Girls in the Dark - Hal-Hal yang Terjadi Ketika Sekelompok Gadis Berkumpul dalam Gelap

14 Nov 2014    View : 3304    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Akiyoshi Rikako
Diterbitkan oleh  Haru
Diterjemahkan oleh  Andry Setiawan
Disunting oleh Nona Aubree
Aksara diperiksa oleh  Dini Novita Sari
Sampul didesain oleh  Kana Otsuki
Ilustrasi dibuat oleh  @teguhra
Diterbitkan pada Mei 2014
Genre fiksi, young adult, mystery, suspense, dark-drama
Jumlah halaman  278
Nomor ISBN  978-602-7742-31-4
Harga  IDR65.000,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi



Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu?
Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraisi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi….

Kau… pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

 

Tidak mudah menemukan sebuah bacaan yang bisa membuat seorang imajinasi pembaca terseret ke dalam cerita, apalagi jika bacaan tersebut adalah hasil terjemahan. Akan selalu ada kata-kata yang membuat mood drop atau twist yang ternyata tidak cukup twisting untuk mematahkan prediksi awal pembaca.

Oleh karena itu, sering kali saya dibuat jatuh hati oleh sampul novel yang saya baca, seperti novel ini atau novel ini, tapi tidak demikian halnya dengan novel terbitan Haru yang satu ini. Lebih dari sampul, hal pertama yang membuat saya jatuh hati pada novel karya Akiyoshi Rikako ini adalah blurbs di cover belakang.

Berulang kali, ketika membaca Girls in the Dark, saya mendapati semua prediksi saya patah, hingga akhirnya Akiyoshi mengizinkan pembaca (baca: saya) untuk bisa menebak twist-twist di dalam cerita. Yang meski cukup tradisional, tapi diramu dengan sedemikian baik oleh pengarang dan disampaikan ulang dengan cukup apik oleh penerjemah.

 

Impresi Saya terhadap Girls in the Dark

Kisah dengan setting sebuah sekolah Katolik khusus putri ini berpusat pada Ketua Klub Sastra, sekaligus putri pengelola sekolah tersebut, Shiraisi Itsumi, yang ditemukan meninggal dunia. Petunjuk atas kematian Itsumi adalah bunga lily dan pot yang ada tidak jauh dari lokasi ditemukannya tubuh gadis itu.

Berbagai spekulasi muncul dan cerita beredar di antara para siswa yang mengagumi sekaligus iri pada sosok Itsumi yang begitu sempurna dan tak tersentuh. Bahkan oleh para anggota Klub yang hanya beberapa gelintir dan dipilih sendiri oleh Itsumi. Anggota-anggota yang salah satunya diduga mendalangi pembunuhan terhadap Itsumi.

Sang wakil ketua, Sumikawa Sayuri, pun mengadakan yami-nabe—sebuah acara tradisi dalam pertemuan Klub Sastra—yang biasanya diisi dengan acara makan bersama dan pembacaan naskah karya para anggota Klub Sastra. Sebagai wakil dan pengganti Itsumi, Sayuri memimpin acara yami-nabe yang kali itu mengambil tema Itsumi dan kematiannya.

Setiap anggota Klub Sastra dengan berbagai latar belakang dan hobi yang dipilih secara pribadi oleh Itsumi pun larut dalam tulisan mereka. Tanpa sadar, atau justru mereka melakukannya secara sadar, para anggota Klub Sastra menulis analisis dan tudingan mereka tentang pelaku pembunuhan Itsumi. Detik demi detik, dalam kegelapan yang menyelimuti ruang pertemuan anggota Klub Sastra, siswi-siswi dengan penampilan manis dan pendidikan agama yang cukup kuat, mulai menunjukkan warna dan wajah asli mereka.

Bahwa masing-masing dari mereka ternyata memiliki alasan mengapa mereka harus menyingkir Itsumi yang sedemikian sempurna dari dunia ini.

