Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya - Perpustakaan Umum Senyaman Perpustakaan Pribadi

12 Mar 2015    View : 5053    By : Amidah Budi Utami


Setelah sempat mengunjungi Museum Bank Indonesia beberapa waktu yang lalu, saya semakin ingin mengunjungi perpustakaan yang masih di bawah naungan Bank Indonesia ini. Sebab, keduanya sama-sama masuk dalam daftar Bangunan Cagar budaya Surabaya. Sejak tinggal di Surabaya, saya semakin menggemari bangunan-bangunan berarsitektur kuno. Saya menyukai detail arsitekturnya serta sejarah panjangnya. Kali ini ini saya ingin mengetahui kebolehan salah satu cagar budaya yang saat ini difungsikan sebagai perpustakaan umum ini.

 

 

Ruang Demi Ruang Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya

Pertama memasuki perpustakaan ini, saya disambut oleh seorang petugas perpustakaan yang sedang sibuk di depan mesin fotokopi. Selanjutnya saya diminta mengisi buku tamu, menitipkan barang bawaan di loker, menyerahkan kartu identitas untuk ditukar dengan kunci loker. Selanjutnya saya diizinkan untuk memasuki ruang dalam perpus dengan berbekal buku catatan dan handphone (tidak diizinkan membawa buku cetak dari luar ke dalam perpustakaan).

Perpustakaan ini memiliki dua ruang baca dewasa, satu ruang baca anak-anak, satu ruang komputer yang terhubung ke internet, satu ruang utama perpustakaan yang sangat luas dan menghubungkan seluruh ruangan lainnya, serta satu ruang santai.



Ruang Baca

Ruangan ini didominasi oleh rak-rak buku yang tinggi menjulang. Bank Indonesia (BI) menyumbangkan 17.000 buku, 11.000 ribu judul, yaitu 65% dari total buku adalah jurnal dan referensi yang berkaitan dengan ekonomi, moneter, dan perbankan. Sisanya, koleksi buku untuk anak-anak, remaja, dan umum. Koleksi bukunya ada yang berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Bagi Artebianz yang saat ini sedang mendalami ilmu ekonomi wajib mengunjungi perpustakaan ini. Saya memang bukan seorang ekonom, namun berbekal sedikit pengetahuan saya yang saat ini bekerja di salah satu portal berita ekonomi, saya meyakini koleksi buku di perpustakaan ini adalah buku-buku penting tentang ekonomi yang tidak akan mudah dijumpai di toko-toko buku. Selain rak-rak buku, di ruang baca juga terdapat sebuah meja besar yang dikelilingi sekitar 8-10 kursi. Di belakang meja terdapat jendela luas khas bangunan Belanda. Pengunjung bisa melihat taman nan hijau dari balik jendela tersebut. Saat saya berkunjung, hanya ada dua orang di ruangan baca.

Secara kasatmata saya menggambarkan ruangan baca dengan empat rak buku yang menjulang tinggi, sebuah meja besar, dua orang pengunjung, sebuah jendela kaca besar. Seperti perpustakaan pribadi milik para konglomerat yang ada di film-film luar negeri ya, Artebianz?

Jika Artebianz kesulitan berimajinasi dengan deskripsi saya, langsung saja saya perlihatkan penampakannya.

 

rak-rak tinggi di ruang baca perpustakaan bank Indonesiarak-rak buku menjulang tinggi, sebuah meja besar, serta jendela kaca besar.
Foto diambil dari astridaryani.files.wordpress.com

Sebenarnya pengunjung perpustakaan ini tidak hanya dua orang, tapi ada tiga orang (dua orang pengunjung ditambah saya)! Bercanda, Artebianz....

Perpustakaan ini tidak sesepi itu kok, ada beberapa pengunjung lain. Namun mereka memilih tempat baca yang lebih terbuka misalnya di lobi, di ruang utama, di ruang baca anak dan di ruang komputer.

