Pengelanaan Sempurna

13 Nov 2014    View : 2741    By : Nadia Sabila


Setahuku, aku terlahir dengan nama Ayu Kelana. Hidupku sempurna. Hmm, tidak, sangat sempurna malah. Rumput tetangga lebih hijau, sawang sinawang, atau segala macam peribahasa yang menggambarkan bahwa hidup orang lain nampak lebih bahagia daripada hidup diri sendiri, hampir tak pernah terlintas dalam benakku. Entah mereka sadar atau tidak, akulah sang rumput terhijau itu. Akulah bayang yang mereka sawang selama ini. Akulah impian dan pusat perhatian.

Hei! Jangan buru-buru mengataiku pongah! Aku ini bicara realita. Betapa tidak, aku punya semua yang mereka idamkan. Akulah wanita idaman para wanita, dan pria tentunya. Perlu kujabarkan secara terperinci? Baiklah, simak baik-baik.

Pertama, cantik tentunya. Kau tahu istri pangeran Inggris? Ya, Duchess of Cambridge, seperti itulah rambut dan perawakanku. Tapi parasku, jauh berbeda dengan sang putri itu meskipun kami berdua terbilang cantik. Mata bulat lebar, bulu mata yang lentik, kulit wajah yang bersih dan halus dengan rona kemerahan tanpa polesan ini murni milikku. Hidungku mancung melekuk sempurna beberapa senti di atas bibir mungilku yang kemerahan. Bibir yang kata para pria itu sangat menggemaskan untuk dilumat dalam sekali lahap. Sebaris gigi mungil nan putih dan rata menghiasi tawaku. Dua lesung pipit di sudut bawah bibir membuat senyumku menjadi senyuman maut. Kulitku bersih mulus kuning langsat, warna kulit idaman.  

Andai aku mau, aku tak perlu membeli kosmetik-kosmetik untuk bersolek. Begini saja aku sudah dipanggil jegeg oleh orang-orang Bali, yang artinya cantik. Dan turis-turis itu, mereka memanggilku dengan nama sependengar mereka; Lana, Alana, atau Elena. The Gorgeous Lana, sebut mereka saat menanyakan diriku pada resepsionis di resor. Bahkan, seorang turis Jepang yang sering minta kutemani, tak pernah mau belajar melafalkan namaku dengan benar.

“Siapa namamu, Cantik?” tanya turis itu sambil menenggak sakenya saat pertama kali bertemu denganku.

“Ayu Kelana.”

“Ayumi Kerana?”

“Ayu. Ayu Kelana.”

“Baiklah, Kawaii,” tutupnya tanpa mau mengulangi namaku lagi.

Dan seterusnya ia memanggilku dengan nama ciptaannya sendiri itu. Saking cantiknya diriku? Benar kan?

Kedua, aku kaya. Kecantikan mautku ini begitu menjual. Aku sangat menyadari ada harga yang tak ternilai dibaliknya. Tak mungkin aku mau memberikannya secara cuma-cuma kepada seorang pria. Aku tak bodoh seperti wanita-wanita di luar sana yang mau saja diperbudak oleh cinta. Mereka berpacaran dan berkasih-kasihan dengan pria-pria culas itu. Culas? Iya semua pria bagiku sama saja. Mereka hanya suka bersenang-senang dengan tubuh wanita.

 Ya Tuhan! Aku heran, begitu mudah wanita-wanita diperdaya cinta. Mereka memberikan segalanya untuk pria yang mereka cintai. Tubuh mereka, jiwa mereka, waktu mereka, hanya karena cinta. Ujung-ujungnya pria culas itu pergi melenggang begitu saja setelah puas merampok segalanya dari para wanita itu. Merampok secara gratis pula.

