Tango - Surealisme Hubungan Wanita-Pria dan Diri

15 Sep 2014    View : 2408    By : Niratisaya


Ditulis oleh   Goo Hye Sun
Diterbitkan oleh  Ufuk Fiction
Diterbitkan pada  Juli 2012
Genre  fiksi, adult, romance, drama, slice of life
Jumlah halaman   330
Nomor ISBN   978-602-1834-98-5
Harga  IDR54.900,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi
Rating   3/5


Nama lelaki itu Kang Jong Woon.
Selama dua tahun ini, artinya bagiku adalah pacar, teman, dan keluarga. Dia adalah lelaki muda dan tampan. Hari ini dia singgah di rumahku lagi. Ia terus memegang-megang barang-barang di tempatku, seakan sedang memastikan keberadaannya.

Jong Woon maju dua atau tiga langkah melewati depan kulkas yang berwarna putih sambil berteriak, “Step!” Jong Woon terus berjalan berputar-putar tanpa henti seperti sedang menari, tingkahnya itu seakan mengisyaratkan bahwa ia sedang meminta diperhatikan. Lalu, ia melompat ke tempatnya semula seperti seorang anak kecil. Akhirnya, aku bertanya kepadanya lebih dulu karena dia terus berputar.

“Sedang apa?”
“Aku sedang menarikan tarian yang sangat romantis,” jawab Jong Woon.
“Tarian apa itu?”
“Tango…”

 

 

Impresi saya terhadap Tango

Saya tertarik pada novel Tango saat membaca wawancara Goo Hye Sun di sebuah situs. Ketika itu yang saya ketahui tentang novel ini hanya sekilas mengenai isinya. Di detik seusai saya rampung membaca profil singkat Goo Hye Sun dan proyek novelnya, terbayang dalam benak; betapa absurd dan indahnya novel ini. Pikiran yang terlintas di kepala saya saat itu adalah saya harus memilikinya!

Sayangnya, saya tidak terlalu bisa berbahasa Korea—terlebih-lebih untuk membaca aksaranya, hangeul. Dulu saya sempat belajar, tapi sekarang sudah terkikis.... Karena itu, satu-satunya yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah berdoa, Artebianz. Semoga ada penerbit Indonesia yang melirik novel milik pemeran Geum Jan Di dalam drama Korea Boys before Flowers ini.

Alhamdulillah beberapa tahun setelahnya, Penerbit Ufuk Fiction di Indonesia mengabulkan keinginan saya. Tango pun diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan saya mendapatkan kesempatan untuk menikmati novel karya Goo ini.

Ada sedikit cerita di balik pencarian saya atas novel perdana Goo ini. Saya sempat dibuat kelimpungan mencari Tango. Saya sampai harus menyambangi beberapa toko buku di dekat rumah saya berkali-kali, hanya untuk pulang dengan tangan kosong. Ketika saya mengunjungi sebuah mal di kawasan Surabaya Barat, dengan harapan setengah putus saya mengetikkan judul novel ini di komputer milik toko buku terbesar di Indonesia.

Voila! Saya pun menemukan Tango, hanya untuk mendapati kenyataan novel karya wanita multitalenta tersebut telah dikembalikan ke penerbit Cry

Saya pun mengeluh di salah satu media sosial, mengomel tentang betapa sulit dan sia-sianya pencarian saya atas Tango. Syukurlah, keluhan saya langsung ditanggapi oleh Ufuk Fiction, yang menyarankan agar saya memesan lewat Ufuk Direct Selling. Beberapa hari kemudian saya sudah bisa menikmati Tango.

Yippeeee! Yell

Baca juga: Sang Alkemis: Perjalanan Pencarian Diri

Kenapa sebenarnya Goo memberi judul novel ini Tango?

Apakah ada kaitannya dengan cerita?

Lalu apakah buku ini berhasil membuat saya ikut menarikan tango?

Inilah perjalanan saya menikmati “tarian” Tango milik Goo.

Tarian Tango
(diambil dari fredastaireprinceton.com)

Tango adalah salah satu jenis tarian yang—menurut dua orang tokoh lelaki dalam cerita—menuntut para penarinya untuk memiliki keserasian gerak, kepercayaan pada partner, serta kemampuan melepas diri.

Tiga hal yang jelas-jelas ditolak mati-matian oleh tokoh utama, yang juga berperan sebagai narator, Yun. Ia tak menyukai ide melepaskan diri yang diungkapkan oleh Jong Woon, kekasihnya. Walhasil, sejak itu Jong Woon sering menarikan Tango, yang mestinya ditarikan berpasangan, sendirian.

