Sang Alkemis: Perjalanan Pencarian Diri

22 Dec 2014    View : 3813    By : Amidah Budi Utami


Ditulis oleh  Paulo Coelho
Diterbitkan oleh  Gramedia Pustaka Utama
Diterjemahkan oleh  Tanti Lesmana
Diterbitkan pada  2005
Genre fiksi, filosofi, spiritual, perjalanan, fantasi
Jumlah Halaman  216
Nomor ISBN  978-979-22-9840-6
Koleksi  Perpustakaan Pribadi
Rating  5/5


Setiap beberapa puluh tahun, muncul sebuah buku yang mengubah hidup para pembacanya selamanya. Novel Paulo Coelho yang memikat ini telah memberikan inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Kisah yang sangat sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan penuh makna, tentang anak gembala bernama santiago yang berkelana dari rumahnya di Spanyol ke padang pasir Mesir untuk mencari harta karun terpendam di Piramida-Piramida. Di perjalanan dia bertemu seorang perempuan Gipsi, seorang lelaki yang mengaku dirinya Raja, dan seorang alkemis-semuanya menunjukkan jalan kepada Santiago untuk menuju harta karunnya.

Tidak ada yang tahu isi harta karun itu, atau apakah Santiago akan berhasil mengatasi rintangan-rintangan sepanjang jalan. Namun perjalanan yang semula bertujuan untuk menemukan harta duniawi berubah menjadi penemuan harta di dalam diri.

Kaya, menggugah, dan sangat manusiawi, kisah Santiago menunjukkan kekuatan mimpi-mimpi dan pentingnya mendengarkan suara hati kita.

 

Sang Alkemis (The Alchemist) konon adalah sebuah karya yang sangat terkenal ditulis oleh seorang yang tersohor. Saya sudah cukup lama mendengar kepopulerannya, namun baru beberapa waktu yang lalu saya benar-benar berkesempatan membacanya.

 

Santiago, Si Tokoh Utama

Santiago adalah seorang pemuda yang sejak kecil sudah punya visi mengenai apa yang dia inginkan dan apa yang ingin dia jalani, yaitu: berkelana mengenal dunia.

Kedua orang tuanya ingin dia menjadi pastor, agar dia bisa menjadi kebanggaan keluarga mereka yang hanya petani biasa. Namun apa yang penting dan berharga di masyarakat tidak lantas menjadi hal yang sama penting bagi dirinya. Rasa ingin tahu tentang dunia menjadi lebih penting baginya daripada mengenal Tuhan apalagi sekedar mendapat penghormatan di lingkungannya.

De javu! Ini mirip sekali dengan kelakuan saya semasa kecil. Saya kecil sampai remaja memilih bersekolah di jalur SD Negeri, SMP Negeri, dan SMA Negeri dibanding jalur MI (Madrasah Ibtidaiyah), MTS (Madrasah TSanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah) seperti yang dipilih sepupu saya. Alasan saya karena kualitas pendidikan di SD, SMP dan SMA di daerah tempat tinggal saya lebih bagus dibanding dengan MI, MTS dan MA.

Kualitas yang saya maksud meliputi sarana dan prasarana seperti gedung sekolah dan perlengkapan belajar mengajar, kualitas pengajar serta kualitas pelajar: biasanya siswa-siswa terbaik akan memilih sekolah favorit. Saya juga lebih bersemangat ketika mengikuti les bahasa Inggris dibandingkan belajar mengaji di TPQ. Saya tidak benar-benar memikirkan ini sebelumnya, saya hanya memilih apa yang menarik bagi saya. Kalau renungkankan lagi, waktu itu saya punya alasan yang sama seperti alasan Santiago: ingin mengenal dunia.

Namun, bukankah dengan mengenal dunia adalah salah satu cara untuk mengenal Penciptanya?

Karakter lain dari seorang Santiago adalah pembelajar sejati. Dia belajar dari buku-buku, domba-dombanya, orang-orang yang ditemuinya, kota-kota yang disinggahinya, apapun. Matanya tidak pernah berhenti melihat, telinganya tidak pernah berhenti mendengar, otaknya tidak pernah berhenti berpikir, hatinya tidak pernah berhenti merasa, dan instingnya selalu dipertajam dengan menyadari pertanda-pertanda.

 

Dia tahu segala sesuatu tentang masing-masing dombanya. Dia tahu domba-domba mana saja yang pincang, mana yang dua bulan lagi akan beranak, dan mana saja yang paling malas. Dia tahu cara mencukur mereka, juga cara menyembelih mereka. (halaman 37)

"Aku ingin membuat rak pajangan untuk kristal-kristal ini" kata anak itu kepada si pedagang. "Rak itu bisa ditaruh di luar sehingga menarik perhatian orang-orang yang lewat di kaki bukit".(halaman 68)

"Mari kita menjual teh pada orang-orang yang mendaki bukit."
"Banyak kedai yang menjual teh di sekitar sini," kata si pedagang.
"Tapi kita bisa menjual teh dalam gelas-gelas kristal. Orang-orang yang menikmati teh itu bakal tertarik membeli gelas-gelasnya. Pernah ada yang mengatakan padaku, orang mudah terpikat pada keindahan." (halaman 74)

 

Di zaman sekarang, dengan insting setajam itu. Santiago bisa menjadi pengusaha muda sekelas Mark Zuckerberg.