Pengunjung yang menempati ruang baca hanya mereka yang sangat tergantung pada buku-buku di rak, yang berdasarkan kesimpulan saya adalah para mahasiswa ekonomi yang sedang mengerjakan tugas.

ruang baca perpustakaan bank Indonesiameja ruang baca dewasa, lihatlah taman hijau dibalik jendela, serasa perpustakaan pribadi kan?

Namun, jika nantinya saya ingin mengerjakan beberapa pekerjaan di sini, saya tidak ragu untuk memilih ruang baca mengingat imajinasi saya yang tinggi mengenai ruangan ini.

 

Ruang Baca Anak

Seperti ruang baca anak di Perpustakaan Balai Pemuda, ruang baca anak di Perpustakaan Bank Indonesia juga didominasi dengan dekorasi warna-warni mulai dari lantai, rak buku, dan meja kursi khas anak-anak. Sayangnya, masih sedikit anak-anak yang mengunjungi perpustakaan ini.

ruang baca anak perpustakaan bank IndonesiaRuang Baca Anak Perpustakaan Bank Indonesia)


Ruang Komputer

Ruangan ini didominasi oleh 18 komputer barteknologi canggih yang tentu saja terhubung ke internet. Mengapa saya mengatakan canggih? Asal Artebianz tahu saja, unit komputer di perpustakaan bank Indonesia ini didukung oleh prosesor core i5 dan monitor layar sentuh. Artebianz tidak kaget? Hal ini biasa saja? Maaf Artebianz, hal ini bukan hal biasa bagi saya yang hanya memiliki laptop dual core dan fasilitas kantor sebuah komputer core 2 duo dengan monitor LCD biasa.   

ruang komputer perpustakaan bank IndonesiaRuang Komputer, percaya kan kalau monitornya layar sentuh?

Dari 18 komputer yang tersedia hanya 2 komputer yang saat itu digunakan. Masih ada peluang besar bagi pengunjung lain yang ingin menggunakan fasilitas komputer.



Ruang Utama Perpustakaan

Ruangan ini didominasi oleh sofa-sofa empuk di dua sudut ruangan. Sedangkan dua sudut lainnya didominasi oleh rak-rak buku kecil dan karpet untuk membaca. Ini adalah ruang utama bangunan. Langit-langitnya yang tinggi menambah kesan luas pada ruangan ini. 

Saya membayangkan sewaktu bangunan ini masih difungsikan sebagai rumah pejabat de Javasche Bank, ruangan ini pasti difungsikan sebagai ruang keluarga, dipenuhi oleh perabot-perabot khas Belanda, berfungsi sebagai pusat kegiatan dan interaksi penghuninya. Inilah salah satu hal yang saya sukai saat mengunungi bangunan kuno, imajinasi saya seketika mundur 100 sampai 200 tahun yang lalu, di dimensi tempat yang sama tapi di dimensi waktu yang berbeda.

Penampakan sofa di salah satu sudut ruang utamaPenampakan sofa di salah satu sudut ruang utama

 

 

Arsitektur Gedung

Gedung ini dirancang oleh biro arsitek Job en Sprij. Gedung yang pernah dinobatkan sebagai rumah termewah di Surabaya pada zaman kolonial ini memiliki arsitektur yang unik. Berdasarkan laporan penelitian mahasiswa Universitas Katholik Parahyangan yang berjudul "Sintesa Arsitektur Lokal dan Non Lokal Gedung Perpustakaan Bank Indonesia di Surabaya", bentuk fisik arsitektur Perpustakaan Bank Indonesia jelas dipengaruhi oleh gaya arsitektur kolonial, namun juga ada nilai-nilai lokal yang diterapkan pada bangunan.

perpustakaan bank indonesia, surabaya tampak depanGedung Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya tampak depan. Diambil dari ayorek.org

Hasil sintesis unsur, budaya dan gaya pada aspek fisik, serta nonfisik arsitektur pada Gedung Perpustakaan Bank Indonesia di Surabaya ini merupakan salah satu representasi bentuk arsitektur Indische. Ekspresi yang ditampilkan dari perpaduan gaya arsitektur luar (colonial) dan budaya lokal (nature-culture) bercampur menjadi satu wujud melalui bentuk dan makna dalam tiap elemen arsitekturnya.  

