To All The Boys I've Loved Before - Siapa Bilang Hati Manusia Hanya Bisa Untuk Satu Orang?

26 Mar 2015    View : 2579    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Jenny Han
Diterbitkan oleh  Spring
Diterjemahkan oleh  Airien Kusumawardani
Disunting oleh  Selsa Chintya
Aksara diperiksa oleh  Yuli Yono
Ilustrasi Isi oleh  @teguhra
Diterbitkan pada  Maret 2015
Genre  fiksi, young adult, slice of life, romance, drama
Jumlah halaman  382
Nomor ISBN  978-602-71505-1-5
Harga   IDR64.000,00
Koleksi  Perpustakaan Artebia

 

Surat-surat itu bukan surat cinta yang ditujukan untuknya, tapi surat yang ia tulis. Ada satu surat untuk setiap cowok yang pernah ia cintai—totalnya ada lima pucuk surat. Setiap kali menulis, ia mencurahkan semua perasaannya. Ia menulis seolah-olah mereka tidak akan pernah membacanya karena surat itu memang hanya untuk dirinya sendiri.

Sampai suatu hari, semua surat-surat rahasianya itu tanpa sengaja terkirimkan—entah oleh siapa.

Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean yang awalnya biasa-biasa saja menjadi tak terkendali. Kekacauan itu melibatkan melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya—termasuk cinta pertamanya, pacar kakaknya, dan cowok terkeren di sekolah.

 

Impresi Saya terhadap To All The Boys I’ve Loved Before

Novel ini adalah perkenalan pertama saya dengan gaya menulis Jenny Han. Saya sering melihat dan mendengar tentang Han dan karya-karya, baik sewaktu iseng mengintip daftar buku-buku yang dibaca oleh teman-teman saya di goodreads.com, maupun dari percakapan beberapa mereka yang gemar membaca. Tapi yah… saya tidak mudah tertarik dengan satu buku begitu saja. Seberapa pun santernya orang-orang membicarakan si penulis dan buku itu sendiri.

Saya kira ini adalah takdir ketika akhirnya novel To All The Boys I’ve Loved Before sampai di tangan saya. Dan jujur, Artebianz, saya rasa saya mulai jatuh hati dengan gaya menulis Han yang disampaikan oleh tim Penerbit Spring (khususnya penerjemah, penyunting, dan pemeriksa aksara). Plus sampulnya yang tidak berubah dari sampul asli. Terima kasih Penerbit Spring karena tetap mempertahankan sampul To All The Boys I’ve Loved Before yang bergaya realistis. Kamu dan saya tahu, Artebianz, betapa pentingnya sampul sebuah buku. Ya, kan? Wink

Baca juga: Everlasting - Terkadang, Ada yang Tak Bisa Dihapus Waktu 

 

 

Bagian Per Bagian To All The Boys I’ve Loved Before

Ada beberapa bagian yang saya sukai dalam novel To All The Boys I’ve Loved Before dan itu bukan hanya karakterisasi para tokoh, tetapi juga bagaimana Han menggambarkan interaksi mereka secara alami layaknya manusia-manusia di sekitar kita. Han menggambarkan para tokohnya sebagai sosok kompleks yang nggak melulu baik, juga nggak melulu jahat.


Oke, saya nggak akan bicara banyak lagi. Mari kita langsung ulas mengenai novel terbitan imprint Haru ini Smile

 

Para Tokoh Dalam To All The Boys I’ve Loved Before

Gadis- Gadis Song

Gadis- gadis Song terdiri dari tiga orang gadis: Margot si sulung, Lara Jean si anak tengah, dan Katherine “Kitty” si bungsu. Aselinya mereka seharusnya dinamakan  "gadis-gadis Covey", tapi kenangan ketiganya terhadap mendiang ibunya yang berdarah Korea membuat mereka cenderung menyebut diri mereka “gadis-gadis Song”. Naga-naganya Lara Jean dan saudari-saudarinya mengikuti kebiasaan para wanita Korea yang tetap menggunakan nama keluarganya, meski mereka telah menikah.

