When the Star Falls - Yang Terjadi Ketika Bintang Terjatuh

24 Oct 2015    View : 1562    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Andry Setiawan
Diterbitkan oleh  Penerbit Haru
Disunting oleh  Yooki
Aksara diperiksa oleh  Yuli Yono
Desain sampul oleh  Bambang “Bambi” Gunawan
Ilustrasi isi oleh  @teguhra
Genre  fiksi, young adult, romance, drama, slice of life, sick lit
Jumlah halaman  204
Diterbitkan pada  Oktober 2015
Nomor ISBN  978-602-7742-58-1
Harga  IDR46.000,00
Koleksi  Perpustakaan Artebia


Tahu tidak, bintang itu cahaya masa lalu?
Bintang itu, adalah orang yang mati yang meninggalkan seseorang yang ia cintai di bumi.

Lynn, boleh kan aku mengingatkanmu sekali lagi tentang kita?
Tentang bagaimana kita bertemu.
Juga tentang bagaimana kita bertengkar dan berbaikan.
Lalu tentang ciuman pertama kita, dan juga tentang perjalanan kita selama ini.

Aku hanya berharap, besok kau tidak melupakannya lagi.
Karena itu, aku tulis semuanya di buku ini.
Agar saat kau lupa, kau bisa membukanya lagi dan membacanya.
Tentang kita.

Sampai salah satu dari kita menjadi bintang.

Sampai bintang itu jatuh dan menjemput salah satunya.

Bintang terjatuh karena ia mengejar orang yang dicintainya, yang sudah menyusul dirinya.

 

Entah takdir atau kebetulan, akhir-akhir ini saya membaca beberapa buku dengan judul bintang. Mulai dari This Star Won’t Go Out yang menjadi sumber inspirasi The Fault in Our Stars (yes, I read it againand watch the movie), sampai buku yang saat ini sedang saya review: When the Star Falls. And surprisingly they share the same story “tone”.

Bagaimana pengalaman saya dengan bintang yang ada di novel karya Andry Setiawan ini?

Begini pengalaman saya….

 

 

When the Star Falls et L'histoire

Kisah ini dibuka dengan monolog yang dengan segera memperkenalkan kita pada tokoh utama sekaligus narator cerita: Sam. Mantan bocah ingusan, secara harfiah (hal. 11), dengan alergi debu yang menyimpan cinta pertama pada Lynn, seorang gadis yang menjadi pusat pergerakan dunia Sam. Hal ini sangat kentara karena Sam langsung memperkenalkannya pada pembaca di halaman pertama. Berikut kenyataan bahwa si gadis mengidap penyakit yang mengancam ingatannya begitu dia dioperasi.

Dan benar saja, begitu sadarkan diri, Lynn tidak lagi mengenali Sam yang bertahun-tahun ada di sisinya—mengenal Lynn sebaik Sam mengenal dirinya sendiri. Tapi pemuda itu sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk ini. Dia dengan rutin mengunjungi Lynn di kamar inapnya, menceritakan setiap detail kenangan yang melibatkan mereka berdua, sambil sesekali meladeni rasa ingin tahu Lynn yang selevel bocah SD.

Namun, ini bukan berarti Sam tidak merasa sedih. Tanpa sepengetahuan Lynn, Sam bertanya pada Tuhan dan dirinya sendiri; mengapa Lynn memilih melupakannya dari sekumpulan ingatan yang dipunyai gadis itu? (hal. 26).

Apakah dia memang layak dan semestinya dilupakan?

Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu, juga yang tak mampu ditanyakan Sam pada Lynn, membuat pemuda itu terjebak dalam pemikiran serta keraguannya sendiri. Pada akhirnya, Sam pun terjebak pada rasa cemburunya sendiri ketika melihat Lynn dengan mudah bersikap akrab pada Leon dan Billy. Dua  orang yang dulu sering membuat masalah dengan Sam dan Lynn. Sialnya, salah seorang dari mereka memang telah lama menaruh hati pada Lynn.

