Generasi Global dalam Industri Pertelevisian: Menelisik Makna di Balik "Yeyeye... Lalalala..." Program Variety Show

08 Dec 2015    View : 1551    By : Adi Santoso


Aktivitas rutin, apa pun itu, yang sifatnya berulang-ulang setiap hari akan dapat dengan mudah menggiring kita pada kebosanan. Untuk meminimalisasi kebosanan, kita bisa melakukan beberapa hal, melakukan variasi, mengubah pola, maupun menyisipkan suatu selingan semampu kita di sela jadwal rutinitas yang terkadang terasa memaksa.

Misalnya, mengawali hari di suatu pagi sambil melakukan persiapan ini dan itu sebelum meninggalkan rumah dengan menghadirkan televisi sebagai salah satu pilihan selingan.

Kita tahu kehadiran media, khususnya televisi, sebagai bagian dari kehidupan kekinian hampir tidak dapat dihindari lagi. Pilihan program pun bisa kita sesuaikan dengan keadaan yang paling tepat untuk memompa semangat kita di pagi hari dalam menghadapi tantangan di keseluruhan hari itu. Celakanya, keadaan yang kita dapati darinya bisa berbalik 180 derajat. Bukannya mendapati semangat dan pencerahan, yang kita dapati di sana malah bisa memicu pesimisme dan kegelisahan.

Artebian! Kalian pasti tahu kan "acara musik" atau lebih tepatnya variety show yang muncul setiap pagi itu? Acara yang sedianya memang sebagai selingan untuk dinikmati sambil lalu tersebut, kalau kalian perhatikan, kini telah berevolusi dan bersimaharajalela melampaui fitrahnya.

Setidaknya ada tiga stasiun televisi swasta nasional menayangkan program sejenis di waktu yang hampir bersamaan, sementara yang lain menayangkan program berita atau semacam berita saja (media televisi di negeri kita kebanyakan milik partai politik).

Oke, (semacam berita) itu kita bahas pada kesempatan lain.

Baca juga: Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial

 

Bagaimana "acara musik" itu tidak bersimaharajalela?

Alasan pertama, variety show semacam ini sudah tayang sejak tahun 2008 sampai sekarang, atau bisa disejajarkan dengan seumuran anak kelas satu SD.

Kedua, acara semacam ini mendapat pengakuan sebagai acara variety show yang tentu saja terbaik versi mereka dengan mendapatkan berbagai penghargaan yang salah satunya Pan***** Award sejak 2010 sampai sekarang.

Ketiga, durasi acara ini tidak main-main—walaupun isinya hanya main-main—yakni bisa dua sampai tiga jam berhaha-hihi... dengan dipandu host yang berebut menjadi paling centil atau paling kekanak-kanakan seperti saling kejar, saling dorong, saling ejek antar-host, dan selebihnya kalian bisa menebaknya sendiri.

Keempat, acara ini berkembang dalam arti sangat harfiah karena proses shooting-nya tidak cukup hanya dilakukan di studio milik stasiun-stasiun televisi produsennya, tetapi juga diadakan hingga di luar studio—disiarkan secara langsung—dan melibatkan banyak penonton di berbagai tempat yang didatangi secara berganti-gantian (kebanyakan di pelataran mal).

Kelima dan terakhir, (saya tidak ingin memperpanjang daftar alasannya) Penonton yang dilibatkan atau melibatkan diri dalam acara tersebut kebanyakan adalah anak-anak usia sekolah yang terlihat jelas usahanya untuk bisa tampil di teve—baik sebagai penggemar setia maupun sekadar ber-"yeyeye... lalalala..." ria—dengan sukarela atau sebagian lagi dibayar untuk berpanas-panasan dan berdesak-desakan. Sedangkan, di saat yang sama anak-anak seusia mereka yang lain sedang belajar di sekolah. Apa iya anak orang segitu banyak sekolahnya masuk siang semua?

Sebagai genersi muda yang berpikiran kritis, sudah pasti hal itu akan mengusik pikiran kita.

Ada apa di balik semua itu?

Apakah benar acara tersebut merupakan representasi generasi muda kita saat ini?

Dilihat dari segi konten, durasi, partisipan, maupun timing acara tersebut, sepertinya mustahil perkembangan acara ini menggelinding begitu saja tanpa ada perencanaan yang benar-benar matang di baliknya.

Perencanaan yang saya maksud di sini bukan pada tataran teknis pelaksanannya, tapi pada skenario besar apa yang ada di baliknya. Kata pepatah tidak mungkin ada asap kalau tak ada api.

Berangkat dari kegelisahan itu, saya tertarik untuk melakukan pendekatan lebih jauh. Setidaknya dengan menggunakan teori-teori paling umum mengenai media agar semuanya kembali ke jalur yang benar.