Aku benar-benar tak habis pikir. Apa yang membuat wanita-wanita itu mau berpacaran. Aku masih bisa menerima wanita yang memutuskan untuk menikah, karena dengan begitu, para pria tak bisa seenaknya. Mereka harus membayar kenikmatan yang akan mereka dapatkan dengan menanggung biaya hidup istri mereka. Tapi pacaran? Pah! Itulah kegiatan terbodoh yang tak bisa membuat para wanita itu sekaya aku. Kau lihat sendiri kan? Apa yang aku tak punya sekarang? Uang, rumah, hotel, restoran, mobil mewah, perhiasan emas, pakaian, perawatan, dan semua harta dunia aku telah merasakannya. Sekedar belanja atau melanglang dunia sudah pernah kurasa. Tas-tas mahal, parfum-parfum harum, sepatu-sepatu dambaan, sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Aku bahkan sudah terbiasa untuk memanjakan diriku dengan fasilitas-fasilitas nomor satu. Jika wanita-wanita yang BARU SAJA kaya atau INGIN NAMPAK kaya, akan senang memamerkan barang-barang mahal mereka dengan sengaja. Sementara aku, aku sudah tak terpikir untuk berpamer-pamer ria seperti itu hanya demi membuat orang lain terkesan. Masa-masa seperti itu sudah lewat bagiku.

gadis_bali(ilustrasi: google)

Menurutku, menunjukkan-nunjukkan sesuatu dengan sengaja agar dipuja hanyalah hal yang sia-sia. Langit saja tak pernah mengumbar berita kalau dirinya tinggi. Setiap orang sudah tahu kalau langit itu tinggi. Filosofi itulah yang kini kupakai, dan sepertinya memang bekerja. Begitu mereka dengar nama “Ayu Kelana”, tak ada yang perlu diperdebatkan. Semua telah sepakat, Ayu Kelana adalah lambang kesempurnaan dunia. Dari mana kekayaan ini kudapat? Tentu saja berkat kecerdasanku.

Baiklah, ketiga, aku cerdas. Jika aku tak cerdas, aku tak bisa kaya. Kuberi tahu kau rahasianya ya, aku tak pernah menjual cintaku secara cuma-cuma pada pria khususnya. Seperti yang kukatakan tadi, pria hanyalah sosok pencari kesenangan. Mereka yang sudah atau sedang tak bahagia dengan pasangannya, tentu akan keluar dan mencari penghiburan. Diriku layaknya malam minggu bagi mereka. Mereka selalu datang padaku dengan senyum dan rayuan surga, sementara pada istri atau pacar mereka sendiri? Kurasa hanya pada masa-masa awal pernikahan saja para wanita malang itu mendapat guyuran cinta.

Kesenangan yang mereka dapat dariku harus dibayar mahal. Mereka rela menguras isi dompetnya untuk menghilangkan penat mereka pada dunia denganku. Tak jarang pula yang harus berurusan dengan penjara karena mereka nekat menggadaikan uang negara demi aku. Aku tak pernah memaksa mereka melakukannya untukku. Mereka sendirilah yang mendatangiku dan mengajakku. Aku sudah paham tingkah laku dan karakter para lelaki itu. Pria Asia cenderung agresif, pria Arab senang dimanja, pria bule senang dengan wanita yang agresif, sementara pria yang sangat lembut tapi sangat manja adalah pria yang putus asa karena tak punya pelampiasan untuk menyalurkan hasrat itu. Hahaha!

Tak jarang, mereka mengajakku bersenang-senang di lain negara. Aku menganggapnya sebagai sebuah pengelanaan. Berkelana dari satu pria ke pria lain, dari satu ruang ke ruang lain, bahkan dari satu negara ke negara lain. Ah! Aku baru sadar! Agaknya orang tuaku dulu sudah tahu akan jadi seperti apa anak mereka kelak. Mungkin oleh sebab, itulah mereka menamaiku Ayu Kelana.

Keempat, aku punya kuasa. Darimana aku punya kuasa? Tentu saja dari kekayaanku. Suatu ketika:

“Ibu Ayu Kelana?” resepsionis itu menanyaiku.