Sanggupkah Sam menepati janjinya pada Lynn untuk selalu bersamanya? Mampukah pemuda itu membuat gadis itu jatuh cinta padanya sekali lagi? Dan… apa yang terjadi ketika bintang jatuh?

Baca juga: People Like Us - Sekelumit Kisah Sendu yang Manis

When the Star FallsWine and dine, or should I say coffee and dine with When the Star Falls Smile

 

 

When the Star Falls et Le Critique

When the Star Falls and Its Characters

1. Sam. Sammy. Samuel

Aku? Seperti yang kau lihat. Aku lebih tinggi sepuluh senti dibandingkan dengan dirimu. Aku tidak gemuk, juga tidak kurus. Rambutku hitam legam. Tidak ada yang spesial dari diriku,
bahkan aku mengenakan kacamata untuk membantu penglihatanku (hal. 9-10).

Dari kutipan deskripsi Sam mengenai dirinya sendiri, kita bisa melihat bahwa dia seorang pemuda pemalu dan kemungkinan besar memiliki kepercayaan diri yang setipis potongan daging sashimi. Ini dipertegas kalimat terakhirnya, mengenai keadaannya yang harus mengenakan kacamata dan penjelasan bahwa tidak ada yang istimewa dari dirinya. Padahal Sam memiliki tinggi badan yang tergolong lumayan tinggi.

Ketidaktegasan Sam dan ketidakpercayaan dirinya ini sempat membuat saya kesal dan gemas. Tapi di satu sisi, saya sudah lama menginginkan dinamika yang fresh semacam ini dari sebuah cerita—dengan tokoh utama pria yang lembut dan tokoh wanita yang cenderung lebih kuat. Tokoh pria yang nyaris serupa Sam adalah Naruse dalam novel Harlem Beat dan sosok Ale dalam novel Critical Eleven. Hanya bedanya, Ale lebih dewasa dan dia memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk membuatnya mengejar Anya.

Sementara Sam? Pemuda berusia 21 tahun ini cenderung berkutat dengan pemikirannya sendiri dan didominasi oleh sifat peragunya. Bisa jadi ini karena latar belakang Sam yang datang dari keluarga tidak utuh; ayahnya pergi meninggalkan Sam dan ibu Sam karena tak mampu membayar utangnya. Sementara itu, ibunya sibuk bekerja. Akhirnya, Sam pun terpaksa tumbuh mandiri. Atau paling nggak di bawah pengawasan Lynn, kalau gadis yang sebaya dengan Sam itu bisa dianggap sebagai orangtua pengganti bagi Sam.

Imbasnya, Sam menjadi sosok yang tidak bisa mengambil keputusan dan mudah diombang-ambingkan situasi dan orang di sekitarnya, seperti yang ditunjukkan cuplikan percakapan antara Sam dan Billy berikut:

“Tidakkah kau pikir Leon ada benarnya? Aku sudah bertindak egois karena meminta Lynn untuk mengingatku padahal dia tidak mau.”

“Kenapa kau menyimpulkan bahwa dia tidak mau mengingatmu?”

“Karena dia melupakan aku. Bukankah itu  jelas?” (hal. 83)

Cuplikan singkat percakapan Sam dan Billy memberikan gambaran singkat, dan menurut saya lumayan tepat, tentang sosok Sam seutuhnya. Pada satu sisi, sosoknya yang pendiam mencerminkan kesungguhan hatinya dan keseriusan dirinya. Maksud saya, menyukai sejak SD dan terus-menerus berada ada di sisi si gadis selama dia sakit—cuma stalker yang bisa menyaingi kesungguhan hati Sam.

2. Lynn

Kau berumur 21 tahun. Sekarang, seharusnya kau kuliah di tahun keempat, di universitas lokal, jurusan seni pahat. Kau bertubuh sedang, dengan tinggi 160 cm. Kau senang menggunakan kaus dan celana… (hal. 9).