Ingat, kita bukan makhluk antihiburan, antitelevisi, atau antikekinian karena segala kata anti akan mengurangi keutuhan kita sendiri. Hanya saja, semua harus proporsional dan ada pada tempat yang semestinya.

Baca juga: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan

clipboard
Source of illustration: here.

 

 

Agenda Setting dan Critical Theory dalam Program Televisi

Agar bisa mendapatkan kejernihan kristal dalam memandang media, dalam hal ini televisi, ada baiknya kita menengok beberapa teori mengenai dampak media terhadap partisipan atau di dunia pertelevisian berarti pemirsanya.

Dari sembilan Teori Dampak Media yang ada dari sumber tersebut, agaknya ada dua teori yang sangat menarik dan relevan ketika dipertemukan dengan fenomena yang kita dapati di atas.

Pertama, Teori Agenda Setting. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh McComb dan Donald L. Shaw dalam Public Opinion Quarterly terbitan tahun 1972 berjudul The Agenda Setting Function of Mass Media.

Kedua pakar tersebut mengemukakan, “Jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting.”

Meskipun teori ini dilandasi oleh hasil studi mengenai dampak media terhadap khalayak dalam dunia politik, yakni pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 1968. Teori Agenda Setting menggambarkan besarnya pengaruh media dan kemampuannya untuk “menceritakan” isu-isu apa yang penting. Isu-isu atau individu yang dipilih media untuk dipublikasikan, akhirnya menjadi isu dan individu yang dipikirkan dan dibicarakan oleh khalayak. Dapat disimpulkan bahwa meningkatnya nilai penting suatu isu/topik pada media massa menyebabkan meningkatnya nilai penting isu/topik tersebut pada khalayak.

Program variety show yang ditayangkan secara langsung dalam durasi waktu 2 sampai 3 jam setiap hari dalam kurun waktu delapan tahun, dan masih berlangsung entah sampai kapan, adalah bentuk dari penekanan yang dilakukan oleh televisi.

Ada peristiwa yang sedang ditekankan dan dijadikan penting dengan segala bumbu yang ada di dalamnya. Ada isu-isu seputar anak muda yang dibuat terus menerus dan up to date. Lagu apa yang sedang hits, menyusul di belakangnya gaya berpakaian, gaya berbicara, kosakata "baru", dan gaya pergaulan anak muda terkini. Hal-hal tersebut terus ditekankan dan ditingkatkan nilai pentingnya di hadapan pemirsanya.

Hasilnya?

Voila! Semua bisa dilihat dari pemirsa/penonton yang terlibat dalam tayangan program ini pula. Beberapa penonton, kadang juga terlihat bersama orang tua mereka, terlihat sangat khusyuk mengikuti, meniru, dan melakukan apa saja yang dimungkinkan oleh acara bersenang-senang pengganti jam belajar anak usia sekolah ini. Semua tergambar jelas di wajah mereka yang sedang mengatakan “Ini peristiwa penting dan ini sedang hits!”

Kedua, Critical theory. Teori ini pertama kali ditemukan Max Horkheimer pada tahun 1930-an. Pada mulanya teori kritis dimaknai sebagai pemaknaan kembali ideal-ideal modernitas tentang nalar dan kebebasan. Critical theory atau Teori Kritis mengungkap deviasi dari ideal-ideal itu dalam bentuk saintisme, kapitalisme, industri kebudayaan, dan institusi politik borjuis. Teori ini memungkinkan pembacaan produksi budaya dan komunikasi dalam perspektif yang luas dan beragam.

Teori ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi refleksif terhadap pengalaman yang manusia alami dan cara manusia mendefinisikan dirinya sendiri, budaya, dan dunia. Fokus pembahasan teori ini bukan pada efek perilaku yang diterima individu dari media, tapi melihat perubahan budaya dalam ruang lingkup yang luas yang disebabkan oleh media.

Teori Kritis ini juga memiliki kemampuan dalam mendeksripsikan secara lanjut hubungan antara budaya dengan media itu sendiri. Teori ini percaya, dampak yang dihasilkan oleh media, bukanlah efek yang terjadi secara monoton, tetapi sebagai sebuah proses timbal balik.

Jika dalam Teori Agenda Setting pemirsa media dianggap sebagai objek pasif yang bisa diarahkan dan dikendalikan, teori kritis menganggap pemirsa media adalah objek sekaligus subjek. Pemirsa sebenarnya tidak hanya terdampak, tetapi mereka sebenarnya juga ada di posisi bernegosiasi dengan menjadi individu baru yang memberi dampak dan menanggapi nilai-nilai yang telah diberikan media terhadapnya.

Pemirsa media melakukan perubahan yang merupakan cerminan dari pengalaman-pengalaman interaksi dengan media sehingga terjadi pendefinisian ulang tentang dirinya dan dunia di sekitarnya.