Hal ini menunjukkan betapa kuat hubungan ketiga saudari ini. Meskipun beberapa kali mereka sempat saling benci dan menebar rasa marah antara satu sama lain. Akan tetapi, mereka akan selalu menemukan cara untuk kembali menjalin hubungan mereka lewat hal-hal kecil. Misalnya saja seperti yang dilakukan oleh Lara Jean ketika ia menyulut amarah Kitty:

… Kitty membelakangiku dan tidak mau bicara. Dia masih yakin bahwa aku akan berusaha menghalanginya ikut liburan ke Paris. Rencanaku adalah aku akan meletakkan sepiring snickerdoodle di samping bantal Kitty agar saat bangun nanti dia akan langsung mencium aroma kue. (hal 9)

Atau bagaimana Margot mencatat semua jadwal dan memperhatikan setiap jadwal keluarganya. Hal-hal sederhana memang, tapi sering sering kita remehkan.

Kita mulai perkenalan dengan gadis-gadis Song mulai dari sang tokoh utama….

Lara Jean Song Covey

Lara Jean dikenal oleh orang-orang sekitarnya sebagai sosok gadis yang….

1. Tidak pernah lama kalau marah, menurut Kitty.
2. Paling pesolek di antara gadis-gadis Song, menurut Margot.
3. Memiliki kecenderungan delusi, menurut Josh Sanderson.
4. Imut dan unik, menurut Peter Kavinsky.

Namun, seperti dialog dalam film Madam Bouvary yang pernah saya tonton, kalau saya tidak salah ingat kurang lebih berkata: “Setiap wanita memiliki rahasia. Inilah yang membuat mereka menarik.” Tepat seperti ucapan karakter dalam film tersebut, bahwa di balik sifat-sifat khas gadis remaja Lara Jean ada sebuah rahasia yang tak pernah dikatakannya pada siapa pun. Bahkan pada kedua saudarinya.

Lara Jean(gambar diambil dari readingaftermidnight.com)

Yep, seperti yang tertera di blurbs pada sampul belakang novel Han, rahasia yang disimpan oleh Lara Jean adalah surat-surat cinta yang ditulisnya untuk setiap cowok yang dia sukai. Tentu, nggak masalah kalau seseorang punya cowok-cowok yang dia sukai dan nggak bisa diceritakan. Masalahnya, Artebianz, salah seorang cowok yang disukai Lara Jean adalah pacar kakaknya.

Apakah itu membuat Lara Jean tampil sebagai sosok yang menjijikan? Nope. Sama sekali tidak. Sebaliknya, menurut saya, Han justru menampilkan sisi kompleksitas seorang manusia dalam diri Lara Jean. Dan Han melakukannya dengan baik tatkala dia memilih Lara Jean, si anak tengah, sebagai tokoh utama. Mengapa? Seorang anak tengah akan selamanya terjebak di antara kakak yang menjadi panutan dan adik yang menjadi objek kasih sayang orangtua mereka. Kenyataan ini bisa jadi meninggalkan si anak tengah untuk mencari jati dirinya sendiri. Mencari seseorang yang menjadi alasannya untuk menjalani hari. Seperti yang dilakukan Lara Jean dan tersirat dalam kutipan berikut:

Menjadi milik seseorang—aku tidak tahu, tapi setelah kupikir lagi, sepertinya hanya itulah yang kuinginkan. Untuk menjadi milik seseorang dan untuk memiliki seseorang. (hal. 206)

Margot Song Covey

Margot si anak sempurna. Margot si panutan para gadis Song. Margot yang pintar. Inilah yang menjadi pemikiran saya saat membaca bagian Margot. Namun, sekali lagi, setiap wanita punya rahasia. Demikian pula dengan Margot. Apa itu? Dan apakah rahasia itu akan memengaruhi hubungan gadis-gadis Song?

