Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation

29 Sep 2014    View : 13094    By : Niratisaya


“[Bagi saya] menulis adalah passion—sesuatu yang saya lakukan karena saya menyukainya. Saya ingin tidak menganggapnya sebagai pekerjaan.”

 

Orizuka. Siapa yang tidak mengenal penulis Indonesia yang satu ini?

Bertahun-tahun lamanya saya ingin mewawancarai sosok penulis yang satu ini dan membicarakan mengenai karya-karyanya. Syukurlah, akhirnya lewat Artebia saya bisa mewujudkannya.

Berkarir sejak akhir 2005 hingga kini, Orizuka telah menghasilkan lebih dari dua puluh karya. Beberapa di antaranya bertema drama dan slice of life, sedangkan sebagian yang lain bercerita tentang romansa dan komedi dalam kehidupan. Kamu mungkin telah mengenal penulis dengan nama asli Okke Rizka Septania ini lewat beberapa karyanya. Di kesempatan kali ini,  saya tidak akan membahas bagaimana novel-novel Orizuka membuai imaji dan menarik pembacanya—dalam hal ini saya dan kamu, Artebianz.

Kamu bisa membacanya pada bagian lain. Yes, Artebianz dan para pembaca karya Orizuka—readerizuka. Artikel ini bukan artikel terakhir yang Tim Artebia berikan pada kamu. Dan kali ini saya akan membicarakan tentang sosok pencipta setiap dunia dalam karya-karyanya yang manis serta memabukkan.



Awal Kelahiran Orizuka

Tumbuh di keluarga yang gemar membaca, Orizuka berkembang menjadi remaja yang mencintai buku. Akan tetapi, tidak satu pun buku membuatnya tergoda untuk menulis hingga ia bertemu dengan seri Princess Diaries. Novel karya Meg Cabot tersebut membuat Orizuka kepincut dengan dunia fiksi dan mulai mengasah kegemarannya dalam mengarang.

Orizuka sempat menuturkan bahwa jauh sebelumnya ia sudah memiliki antusiasme dalam menulis, hanya masih dalam taraf mengarang yang dulu selalu ada di tiap ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun, ia tak pernah berpikir untuk menjadi penulis—tentu saja sampai akhirnya kehidupan Putri Mia Thermopolis menawannya. Ia pun mulai menulis dan menghasilkan sebuah novel. Yang sayangnya, mendapatkan penolakan. Dan Artebianz, penolakan itu bukanlah penolakan pertama yang diterima oleh Orizuka.

Pada sebuah acara meet and greet di salah satu mal di Surabaya, Orizuka mengungkapkan bahwa ia melewati beberapa kali penolakan dan perjuangan merevisi karyanya, hingga akhirnya sebuah penerbit di Depok menerima naskahnya.

Setelah melalui beberapa kali penolakan dan membaca lembar demi lembar penolakan dari penerbit, Orizuka bukan hanya berhasil menerbitkan karya pertamanya. Namun lewat novel Me and My Prince Charming ia juga meraih Juara II untuk lomba menulis yang diadakan oleh penerbit tersebut.

Orizuka
Meet and greet dengan Orizuka dan Lia Indra A, diambil dari dokumen pribadi.

Sedikit cerita dari saya, Artebianz. Sebelumnya saya sama sekali tidak mengenal siapa Orizuka, sampai akhirnya salah seorang teman saya “mengenalkan” penulis berzodiak Virgo ini pada saya. Teman saya adalah seorang penggemar novel mellow dan meski saya tidak memiliki selera yang sama dengannya, tapi saya percaya pada selera teman saya itu. Kalau dia mengatakan sebuah novel bagus, berarti novel tersebut memang bagus. Penasaran, maka saya pun segera memburu novel karya Orizuka yang disebutkan oleh teman saya. Novel itu berjudul Summer Breeze. Novel yang menjadi awal kelahiran nama pena Okke Rizka: Orizuka.

Dan dimulailah rasa kagum saya pada gaya seorang Orizuka dalam bercerita. Perlahan namun pasti, saya menjadi salah seorang readerizuka.

Disinggung mengenai nama penanya yang berbau Jepang, Orizuka mengatakan bahwa pseudonym itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama tokoh anime atau idola Jepang. Apalagi tokoh guru ajaib bernama Onizuka.

Orizuka menuturkan bahwa pihak penerbit memintanya untuk membuat nama pena, sebab Summer Breeze terbit tidak lama setelah Me and My Prince Charming beredar. Orizuka berasal dari singkatan nama asli gadis lulusan Jurusan Komunikasi Universitas Gajah Mada ini sendiri. O dari Okke, sedangkan Rizuka dari Rizka yang dilafalkan dalam Bahasa Jepang. Kesuksesan tak diduga dari Summer Breeze, yang kemudian diangkat ke layar perak, mendorong Orizuka untuk terus menggunakan nama penanya.

