Merah Balada

22 Feb 2015    View : 5593    By : Niratisaya


Kuntum Kecil Mawar menyembul pagi itu
tertelungkup hijau kelopak tangkai
kecil, tak berdosa
pun tak menarik hati kumbang atau lebah madu

kuntum mawar(gambar ilustrasi diambil dari ichsantirtonotolife.wordpress.com)

Kuntum Kecil Mawar masih tertelungkup malu
di jajaran kembang-kembang yang rekah
di dengung lebah dia terlupakan
di kepak kumbang dia dikucilkan

"Hijaumu tak menarik." Seolah dengung dan kepak itu berkata

Kuntum Kecil Mawar bersedih
mendongak pada mentari dia menjerit
merunduk dari rembulan, dia berdoa
mendongak di jerit terus dilakoninya
merunduk dalam khusyuk dijalaninya

dongak-dongak serta runduk-runduk itu pun singkirkan hijau selaput kelopaknya
tampilkan rona merah darah dalam pulasan embun
kian rekah dalam restu cercah mentari

mawar itu putih,
mawar itu kuning,
mawar itu merah

tapi tak ada mawar semerah darah seperti dirinya

Kuntum Kecil Mawar tersingkir sudah
di padang bunga Mawar Merah Darah menggantikannya

mabuk akan wanginya,
buta akan warnanya,
kumbang dan lebah madu berduyun-duyun tertulikan panggilan kembang-kembang lainnya

satu per satu,
berurutan mereka terbang pada Mawar Merah  Darah
satu per satu,
berturutan mereka tertancap pesonanya

“mawar itu merah darah,” bisik si mungil melati
dan kalian sudah mengerti apa sebabnya

bloody rose
(gambar ilustrasi diambil dari becuo.com)


Niratisaya (KP Januwarsi)

Surabaya, 0809-0215


Puisi Artebia lainnya:




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Agama dan Tuntutan Masyarakat


Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri


Merayakan Hari-Hari Indah bersama Nabi - Tradisi Asyura dan Tragedi Memilukan


Begin Again - Selalu Ada Jalan untuk Bangkit dan Menjalani Hidup


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Baegopa Malang - Ada Harga Ada Rasa


Taman Apsari, Keteduhan di Tengah Hiruk Pikuk Kota


Jelajah Pantai-Pantai Malang Selatan


Literasi Agustus: GRI Regional Surabaya - Muda untuk Sastra


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Nyala Lilin yang Menerangi Wanita Itu di Kala Malam


Dalam Sekam Kehidupan