Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

11 Sep 2014    View : 2814    By : Niratisaya


Ditulis oleh   Dewi Kharisma Michellia
Diterbitkan oleh   Gramedia Pustaka Utama
Terbit pada   Juni 2013
Genre  fiksi, absurd, drama, romance, adult
Jumlah halaman   240
Nomor ISBN   978-979-2296-40-2
Harga  IDR45.000,00
Koleksi   Perpustakaan Pribadi
Rating  5/5


Ada surat panjang yang terlambat sampai.
Tanpa nama pengirim, dan hampir basah oleh tempias hujan.
*
Sejak kecil kita berdua merasa diri kita adalah alien-alien yang tersesat ke Bumi.

Pria itu sudah melupakan seorang teman masa kecilnya saat sebundel amplop itu sampai di beranda rumah.

Kalau kau perlu tahu, aku hanya punya satu macam mimpi. Aku ingin tinggal di rumah sederhana dengan satu orang yang benar-benar tepat. Bila memang aku harus mencurahkan seluruh perhatianku, kepada satu orang itulah hal itu akan kulakukan.

Ia bahkan sudah melupakan mimpi-mimpi masa kecil mereka.

Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama bertemu, aku telah memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kauketahui bahkan hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk mencari penggantimu.

Dan ia tak tahu teman masa kecilnya itu masih mencintainya.
*
Surat-surat itu menarik pria itu ke masa lalu.
Hingga ia tahu, semuanya sudah terlambat.

 

Impresi Saya terhadap Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Lumayan panjang juga untuk judul novel Indonesia yang kebanyakan pendek, ya Artebianz? Tapi jujur, panjangnya judul novel ini justru membuat saya makin penasaran; bagaimana sih, sebenarnya isi novel yang berbau mellow ini. Oleh karena itu, sebelum terjun ke review atas impresi saya terhadap novel ini, saya ingin berkomentar sedikit mengenai judul novel debut Dewi Kharisma Michellia ini.  

Entah banyak yang sadar atau belum, kebanyakan buku yang ditulis oleh penulis Indonesia memiliki judul sederhana dan catchy. Tak pernah lebih dari empat kata. Coba tengok novel-novel karya anak negeri yang ada di lemari buku Artebianz. Namun hal yang sama tidak berlaku untuk karya Michellia. Meski demikian, alih-alih merasa muak dengan sebaris kata membentuk jiwa novel ini, saya malah cukup menyukainya.

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya. Rasanya selaras dengan nuansa novel yang menjadi Pemenang Unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012 tersebut. Pun dengan sampulnya.

Saya pun tak segan untuk memberikan satu poin atas judul unik untuk novel karangan Michellia ini, yang selaras dengan cover dan nuansa cerita. Nah, mari kita kembali ke fokus semula: novel perdana Michellia; Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya.

Novel ini bercerita tentang kehidupan wanita berusia 40 tahunan, "Aku" yang dijabarkan lewat sekumpulan surat. Surat-surat panjang tersebut ini ditujukan oleh "Aku" kepada teman masa kecilnya, yang ia sebut “Tuan Alien”. Surat-surat awal dari 37 surat yang ditulis tokoh utama mulanya saya kira adalah surat balas dendam. Atau paling tidak, luapan amarah Aku pada Tuan Alien. Namun seiring lembar demi lembar surat saya baca, saya menemukan hal lain….

Sebagai seseorang yang nyaris tak mampu melontarkan kata-kata dengan baik—sebab bila Aku mampu, tentu ia takkan pernah menulis surat dan memilih pertemuan biasa dengan Tuan Alien—Aku dengan manis menuliskan kisah dan perasaannya melalui surat-suratnya. Pada lembar demi lembar surat yang ditulisnya, Aku seolah mengeluarkan semua emosi dan kenangannya demi memendekkan jarak antara dirinya dan Tuan Alien. Ia memulai suratnya dengan mengenai masa lalunya dengan Tuan Alien. Namun pada kenyataannya ia tidak benar-benar balas dendam atau meluapkan amarahnya pada Tuan Alien. Sebaliknya, ia melakukannya pada dirinya sendiri.

Tumpukan Surat
(diambil dari beingbeautifulisastateofmind.tumblr.com)

Mengapa saya berpendapat demikian?