Jong Woon maju dua atau tiga langkah melewari depan kulkas yang berwarna putih sambil berteriak, “Step!” Dia terus berjalan berputar-putar tanpa henti seperti sedang menari, tingkahnya itu seakan mengisyaratkan bahwa dirinya sedang meminta diperhatikan (hal 13).

Sebuah tarian yang semestinya ditarikan berpasangan, justru dilakukan oleh seorang saja. Bukan karena ia tak memiliki kekasih, melainkan karena pasangannya menolak gagasan bahwa ia harus bergerak selaras dan menyerahkan kepercayaan pada kekasihnya. Terdengar begitu menyedihkan bukan, Artebianz?

Ironisnya, pendapat ini datang tokoh utama yang adalah seorang wanita. Rupanya sikap dan sifat dingin dalam sebuah hubungan percintaan bukan hanya dominasi lelaki. Wanita juga memiliki kuasa yang sama.

Meski Yun terang-terangan menyebut Jong Woon sebagai kekasihnya, namun saya merasakan kurangnya keterikatan emosi Yun dengan Jong Woon. Ketimbang menyatakan Yun tak mengacuhkan Jong Woon, atau sebaliknya, saya lebih merasa keduanya memaksakan hubungan mereka untuk terus ada. Sama seperti kebiasaan Jong Woon yang memaksa Yun menikmati kopi espresso, rokok, serta alkohol yang begitu disukainya. Sementara Yun memaksa Jong Woon untuk memahami dirinya serta keinginannya untuk menolak segala kenyataan tak menyenangkan dalam hidup, yang kemudian saya sadari sebagai bentuk idealisme Yun.

Refleksi
(diambil dari atlantic.ctvnews.ca)

Keduanya seakan sadar, mereka tak bisa lagi melanjutkan hubungan. Akan tetapi tetap memaksakan diri, bukan demi cinta, melainkan demi meneruskan kebiasaan lama.

Hal tersebut tecermin dalam tanggapan Yun atas sikap Jong Woon yang disadarinya sebagai bentuk mencari perhatian; “Sedang apa?” Alih-alih memberikan tanggapan sesuai keinginan Jong Woon, Yun memilih untuk tak merespon dan membiarkan Jong Woon mengatakan sendiri keinginannya. Satu hal yang tak mungkin dilakukan oleh lelaki itu. Alhasil, yang terjadi adalah tarian tango yang dilakukan oleh Jong Woon seorang dan Yun yang hanya menyaksikan dari tepian panggung.

Namun, walau Yun tak mampu melepaskan idealismenya, ia juga begitu ingin diterima – atau paling tidak memiliki tempat dalam masyarakat. Yun melakukan hal ini dengan mati-matian mempertahankan Jong Woon. Yang bagi Yun simbol dari keterikatannya dengan masyarakat di sekitarnya. Saya menyimpulkan demikian sebab sehari-hari Yun lebih sering mengunci diri sendiri di dalam apartemennya.

Hingga suatu hari Yun dan Jong Woon memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Atau lebih tepatnya, keadaanlah yang mendorong mereka untuk mengambil jalan ini.

Untuk beberapa lama Yun terombang-ambing dalam hidupnya, setelah berpisah dengan Jong Woon. Dalam kebimbangannya, Yun kemudian bertemu dengan dua orang pria berbeda kepribadian dan latar belakang. Park Si Ho yang masih muda, begitu bebas, ceria, dan terbuka. Serta Min Young yang lebih tua dibanding Yun, mapan, dan mencintai Yun. Atau lebih tepatnya masa muda Yun.

Kembali di sini saya merasakan gambaran dua kehidupan berbeda dalam diri Yun:

  1. Keinginan untuk mempertahankan idealismenya atas kehidupan sempurna dalam bayangan Yun seperti masa mudanya, dan
  2. Keinginannya untuk bergabung dengan lingkungan sosial. Pilihan Yun terlihat jelas dari pria yang dipilihnya.

Si Ho-kah? Atau Min Young? Silakan Artebianz temukan jawabannya dalam novel karya Goo Hye Sun ini Smile

Baca juga: Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

 

 

Bagian per Bagian Tango

Pernikahan. Menjalin Hubungan. Mempertahankan idealisme atau mengikuti selera masyarakat. Hal inilah yang umumnya menjadi pertimbangan seorang wanita dan menjadi bidikan Goo dalam novel debutnya.