Beberapa orang berpendapat jika masa SMA adalah masa yang menyenangkan dalam hidup seseorang. Namun saya memiliki opini lain mengenai tiga tahun masa terakhir wajib belajar di Indonesia ini.

Di luar bahagia atau menyedihkan pengalaman masa SMA, masa tersebut adalah saat-saat seorang remaja membentuk diri sekaligus karakternya. Seperti sebuah persiapan sebelum terjun ke dalam masyarakat. Sebuah persiapan untuk menunjukkan bagaimana mereka akan bertahan menghadapi gelombang kehidupan. Hal inilah yang saya tangkap dari novel karya Akiyoshi Rikako ini.

Jadi Artebianz, Apakah Anda… pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Kill Bill(diambil dari playbuzz.com)

Baca juga: Intertwine - Takdir Yang Berjalin

 

 

Para Anggota Klub Sastra dan Misteri Pembunuhan dalam Girls in the Dark

Shiraishi Itsumi (Mantan Ketua Klub)

Setiap anggota Klub Sastra, termasuk Sumikawa Sayuri yang berdiri di sisi Shiraishi Itsumi sebagai wakilnya, adalah sosok-sosok yang dipilih secara pribadi oleh Itsumi. Namun uniknya, novel ini sendiri tidak menyediakan ruang bagi Itsumi untuk muncul dan menceritakan eksistensinya secara langsung. Sebaliknya, ia menggunakan para anggota klub pimpinannya untuk menjelaskan karakterisasi dirinya.

Di mata para siswa SMA Katolik Putri Santa Maria, Itsumi terkenal memiliki kecantikan yang langka dan otak yang tajam, proporsi tubuh yang sempurna, lekuk tubuh yang bagus, mata menggoda yang bahkan sehingga ia dipuja-puja adik kelas  (hal. 68). Namun karena ini adalah sebuah penggambaran yang disampaikan secara tidak langsung bisa jadi pendapat tersebut tidak hanya ditunggangi oleh rasa kagum, tetapi juga rasa iri.

Girl and Flower
(diambil dari flickrhivemind.net)

Hal ini disampaikan secara gamblang lewat pengamatan Diana Detcheva, siswa peserta program siswa internasional:

Bahwa di sekolah ini, di SMA putri ini sedikit banyak orang melakukannya. Siapa yang mejadi pemimpin, siapa yang memegang tongkat kekuasaan, siapa yang memiliki wibawa… gadis-gadis itu mengendusnya, memilah-milahnya. Dan kalau ada kesempatan, mereka mengincar untuk merebutnya (hal. 129).

Selain itu, dengan posisinya sebagai gadis populer yang cantik sekaligus putri pengelola sekolah tidak mustahil pada saat menambah penggemar Itsumi yang tak terjangkau ini juga menambah antifan-nya. Orang-orang yang sebelumnya sekadar merasa iri dengan kedudukan Itsumi, yang kemudian menjadi membenci dan ingin membunuhnya.

 

Sumikawa Sayuri (Ketua Klub)

Di antara enam anggota Klub Sastra lainnya, Sayuri adalah satu-satunya siswi SMA Katolik Putri Santa Maria yang dekat dengan Itsumi. Saking dekatnya, Sayuri mengibaratkan dirinya dan Itsumi bagai matahari dan bulan yang saling melengkapi. Bahwa keberadaan Itsumi seperti sebuah bayangan yang selalu melindunginya (hal. 16).

Bisa dikatakan Sayuri adalah sosok seorang gadis yang sederhana tetapi pada saat yang bersamaan cukup tajam terhadap segala kejadian yang ada di sekitarnya. Pada saat membaca novel ini, saya merasa Sayuri bagai Sherlock Holmes atau Nancy Drew yang di tengah kegelapan tengah mengincar pembunuh Itsumi yang menjadi lengah.