Saya nggak akan bercerita banyak, Artebianz. Kecuali sama seperti Lara Jean, Margot bukanlah karakter yang bergerak dengan satu lintasan konstan. Lha… kok agak berbau fisika ya, review saya kali ini? Tongue Out


Katherine “Kitty” Song Covey

Kitty adalah salah satu karakter yang saya sukai. Kenapa? Tidak seperti Margot yang terus-menerus mencari apa yang harus dia lakukan selanjutnya, atau seperti Lara Jean yang terjebak antara impian dan apa yang seharusnya dia lakukan, Kitty bergerak dengan bebas dan spontan.

“Bisakah kau menolongku, Kitty?” tanya Daddy.
“Menolong apa?”
“Bisakah kau tetap seusia ini selamanya?”
Kitty langsung menjawab, “Bisa saja kalau Daddy memberiku seekor anak anjing.” (hal. 272)

Lupakan ketidaklogisan ucapan Kitty, saya benar-benar menyukai jawaban dan bagaimana Kitty melontarkannya secara spontan. Setelah kekakuan Margot dan sifat Lara Jean yang nggak pasti, sudah jelas Kitty menjadi karakter yang benar-benar menghibur.

Baca juga: SeoulMate - Menemukan Belahan Jiwa di Seoul


The Boys She’s Loved Before

Josh Sanderson

Dari sepenangkapan saya, Josh adalah tipikal sosok cowok tetangga sebelah (boy next door). Dia baik, santun, humoris, dan disukai oleh siapa saja—khususnya oleh keluarga Lara Jean. Mulai dari Ayah Lara Jean, Kitty, Lara Jean, dan Margot.

Nat Wolff(Misalnya saja seperti sosok Nat Wolff yang membintangi Paper Town,
gambar diambil dari act.mtv.com)

Ayahku menyukai Josh karena dia anak laki-laki, semetara ayahku selalu dikelilingi perempuan.

Kitty menyukai Josh karena cowok itu mau bermain kartu bersamanya dan tidak merasa bosan.

… dia [Margot] tersenyum, matanya berubah lebih lembut dan berkaca-kaca. Aku sadar bahwa Margot juga menyukai Josh. Sangat menyukainya.

… ya, kurasa aku pernah merasakan jatuh cinta sungguhan. Tapi hanya satu kali. Dengan Josh, Josh kami.

Yap, Artebianz, Josh yang sering dipanggil Joshy oleh gadis-gadis Song adalah kekasih Margot. Dari penggambaran Lara Jean tentang Josh yang muncul pertama kali di To All The Boys I’ve Loved Before, saya tahu bahwa sosok Josh begitu kuat. Semacam sebuah kasus yang nggak pernah bisa diungkap Lara Jean. Atau gatal yang nggak bisa berhenti digaruk Lara Jean. Yah... semacam itu. Namun, dalamnya hubungan antara para gadis Song membuat Lara Jean nggak bisa begitu saja membocorkan perasaannya pada Josh.

Tapi bagaimana kelanjutan perasaan Lara Jean pada Josh, ketika Margot meninggalkan mereka dan terbang ke Skotlandia?


Peter Kavinsky

Dari novel To All The Boys I’ve Loved Before, saya mendapatkan gambaran fisik Peter Kavinsky dengan cukup konyolnya dari Lara Jean:

Peter memiliki wajah cowok tampan dari masa lalu. Dia bisa menjadi tentara gagah di Perang Dunia I. Cukup tampan hingga seorang gadis bersedia menunggunya kembali dari perang selama bertahun-tahun. Begitu tampan hingga gadis itu bersedia menunggu selamanya. (hal. 46)

Tak banyak penjelasan tentang seberapa tampan sosok Peter Kavinsky ini. Tapi perbandingan Lara Jean tentang betapa tampannya Peter dan lama seorang gadis bersedia menunggunya, benar-benar membuat saya membayangkan kadar kegantengan Peter.

