Wisata Religi: Makam Maulana Sayyid Ismail Janti, Jogoroto, Jombang

02 Aug 2015    View : 3921    By : Niratisaya


Hari itu kurang lebih pukul 2 dini hari di salah satu malam ganjil di bulan Ramadhan. Alih-alih bergabung dengan rombongan yang ber-i'tikaf (menetap, mengurung diri, atau terhalangi) di salah satu masjid besar di Surabaya, saya bergabung dengan rombongan yang “berwisata” ke beberapa tempat religius di kota tetangga. Salah satu di antaranya adalah Makam Maulana Sayyid Isma’il di Desa Janti, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.

Perjalanan sedikit terhambat karena jalanan dipenuhi kendaraan-kendaraan bermotor, terutama sepeda motor, yang dikendarai mereka yang ingin pulang ke kampung halaman dan merayakan lebaran di sana. Beruntung, karena belum hari H, perjalanan saya dan keluarga tidak mengalami banyak hambatan. Walau toh perjalanan yang semestinya bisa ditempuh 1,5 jam jadi 2,5 jam. Saya dan keluarga akhirnya tiba tujuan.

Berbeda dengan wisata saya ke Gapura Wringin Lawang yang berada di kota yang sama, atau ketika mengunjungi Dieng, Wonosobo, tidak ada pemandangan indah yang menyesakkan dada. Sebaliknya, saya malah disuguhi makam-makam dan mendengar orang-orang berdzikir, serta ketenangan yang membuat jiwa saya tenteram. Di sinilah letak keindahan tempat-tempat wisata yang saya kunjungi. Khususnya Makam Sayyid Maulana Isma’il yang terletak di desa Janti ini.

Baca juga: Dieng: Sebentuk Nirwana di Indonesia - Edisi Setyaki dan Pesona Alam Dieng

Makam Sayyid Maulana Isma'ilMakam Sayyid Maulana Isma'il

 

Apaan ini?! Wisata kok ke makam!

Mungkin bagi beberapa Artebianz berwisata ke makam terdengar aneh. Tapi inilah salah satu kebiasaan keluarga saya. Saya sendiri mulai dibiasakan ketika saya melanjutkan pendidikan ke bangku SMA. Dan ketika saya memprotes, orangtua saya menjawab hal ini mereka lakukan agar ketika saya dumeng (pusing dengan masalah dan kebingungan mencari penyelesaiannya), saya tidak langsung mengikuti nafsu dan emosi dengan pergi ke mal—atau ke luar kota—dan menghabiskan uang dengan sia-sia. Sekaligus agar saya selalu mengingat Yang Mahakuasa, dan bahwa suatu kali waktu saya di dunia ini akan habis.

Jadilah, saya terbentuk untuk memiliki satu kebiasaan untuk mengunjungi para tetua yang telah mendahului saya tersebut. Atau ke tempat-tempat yang menyimpan kisah-kisah yang sama menariknya seperti sebuah buku.

Baca juga: Candi Minak Jinggo - Candi Kecil nan Istimewa di Kompleks Troloyo

Bagian luar Makam Sayyid Maulana Isma'il

 

Apa sih keistimewaan Makam Sayyid Maulana Isma’il?

Berbeda dengan Kompleks Makam Troloyo, atau tempat wisata lainnya di sekitar Jombang dan Mojokerto yang telah direnovasi habis-habisan, Makam Sayyid Maulana Isma’il hanya berubah di beberapa bagian. Hal ini mungkin karena Makam Sayyid Maulana Isma’il dikelilingi makam-makam penduduk. Mungkin juga karena cerita di balik penemuan makam ini, yang terbilang ajaib dan mistis, membuat penduduk sekitar tidak berani melakukan renovasi major—seperti yang terjadi pada Kompleks Makam Troloyo. Akibatnya, aura tenang dan kental dengan hawa spiritual masih melekat pada makam salah satu tokoh agama di daerah Jombang ini.

Seperti apa cerita mistis di balik penemuan Makam Sayyid Maulana Isma’il yang juga dikenal dengan sebutan Mbah Janti ini?

Penemuan makam Sayyid Maulana Isma'il berawal dari sebuah mimpi yang dialami oleh seorang penduduk sekitar yang sowan (berkunjung) ke makam Sayyid Sulaiman di Mojoagung. Sebut saja Pak X. Seorang penduduk bercerita pada saya bahwa Pak X beberapa kali sowan ke makam Sayyid Sulaiman, tapi berkali-kali itu pula Pak X ditegur dan disuruh untuk lebih mengutamakan sosok tetua yang makamnya berada tak jauh dari rumah Pak X.

Makam Sayyid Maulana Isma'ilMakam Sayyid Maulana Isma'il

Karena berkali-kali mendapat mimpi yang sama, Pak X pun mulai menelusuri desanya. Kebetulan, kampungnya hendak melakukan kegiatan kerja bakti membersihkan makam. Di situlah Pak X menemukan makam Sayyid Maulana Isma'il. Rupa-rupanya tak banyak yang berani berkunjung ke makam Mbah Janti ini, mereka takut dengan keangkeran yang dipamerkan kompleks makam.

