari informasi keluar dan juga ke dalam. Pengetahuan eksternal bersifat objektif, dan yang internal bersifat intuitif. Pada tahap ini ia mulai bersandar pada apa yang ada di 'dalam'.

Kelima, respons kreatif, manusia dimampukan untuk mencipta, mengeksplorasi fakta. Kemampuan ini datang dalam momen yang penuh keajaiban, yang sering kita sebut inspirasi. Kita berkaca kepada sang Pencipta, atau apapun istilahnya, dan melalui refleksinya kita mencicipi peran sebagai kreator. Keenam, respons visioner. Otak memiliki kemampuan kontak langsung dengan kesadaran murni yang sama sekali tidak ditemukan di dunia materi. Pada level inilah terjadi apa yang namanya mukjizat atau fenomena-fonomena magis.

Ketujuh, respons murni. Otak kita berawalkan dari satu sel yang tidak memiliki fungsi -fungsi  otak. Ia berawal dari satu cercah kehidupan. Tak terkategorikan. Sekalipun ada sistem saraf kompleks dan miliaran neuron yang bergantung pada otak, tapi otak sendiri tidak kehilangan akarnya pada kemurnian. Itulah sumber yang sesungguhnya. Sesuatu yang tidak perlu dipikir, tetapi ada.

Melalui ketujuh respons ini, manusia melihat dunia terbentang untuknya. Dan, apa yang ia lihat bergantung dari respons mana yang ia pergunakan. Otak adalah alat yang digunakan bagi kita untuk bermain dengan hidup. Permainannya sendiri? Terserah Anda.
(halaman 137-138)

Baca juga: Single Ville - Potret Kehidupan Para Lajang


Cinta yang Membebaskan

Salah satu hal menajubkan yang diangakat di novel ini adalah konsep 'cinta yang membebaskan". Konsep ini dipresentasikan oleh sosok Arwin yang mencintai istrinya, Rana. Cinta yang sampai di titik tertentu akan mengaburkan ego. Arwin memiliki hati yang cukup besar untuk menampung cinta istrinya pada pria lain. Dia punya hati yang cukup besar untuk mengikhlaskan Rana pergi. Tidak banyak manusia yang mencintai pasangannya sampai di level ini. 

Cinta yang membebaskan

 

Filosofi Eksistensi

Novel yang pernah diangkat ke layar lebar pada akhir tahun 2014 ini juga mengangkat isu filosofi eksistensi. Hal ini disampaikan melalui sebuah percakapan Reuben-Dimas:

Pernahkah kamu merasa kita semua terlahirkan ke dunia dengan tanda tanya agung? Tanda tanya itu bersembunyi sangat halus di setiap atom tubuh kita, membuat manusia terus bertanya, dihantui, sehingga seolah-olah misi hidupnya pun hanya untuk menjawab pertanyaan itu.

"Ya, lalu?" Dimas masih belum menemukan relevansinya.

"Tanda tanya yang sama menggantungi setiap atom di semesta ini, bukan eksklusif milik manusia saja. Hanya ekspresinya yang berbeda-beda. Perubahan cuaca, gempa bumi, kemunculan spesies baru di dunia flora dan fauna, sampai matahari yang terbit dan tenggelam, mereka semua digulirkan oleh satu tanda tanya yang sama. Ke mana pun kita berpaling, sejauh apa pun kita berlari kita berlari, kita akan selalu bertemu dengannya. Kamu tahu Dimas? Perasaanku mengatakan, tanda tanya itulah subtansi dasar yang mempersatukan kita semua. Seluruh semesta ini."

"Tapi, apa sebenarnya yang dipertanyakan?"
"Diri-Nya sendiri".
(halaman 67-68)

 

Filosofi Keutuhan

Dalam salah satu kuliah Supernova disampaikan:

Terlalu banyak manusia yang menghabiskan seumur hidupnya dalam perasaan hampa, seakan-akan ada sesuatu yang hilang dari dirinya dan tidak tahu apa. Lalu, mereka mencari, dan mencari. Keluar dari inti mereka sendiri, dan kemudian tersesat. Dengan bermacam-macam cara mereka, lalu memeras keringat dan otak untuk mendefinisifakan "sesuatu" yang hilang itu, yang kebanyakan mereka mengangap berada di "luar" sana.

Manusia memang seolah didesain untuk menunaikan satu misi, yakni mencari tahu asal-usul mereka, demi kembali merasakan keutuhan itu, yang niscaya akan membuat mereka berhenti merasa kecil dan ter-alien-asi di tengah megahnya jagad raya.

Lalu, bagaimana kalau ternyata apa yang kita kira selama ini sebagai ketidaklengkapan sebenarnya hanya rectoverso belaka? Yang artinya kita tidak perlu kemana-mana. Yang artinya lagi, untuk merasa utuh kita hanya perlu mengubah perspektif kita. Ketika kita berhasil mengambil jarak dari benih-benih pemecah belah dalam pikiran kita, rectoverso akan tampil. Yang artinya lagi (dan lagi), apa yang Anda ingin cari tidak berada di luar sana. Sebaliknya, sangat dekat, tidak berjarak. Temukan kenop Anda, dan putar. Lihat dengan cara yang lain.

Berhentilah merasa hampa. Berhentilah minta tolong untuk dilengkapi. Berhentilah berterik-teriak ke sesuatu di luar sana. Berhentilah bertingkah seperti ikan di dalam kolam yang malah mencari-cari air. Apa yang Anda butuhkan semuanya sudah tersedia.

