Begin Again - Selalu Ada Jalan untuk Bangkit dan Menjalani Hidup

04 Mar 2015    View : 21643    By : Niratisaya


"Musicians for the most part are monosyllabic teenagers who really don't have a whole lot to say."

Saya tidak ingat bagaimana saya bisa berakhir menonton film ini. Saya tidak terlalu menggemari Kiera Knightley, walau ia memainkan banyak karakter dengan gemilang di setiap filmnya. Saya juga tidak terlalu menggilai Adam Levine, despite the oh-so-purrfect-voice-look-and-body. Eh, tapi saya penggemar Mark Ruffalo, Artebianz! Dan akhirnya saya ingat, 80% penyebab saya menonton Begin Again adalah aktor yang keren ini.

Saya jatuh cinta pada sosok dan akting Ruffalo semenjak menonton film Now You See Me. Semenjak, itu saya selalu menanti film terbaru pria yang sudah memiliki tiga anak ini.

Salah satu trailer Begin Again

 

 

Guliran Cerita Begin Again

Cerita diawali di sebuah pub, seorang lelaki (Steve yang dimainkan oleh James Corden) baru saja selesai memainkan sebuah lagu dan meminta seorang wanita naik ke panggung untuk menyanyikan lagunya. Wanita tersebut adalah Gretta James (Keira Knightley), salah seorang tokoh utama kita dalam film Begin Again. Mulanya Gretta menolak, ia tampak tak terlalu tertarik lagi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan musik. Sampai akhirnya Steve membujuk penonton agar merayu Gretta.

Gretta dan Dan

Dengan enggan, Gretta meraih gitar dan naik ke panggung. Ia pun menyanyikan “A Step You Can’t Take Back”, sebuah komposisi yang dilantunkannya dengan perlahan di awal, sebelum kemudian, ketika mencapai reffrain dinyanyikan Gretta dengan penuh amarah. Ia lalu meninggalkan panggung. Lolos dari pehatian Gretta, sesosok lelaki bertampang kusut dan perpenampilan kumal yang berdiri di depan panggung. Ia tersenyum menatap sosok Gretta.

Dan

Penonton kemudian dikenalkan pada sosok pria misterius itu. Dia adalah Dan Mulligan (Mark Ruffalo), seorang eksekutif perusahaan yang mengalami kejatuhan—baik dalam urusan bisnis maupun dalam kehidupan pribadinya. Memang masih ada beberapa musisi yang mengirimkan demonya pada Dan, tapi mereka hanyalah musisi amatir yang jauh dari ekspektasi Dan. Yang begitu tinggi. Dan juga masih memiliki tempat tinggal, tapi hanya sebuah apartemen kecil di daerah Manhattan yang kumuh. Komunikasi Dan secara otomatis terputus dari keluarganya sejak ia meninggalkan rumah dan hidup sendiri. Ia tak tahu keseharian putri tunggalnya, Violet (Hailee Steinfeld). Bahkan usia gadis itu. Dan ini baru sebagian kecil dari hal-hal yang memalukan dalam kehidupan Dan saat ini.

Dan Dihajar

Lain Dan, lain pula dengan Gretta. Penyanyi sekaligus pencipta lagu muda ini datang ke Manhattan dengan harapan yang melambung tinggi bersama kekasihnya, Dave Kohl (Adam Levine). Dave adalah seorang penyanyi yang baru naik daun. Ia mengajak Gretta yang terkadang menciptakan lagu untuk Dave untuk tinggal bersama di sebuah apartemen pemberian perusahaan label Dave.

Semua berjalan mulus dalam kehidupan Gretta. Hubungannya dengan Dave mulus, ia juga bertemu dengan teman lamanya, Steve, saat berkeliling New York. Sampai akhirnya Dave harus menjalani tur keliling dan Gretta tak bisa ikut—mengingat posisinya yang masih abu-abu dalam karir Dave. Berbulan-bulan hidup terpisah, membuat Dave kesepian. Ia pun mulai melirik salah satu pegawai perusahaan label.

Gretta yang hafal kekasihnya,  akhirnya tahu bahwa hati Dave sudah berpaling darinya saat mendengarkan lagu ciptaan Dave yang teranyar. Pada detik itu juga Gretta mengepak bajunya, membawa sepedanya, dan meninggalkan Dave. Ia memilih tinggal di apartemen kecil Steve sambil menunggu jadwalnya penerbangan pulangnya.

Gretta dan Dave

Di hari-hari penantiannya itulah Gretta bertemu dengan Dan serta sifat eksentriknya. Pernah bertemu dengan seorang lelaki yang meracau kalau kamu menyanyikan lagu yang menyelamatkan nyawanya, lalu minta ditraktir? Berusaha merayu kita untuk jadi artisnya pula. Benar-benar Dan ini lelaki ajaib, kok!