Karena When the Star Falls diceritakan dari sudut pandang orang pertama, dalam hal ini Sam, kebanyakan penggambaran tokoh di novel ini bercampur dengan pendapat pribadi Sam. Tentu saja, demikian pula sewaktu Sam menggambarkan Lynn. Tapi yang mengejutkan adalah Sam tidak berlebihan sewaktu dia menjelaskan kembali sosok Lynn pada gadis itu sendiri.

Berbeda dengan sewaktu Sam menggambarkan dirinya, dengan gamblang dia menjelaskan pada Lynn tentang kehidupan gadis itu sebelum dia menjalani operasi. Mungkin, ini karena Sam sedang mengisi kembali memori Lynn sehingga dia nggak menambahkan apa pun. Mungkin juga karena Sam bukan tipe perayu. Tapi, pada saat dia membicarakan tentang penampilan Lynn, barulah pada saat itu Sam menambahkan pendapatnya sendiri: Aku suka kau yang pakai rok, karena kau hanya memakainya di saat yang istimewa (hal. 9).

Dari pendapat Sam, tertebak bahwa Lynn bukanlah tipe cewek feminin. Atau paling tidak Lynn tidak 100% feminin. Dan dari situ, saya menduga Sam tidak hanya senang melihat Lynn mengenakan rok karena membuat gadis itu terlihat feminin atau istimewa. Tapi juga karena dengan Lynn mengenakan pakaian feminin, Sam bisa menempatkan dirinya dengan pas sebagai laki-laki, ketimbang ketika gadis itu mengenakan celana dan kaos.

Bike RideSource here.

3. Billy

Billy sekarang tampak begitu mandiri dan begitu dewasa, begitu bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Sedangkan aku? Aku merasa masih kelas 6 SD, masih ingusan karena alergiku, masih tidak bisa berbuat apa-apa, masih membutuhkanmu untuk melindungiku (hal. 28).

Teman sekaligus musuh bebuyutan, itulah Billy di mata Sam. Teman semasa SD Sam dan Lynn ini sempat menjadi momok bagi Sam. Karakter Sam yang cengeng semasa kecil, ditambah keadaan fisik dan kondisi keluarganya,membuat pemuda itu menjadi sasaran empuk Billy. Tapi, seperti yang tercantum dalam kutipan, selalu ada Lynn yang siap melindungi Sam dari Billy.

Lewat kutipan yang sama, kita bisa menangkap bahwa meski lewat bertahun-tahun Sam belum bisa move on dari masa lalunya. Juga sosok Billy yang mendominasi kenangan buruknya. Pada saat yang bersamaan, Sam diam-diam juga menyuarakan kecemburuannya pada Billy yang mampu mengubah dirinya. Sementara Sam masih terjebak di titik kehidupan yang sama.

Tapi, bisa jadi juga Sam membenci Billy bukan karena perbuatannya. Ada kemungkinan Sam membenci Billy dan emoh berbicara atau berinteraksi dengannya, karena hanya mengingatkan Sam pada kenangan buruk dan sosoknya yang lemah dan justru membuat Lynn harus melindunginya.

*

Tentang karakter When the Star Falls, seperti yang dibagikan oleh Setiawan di author’s review pada laman Goodreads, membaca novel ini membuat saya lumayan gemes pada Sam. Terutama karena novel ketiga Setiawan ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yang secara otomatis berisi gema pemikiran Sam, meskipun pada saat itu dia sedang menceritakan tokoh-tokoh lain.

Misalnya saat Sam bertemu lagi dengan Billy di bengkel tempat temannya itu bekerja. Meski di awal Sam mendeskripsikan Billy dan perubahan yang ada pada pemuda itu, detik berikutnya, Sam kembali menceritakan dirinya dan betapa dia menyesali keadaannya yang sekarang.

Atau ketika Leon melempar komentar pedas pada Sam dan kebiasaan rutinnya mengunjungi Lynn dan mengisi kembali ingatan gadis itu atas kenangan-kenangan mereka. Leon menilai Sam keras kepala dan merepotkan Lynn yang berkutat dengan penyakit dan ingatannya….