Baca juga: Hujan dan Pelangi

 


Renjana Seorang Orizuka

Gemar membaca dan menulis cerita tidak lantas mendorong Orizuka untuk mengambil Jurusan Sastra. Selepas lulus SMA, gadis penggemar film thriller ini memilih Jurusan Komunikasi di Universitas Gajah Mada. Walau tidak terlalu banyak memberi pengaruh dalam gayanya menulis, akan tetapi Orizuka bercerita bahwa dari pengalamannya menimba ilmu di universitas yang berlokasi di Jogjakarta tersebut, ia mendapatkan ilmu.

“Saya belajar tentang media dan strategi pemasaran, yang merupakan minat saya juga,” ungkap gadis yang gemar mempelajari bahasa asing ini.

Dari penuturannya, tersirat bahwa Orizuka adalah sosok yang berusaha untuk selalu berpikir positif tentang segala hal yang ada di sekitarnya.

Lebih jauh mengenai kehidupannya, Orizuka bercerita bahwa menjadi seorang penulis fulltime sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya. Orizuka hanya tahu ia suka menulis dan ingin terus menulis. Sebuah hobi yang cukup menakutkan di mata umum, terutama kedua orangtua Orizuka.

Walaupun mendukung hobi membaca Orizuka dan memberi semangat pada putrinya tersebut untuk terus menulis, dalam hati orangtua Orizuka timbul kekhawatiran. Layaknya sebagian besar orangtua di Indonesia yang menginginkan anak-anaknya mapan dan berkecukupan, ayah dan ibu Orizuka menginginkan Orizuka untuk memiliki pekerjaan tetap. Sebuah profesi yang memiliki jadwal kerja pasti dan menerima gaji setiap sebulan sekali.

Sebagai seorang anak yang berbakti, Orizuka pun menuruti permintaan orangtuanya. Ia sempat bekerja, tapi sayangnya—dengan berbagai tawaran menulis yang datang padanya—Orizuka tak mampu mempertahankan pekerjaan tetapnya. Alhasil, ia tak mampu tampil prima dalam bekerja maupun menulis.

Diakui Orizuka selain ia hanya bisa berkonsentrasi pada satu hal di satu waktu, insomnia yang cukup parah membuatnya memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memilih terus menjadi penulis. Mengenai pilihannya ini Orizuka bercerita, “menulis adalah passion—sesuatu yang saya lakukan karena saya menyukainya. Saya ingin tidak menganggapnya sebagai pekerjaan. Saya bahagia dengan yang  sekarang saya lakukan dan begitu pula dengan kedua orangtua saya.”

OrizukaDiambil dari yes24.co.id

Segala kerja keras dan rasa percaya Orizuka pada impian dan renjananya (passion) pun terbayar. Seiring waktu, kedua orangtua Orizuka memaklumi impian putrinya tersebut dan mendukung keputusan Orizuka untuk berhenti bekerja dan fokus menulis. Oleh karena itu, sewaktu Tim Artebia menanyakan tentang peran dan pengaruh kedua orangtua bagi seorang Orizuka, gadis penggemar hal-hal berbau Korea dan Jepang ini menjawab peran ayah dan ibunya sangat besar. Meski sempat berbeda pendapat, Orizuka berkata ia takkan pernah bisa seperti sekarang tanpa restu dan dukungan dua orangtuanya.

Tim Artebia pun menanyakan pada Orizuka, sehubungan dengan pengalaman pribadinya dengan orangtua, tentang para calon penulis yang ingin mengejar renjana mereka sebagai penulis. Wanita muda yang komunikatif ini menjawab, “[para calon penulis sebaiknya meyakinkan] mereka [orangtua] dengan perlahan-lahan. Biarkan mereka melihat apa yang membuat kita bahagia, apa yang kita senang lakukan, apa yang menjadi minat dan gairah hidup kita sebenarnya.”

A simple advice yet so right and heart-warming, ya, Artebianz Smile

Sementara untuk para calon penulis yang sedang berusaha di luar sana, Orizuka berpesan agar “pantang menyerah dan terus ingin tahu tentang segala hal.

Will you do it, guys? Of course you will, ya kan? *wink wink*

Baca juga: Kataji - Awal Mula Saya Terpikat Pada Yura



Rahasia Seorang Orizuka

Masih muda, tapi sudah menelurkan lebih dari dua puluh buku. Saat Tim Artebia mengetahui hal ini kami semua terkejut sekaligus penasaran; apa sebenarnya rahasia penulis muda ini. Selain restu dan dukungan orangtua, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Beberapa orang sukses memiliki rahasia mereka masing-masing.

Beberapa percaya bahwa mereka harus melakukan kegiatan yang sama setiap hari. Ambil contoh Haruki Murakami. Penulis kenamaan Jepang ini punya kebiasaan tidur malam di jam yang sama setiap hari, bangun pada jam yang sama, kemudian menulis, lalu joging. Ia melakukannya, saya katakan sekali lagi di sini, Artebianz, setiap hari.

Sementara beberapa yang lain meyakini kesuksesan dimulai dengan membatasi pilihan. Lihat saja almarhum Steve Jobs. Ia selalu mengenakan pakaian yang sama tidak peduli di hari atau musim apa. Jobs, dan beberapa orang sukses lainnya, percaya dengan membatasi pilihan yang tak penting, mereka dapat menghemat waktu dan lebih produktif.

