Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni

17 Feb 2015    View : 3204    By : Amidah Budi Utami


Sabtu lalu, 31 Januari 2015, saya merasa beruntung karena berkesempatan interview alias wawancara dengan seorang pebisnis muda inspiratif. Walau saya sendiri lebih suka menyebutnya ngobrol-ngobrol.

Saya merasa antusias karena saya yakin akan mendapat banyak pengalaman dari obrolan ini. Bagi saya mengenal seseorang sama menariknya dengan membaca buku. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari sana, lebih menyenangkan lagi jika di sana tersisip humor renyah. Keduanya (buku dan figur inspiratif) seketika mampu membuat saya tertawa serta merenung beberapa saat kemudian. It’s just like another chicken soup for the soul.

Awal mula saya mengenal Widyoseno Estitoyo melalui rumah kopi dan teh miliknya, Oost Koffie & Thee. Saya pernah datang beberapa kali di akhir pekan dan menjadi follower instagram Oost Koffie & Thee. Saya menyukai konsep yang diusung café ini. Selain itu, saya juga menyukai makanan, minuman, serta pilihan-pilihan lagu yang mengalun di sana.

Oost Koffie & Thee

Saya tidak menyangka kalau pemiliknya masih seumuran dengan saya. Saya pun jadi ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana kiat-kiat lelaki yang biasa dipanggil Seno ini menjalankan bisnis kuliner di Surabaya. Apa saja yang menjadi bekalnya hingga bisa melangkah sejauh ini?

 

 

A Sampai Z Tentang Oost Koffie & Thee

Oost Koffie & Thee mulai dikonsep pada bulan november 2011. Widyoseno menggandeng dua orang teman SMA-nya untuk ikut serta membangun usaha kuliner ini. Selama dua bulan pertama mereka mematangkan konsep. Tiga orang alumnus SMA 6 Surabaya ini mulai riset ke beberapa café yang ada di Surabaya. Sekitar bulan Februari 2012 proses renovasi tempat mulai dikerjakan. Akhirnya Oost Koffie & Thee resmi dibuka pada tanggal 20 Juni 2012.

Saat itu Oost Koffie & Thee hanya menyediakan area indoor saja, satu tahun setelahnya baru dibuka area outdoor.

Café ini mengambil konsep “Tradisional Jawa dan Belanda”. Tradisi Jawa diangkat karena Jawa adalah tradisi asli masyarakat Surabaya, sedangkan tradisi Belanda sendiri memiliki hubungan erat dengan masyarakat Indonesia di masa lalu. Kopi dan teh ada di Indonesia juga karena ada campur tangan bangsa Belanda di zaman kejayaan VOC. Kebetulan Widyoseno sendiri pernah tinggal dan kuliah di Belanda. Hal ini sangat membantu dalam mewujudkan konsep tradisional Jawa dan Belanda yang kental dan hidup.

Konsep tersebut dimasukkan ke dalam unsur desain interior, makanan, minuman, serta seragam para punggawa—istilah pramusaji di Oost Koffie & Thee. Oost terbagi menjadi dua konsep ruangan yaitu indoor yang berkonsep tradisional Jawa sedangkan outdoor berkonsep Belanda. Di salah satu sudut ruangan outdoor terdapat miniatur rumah Belanda lengkap dengan kincir anginnya. Konsep tradisional Jawa dan Belanda juga dimasukkan ke dalam seragam para punggawa.

Saat Tim Artebia datang ke Oost, para punggawa berseragam surjan berwarna hijau. Mereka terlihat seperti Arjuna yang kalem dan sopan. Besoknya, giliran mereka menggunakan seragam baju tradisional Belanda. Konsep tradisional Jawa dan Belanda juga dimasukkan ke dalam konsep makanan dan minuman. Namun, tidak serta-merta semua makanan Negeri Kincir Angin itu bisa langsung diusung. Ada beberapa resep makanan khas Belanda yang perlu diadaptasi dulu sesuai dengan selera lidah orang Surabaya.