Man-Woman Apart
(diambil dari herworldplus.com)

Meski manusia, khususnya dalam hal ini wanita, terkesan memiliki kebebasan dalam menjalani kehidupannya dan memutuskan setiap hal dalam hidupnya—akan tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Masyarakat dan norma peraturannya selalu ikut campur; baik dalam wujud orangtua maupun teman yang menerima serta menganggap dogma tersebut sebagai bagian dari kehidupannya. Bagian dari pendapatnya. Sementara faktanya tidaklah demikian.

Mari kita ambil contoh dari karakter Yun. Sama seperti kebanyakan manusia, ia memiliki keinginan untuk hidup bebas sesuai dengan impiannya—di sisi lain, ia juga dibebani oleh pengharapan masyarakat untuk hidup sesuai dengan norma umum. Bahwa sebagai wanita ia diminta untuk mengikuti langkah lelaki (Jong Woon) sebagai pemimpinnya. Sedangkan sebagai makhluk individu, Yun memiliki keinginan pribadi. Sebuah keinginan yang terwakili oleh sosok Si Ho.

Pergumulan antara keinginan pribadi Yun dan norma masyarakat inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor menarik dalam novel ini. Namun saya tidak bisa menampik fakta bahwa Tango adalah novel terjemahan. Sebuah cerita yang tak hanya berisi kisah kehidupan manusia, tetapi juga kebudayaan negara yang sama sekali berbeda dengan norma dan kebudayaan saya—serta Anda, Artebianz. Dan membaca hasil terjemahan novel ini membuat saya merasa aneh.

Mungkin karena pilihan diksi sebagai padanan kata yang terasa kaku. Atau mungkin, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, perbedaan kebudayaan, yang kemudian membuat saya beberapa kali mengerutkan dahi saat membaca novel ini. Namun kerutan di dahi saya mulai berkurang pada saat kemunculan sosok Si Ho Smile

Baca juga: Supernova 1: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

 

 

Tentang Karakter dalam Tango

Entah Goo dengan sengaja ingin menampilkan suasana sendu dalam Tango, para tokoh dalam novel ini pun kebanyakan ditampilkan sebagai sosok sendu. Atau bila tidak begitu perasa. Hanya beberapa tokoh saja yang ditampilkan ceria. Sayangnya, Yun tidak termasuk dalam golongan itu.

Goo menampilkan sosok Yun sebagai wanita yang cenderung dingin. Namun bukan karena itu memang sifatnya, tetapi ia seakan tak mengerti apa yang sebenarnya ia inginkan. Atau lebih tepatnya bingung karena keinginan pribadinya dan keinginan ideal masyarakat saling berkonflik.

 

 

Akhir Kata untuk Tango

Membaca buku ini, membuat saya selalu terbayang satu potongan yang selalu mengembalikan saya pada satu rasa ngilu dan biru. Sebuah kejadian yang tak terduga dalam cerita ini. Bagian menarik buku ini adalah bagian-bagiannya yang "mentah" sekaligus segar yang dihadirkan oleh Goo.

Meski beberapa kali saya dibuat sedikit jengah dengan gaya bercerita Goo, yang lebih sering ditampilkan satu dimensi. Atau ini mungkin masalah penerjemahan dan pemilihan padanan kata? Saya tidak tahu pasti.

Sedangkan untuk jawaban untuk pertanyaan terakhir di atas adalah tidak. Bukan saya yang bertango, tapi perasaan saya Smile

Baca juga: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

 

 

 

Your book curator,
Niratisaya

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?


Figur: Lia Indra Andriana - Dari Seorang Calon Dokter Gigi Menjadi Salah Satu Penerbit Berpengaruh


To All The Boys I've Loved Before - Siapa Bilang Hati Manusia Hanya Bisa Untuk Satu Orang?


Hormones The Series Season 1: Realita Remaja Saat Ini (Part 1)


5 Lagu Indonesia Tahun 90-an Mengesankan Versi Artebia


My Pancake Restoran Surabaya  Town Square


Milk Kingdom - Humble Place to Cast Away Your Boredom


Melihat Sisi Lampau Surabaya Di Museum Surabaya


Diskusi Bersama Alvi Syahrin dan Ika Vihara: Wattpad dan Sastra Digital


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)


Jalan Setail di Malam Ini