Nah, apakah Orizuka memiliki kebiasaan yang sama?

Dengan jujur Orizuka menjawab ia punya jadwal harian. Namun karena beberapa hari ini ia sering bepergian, sulit bagi gadis yang suka mendengarkan musik ini untuk mengikuti jadwal tersebut. Namun ia mengakui, sebelum menulis ia harus minum kopi terlebih dahulu.

Dan bicara soal menulis, Orizuka bercerita bahwa di antara lebih dari 20 novel yang sudah ditulisnya, ia memiliki satu pengalaman yang tak terlupakan. Yaitu dengan novel The Shaman.

Orizuka menyadur novel tersebut dari skenario film dengan judul yang sama selama tiga puluh jam nonstop. Proses penulisan yang tiada henti karena mengejar deadline ini kemudian membuat tangan Orizuka gemetaran. Dan… satu lagi nih, Artebianz. Saat menyelesaikan novel tersebut Orizuka masih kuliah di UGM dan tinggal di rumah kost. Lagi asyik-asyiknya menulis, tiba-tiba pintu kamar kost Orizuka terbuka sendiri di tengah malam....

ScaredTakuuut!!!

Sebagai seorang penulis yang sudah delapan tahun malang melintang di dunia penerbitan dan penulisan, serta memiliki pengalaman menulis kisah romantis sampai dramatis, Tim Artebia bertanya-tanya—apa lagi yang akan ditulis oleh seorang Orizuka. Apa lagi kisah yang akan dihadirkannya dan membuat kita—well, terutama saya—mewek, tertawa, dan merengut seperti orang gila? Penggemar sejati Orizuka pasti masih ingat Ares, Yogas, Narayan Sadewa, Rex, dan bejibun karakter rekaan Orizuka lainnya yang bikin gemas.

Orizuka berbagi sedikit rahasianya pada Tim Artebia, di karyanya yang berikut ia berencana mengisahkan kehidupan seorang karakter dengan masa lalu kelam.

Nggak sabar bacanya ya, Artebianz. Semoga lancar sampai di tangan pembaca Orizuka dan terima kasih atas kesediaannya untuk diwawancara Smile

Baca juga: Thirteen Terrors: Kisah Menyeramkan di Tiap Sekolah

 

 

Daftar Karya Orizuka

  1. Me & My Prince Charming (Puspa Swara, 2005)
  2. Summer Breeze (Puspa Swara, 2006); diterbitkan ulang dengan judul That Summer Breeze (Puspa Populer, 2013)
  3. Duhh… Susahnya Jatuh Cinta…! (Tanda Baca, 2006); diterbitkan ulang dengan judul Meet The Sennas (Noura Books, 2014)
  4. Miss-J (Tanda Baca, 2006), Call Me Miss J (Noura Books, 2013)
  5. High School Paradise (Puspa Swara, 2006)
  6. Fight for Love! (Puspa Swara, 2007)
  7. High School Paradise 2nd Half: Love United (Puspa Swara, 2008)
  8. The Truth about Forever (GagasMedia, 2008)
  9. 17 Years of Love Song (Puspa Swara, 2008)
  10. The Shaman (GagasMedia, 2008)
  11. Fate (Authorized Books, 2010)
  12. Our Story (Authorized Books, 2010)
  13. Infinitely Yours (GagasMedia, 2011)
  14. Oppa & I (Penerbit Haru, 2011)
  15. I For You (GagasMedia, 2012)
  16. Best Friends Forever: High School Paradise Golden Goal (Puspa Populer, 2012)
  17. With You (GagasMedia, 2012)
  18. After School Club (Bentang Belia, 2012)
  19. Oppa & I: Love Missions (Penerbit Haru, 2012)
  20. The Chronicles of Audy: 4R (Penerbit Haru, 2013)
  21. Oppa & I: Love Signs (Penerbit Haru, 2013)
  22. The Chronicles of Audy: 21 (Penerbit Haru, 2014)
  23. Intertwine (ditulis bersama kelompok penulis FLOCK: Penerbit Haru, 2015)
  24. The Chronicles of Audy: 4/4 (Penerbit Haru, 2015)

Baca juga: Kolase Artebia

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Figur Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Mengajar Itu Layaknya Orang Yang Ingin Membina Hubungan, Butuh Proses PDKT


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


Bi! - Potret Emosi yang Mengikat Manusia pada Lingkaran Kehidupan


Pee Mak Phra Khanong (พี่มาก..พระโขนง): Cinta Tanpa Batas


Reason - Eva Celia: Sebuah Penemuan Jati Diri


Dak-Galbi Korean Resto And Caffe


Coffee Bean & Tea Leaf Surabaya Town Square


Bukit Pawuluhan: Bukan Bukit Biasa


The Backstage Surabaya (Bagian 2) : Mindset Seorang Founder StartUp


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Twist and Shout (Part 2)


Pupus, Hanyut, Lepas