Namun, tingkah spontan dan terbuka Dan-lah yang membuat Gretta tertarik. Bahkan ketika label tempat Dan bekerja mensyaratkan Gretta untuk membuat demo, Gretta menolak dan meminta Dan untuk mengerjakan albumnya. Dasar Dan perfeksionis dan suka tantangan, ia pun menerima permintaan Gretta bahkan melakukan hal-hal gila yang belum pernah dilakukan artis asuhannya.

Gretta dan Dan(Gretta, Dan, dan Tim Produksi mereka)

Witing trisna jalaran saka kulina. Rasa cinta timbul karena dua orang yang terbiasa berjumpa. Inilah yang terjadi antara Gretta dan Dan. Mereka terbiasa melakukan petualangan bersama, mengerti bahwa mereka sama-sama melewati masa sulit dalam kehidupan, dan telah saling terbuka satu sama lain. Gretta bahkan bisa masuk dalam kehidupan Violet dan, sebagai gantinya, ia telah mengundang Dan masuk ke apartemennya.

Nah, apakah Gretta bisa menyelamatkan Dan seperti lagunya telah menyelamatkan lelaki itu dari tindak bunuh diri? Dan, apakah Gretta akan membuka lembaran baru dengan Dan? Sementara di sisi lain istri Dan, mengharapkan lelaki itu kembali ke dalam kehidupan mereka. Pada akhirnya, bagaimanakah cara Gretta dan Dan memulai kembali kehidupan mereka?

Temukan jawabannya di film yang disutradarai dan ditulis oleh John Carney ini, Artebianz.

Baca juga: The Fault in Our Stars - Secercah Kebahagiaan dalam Duka

 

 

Cerita Klise Industri Musik dan Lagu-Lagu Keren dalam Begin Again

Idealisme pasar versus idealisme kesempurnaan sebuah karya.

Kehidupan hedonis musisi versus kehidupan bersahaja.

Kedua tema itu hampir selalu muncul dalam film yang membahas industri musik. Termasuk Begin Again. Di sini kita akan menemukan kubu-kubu yang bertarung mempertahankan idealisme kesempurnaan sebuah karya, yang berhubungan dengan hati dan hubungan emosi antara empu sebuah karya dengan para penikmatnya. Serta mereka yang hanya fokus bagaimana menguasai pasar.

Kubu pertama diwakili sosok Gretta dan Dan yang berusaha menunjukkan bahwa musik bukan sekadar meraih perhatian massa, tetapi juga bagaimana menyentuh hati mereka. Hal ini terlihat dari kebanyakan musik Gretta yang bebas dari sentuhan musik techno. Bahkan cenderung mengutamakan instrumen yang mengandalkan permainan jemari manusia (gitar, drum, keyboard, etc). Serta lirik yang sederhana sekaligus mewakili satu peristiwa yang benar terjadi dalam kehidupannya.

Contohnya “A Step You Can’t Take Back”, yang menjadi lagu pembuka film ini. Dalam lagu itu Gretta hanya mengandalkan gitar akustik—sebelum kemudian Dan (melalui imajinasinya) menambahkan piano, drum, biola, dan cello—serta lirik yang mewakili perasaannya selepas putus dengan Dave.

Gretta di Atas Panggung Imajinasi DanGretta di Atas Panggung Imajinasi Dan

Kubu kedua diwakili oleh Dave dan para eksekutif di perusahaan label. Saya berpendapat seperti ini karena argumentasi antara Gretta dengan Dave, saat lelaki itu hendak merilis album terbarunya—yang juga memuat lagu ciptaan Gretta (Lost Stars).

Percakapan Gretta dan Dave

Gretta :   I think you’ve lost the song in the production. You know? I mean…. Okay, techno is star.I write it as a ballad and… I don’t know it sounds like epic stadium fall.
Dave :  Oof… Yeah, but I want to turn it as a hit. 
Gretta :  Why?
Dave :  Why? What kind of question is that? You’re the writer. You get sole writing credit from it, Gretta. It’s huge for you.
Gretta :  Yeah, but I mean you weren’t supposed to lose the song in it. You know? I mean it’s delicate.

Dari percakapan Gretta dan Dave terlihat bahwa keduanya memiliki visi yang berbeda saat mencipta dan memainkan lagu. Sementara Gretta lebih mengejar prestasi dalam mengekspresikan rasanya lewat lagu, Dave yang lebih dulu terkenal larut dalam popularitas sehingga lupa apa sebenarnya tujuan seorang musisi bernyanyi dan menciptakan lagu.

Singkat kata, meminjam kata-kata dari Gretta, Dave kehilangan lagu yang diciptakannya saat memproduksinya di dapur rekaman.