Baca juga: Baegopa Malang - Ada Harga Ada Rasa

 

Widyoseno EstitoyoFigur muda dan inspiratif, Widyoseno Estitoyo.

Seperti usaha  bisnis pada umumnya, Oost Koffie & Thee juga mengalami pasang surut. Namun, Widyoseno mengatakan bahwa tantangan sesunggunya dalam menjalankan bisnis kuliner terletak pada strategi marketing, mengingat semakin menjamurnya café di Surabaya. Salah satu strategi Widyoseno adalah giat memperkenalkan Oost ke masyarakat  luas melalui kerjasama dengan komunitas maupun organisasi yang ada di Surabaya. Itulah sebabnya mereka sangat terbuka jika ada komunitas yang ingin mengadakan acara di Oost. Widyoseno juga mempromosikan Oost Koffie & Thee melalui media sosial. Saya sendiri adalah salah satu orang yang mengenal Oost melalui media sosial.

Di luar hal promosi melalui media sosial dan menggandeng komunitas, Oost Koffie & Thee memiliki penggemar tersendiri karena konsep yang diusungnya. Mereka yang bosan dengan konsep café modern yang sudah terlalu mainstream akan merasakan suasana yang berbeda di Oost.

Bagi Widyoseno, hal paling menyenangkan dan membuat nyaman selama menjalankan bisnis ini adalah nuansa kekeluargaan yang diterapkan di sini. Nuansa kekeluargaan diaplikasikan oleh Oost Koffie & Thee di segala lini. Misalnya saat perekrutan karyawan dan sistem kerja yang diterapkan. Pun saat ada karyawan yang resign karena ingin menyelesaikan tugas akhir, kemudian setelah lulus akhirnya diterima kerja di salah satu perusahaan multinasional. Widyoseno senang karena karyawannya bisa bermanfaat untuk masyarakat dan pengalaman selama kerja di Oost Koffie & Thee akan membekalinya untuk berbuat lebih baik lagi. Mulia sekali ya, Artebianz?

Selain karena nuansa kekeluargaan yang kental di Oost Koffie & Thee, Widyoseno merasa bangga saat Oost dinobatkan menjadi tempat nongkrong favorit versi HardRock FM di tahun 2013. Selain itu, Oost Koffie & Thee juga pernah dua kali menjadi tempat diselenggarakannya acara jumpa fans JKT 48.

Saat ditanya sesukses apakah Oost Koffie & Thee saat ini? Widyoseno belum mau menyimpulkan. Menurutnya dia baru bisa menilai ketika nanti usianya sudah uzur. Sebab, menjalankan bisnis café cenderung naik-turun, layaknya roda kehidupan. Di beberapa bulan kadang omsetnya naik, tapi beberapa bulan selanjutnya kadang malah menurun. Akan tetapi, itulah nikmatnya bisnis.

Mengenai dunia bisnis FnB sendiri Widyoseno menambahkan. “Pokoknya jangan sombong saja. Apa yang sukses bulan ini belum tentu sukses bulan depan.” Nasihat bijak dari seorang pebisnis muda, Artebianz catet ya.

Baca juga: Makan Asyik Ala Artebia

 

 

Pengalaman Selama Tinggal Di Belanda

Widyoseno pernah tinggal beberapa tahun di Belanda untuk kuliah. Dia mengambil jurusan International Business and Management di Universitas Hanzehogeschool Gronigen. Sebelumnya dia sempat ragu dalam memilih jurusan, antara mendalami hobinya di bidang produksi dan editing video atau memperdalam ilmu bisnis sebagai generasi penerus keluarga yang memang memiliki latar belakang bisnis. Akhirnya Widyoseno lebih menuruti apa yang menjadi harapan orangtua.