Leon menghardikku. “Dasar bodoh. Tidak bisakah kau melihat suasana? Seharusnya kau tidak membebaninya lagi. Kau… selalu membuatnya menderita. Selalu, Sam. Tidakkah kau sadar? Tidak bisakah kau menyerah?”

Aku tidak bisa menjawabnya.

“Aku ingin kau tidak membebaninya lagi.” (hal. 75-76)

Semula reaksi Sam hanya sederhana: membolos dari acara yang diadakan teman-temannya. Tapi kemudian, Sam berakhir menghindari semua orang, khususnya Lynn. Dia tidak lagi mengunjungi Lynn dan bercerita tentang hubungan mereka. Semua karena dipicu komentar Leon. Sekilas sikap Sam ini boleh dibilang pengecut atau plintat-plintut—dia ingin Lynn kembali mencintainya, tapi nggak mau melakukan apa yang harus dilakukannya untuk mencapai tujuannya. Itu kalau kita melihat sosok Sam sekilas, Artebianz.

Tapi, kalau kita melihat lebih dekat dan mengamati apa yang terjadi pada Sam pada saat yang nyaris bersamaan di rumahnya, kita akan bisa menebak apa yang menyebabkan Sam menjadi sosok plintat-plintut macam itu. I really love how Setiawan combines and considers cause-effect point seriously.

This wholesomeness dan pertimbangan Setiawan yang masak, meski mengorbankan sosok-tenar-dan-cool-ala-karakter-utama-pada-umumnya, inilah yang membuat saya “menyiksa diri” dan betah “menyantap habis” When the Star Falls.

Baca juga: Happily Ever After - Mencari Makna Kebahagiaan Abadi

 

How When the Star Falls Tosses and Twists in My Mind

Membaca When the Star Falls menyadarkan saya bahwa novel ini ditulis tidak untuk menciptakan kejutan seperti novel-novel lain pada umumnya, meski Setiawan diam-diam berhasil melakukannya. Sebaliknya, menurut saya, novel ini bertujuan untuk menciptakan mood dan menceritakan tentang birunya kisah Sam-Lynn. And I got to say, Setiawan succeeds in doing so.

Dia berhasil menyeret kesadaran saya ke dalam dunia When the Star Falls rekaannya, sekaligus merasa dengan tingkah polah Sam. Tapi… kalau boleh jujur, sebenarnya ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya.

1. Ambiance cerita.

Meski cerita ini ber-setting di Ponorogo dan memiliki salah seorang tokoh yang mempunyai julukan “Pak Bikang”, tapi secara keseluruhan cerita cenderung terasa seperti novel luar negeri. Apalagi dengan pemilihan nama-nama tokoh yang terasa kurang Indonesia—kurang Ponorogoist, tepatnya—juga style bercerita dan diksi Setiawan yang terasa ala-ala novel terjemahan.

Poin ini memang tidak terlalu mengganggu proses membaca saya, tapi alih-alih mendapatkan esensi Indonesia atau Jawa Timur, saya justru terbayang salah satu kota di Amerika.

2. Mengenai twist yang kurang mengejutkan.

Tapi ini karena fokus Setiawan bukan pada efek mengejutkan atau membangun misteri. Menurut saya, dia pada membangun mood dan suasana ketika menuliskan cerita Sam-Lynn. Dalam melakukannya, Setiawan seakan menyamarkan beberapa bagian dalam cerita, menipu dan mem-blind-side pembaca, termasuk saya. Sehingga ketika sampai di satu titik dan menyadari “tipuan” Setiawan, saya pun terpana.

I REALLY LOVE this kind of surprise. Fresh!

3. Sam, Maria, dan “dia”.

Pada halaman 77-79, Sam dan ibunya, Maria, kembali membicarakan tentang Alex serta kemungkinan mereka menjadi keluarga. Sam yang sakit hati menolak mengenali dan memanggil Alex dengan “Ayah”, dia lebih memilih untuk memanggil Alex dengan “dia”. Nah, yang cukup mengganggu saya adalah ketika Setiawan memilih untuk menempatkan bagian…

“Di mana dia sekarang?” tanyaku.