“Betul,”

“Silakan masuk, Ibu sudah ditunggu. Silakan duduk di kursi sebelah Bapak Duta Besar.” Resepsionis itu menuntunku dengan hormat hingga aku bersalaman dengan orang disebutnya Bapak Duta Besar.

“Baiklah hadirin sekalian, perkenalkan, beliau ini Ibu Ayu Kelana, pemilik hotel yang akan jadi salah sponsor utama kita.” Bapak Duta Besar memperkenalkanku pada para hadirin dalam forum itu.

Seperti biasa, aku dihujani oleh ketakjuban dan pandangan tanpa kejapan.

“Baik saya setuju asalkan syarat yang diajukan oleh pihak kami dipenuhi,” ucapku.

Deal,” sahutnya.

Tap! Proyek besar dan uang kudapat lagi. Begitu mudahnya.

Baca juga: Menyusup dalam Kehidupan Wanita Timur Tengah

 

“Begitu bahagianya hidup Ayu saat ini,” kata wanita berambut ikal sambil memandangi sehelai potret lama, menunjuk sosok yang paling cantik di antara gadis-gadis berseragam putih abu-abu dalam foto itu.

“Benarkah? Kurasa di antara kita berempat, cuma Ayu yang jarang terdengar kabarnya sejak lulus dari SMA.” Sahut wanita berkacamata tipis dan berwajah cerdas.

“Ah, kau terlalu lama di Amerika, Rin! Ayu sekarang ini punya hotel bintang lima dan terhitung sebagai investor objek pariwisata yang paling berpengaruh di Bali.”

“O ya? Sekitar dua tahun lalu, kalau tidak salah, Melly pernah mengirimiku email yang menanyakan apakah aku sempat bertemu Ayu di Amerika. Waktu itu aku menjawab tidak karena Ayu sendiri memang tidak mengabarkan pada kalau dia sedang di Amerika juga,”

“Sebenarnya aku sendiri beberapa waktu belakangan ini juga kehilangan kontak dengan Ayu. Nomor ponselnya yang tercatat dalam ponselku telah lama tak aktif. Sepertinya dia ganti nomor.” Kata si rambut ikal yang bernama Eva.

“Lalu bagaimana kau tahu kabarnya?”

“Dari Melly,”

“Melly sendiri tahu dari mana?”

“Melly bekerja di sebuah wedding organizer, dan kliennya banyak yang meminta agar acara pernikahan mereka digelar di Bali, di salah satu hotel yang kabarnya milik Ayu.”

“Berarti Melly sering berkomunikasi dengan Ayu, ya?” tebak si kacamata yang bernama Karin.

“Kurasa tidak juga karena aku tahu Melly adalah tim perancang busana dan rias pengantin dalam Wedding Organizer itu. Jadi sepertinya Melly tidak akan punya urusan langsung dengan akomodasi. Dia pasti hanya dengar kasak-kusuk saja dari teman-teman atau kliennya.” Eva tampak ragu.

“Jadi kesimpulannya, kita semua kehilangan kontak dengan Ayu,” simpul Karin.

“Melly bilang, Ayu sekarang sangat cantik dan kaya. Rumah dan perusahaannya dimana-mana. Banyak pria yang ingin mendekatinya, termasuk bos Melly sendiri.” Eva lanjut bergosip.

“Ah iya, Ibu Ayu apa sudah sembuh? Sudah keluar dari rumah sakit jiwa?” tanya Karin.

“Hah? Ibu Ayu masuk rumah sakit jiwa? Kapan Rin? Bukannya menjelang wisuda lulus SMA dulu ibu Ayu tak hadir karena sedang berobat di Singapura?”

Karin terkesiap. Ia merasa bersalah karena merasa keceplosan, jelas bahwa sahabatnya ini tak mengetahui perihal ibu Ayu. Tapi karena sudah terlanjur terucap, Karin berpikir sia-sia saja menutup-nutupinya dari Eva.