Perubahan ini juga akan direspons dan diikuti oleh media; proses ini berlangsung sangat halus sehingga jauh dari kesan saling memaksakan. Saat media melemparkan isu-isu, saat itulah proses negosiasi sedang berlangsung. Media akan selalu ada pada posisi memicu, sedangkan pemirsa dalam posisi menegosiasi. Intensitas dan frekuensi interaksi keduanya tentu akan sangat berpengaruh pada hasil akhirnya.

Output dari tanggapan itu bisa jadi merupakan keadaan yang tidak diinginkan oleh media (adanya resistensi), yakni dengan menjadi pemirsa yang tidak mencerminkan pengaruh media. Namun, dari fenomena yang kita amati mengenai program variety show yang dilancarkan pihak media akan tampak sangat kental dengan agenda pewacanaan, penggiringan, dan pengarahan isu-isu yang sangat berhasil dan mendominasi pemirsanya. Keadaan yang bisa dikatakan 70-30 atau bahkan 80-20 untuk media televisi.

Apakah tidak terjadi proses seperti yang disebutkan teori kritis di sana? Proses tersebut tetap terjadi, tetapi pada akhirnya arah perubahan dan tanggapan pemirsanya telah jatuh pada jalur yang memang diinginkan oleh media yang memulai skenario besar ini, tentu saja dengan beberapa penyesuaian dari standar awal tujuan yang ingin dicapai media yang kita tidak tahu seperti apa.

Baca juga: Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian

alay
Source of Ilustration: here.

 

 

Generasi Muda Kita Vs. Masyarakat Global

Jika kita mengandaikan ada standar pencapaian tujuan media yang disesuaikan (diturunkan) setelah mempelajari respons pemirsanya, dalam hal ini pasar mereka adalah generasi muda kita terhadap skenario yang mereka tawarkan, maka standar negosiasi generasi muda kita kurang tinggi dalam mengkritisi isu-isu atau wacana yang dilemparkan media.

Tahun ini menandai setidaknya dua (lagi) agenda besar yang melibatkan bangsa kita sebagai warga global, yaitu MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang sudah pasti diberlakukan akhir tahun 2015 ini dan TPP (Trans Pacific Partnership), yang masih ditimbang-timbang keuntungan dan kerugiannya jika kita bergabung dengan mereka.

Wacana globalisasi tidak akan terelakkan lagi. WNA yang bekerja dan mengisi persaingan dunia usaha di Indonesia tidak akan menjadi hal yang aneh lagi. Bayangkan, mungkin saja nanti akan ada franchise sego sambel atau lontong balap milik orang Amerika dengan pelayan dari Canada, kasir dari Cina, dan seterusnya. Bayangkan pula, nantinya akan semakin banyak bisnis-bisnis online berbasis aplikasi yang dimiliki orang asing karena peraturan untuk menjalankan bisnis tersebut memang sudah sangat dilonggarkan.

Ironisnya, di saat yang sedang hits adalah mega-wacana proses pengglobalan, atau di sisi lain kebakaran hutan, mafia beras, makelar Freeport, korupsi akut menahun, politisi bobrok, atau yang lainnya—apa yang hits dalam acara-acara yang disuguhkan khusus untuk generasi muda kita bukanlah cerminan dari bagaimana pentingnya berpikir kritis, kepedulian, pemertahanan nilai-nilai luhur, harga diri, kedisiplinan, pembelajaran, atau kegusaran karena adanya jam belajar di sekolah yang terlanggar.

Kita hanya bisa berharap-harap cemas semoga semua kemungkinan buruk tentang masa depan generasi muda kita itu hanya terjadi dalam pikiran kita saja. Semoga kekhawatiran kita tidak terjadi, Artebianz.

Semoga kalau pun terjadi, itu hanya pada mereka yang ada dalam program variety show itu saja, tetapi tidak pada mereka yang lainnya. Semoga akan terus tebersit tanya di benak kita semua: siapa saja yang tersenyum lebar di balik tirai acara pemberian award untuk program variety show tersebut? Siapa pula penulis skenarionya?

Semoga masih banyak sumber api pembakar semangat sehingga televisi menjadi pilihan terakhir untuk memulai aktivitas.

Baca juga: Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan

 

 

Sumber header: akarpadinews.com




Adi Santoso

Adi Santoso adalah seorang guru dengan hobi hiking dan menyesap kopi hitam yang tengah merintis budidaya jamur tiram.

Profil Selengkapnya >>

Meragajiwa Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Om Telolet Om, Memanfaatkan Isu Viral Untuk Kemaslahatan Umum


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


Happiness Is.... You - Blogtour dan Giveaway


Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Adaptasi Dari Cerita Pendek


Menuju Senja - Payung Teduh


Mirota dan Segala yang Berbau Jawa


Lembah Rolak


Pulau Sempu - Segara Anakan dan Hutan Terlarang


Goodreads Indonesia Regional Surabaya: Novel Remaja Dan Dunianya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Oma Lena - Part 3


Lapang Sunyi, Senyap Ruang