Beberapa kali ia melemparkan komentar yang cukup tajam terhadap karya atau reaksi para anggota Klub Sastra terhadap karya anggota lainnya. Bahkan ketika acara yami-nabe baru dimulai, Sayuri memberikan peringatan  yang cukup tajam sekaligus mengandung dark humour:

“… bahan-bahan yang tidak higienis, seperti sepatu atau belalang, tidak diizinkan. Mohon jangan lupakan bahwa ini adalah pertemuan gadis-gadis.” (hal. 12)

Meski cenderung mengarah ke thriller karena kasus pembunuhan Itsumi, tapi ucapan Sayuri sempat tersebut membuat saya terkikik. Seolah-olah ia berkata, “Kalau ada satu di antara kalian adalah pembunuh Itsumi, semoga kau melakukannya dengan lembut dan bermartabat, layaknya seorang gadis.”

Baca juga: Lockwood&Co.: Screaming Staircase - Misteri Jeritan di Undakan Rumah Berhantu

 

Nitami Mirei (Anggota)

Meski masuk nomor dua dalam urutan naskah, Mirei menjadi orang pertama yang membacakan karyanya di hadapan para anggota Klub Sastra. Berbeda dengan Itsumi yang lahir di lingkungan keluarga berada, Mirei terlahir dalam keluarga dengan anggota berjumlah lima orang dan tinggal dengan ibu dan keempat saudaranya di sebuah apartemen kecil (hal. 25). Hal tersebut dan fakta bahwa  ayahnya tak mau merawat satu pun dari empat anak-anaknya membuat Mirei seakan tak memiliki tempat yang membuatnya merasa diterima.

Mirei berusaha menciptakan tempatnya sendiri dengan belajar mati-matian dari kelas 4 SD sampai akhirnya ia berhasil masuk ke SMA Katolik Putri Santa Maria. Namun, Mirei tak mampu menghapus kenyataan bahwa ia tidak benar-benar berasal dari lingkungan yang setara dengan siswa sekolah tersebut. Ia masih harus bekerja agar bisa bertahan hidup sehari-harinya.

Satu hal yang menarik dari sosok Mirei adalah penjelasannya mengenai kehidupannya yang nyaris di bawah garis kemiskinan, khususnya mengenai pertemuan rutinnya dengan sang ayah:

“Meskipun dia terlihat bangga saat mengatakan hal itu [mengeluarkan uang 100.000 yen tiap bulan sebagai tunjangan pendidikan empat orang anaknya], tidak ada kesan merendahkan atau menyayangkan uangnya. Dia terlihat senang dengan pertemuan tak rutin dengan anak-anaknya. Bahkan kadang, dia mengajak kami ke sebuah restoran masakan Cina yang mahal atau restoran daging bakar alih-alih restoran keluarga. Misalnya saat dia memenangkan taruhan pacuan kuda. Dia tidak terlihat keberatan dengan dua adik laki-lakiku yang makannya banyak.” (hal. 25-26)

Kata-katanya yang seolah menunjukkan bahwa meski bukan berasal dari keluarga kaya,  Mirei merasa bahagia. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Semakin ia menjelaskan dengan detail mengenai kehidupan keluarganya dan bagaimana jalan pertemuan rutinnya dengan Sang Ayah, bagaimana sikap ayahnya terhadap saudara-saudara laki-lakinya dan dirinya, semakin tampak jelas bagaimana ia tidak puas dengan kehidupannya dan betapa ia mendambakan kehidupan ala siswi-siswi SMA Katolik Putri Santa Maria.

Kehidupan yang dimiliki oleh Itsumi.

 

Kominami Akane (Anggota)

Bersama Takaoka Shiyo, Akane adalah anggota termuda di Klub Sastra. Namun tidak seperti anggota yang lain, Akane sama sekali tidak tertarik pada buku atau sosok Itsumi. Ia menilai Itsumi sebagai sosok gadis remaja yang terlalu sempurna. Saking sempurnanya hingga menurut Akane, Itsumi berbatasan dengan ketidakcantikan yang ia gambarkan dengan satu kata: “vulgar” (hal. 69).