Selain punya visi dan seorang pembelajar sejati, Santiago juga memiliki sifat pemberani. Dia pernah mempertaruhkan domba-dombanya untuk hal yang belum jelas. Dia pernah kehilangan harta miliknya sebanyak tiga kali. Bahkan dia pernah mempertaruhkan nyawanya.

Dia cemas akan apa yang telah terjadi. Dia telah berhasil meraih ke dalam Jiwa Dunia, dan sekarang ada kemungkinan dia harus membayar dengan nyawanya. Pertaruhan yang menakutkan. Tapi dia sudah banyak membuat taruhan yang riskan sejak dia meninggalkan domba-dombanya untuk mengejar takdirnya. Dan seperti dikatakan pemandu onta itu, mati besok sama saja dengan mati kapanpun. Setiap hari adalah untuk dijalani atau untuk menandai kepulangan kita dari dunia ini. (halaman 140)

Baca juga: Sabtu Bersama Bapak

 

Latar Tempat Yang Menajubkan

Karya yang ditulis di Brazil pada tahun 1988 ini mengambil latar tempat mulai dari padang rumput Andalusia, sebuah kota kicil di Andalusia bernama Terifa, kota pelabuhan di Afrika bernama Tangier, Gurun Sahara, Oasis Al-Fayoum, dan Piramida-Piramida Mesir. What a perfect route for amazing traveling!

Saya bisa merasakan suasana khas dari masing-masing tempat. Padang rumput Andalusia dengan kedamaiannya. Kota Terifa dengan kesibukan ekonomi masyarakatnya. Tangier yang cenderung memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi, serta banyak pendatang yang berseliweran. Gurun Sahara yang identik dengan musafir dan onta-ontanya. Serta oasis yang identik dengan "suasana surga". Siapa pun yang melakukan perjalanan ini, pasti akan mendapatkan pengalaman yang berharga.

gunung sahara merupakan salah satu latar cerita sang alkemis

 

Latar Waktu Yang Memperkuat Karakter Cerita

Sang Alkemis menggunakan seting masa lalu, meski demikian tidak ada bagian yang menyebutkan tahun berapa cerita ini terjadi. Namun, dapat dipastikan novel ini menggunakan setting waktu pra-modern, sebelum mobil dan teknologi modern ada.

Setting waktu ini merupakan bagian yang penting dalam memperkuat karakter cerita. Artebianz bisa membayangkan bagaimana jika perjalanan dari Spanyol menuju Piramida-Piramida Mesir itu dilakukan di zaman modern dengan menggunakan pesawat terbang? Saya rasa hanya akan menghasilkan perjalanan fisik tanpa menghasilkan sebuah perjalanan spiritual yang berarti.

Baca juga: Agility Bukan Singa yang Mengembik

 

Bagian Perbagian Sang Alkemis

Setiap bagian dari novel Sang Alkemis ini syarat dengan pesan, baik yang tersirat maupun yang tersurat. Oleh sebab itu tidak aneh jika Artebianz menaruh lembar-lembar post-it di hampir setiap halaman atau mungkin goresan-goresan stabilo di sana-sini (seperti yang saya lakukan). Baiklah, langsung saja saya akan membahas bagian-perbagian tersebut:

Bagian 1: Bagian yang membakar semangat setiap jiwa-jiwa muda yang ingin meraih takdirnya

Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang ketika masih muda tahu takdir mereka. (halaman 30)

Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagad raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.(halaman 31)

Supaya menemukan harta karun itu, kau harus mengikuti pertanda-pertanda yang diberikan. Tuhan telah menyiapkan jalan yang mesti dilalui masing-masing orang. Kau tinggal membaca pertanda-pertanda yang di tinggalkanNya untukmu. (halaman 40)

 

Bagian 2: Apa rahasia kebahagiaan?

Seorang pemilik toko menyuruh anaknya pergi mencari rahasia kebahagiaan dari orang paling bijaksana di dunia. Anak itu melintasi padang pasir selama empat puluh hari, dan akhirnya tiba di sebuah kastil yang indah, jauh tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.

Namun ketika dia memasuki aula kastil itu, si anak muda bukannya menemukan orang bijak tersebut, melainkan melihat kesibukan besar di dalamnya: para pedagang berlalu lalang, orang-orang bercakap-cakap di sudut-sudut, ada orkrestra kecil sedang memainkan musik lembut, dan ada meja yang penuh dengan piring-piring berisi makanan-makanan paling enak di belahan dunia tersebut. Si orang bijak berbicara dengan setiap orang, dan anak muda itu harus menunggu selama dua jam. Setelah itu, barulah tiba gilirannya.