Josh Henderson(Kalau menurut Amerika, wajah klasik itu kira-kira seperti Josh Henderson? Kalau menurut Artebianz?)

Lucas Krapf

Lucas adalah salah satu cowok yang sempat disukai oleh Lara Jean yang membuat saya menunggu-nunggu kehadirannya. Bukan hanya karena penampilannya yang necis, tapi juga karena bagaimana Lucas dan Lara Jean berinteraksi setelah Lucas menerima surat Lara Jean. Salah satunya adalah saat Lara Jean yang tak pernah datang ke sebuah pesta. Dengan santai Lucas menghampiri Lara Jean dan menyapanya. Sementara selama ini, yang dilakukan oleh cowok-cowok yang menerima surat Lara Jean kalau tidak berusaha mengklarifikasi perasaan gadis itu, dia akan mengejar dan meminta penjelasan tentang surat Lara Jean.

Masih ada dua orang cowok lainnya, Artebianz: John Ambrose McClaren dan Kevin, cinta pertama Lara Jean. Tapi saya nggak akan menjelaskan semuanya di sini. Sila mencari seperti apa cowok-cowok yang sempat ditaksir Lara Jean :D

Baca juga: Intertwine - Takdir Yang Berjalin

 

Kutipan-Kutipan Unik Dalam To All The Boys I’ve Loved Before

Ada beberapa kutipan novel To All The Boys I’ve Loved Before yang saya suka. Beberapa membuat saya ngikik pas baca, beberapa membuat saya merenung.

  • “Anak-anak seumuran kita tahu apa tentang cinta dan kehidupan?”
     
  • “Bagaimana aku bisa mengobrol dengan seseorang yg tertutup lateks dari ujung kepala hingga ujung kaki?”
     
  • “Dari jarak dekat, wajahmu tidak bisa dibilang tampan, tapi cantik.”
     
  • “Menyetrika juga? Aku ini siapa? Cinderella?”
     
  • “Aku merampas tongkatku dari tangan Peter dan mengayunkannya di depan mukanya. “Silencio!”

Kalau ada salah satu dari Artebianz yang sudah membaca novel ini, boleh bagi-bagi kutipan yang disukai di sini Wink

 

 

Akhir Kata untuk To All The Boys I’ve Loved Before

Sewaktu membaca novel ini lembar demi lembar, saya mengira saya akan mendapati beberapa lembar surat Lara Jean langsung. Tapi tidak. Han tidak memulai kehidupan Lara Jean begitu saja. Sebaliknya, ia menjelaskan karakter Lara Jean dan menempatkan pembaca dalam situasi rumah salah satu gadis Song tersebut. Metode Han tersebut membuat saya nyaman berlayar mengarungi kehidupan Lara Jean dan tingkahnya yang lucu serta unik.

Sekarang, saya nggak sabar Penerbit Spring menerbitkan kelanjutan kisah Lara Jean! Berdoa yuk, Artebianz, supaya ada kelanjutannya Laughing

Perlukah saya kasih rating? Karena bagi saya sebuah bacaan haruslah menghibur/memberi pengetahuan/mengajak merenung. Atau memporakporandakan hari-hari kita karena saking dahsyatnya cerita. Nggak ada yang jelek atau buruk dari sebuah buku.

Baca juga: Khokkiri Layaknya Dark Chocolate yang Menawarkan Kisah Manis Sekaligus Gelap dan Pahit

 

 

 

Your book curator,

N




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


1001 Masjid di 5 Benua: Melancong dari Masjid ke Masjid


Begin Again - Selalu Ada Jalan untuk Bangkit dan Menjalani Hidup


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


De Oak Cafe Resto Surabaya


Marathon Kafe Recommended Di Malang


Mengenang Sejarah Dukuh Kemuning Dan Menguak Peninggalan Kepurbakalaannya


Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 1)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Oma Lena - Part 1


Setitik  Tuba