Seperti kebanyakan pendatang baru lainnya, memulai kehidupan baru di negeri asing artinya memulai kehidupan dari nol. Dari awalnya tidak mengenal seorang pun, sedikit demi sedikit menambah teman. Kemampuan adaptasinya diuji dan kenyataannya Widyoseno menjalani ujian dengan sukses. Tidak hanya pernah tinggal di Belanda, Widyoseno juga pernah menjalani pertukaran pelajar selama satu tahun di Swedia dan magang kerja di sebuah perusahaan Digital Apps di Jerman selama 6 bulan.

Walaupun saat ini sedang menikmati aktivitas berbisnisnya di Indonesia, Widyoseno mengungkapkan bahwa tidak menutup kemungkinan dia akan kembali ke Belanda. Namun, kalaupun menetap lagi di Belanda, misinya bukan lagi untuk melamar pekerjaan di perusahaan asing. Tetapi lebih ke arah mendirikan usaha sendiri dengan menggandeng beberapa teman di sana. Pengalaman bisnis yang telah diperoleh di Surabaya menjadi bekalnya. Pada kenyataannya saat ini sudah banyak pemuda Indonesia yang mendirikan usaha di Belanda.

Baca juga: Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya - Perpustakaan Umum Senyaman Perpustakaan Pribadi

 

 

Aktifis Sosial, Pekerja Seni, Dan Membantu Menjalankan Perusahaan Keluarga

Selain sibuk mengurus Oost Koffie & Thee, Widyoseno masih meluangkan waktu untuk bergabung dengan sebuah organisasi nonprofit TEDxTuguPahlawan. Organisasi ini memiliki visi menyebarkan ide-ide ke masyarakat luas, khususnya masyarakat Surabaya. TEDxTuguPahlawan sering mengadakan seminar-seminar di berbagai tempat.

Keaktifan Widyoseno dalam hal sosial bisa jadi didorong oleh kegiatannya semasa sekolah. Sejak remaja Widyoseno gemar berorganisasi. Saat kuliah pun Widyoseno sempat bergabung di Himpunan Pelajar Indonesia di Belanda juga organisasi kemahasiswaan di kampus. Sewaktu kembali lagi ke Indonesia, Widyoseno sempat mencari-cari organisasi apa yang bisa diikuti. Akhirnya dia memutuskan untuk bergabung dengan TEDxTuguPahlawan. Dia merasa senang berkumpul dengan orang-orang, terlebih jika dia bisa memberi manfaat untuk orang lain.

Widyoseno Estitoyo

Seperti yang pernah saya sebutkan sebelumnya, Widyoseno memiliki hobi produksi dan editing video sejak remaja. Hobi ini masih terus ditekuni sampai lulus kuliah. Dia pernah mengerjakan beberapa proyek freelance dengan penghasilan yang lumayan. Namun, sayangnya kesibukannya saat ini tidak memberikannya waktu cukup untuk menekuni hobinya tersebut.

Selain memimpin Oost Koffie & Thee dan aktif di organisasi, Widyoseno juga bertanggung jawab sebagai koordinator operasional dan marketing di Penerbit SIC menggantikan peran sang ayah yang saat ini sedang sakit.

Cepat sembuh ya, Om dan sehat selalu.

Widyoseno juga menjabat sebagai Managing Director di CV Pilar Bambu Kuning (CV yang menaungi Oost Koffie & Thee dan beberapa usaha lain) secara bersamaan.

Dengan seabrek pekerjaan, Widyoseno dituntut untuk tangkas dalam mengurus begitu banyak tanggung jawab.  Dia bekerja secara mobile dari kantor yang satu ke kantor yang lain, dari urusan ini ke urusan itu. Ketika ada beberapa masalah yang harus diselesaikan di saat yang bersamaan, maka dia harus membuat prioritas. Ada trik khusus yang dia gunakan dalam kondisi seperti ini.