Beberapa unsur budaya dan arsitektur lokal:
1. konsep simetris (keseimbangan)
2. Pembagian empat bagian (macapat)
3. Orientasi Utara-Selatan yang dominan sebagai wujud menerapkan konsep lokal.
4. Peninggian bangunan, baik pada alas bangunan maupun pada bentuk atapnya.
5. Bentuk atap miring dan volume besar
6. Bentuk penyikapan terhadap kondisi lingkungan dan iklim tropis di Surabaya.
7. Bentuk dan Elemen bangunan yang menerapkan unsur modern dan lokal.
8. Dekoratif Bangunan pada façade maupun ruang dalam bangunan.

unsur-unsur lokal dalam arsitektur gedung perpustakaan bank IndonesiaDari denah ini, manakah yang termasuk unsur lokal artebianz? Foto diambil dari astridaryani.files.wordpress.com

Beberapa unsur budaya dan arsitektur non lokal (Kolonial)
1. Gaya arsitektur Nonlokal (kolonial) yaitu : Art deco, Art Nouveau, Arts and Crafts, dan De Stijl
2. Atap mansard, sebagai salah satu karakteristik arsitektur Kolonial/Eropa.
3. Kontruksi atap kayu dengan detail konstruksi atap Eropa/kolonial
4. Kolom, detail dormer, finial, ornamen dinding, ambang pintu dan jendela.

Detail arsitektur de stijl pada dinding gedung perpustakaan bank indonesia(Detail arsitektur de stijl pada dinding gedung perpustakaan bank indonesia)

Hal menarik lainnya dari gedung ini adalah tamannya yang hijau mengelilingi gedung ini, menciptakan sausana adem di tengah-tengah kota. Taman ini juga berefek besar bagi penghuni/pengunjung yang sedang menatap keluar melalui jendela-jendela gedung. Jendela besar dan taman yang mengelilingi gedung ini adalah pasangan terindah dan serasi yang dimiliki gedung ini.


Sejarah Gedung Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya

Gedung Perpustakaan Bank Indonesia ini dibangun pada tahun 1921, saat itu dikenal dengan nama Woning voor Agent van Javasche Bank yang merupakan kediaman Direktur de Javasche Bank (berganti nama menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953).

Pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1959, bangunan ini digunakan oleh TNI sebagai rumah dinas Komando Militer Kota Besar Surabaya. Pada tahun 1959 sampai dengan tahun 1975, bangunan ini disewa dan digunakan sebagai kantor oleh Perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa. Selanjutnya, pada tahun 1975 sampai dengan tahun 2004, gedung ini difungsikan sebagai Museum Mpu Tantular.

Setelah diserahkan kembali ke BI dan direnovasi pada 2010 dengan anggaran dua miliar rupiah sampai tiga miliar rupiah, Gedung Mayangkara siap menjadi Perpustakaan. Pada tanggal 15 Juli 2012, salah satu aset bangunan bersejarah milik Bank Indonesia ini diresmikan sebagai perpustakaan dengan fokus ekonomi, moneter dan perbankan. Gedung ini adalah salah satu warisan budaya dan sejarah Kota Surabaya yang patut dilestarikan dan dibanggakan warganya.


Lokasi dan Jam Buka Perpustakaan Bank Indonesia

Sebelum saya menulis artikel ini, saya telah terlebih dahulu mengulas sebuah cafe bernama Heerlijk Gelato yang berlokasi di beranda gedung ini. Artinya kedua tempat nongkrong ini memiliki alamat yang sama yaitu beralamat di Jalan Taman Mayangkara No. 6 Surabaya. Bangunan ini memiliki tiga pintu masuk yaitu sebelah barat menghadap Jalan Raya Diponegoro, sebelah selatan menghadap taman, dan sebelah timur menghadap Jalan Raya Darmo. Bagi Artebianz yang ingin mengunjungi Perpustakaan Bank Indonesia dengan menggunakan kendaraan pribadi sebaiknya masuk melalui Jalan Darmo. Di sana tersedia tempat parkir sekaligus dijaga oleh satpam.