Selain itu, berbeda dengan makanan manis dan lezat yang ia buat, setiap kata yang diucapkan Akane cukup blakblakan serta sama sekali jauh dari kesan manis. Ia bahkan tidak berniat untuk membaluri tiap kata dalam tulisannya dengan kata-kata sopan. Namun Akane tetap menjaga batas pendapatnya sehingga ia mampu bersikap cukup objektif. Sampai akhirnya salah seorang anggota Klub Sastra lainnya menyampaikan mengenai pendapat mengenai sosok Akane.

Saat itu Itsumi menyampaikan keinginannya untuk menutup Klub Sastra begitu ia lulus SMA. Akane yang kadung lekat dengan dapur Klub Sastra tidak terima keputusan Itsumi tersebut—apalagi saat Itsumi mengatakan ia akan mendonasikan seluruh isi salon tempat Klub Sastra berada (hal. 213).

Tapi, cukup besarkah obsesi Akane terhadap satu hal yang ada di Klub Sastra tersebut, sehingga ia sampai hati membunuh Itsumi?

 

Diana Detcheva (Anggota)

Diana adalah siswa peserta program murid internasional SMA Katolik Putri Santa Maria yang berasal dari Bulgaria. Ia tinggal bersama orangtuanya dan saudari kembarnya, Ema (hal. 103) di sebuah desa yang tergolong miskin. Kehidupan Diana dan saudarinya bisa dibilang hanya berkisar antara rumah dan para turis, sampai akhirnya mereka bertemu dengan Itsumi yang kebetulan memilih desa Diana dan Ema sebagai tujuan home stay.

Seakan kecantikan Itsumi sama sekali tidak memiliki batasan, Diana dan Ema langsung jatuh hati gadis itu serta sikap dan sifatnya yang menawan. Akan tetapi tidak seperti Ema yang tampaknya melupakan ketertarikannya pada Itsumi, Diana berusaha sekuat tenaga agar semakin dekat dengan Itsumi. Mulai dari belajar bahasa Jepang dan menyimpan pemberian Itsumi ke mana pun.

Sikap Diana yang cenderung seperti seorang stalker ini membuat seorang anggota Klub Sastra mengira gadis itu memantrai Itsumi. Apalagi ketika mereka tahu, di desa Diana ada legenda mengenai sosok seorang penyihir.

Baca juga: Sayap-Sayap Kecil - Mengintip Sepotong Kisah Rahasia Seorang Gadis SMA

 

Koga Sonoko (Anggota)

Ketertarikan pada Klub Sastra bermula pada ketertarikannya pada sosok Itsumi. Namun tidak kecantikan gadis tersebut atau sikapnya yang cukup terbuka. Sonoko  yang sekelas dengan Itsumi takjub dan cenderung iri pada Itsumi yang meskipun adalah ketua Klub Sastra, tetapi malah berasal dari jurusan IPA dan mampu menyeimbangkan kemampuan otak kanan dan kirinya dengan baik (hal. 149). Sementara Sonoko hanya mampu menguasai pelajaran eksakta.

Apalagi saat Sonoko tahu Itsumi memiliki cita-cita yang sama dengannya: menjadi dokter. Ia bahkan sampai melakukan satu hal yang membuatnya mampu mendahului Itsumi dalam menggapai cita-citanya, demi tiba di garis final lebih dulu.

Sosok Sonoko digambarkan dengan stereotype seorang ahli eksakta yang mengutamakan logika dan selalu menganalisis segalanya dengan akal—Sonoko terutama menggunakan sistem 5W1H yang biasa digunakan oleh wartawan dalam menulis berita. Sampai satu ketika ia berhadapan dengan sebuah peristiwa yang tak mampu dinalar. Satu hal yang selama ini tak pernah dipercayai oleh Sonoko, walau ia bersekolah di SMA Katolik.