Pada surat-surat awal yang Aku tuliskan pada Tuan Alien menggambarkan betapa dia menggantungkan dirinya pada lelaki tersebut, serta janjinya untuk menikahi Aku:

“…kita sempat mengaitkan kelingking dan berjanji untuk saling setia, dan kau kelepasan bicara. Kau mengikrarkan, kelak kita juga akan menikah seperti manusia kebanyakan. Aku tak mengoreksinya.”

Dari sebaris gambaran percakapan dan interaksi Aku dengan Tuan Alien, terlihat bagaimana Aku menggantungkan diri pada orang lain (dalam hal ini si Tuan Alien) untuk menemukan jati dirinya. Demi lelaki itu Aku melakukan segalanya. Termasuk menahbiskan dirinya sebagai alien, demi menjadi Nyonya Alien. Namun seiring waktu, jarak mulai tercipta di antara mereka. Kegemaran yang berbeda, bidang pekerjaan yang berbeda, dan lingkungan yang berbeda.

Sementara Tuan Alien perlahan menjadi manusia dan benar-benar menikah seperti manusia kebanyakan, Aku justru benar-benar mejadi alien. Akhirnya keduanya terpisah hingga jutaan tahun cahaya tanpa satu hal pun yang dilakukan oleh Aku untuk mengubahnya; meski pada kenyataannya ia memendam rindu dendam pada Tuan Alien. Di sinilah mengapa saya berpendapat bahwa balas dendam/amarah yang tadinya dianggapnya ditujukan pada teman masa kecilnya, sebenarnya ditujukan pada dirinya sendiri. Atas ketidakmampuannya untuk berdiri dan melakukan apa yang diinginkannya. Seperti keinginannya untuk mengoreksi kalimat Tuan Alien sewaktu mereka masih kecil, tetapi pada akhirnya Aku tak mampu melakukannya.

Sikap dan sifat menggantungkan diri pada Aku mungkin dimulai sejak ia masih kecil. Ketika ia terlahir sebagai perempuan dan menyalahi pengharapan ibunya, yang begitu ingin diterima di kalangan keluarga suaminya—ayah Aku.

“Keluarga besar sempat kecewa atas keputusan Ayah menikahi Ibu yang berasal dari suku Bima dan beragama Islam, walaupun Ibu bersedia mati-matian mempelajari agama Hindu sebelum menikahi Ayah. Kekecewaan mereka bertambah ketika tiga anak dari rahim Ibu lahir dengan vagina.”

Sebagai anak terakhir, Aku bisa dianggap sebagai golden ticket bagi Sang Ibu untuk diterima di keluarga besar Ayah. Namun takdir memutuskan lain. Dan di sini juga tampak “jarak jutaan cahaya” antara Aku dengan Sang Ibu, yang kemudian menjalar pada setiap orang di sekeliling Aku. Bukan hanya pada Tuan Alien, tetapi juga pada teman-teman Aku, serta kekasih terakhirnya. Alhasil, Aku memberi jarak dengan dirinya sendiri. Ia tak lagi merayakan ulang tahunnya, ia melalaikan keadaannya… padahal yang Aku inginkan hanya hal sederhana: ia ingin seseorang mendekatinya. Membacanya, seperti yang dilakukan oleh Pemilik Toko Buku yang menjadi jembatan yang mengembalikan Aku pada obsesinya pada Tuan Alien.

Mungkin itu juga pada akhirnya yang mendorong Aku lebih dekat dengan tokoh tersebut ketimbang yang lain. Sebab seorang pemilik toko buku tentu takkan memilih buku yang akan bersarang di tokonya, kan? Ia akan menerimanya dengan tangan terbuka, selayaknya ia menerima semua orang yang masuk ke dalam kehidupannya.

Satu hal yang diinginkan Aku dari Tuan Alien, Sang Ibu, serta orang-orang di sekitarnya.

Baca juga: Mari Lari - Sebuah Cerita tentang Tekad Hati Lewat Langkah Kaki

 

 

Tentang Karakter dalam Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Saya tidak akan membahas karakter-karakter lainnya, sebab novel ini ditulis dalam bentuk surat–tentu yang menonjol adalah karakter Aku.

Tidak seperti kebanyakan novel yang menceritakan utuh seorang karakter—entah lewat sikap atau tindakan, pada Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya, sosok Aku lebih banyak ditampilkan lewat bagaimana aksi orang-orang pada Aku atau reaksi Aku terhadap orang lain; baik Tuan Alien, ibu Aku, maupun Tuan Pemilik Toko Buku.