Kegiatan kerja bakti yang dilakukan oleh para penduduk pun berhasil mengurangi kadar keangkeran makam Sayyid Maulana Isma'il. Namun, ini baru awal dari segalanya. Sebab, salah seorang penduduk tanpa sengaja menemukan sumber air yang berada di dekat makam. Anehnya, sumber air ini tidak bisa digali dengan cangkul atau alat lain. Tiap kali para penduduk mencoba melakukannya, tiap kali itu pula tanah di sekitar sumber air melorot dan menimbun mata air.

Seorang penduduk berinisiatif untuk menggali dengan tangan. Ajaibnya, dia berhasil. Perlahan-lahan, kolam pun terbentuk.

Mulanya, mereka yang ingin minum air dari sumber yang nggak pernah kering walau di musim kemarau ini harus menimba menggunakan kaki. Tapi lama-kelamaan penduduk memasang pompa air tenaga listrik.

 

Air—Sumber Kehidupan, Sumber Ilmu

Tidak jauh berbeda dengan Makam Sunan Ampel dan Kompleks Makam Troloyo, Makam Sayyid Maulana Isma’il memiliki sumber air. Para pengunjung makam bisa membuka dan mengambil langsung lewat tempayan yang sudah disediakan oleh pengurus. Sejatinya, saya lebih merasa nyaman dengan sistem lama tanpa mendiamkannya di satu tempat. Tapi, mungkin inilah salah satu kompensasi dari pemugaran minor Makam Sayyid Maulana Ismail.

Konon, air dari Makam Sayyid Maulana Ismail bisa menyembuhkan penyakit dan membuat pemakainya awet muda. Namun, tentu saja, hal ini kembali ke si subjek sendiri.

Perubahan lain yang kentara, dan saya kagumi adalah dibuatnya gapura di salah satu pintu makam yang menghadap pos kamling dengan tulisan sebagai berikut di masing-masing pilar.

Petuah Mbah Janti
Petuah Mbah Janti

Tulisan-tulisan di makam tersebut mengisyaratkan bahwa setiap mereka yang mengunjungi Makam Sayyid Maulana Isma’il diharapkan menjadi orang yang mempunyai adat agar bisa ditata (diatur, dengan kata lain bisa beradaptasi dengan kehidupan dan lingkungan). Sebab, jika kita bisa ditata, kita akan memiliki tujuan yang pasti dalam hidup ini. Dan ketika kita memiliki tujuan pasti, kita akan memiliki aturan dan bisa memperkirakan langkah serta jalanmu dalam hidup. Kira-kira inilah makna tulisan “Adat Toto Titi Dugo Kiro Kiro”.

Petuah Mbah Janti 2
Petuah Mbah Janti 2

Sementara itu, untuk tulisan “Sabar Narimo Temen Nurot (Nurut) Bener”, kurang lebih berarti bahwa agar bisa menjadi manusia sak temene (sejati, sesuai dengan tugasnya: memberi berkah bagi seluruh alam) kita harus memiliki sifat sabar, menerima (keadaan dan apa yang kita miliki), sungguh-sungguh dalam menjalani hidup, dan patuh pada tata aturan serta adat yang ada.

Baca juga: Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan

 

Untuk sampai ke Makam Sayyid Maulana Ismai'l, Artebianz bisa melihat peta berikut:

Peta Makam Sayyid Maulana Isma'il

 

 

Di Balik Keseraman Sebuah Tempat….

Memang, pada awalnya mungkin terasa menyeramkan, dan mungkin lebih menenteramkan jika saya menghabiskan waktu dengan ber-i’tikaf di masjid, tapi pada kenyataannya segala ketakutan dan keanehan yang mungkin dirasakan oleh orang lain tidak saya rasakan. Sebaliknya, dengan mengetahui makna tulisan di gapura Makam Sayyid Maulana Isma’il, saya merasa Ramadhan—dan Idul Fitri tahun ini (2015)—saya mendapatkan bekal tentang hidup dan bagaimana menjalani kehidupan.

Saya nggak akan meminta Artebianz untuk meniru saya, berwisata ke makam seorang tokoh saat kamu nggak menginginkannya. Yang ingin saya katakan adalah selalu buka mata dan perhatianmu lebar-lebar terhadap sekelilingmu, coba baca dan telaah setiap hal yang ada di sekitarmu, siapa tahu ada pelajaran tersembunyi dan hikmah yang kamu petik. Selain menghabiskan waktu bersenang-senang dan melupakan masalah, hanya untuk pulang dan kembali berhadapan dengan masalah tersebut.

 

 

Cheers!




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Wisata Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Om Telolet Om, Memanfaatkan Isu Viral Untuk Kemaslahatan Umum


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Double Spin Round - Menikmati Putaran Kehidupan


Seven Something: Saat Cinta Berubah Setiap 7 Tahun


Menuju Senja - Payung Teduh


Mirota dan Segala yang Berbau Jawa


Lembah Rolak


Leiden, Kota Sarat Sejarah Dalam Balutan Puisi Indah


The Backstage Surabaya (Bagian 2) : Mindset Seorang Founder StartUp


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Twist and Shout (Part 2)


Menjelang Telah Tiba Datang