Si orang bijak mendengarkan dengan saksama saat anak muda itu menjelaskan maksud kedatangannya, namun dia mengatakan sedang tidak punya waktu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak muda itu melihat-lihat sekeliling istana, dan kembali ke sini dua jam lagi.

"Semantara itu, aku punya tugas untukmu," kata si orang bijak. Diberikannya pada si anak muda sendok teh berisi dua tetes minyak. "Sambil kau berjalan-jalan, bawa sendok ini, tapi jangan sampai minyaknya tumpah."

Anak muda itu pun mulai berkeliling-keliling naik turun sekian banyak tangga istana, sambil matanya tertuju pada sendok yang dibawanya. Setelah dua jam, dia kembali ke ruangan tempat orang bijak itu berada.

"Nah," kata si orang bijak. "Apa kau melihat tapestri-tapestri Persia yang tergantung di ruang makanku? Bagaimana dengan taman hasil karya ahli taman yang menghabiskan sepuluh tahun untuk menciptakannya? Apa kau juga melihat perkamen-perkamen indah di perpustakaanku?"

Anak muda itu merasa malu. Dia mengakui bahwa dia tidak sempat melihat apa-apa. Dia terlalu fokus pada usaha menjaga minyak di sendok itu supaya tidak tumpah.

"Kalau begitu, pergilah lagi berjalan-jalan, dan nikmatilah keindahan-keindahan istanaku," kata si orang bijak. "Tak mungkin kau bisa mempercayai seseorang, kalau kau tidak mengenal rumahnya."

Merasa lega, anak muda itu mengambil sendoknya dan kembali menjelajahi istana tersebut, kali ini dia mengamati semua karya seni di langit-langit dan tembok-tembok. Dia menikmati taman-taman, gunung-gunung di sekelilingnya, keindahan bunga-bunga, serta cita rasa yang terpancar dari segala sesuatu di sana. Ketika kembali menghadap orang bijak itu, dia menceritakannya dengan mendetail segala pemandangan yang telah dilihatnya.

"Tapi dimana tetes-tetes minyak yang kupercayakan padamu itu?" tanya si orang bijak.
Si anak muda memandang sendok di tangannya, dan menyadari dua tetes minyak itu sudah tidak ada.

"Nah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan untukmu," kata orang paling bijak itu. "Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu."

Berdasarkan penafsiran saya tentang kisah ini, sesungghnya saya memiliki dua penafsiran:

Penafsiran pertama: dalam menjalani hidup agar kita bahagia, kita harus cerdas untuk membagi prioritas kebutuhan antara masa sekarang dan masa yang akan datang.

Misalnya bagi Artebianz yang sudah bekerja dan mendapatkan penghasilan harus cerdas dalam membelanjakan uang. Sebagian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sebagian untuk ditabung. Jika Artebianz adalah seorang pelajar maka harus pandai membagi waktu untuk menikmati hidup (bermain misalnya) dan untuk belajar demi masa depan.

Tentu tidak baik jika seluruh waktu dihabiskan untuk bermain tanpa belajar untuk masa depan, pun tidak baik jika belajar terus-terusan sampai tidak punya waktu untuk bermain dan berteman.

Penafsiran kedua: kita harus cerdas untuk membagi waktu, tenaga, dan pikiran untuk kepentingan dunia dan juga kepentingan akhirat. Itulah rahasia kebahagiaan.

Bagian 3: Salah satu bagian yang mungkin agak ganjil

Bagian ini adalah bagian ketika Santiago bertemu dengan Fatima, si gadis padang pasir yang membuat Santiago jatuh cinta dan ingin mengahabiskan seluruh sisa hidupnya bersama Fatima. Yang terasa ganjil dibenak saya adalah apakah di masa itu pernikahan antara seorang Nasrani (Santiago) dan seorang Muslim (Fatimah) adalah hal yang wajar terjadi di masyarakat?

Baca juga: Supernova Akar

 

Akhir Kata tentang Sang Alkemis:

Saya sangat merekomendasikan novel Sang Alkemis ini ke siapa pun, baik yang masih menyimpan mimpi-mimpi maupun yang telah melupakan mimpi-mimpi. Jangan lupa membaca ulang dalam frekuensi waktu tertentu. Seperti ritual mengulang sebuah reuni teman-teman lama maupun ziarah leluhur.

Baca juga: The Giving Tree: Cinta Adalah Bahasa Universal

 




Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Perempuan, Terlahir Sebagai Penghuni Neraka


Voici - Duo Multi Talenta Dari Surabaya


Tentang Gaya Penceritaan Orizuka - Dari Manisnya Cinta Sang Pangeran Hingga Pahitnya Skripsi (I)


The Swimmer (Fak Wai Nai Kai Ther): Ketika Persahabatan Menjadi Dendam


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Kober Mie Setan, Gresik Kota Baru


Heerlijk Gelato


Wisata Madiun Bersama Keluarga


Literasi Agustus: GRI Regional Surabaya - Muda untuk Sastra


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Tiga Puluh Tahunan (Part 1)


Dor!