Ketika ada masalah yang urgent, tapi tidak terlalu penting bisa didelegasikan ke orang lain yang dirasa kompeten. Ketika ada masalah yang sangat penting, tapi tidak mendesak lebih baik ditunda dulu sampai waktu yang pas.” Begitu Widyoseno menjelaskan.

Meski demikian, ada juga saat-saat dia kehilangan fokus. Hal ini diatasi dengan menyediakan waktu-waktu khusus untuk evaluasi. Biasanya Widyoseno mengambil waktu malam hari sebelum tidur atau pagi hari setelah salat subuh untuk melihat jadwal besok harus bertemu dengan siapa dan menyelesaikan masalah apa. Sesaat sebelum mulai bekerja, dia menyempatkan diri untuk menulis daftar pekerjaan yang harus diselesaikan karyawannya.

Baca juga: Agility Bukan Singa yang Mengembik

 

 

Ngobrol Tentang Buku Dan Tempat Nongkrong

Di tengah-tengah kesibukannya memimpin banyak usaha, Widyoseno masih menyempatkan diri untuk membaca buku. Dia membaca berbagai macam buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Buku nonfiksi favoritnya berjudul How To Win Friends And Influence People karya Dale Carnegie. Mengenai buku fiksi, Windyoseno menyukai genre fantasi dan misteri dengan latar belakang negeri-negeri Skandinavia. Beberapa judul novel yang disukai oleh Widyoseno adalah Seri Harry Potter dan Seri The Girl with the Dragon Tattoo.

Bicara tentang tempat nongkrong di Surabaya, Widyoseno merekomendasikan beberapa tempat nongkrong asyik di Surabaya. Di antaranya De Mandailing, Burgerman, serta Stilrod. Menurut Widyoseno, keistimewaan De Mandailing Cafe terletak pada tempatnya yang nyaman serta harga dan rasa yang sesuai. Sementara itu, keistimewaan Burgerman terletak pada proses produksi burger yang home-made. Satu hal yang jarang ditemui di kedai-kedai burger lain di Surabaya. Kalau Artebianz menginginkan café yang berkonsep, Widyoseno merekomendasikan Stilrod yang bernuansa vintage London.

 

 

Harapan Di Tahun 2015

Di tahun ini Widyoseno memiliki rencana bisnis baru. Dia ingin mencoba menjual teh melalui online shop. Widyoseno merasa terpanggil untuk menggarap segmen ini karena kurangnya apresiasi masyarakat Indonesia terhadap produk teh dalam negeri. Saat ini website sudah jadi tinggal menunggu persediaan produk dari suplier. Strategi untuk menjalankan bisnis barunya ini lebih ke arah bagaimana mem-branding-kan tehnya agar tidak kalah dengan brand luar negeri yang saat ini masih merajai café-café di Indonesia. Semoga usaha online shop ini sukses dan teh lokal semakin digemari di negeri sendiri.

Bagi Artebianz yang bermimpi ingin menjalankan usaha sendiri, tapi ragu karena merasa belum cukup pengalaman, semoga obrolan Tim Artebia dengan Widyoseno Estitoyo bisa menginspirasi.

Baca juga: The Backstage Surabaya (Bagian 1) : How To Start A StartUp






Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Figur Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Sang Alkemis: Perjalanan Pencarian Diri


Suicide Squad - A Sweet Treat... Or A Sweet Threat?


How Deep Is Your Love - Calvin Harris: Dalamnya Cinta Lewat Deep House Music


My Pancake Restoran Surabaya  Town Square


Gujo Cafe Surabaya: Cangkrukan Enak Bernuansa Tradisional-Modern


Mengenang Sejarah Dukuh Kemuning Dan Menguak Peninggalan Kepurbakalaannya


Literasi Desember: Festival Literasi Akbar Bersama Literaturia


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Bersama Sebuah Buku dan Sebatang Rokok


Satu Kali Seminggu