“Ibu Ayu tak pernah ke Singapura, Va…. Ayu dulu terpaksa membohongi kau dan Melly karena dia sangat malu. Tapi ia tak bisa menutupinya dariku karena ibukulah Psikiater yang menangani ibunya. Karena harus pindah ke Amerika mengikuti Ayahku, ibuku harus memasrahkan pasien-pasiennya ke psikiater lain. Itulah sebabnya sekarang aku tak tahu perkembangannya,” papar Karin.

Eva terdiam mendengar kenyataan itu. Ia tahu ayah Ayu meninggal mendadak karena kecelakaan. Mungkin ibu Ayu tak bisa menerima kenyataan itu. Dengan ibu yang menderita gangguan kejiwaan tentunya menjadi ujian berat bagi Ayu, Eva membatin.

“Wah, kasihan Ayu. Tapi kata Melly juga, Ayu menikah dengan seorang eksekutif muda pemilik perusahaan mobil. Entah benar, entah tidak. Karena tak satupun dari kita bertiga yang menerima undangan pernikahannya bukan? Tapi jika benar, wah, beruntung sekali sahabat kita itu. Hidupnya kini sempurna.”

“Itu memang benar. Pernikahan Ayu dan pengusaha mobil itu memang tertutup, karena Ayu adalah istri keduanya. Tapi rumah tangga Ayu berantakan karena istri pertama pengusaha itu tak terima. Pengusaha itu memilih kembali ke istri pertamanya. Anak satu-satunya hasil pernikahan itu sakit dan meninggal dunia menyusul ayah dan ibu Ayu.” Tiba-tiba seorang wanita berbadan sedikit gemuk dan bermata sipit menyahut.

“Melly!” sahut Eva dan Karin hampir bersamaan.

“Aku tahu semua ini belakangan, dari kawan kerjaku, Hilda, yang ternyata adalah asisten tangan kanan The Gorgeous Lana yang sempurna. Kawanku sering menjadi tempat curahan hati Ayu saat ia tengah mabuk. Namun aku tahu semua ini saat sudah terlanjur. Saat Ayu telah menyempurnakan pengelanaannya.” Melly menunduk.

Baca juga: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh

 

gelas_pecah(ilustrasi: happy healthy long life.com)

Lihat kan? Apalagi yang kucari? Aku tahu, banyak tatapan iri yang dilemparkan padaku termasuk kau, Hilda? Hahaha! Sudahlah, terima saja, untuk inilah aku tercipta. Cita-cita orangtuaku yang mereka tumpangkan pada namaku telah tercapai. Aku telah menjadi Ayu Kelana yang sempurna yang mereka damba. Raga, harta, dan tahta impian dunia yang kujelaskan tadi telah kupenuhi semua kan, Hilda!

Anakku, Dewa, pun akan bangga sempat dilahirkan dari rahim seorang wanita yang sempurna. Aku punya cinta sejati dari orangtuaku dan putraku. Persetan dengan cinta pria, makhluk egois yang hanya inginkan raga.

Apalagi yang harus kucari Hilda? Aku telah punya dunia. Sekarang, pergilah Hilda! Biarkan aku sampaikan kabar bahagia ini pada mereka bertiga di sana. Aku harus berbahagia bersama mereka, untuk kebahagiaan yang lebih. Kebahagiaan paripurna setelah kebahagiaan dunia.

.... Kemudian suara gelas jatuh pecah berikut Ayu Kelana yang terkulai setelah menenggak cairan di dalamnya.

- TAMAT -


Tag :


Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan


Indah Kurnia, Memimpin Tanpa Kehilangan Identitas Sebagai Wanita


Critical Eleven - Pesawat, Bandara, dan Biduk Rumah Tangga


Crazy Little Thing Called Love: Dari Itik Si Buruk Rupa Menjelma Menjadi Snow White yang Sesungguhnya


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Dak-Galbi Korean Resto And Caffe


7 Mal Dan Tempat Nongkrong Dengan Toilet Asyik Di Surabaya


Taman Nasional Baluran - Afrika-nya Indonesia


Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 1)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Oma Lena - Part 3


Biru, Rindu