Tidak seorang pun yang mampu melengkapi sesuatu yang sudah utuh.  Tinggal kemauan Anda untuk mampu MENYADARINYA, atau tidak.
(halaman 211-212)


Pasangan Favorit

Saya adalah tipe manusia yang lebih menyukai hal-hal yang berbau humoris (kocak) daripada hal-hal yang berbau romantis. Maka dari itu di novel ini saya lebih menyukai dialog-dialog antara Reuben-Dimas dan Ferre-Ale (sahabat Ferre).

 

Mencicipi Keping-Keping Supernova Kesatria Putri dan Bintang Jatuh

Debut pertama Supernova ini terdiri dari 33 Keping. Saya menyukai bagaimana Dewi Lestari menamai setiap kepingnya, kebanyakan puitis dan beberapa ada yang filosofis. Beberapa judul keping yang saya suka dari pemilihan diksi adalah: Cinta Tidak Butuh Tali, Dua Idiot Abad 21, Tsunami Hati, Di Celah Pikiran, Kiamat Personal, Opto, Ergo Sum (Aku memilih, maka Aku Ada), Individu Hanyalah Ilusi, serta Segalanya Ada Padamu.

 

Akhir Kata Untuk Supernova Kesatria Putri dan Bintang Jatuh

Jika ada satu kalimat yang bisa merepresentasikan novel ini adalah "ini bukan novel yang ringan". Ngomongnya sambil nyengir kuda. Dan sebaiknya ditambah satu kalimat lagi "tapi ini keren!". Ngomongnya sambil penuh penekanan.

Banyak hal baru yang saya dapatkan di sini dan tentu saja bukan hal yang umum. Walau saya sudah membaca novel ini dua kali, jujur saya belum menyerap seluruh isinya. Banyak hal yang belum sampai di penalaran saya. Satu hal yang menjengkelkan dari skenario obrolan Reuben-Dimas adalah ketika Dimas tidak memahami suatu hal maka Reuben akan menjelaskan dengan senang hati.

Akan tetapi, kadang Dimas masih belum sepenuhnya paham maka dia akan menanyakan bagian yang belum dipahaminya. Selanjutnya Reuben dengan sabar memberi penjelasan tambahan. Akhirnya Dimas mengerti malah seringnya dia yang membuat kesimpulan. Namun tidak tahukah mereka bahwa sesungguhnya ada yang belum selesai. Tidak tahukah mereka ada orang lain yang ikut menyimak diskusi mereka. Orang itu adalah saya yang masih mengerutkan kening karena tidak sepenuhnya paham.

Sayangnya, saya tidak punya akses untuk bertanya langsung pada Reuben. Saya merasa menjadi makhluk fiktif dihadapan mereka berdua.

Di luar hal tersebut, saya masih sangat tertarik dengan teori-teori yang disampaikan Reuben. Novel ini mendorong saya untuk mengetahui lebih jauh tentang "Mandelbrot set". Apakah teori ini sama menajubkannya dengan deret Fibonacci yang dipatuhi oleh banyak fenomena alam? Novel ini juga mendorong saya browsing melihat seperti apakah gambar gestalt? Dan masih banyak lagi.

contoh gambar gastalt(contoh gambar gastalt)

Ada dua hal yang saya rasa kurang dari novel ini. Pertama, saya merasa proses perkawinan antara sains dan cerita (fiksi) kurang mulus atau kurang alamiah. Dibutuhkan imajinasi lebih dari pembaca untuk membantu proses perkawinan sains-fiksi ini. Menurut saya salah satu novel yang sukses dalam perkawinan semacam ini adalah novel Sang Alkemis. Novel Sang Alkemis berhasil mengawinkan "filosofi pencapaian takdir" dan "perjalanan tokoh utama menuju Mesir" dengan mulus dan alamiah.

Kedua, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh ini melibatkan banyak tokoh sentral yang bercerita sehingga pendalaman masing-masing karakter terasa kurang. Diva memang diberi ruang gerak yang lebih banyak dibanding lima tokoh lainnya. Dia diberi kesempatan untuk memperlihatkan bagaimana dia bekerja dan berinteraksi dengan kliennya.Namun saya juga ingin lebih mengetahui bagaimana seorang eksekutif muda bernama Ferre menjalani rapat-rapat pentingnya. Apa nama perusahaannya? Bagaimana dia marah saat anak buahnya melakukan kesalahan? Bagaimana usahanya untuk mendapatkan tender dari klien? Juga saya ingin mengetahui keseharian Rana saat meliput. Saya menginginkan hal yang sama seperti ketika Dewi Lestari menceritakan seorang Bodhi, Elektra, Zarah, dan Alfa. 

Baca juga: The Wind Leading To Love

 


Tag :


Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Perempuan, Terlahir Sebagai Penghuni Neraka


Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri


Dear Nathan, The Annoying Boy


Cheese In The Trap - Jebakan Si Keju Untuk Sang Tikus


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Goyang Kaki Dan Goyang Lidah Di Lontong Kikil Bu Dahlia


Marathon Kafe Recommended Di Malang


Gapura Wringin Lawang, Mojokerto: Gerbang dari Masa Kini ke Masa Lalu


Literasi Agustus: GRI Regional Surabaya - Muda untuk Sastra


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Kisah Tentang Himawari


Kerinduan yang Patah