Namun, benarkah ini semua tentang Itsumi dan kecantikannya yang tak mampu dinalar, sehingga mengundang perhatian setan dan sihir? Ataukah ini bagian dari plot yang dibentuk oleh Sonoko untuk menumbangkan pengaruh Itsumi dalam sekolah?

 

Takaoka Shiyo (Anggota)

Shiyo adalah satu-satunya anggota Klub Sastra yang memiliki karya. Namun berkebalikan dengan karyanya yang cukup serius, atau karya anggota Klub Sastra lainnya, ketika Shiyo menulis untuk mengenang Itsumi gaya tulisannya begitu santai. Sama sekali tidak menampilkan sosok yang digambarkan oleh Diana dalam  tulisannya.

Namun satu hal yang pasti, Shiyo selalu digambarkan sebagai sosok idealis yang tak mau karyanya diterjemahkan atau diadaptasi menjadi sebuah film (hal. 192-193). Ia menganggap karyanya, Kimi-kage Sou, akan kehilangan makna dan menjadi rusak.

Layaknya sebagian besar siswi Santa Maria, Shiyo jatuh hati pada sosok Itsumi dan kecantikannya. Ia bahkan membandingkannya dengan kecantikan Dewi Venus. Nada pemujaan terhadap Itsumi nyaris sama seperti Diana, tetapi dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda. Shiyo lebih menaruh perhatian pada perubahan yang terjadi pada sosok Itsumi dan reaksi orang-orang yang ada di sekitarnya. Khususnya anggota Klub Sastra yang mengikuti acara minum teh ala Alice in Wonderland.

Namun benarkah Itsumi dibunuh?

Bila ya, apa alasannya?

Girl Killer
(diambil dari flickr.com)

Dan apakah ada hubungannya dengan pembagian peran pada acara minum teh yang diadakan Klub Sastra?

Silakan Artebianz mencari jawabannya dalam novel Girls in the Dark karya Akiyoshi Rikako ini Smile

Baca juga:

 

 

Akhir Kata Girls in the Dark

Membaca novel ini mengingatkan saya pada novel Gustave Flaubert dan novel debutnya Madame Bouvary. Seorang wanita bangsawan menghampiri Madame Bouvary yang ketika itu masih polos dan berbisik padanya bahwa rahasia akan semakin membuat seorang wanita semakin menarik.

Dengan begitu banyaknya pujian dan kata-kata yang menggambarkan bagaimana menawannya sosok Itsumi primadona SMA Katolik Putri Santa Maria ini. Sekaligus mereka yang mengelilinginya dalam Klub Sastra. Benarkah mereka benar-benar memuja gadis ini? Benarkah mereka benar-benar tulus memujinya?

Sebenarnya plot dan twist yang ditawarkan Girls in the Dark cukup sederhana dan formulanya cukup sering digunakan. Yang membuat novel ini istimewa adalah bagaimana Akiyoshi menyusun plot dan rahasia sehingga membentuk cerita misteri sekaligus berbau horor. Sehingga setiap detail di dalam novel ini menjadi petunjuk yang mampu mengarahkan pembaca agar mawas, siapa pembunuh yang berada di dalam kegelapan acara rutin yami-nabe Klub Sastra SMA Santa Maria.

Selain itu, penyampaian ulang cerita dalam bahasa Indonesia juga cukup rapi dan apik, sehingga Girls in the Dark tidak kehilangan makna dan rasanya.

Singkat kata, untuk Artebianz yang gandrung pada cerita berbau misteri dan horor, saya merekomendasikan Girls in the Dark.

Baca juga: Dunia Cecilia - Dialog Surga Dan Bumi

 

 

 

Your book curator,

N.

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Vampire Flower 1


The Voices - Komedi Kelam tentang Suara-Suara di Kepala Kita


Keep Being You - Isyana Sarasvati


Kue Cubit Surabaya - Cubit Gigit Legit


Heerlijk Gelato


Jelajah Pantai-Pantai Malang Selatan


POPCON Asia Surabaya: City of Superheroes


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Angel's Smile


Aku dan Kau