“…kita sempat mengaitkan kelingking dan berjanji untuk saling setia, dan kau kelepasan bicara. Kau mengikrarkan, kelak kita juga akan menikah seperti manusia kebanyakan. Aku tak mengoreksinya.”

Kutipan tersebut diucapkan oleh Tuan Alien pada Aku tatkala keduanya masih ingusan dan belum benar-benar mengenal dunia. Layaknya seorang bayi yang akan menelan apa pun yang didengar/dilihatnya kemudian menirunya dengan baik, serta seorang umat yang mematuhi ajaran agamanya, Aku mematuhi ucapan Tuan Alien—meski pada saat yang bersamaan ia tahu; Tuan Alien takkan menepati janjinya. Mana mungkin seorang alien akan menikah seperti manusia pada umumnya? Bukankah itu berarti sejak awal mereka hanya dua orang yang terasing, yang karena ingin melupakan keterasingannya memutuskan untuk bersama, tanpa benar-benar menginginkan kebersamaan? Setidaknya Akulah yang menginginkan kebersamaan itu. Oleh sebab itulah, ia tak menegur Tuan Alien atas ucapannya yang aneh.

Ophelia
(diambil dari devoir-de-philosophie.com)

Dari pemilihan cara bercerita (surat) hingga karakterisasi tokoh utama Aku, saya rasa saya cukup paham dengan alasan Michellia memilih karakter yang lemah dan terkesan tak memiliki tulang belakang untuk menceritakan ceritanya. Semuanya sejalan dan serupa; tertata dan konstan dalam menyanyikan irama. Meski beberapa kali dalam proses membaca saya merasa lelah dan bertanya-tanya, “Berapa lama lagi dia akan berjalan, sementara dia memiliki kesempatan berlari?”. Namun ketika perlahan terungkap bagaimana masa lalu Aku, saya pun memilih untuk membiarkannya mengalir dan menyibak tiap penyebab di masa lalu yang menjadikan dirinya pada masa kini.

Baa juga: Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

 

 

Bagian per Bagian Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Sedari awal, sekitar 40 halaman, saya sudah dibuat jatuh cinta pada novel debut Michellia ini melalui kekayaan diksi dan bagaimana gadis kelahiran Denpasar ini memainkannya dengan tajam dalam laju yang sedemikian lamban. Sehingga cerita ini terdengar seperti blues dalam tempo lambat di telinga saya. Selain itu, nuansa yang diciptakan Michellia, layaknya perpaduan antara Kafka, Camus, dan Murakami, yang cukup jarang saya jumpai di antara penulis tanah air sekarang ini. Bahkan saya sendiri tidak menulis seperti demikian, meski menggemari karya penulis-penulis tersebut.

Di sisi lain, hal ini dapat menjadi kekurangan Michellia. Bagi Artebianz yang mengharapkan kisah romantis, Michellia hanya memberikan porsi kecil dan terbatas dalam novel Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya. Gadis yang gemar menulis cerpen ini hanya menyediakan ruang untuk rindu yang tak tersampai, rasa cemburu yang tak terjawab, serta kegelisahan yang tak berkesudahan.

Broken Heart
(diambil dari wallmu.com)

Jadi, izinkan saya mengingatkan pada Anda, Artebianz, yang mudah galau… novel ini mungkin bisa membuat Anda semakin galau. Atau mungkin kegalauan Anda juga bisa berakhir sebab Anda bisa menitipkan penderitaan itu pada sosok Aku Tongue Out

Baca juga: Embroideries: Menyusup dalam Kehidupan Para Wanita Timur Tengah

 

 

Akhir Kata untuk Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya dalam pandangan saya menambah warna khasanah sastra Indonesia. Saya ingin menempatkan Michellia di antara Ayu Utami, Budi Darma, Sapardi Djoko D., Maroeli Simbolon. Namun…kita tunggu karya gadis muda ini berikutnya dulu Smile

Saya tak sabar untuk melihat Michellia mengembangkan sayapnya lebih lebar lagi.

 

 

 

Your book curator,

N

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Takdir Dan Pertanda-Pertanda


Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri


Einstein Aja Ingin Tahu! (Jilid 1)


Art Idol


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Depot Gresik


7 Mal Dan Tempat Nongkrong Dengan Toilet Asyik Di Surabaya


Wisata Religi: Makam Maulana Sayyid Ismail Janti, Jogoroto, Jombang


Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 2)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Bersama Sebuah Buku dan Sebatang Rokok


Halusinasi