Perpustakaan Bank Indinesia buka setiap hari Senin sampai Jum'at dari pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB, serta hari Sabtu pada pukul 08.00 WIB sampai 15.00 WIB.


peta lokasi perpustakaan bank IndonesiaPeta lokasi Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya

 

 

Yang Asyik dari Perpustakaan Bank Indonesia

Menurut saya yang paling asyik adalah arsitektur gedungnya yang benar-benar indah di mata saya. Saya sudah menobatkan diri sebagai pecinta arsitektur kuno. Bangunan yang memang awalnya didesain sebagai rumah alih-alih fasilitas umum ini memberikan kesan "sedang berada di rumah". Saya juga menyukai sofa-sofa yang empuk di sana. Saya mendapatkan kesan classy dan homey di perpustakaan ini.

Hal menarik selanjutnya adalah pengunjung yang tidak terlalu padat seolah memberi ruang bagi saya untuk menemukan kenyamanan saat membaca atau bekerja. Saya merekomendasikan perpustakaan ini bagi Artebianz yang menyukai suasana hening saat bekerja, mengerjakan tugas kuliah, atau sekadar membaca buku.

Lokasi Perpustakaan Bank Indonesia yang berada di tengah kota menambah nilai plus perpustakaan ini karena mudah dijangkau.

 

 

Yang Kurang Asyik dari Perpustakaan Bank Indonesia

Peraturan tidak boleh membawa buku dari luar ke dalam perpustakaan merupakan poin yang paling mengganggu bagi saya, karena seringnya saya ke perpustakaan bukan untuk meminjam buku. Namun lebih sering untuk meminjam tempat untuk bekerja di akhir pekan atau sekadar untuk mencari tempat yang nyaman untuk membaca buku saya sendiri.

Hal kurang asyik lainnya adalah peraturan dilarang meminjam buku untuk dibawa pulang. Petugas hanya mengizinkan pengujung untuk memfotokopi buku, namun tidak lebih dari sepuluh halaman.

Hal kurang asyik ketiga adalah peraturan libur di hari Minggu, di mana hari Minggu adalah waktu luang bagi sebagian besar manusia. Sudah saatnya masyarakat Surabaya tidak melulu pergi ke mal di akhir pekan. Pergi ke perpustakaan adalah salah satu alternatif kegiatan keluarga yang positif.

 

 

Akhir Kata Untuk Perpustakaan Bank Indonesia

Di akhir kata saya ingin mengatakan bahwa saya sangat mengapresiasi usaha Pemda Surabaya dan Bank Indonesia untuk melestarikan bangunan-bagunan bersejarah serta upaya untuk menyediakan fasilitas umum yang berkualitas bagi manyarakat. Hal selanjutnya yang bisa dilakukan adalah semakin memperkenalkan ke masyarakat serta mengajak masyarakat untuk turut mencintai kekayaan budaya dan sejarah kota.

 

 

referensi:
- http://kekunaan.blogspot.com/2014/01/gedung-perpustakaan-bank-indonesia.html
- Fauzi, Bachtiar, dkk.2012.sintesa Arsitektur Lokal dan Non Lokal Gedung Perpustakaan Bank Indonesia di Surabaya. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan


Tag :


Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Nongkrong Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Agama dan Tuntutan Masyarakat


Voici - Duo Multi Talenta Dari Surabaya


Mari Lari - Sebuah Cerita tentang Tekad Hati Lewat Langkah Kaki


Orange Marmalade: Saat Cinta Tidak Memandang Dunia (2015)


5 Lagu Indonesia Tahun 90-an Mengesankan Versi Artebia


Mojok dan Makan Mi di Pojok II, Perak, Jombang


Taman Apsari, Keteduhan di Tengah Hiruk Pikuk Kota


Teluk Biru: Sambil Menyelam Tanam Terumbu


Adiwarna 2017: Karyakarsa - Eksposisi Daya Cipta dan Rasa DKV UK Petra


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Murni dan Tahun Baru


Menguak Luruh