Ibu mengerjap, kemudian mengerti siapa yang aku maksud dengan ‘dia’.

Di halaman 79, ketika Sam dan Maria membicarakan Alex untuk terakhir kalinya. Keputusan Setiawan ini mengurangi efek samping yang mestinya ditimbulkan oleh reaksi Maria terhadap cara anaknya memanggil suaminya.

4. Telepati.

Dengan cara bercerita narasi, seperti yang dipilih Setiawan untuk When the Star Falls, kadang ada permasalahan yang ditimbulkan. Misalnya saja semacam bagian ini pada halaman 149:

“Dua bocah itu keterlaluan.” Kau memonyongkan bibirmu. “Aku tahu kau berpikiran seperti itu gara-gara mereka berdua. Leon, juga Billy.”

Dari mana kau tahu?

“Billy yang memberitahuku. Kau sempat bicara dengannya, kan?” katamu.

Bagian ini membuat saya sempat kebingungan; apa Lynn punya kemampuan telepati? Atau apa ada mimik muka khusus yang ditampilkan Sam sehingga dia bisa membaca pikiran Sam? Seandainya ada penjelasan lebih atau deskripsi gestur Sam membuat Lynn bisa mengenali kebiasaan pemuda itu, yang dibagikan pada pembaca, rasanya bagian ini akan terasa lebih baik.

Selebihnya? Saya menemukan banyak hal yang menarik pada When the Star Falls seperti fokus Setiawan pada ceritanya yang nggak umum, bagaimana dia menempatkan detail-detail dalam cerita dengan apik sehingga mempermudah pembaca dalam membayangkan dunia When the Star Falls serta pernak-perniknya.

Thank you for the warm, blue, mellow reading Setiawan Smile

Baca juga: Dunia Cecilia - Dialog Surga Dan Bumi

 

 

Akhir Kata untuk When the Star Falls

Cinta membawa seribu sensasi ke dalam kehidupan mereka yang terjangkit virus ini. Salah satu di antaranya adalah rasa sakit dan takut. Tapi ketika kita bisa melihat jauh ke depan dan mengemas rasa sakit serta takut kita, kita akan menemukan bahwa cinta juga membawa keberanian dalam hidup. Rasa optimis.

Inilah yang saya tangkap dari hubungan Sam dan Lynn.  

Pada satu sisi, ada Sam yang selalu mengkhawatirkan dirinya dan keadaan orang yang dia cintai—sehingga membuat dia (sering) bersikap bodoh. Di sisi lain, ada Lynn yang dengan ketidakacuhannya yang mendorong semangat serta keberanian orang-orang sekitarnya. Terutama Sam.

Sedikit banyak Andry Setiawan mengingatkan saya pada cara bercerita Nicholas Spark, bedanya Setiawan memiliki zing khas cerita Asia yang membuatnya cenderung mellow.
Buat Artebianz yang pengin merasakan pengalaman membaca yang fresh juga in the mood for blue, When the Star Falls adalah bacaan yang pas. Apalagi kalau kita membacanya ditemani teh hangat sambil duduk di beranda. Nikmat!

 

 

Your book curator,
N

 

Header's picture source here.


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Traveling: Mimpi, Destinasi, Tujuan, Makna


Figur: Lia Indra Andriana - Dari Seorang Calon Dokter Gigi Menjadi Salah Satu Penerbit Berpengaruh


Love Dust (Season 1 and 2) - Pilihan Itu Bukanlah Sesuatu yang Mudah


Crazy Little Thing Called Love: Dari Itik Si Buruk Rupa Menjelma Menjadi Snow White yang Sesungguhnya


Reason - Eva Celia: Sebuah Penemuan Jati Diri


Rujak Cingur Ala Bu Dah


Taman Bungkul - Oase dan Kebanggaan Warga Surabaya


Pantai Pelang


Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Mahfud Ikhwan, dan Kambing


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Twist and Shout (Part 1)


Merah Balada