Sejujurnya, Artebianz, secara garis besar hampir tidak ada yang istimewa dari cerita Begin Again. Kita akan mendapati formula yang sama dari sebagian cerita yang sempat berada di tangan dan kita baca. Atau sempat kita tonton sambil makan popcorn.

Dalam film ini kita akan mendapati seorang gadis/wanita bertemu dengan seorang pemuda/lelaki, si gadis/wanita akan jatuh cinta pada si pemuda/lelaki, mereka akan menikmati waktu bersama sampai akhirnya badai percintaan datang silih berganti.

Saya mendapati formula yang sama di film Tonight You’re Mine, yang membahas topik sama: industri musik dan percintaan antara mereka yang berkutat di dalamnya.

Hanya bedanya, Begin Again menawarkan original soundtrack yang bisa dibilang lumayan mengena dan pas banget dengan alur cerita—khususnya kisah kehidupan Gretta. Selain dua lagu yang saya sebutkan sebelumnya, masih ada beberapa lagu lainnya yang nge-blend dengan cerita.

Ada “Like a Fool” yang bercerita mengenai Gretta yang melihat perubahan Dave dan teringat pada kisah cinta mereka. Juga ada “Coming up Roses” yang merupakan karya musisi favorit saya, Glenn Hansard.

Lagu ini masih bercerita seputar hubungan sepasang kekasih yang masing-masing menyadari bahwa mereka telah berubah—demikian pula dengan perasaan mereka. Yang saya rasa merupakan penggambaran perpisahan antara Gretta dengan Dave. Tanpa terlalu banyak drama, hanya air mata dan penyesalan yang tak ditampakkan pada yang lainnya.

Sementara untuk lagu-lagu ciptaan Dave, a.k.a Adam Levine, saya masih bisa menikmatinya. Misalnya saja “Higher Place” yang dalam cerita didedikasikan Dave untuk Mim (Jennifer Li Jackson), selingkuhannya. Hanya, entah apakah saya sudah termakan idealisme Gretta, saya tidak bisa se-enjoy saat mendengarkan lagu-lagu ala Gretta yang bersih dari sentuhan musik techno.

(Entah ini kebetulan atau tidak, dan entah apakah Artebianz sadar, sebagian besar musik Adam Levine saat ini banyak yang di-mix dengan musik techno yang nge-beat. Sebut saja “One More Night” atau “Maps”. Membuat saya berpikir, apakah lagu ini sebenarnya dibuat berdasarkan kisah nyata—yang mengadaptasi kehidupan Levine?)

Baca juga: Present Perfect: Seandainya Waktu Dapat Diputar Kembali

 

 

Akting Aktor featuring Musisi dalam Begin Again

Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik pada film Begin Again, pada akhirnya. Dan itu bukan Ruffalo. Yakni aktor yang dibuat menyanyi dan para penyanyi yang dibuat berakting. Hasilnya? Izinkan saya menunjukkannya lewat perbandingan.


Aktor Menjadi Penyanyi

Dalam hal ini hanya ada satu orang: Keira Knightley.

Surprise, surprise… siapa kira Knightley ternyata memiliki suara yang easy-listening dan lumayan berkarakter. Saya tidak tahu apakah wanita yang kelahiran London ini pernah bernyanyi sebelumnya, tapi bisa saya katakan ia melakukannya dengan baik. Namun, dari semuanya, saya paling suka dengan lagu “Coming Up Roses” yang mengantarkan suara Knightley dengan baik.

Sementara untuk akting, saya cukup menyukai akting Knightley di sini. Ah tidak. Tepatnya sangat menyukainya. Hal ini karena Knightley tampil begitu santai dan tampil apa adanya sebagai Gretta, seorang gadis yang dengan tulus menulis lirik dan membuat komposisi lagu.

Gretta di atas panggung


Penyanyi Menjadi Aktor

Di satu sisi, dalam Begin Again ada Adam Levine dan Cee Lo Green, yang berperan menjadi penyanyi bernama Trouble Gum. Namun di sini saya hanya akan membahas akting Adam Levine sebagai Dave Kohl.

Harus saya katakan, meski Adam Levine terkenal dan lebih tampan ketimbang Mark Ruffalo, saya lega dia tidak mendapatkan peran utama dalam Begin Again. Levine boleh jadi memiliki suara yang melengking keren, tapi aktingnya masih  kaku dan akan tak tertolong bila ia tak bertemu dengan aktor yang memiliki kemampuan setara Knightley untuk menyeimbanginya.

Pertengkaran Gretta dan Dave

Akting Levine baru tampak cukup memuaskan ketika ia harus mengekspresikan perasaan tokoh yang diperankannya lewat perubahan mimik, ketimbang dialog. Salah satu akting Levine yang saya suka adalah di adegan yang mengambil scene di dapur apartemen tempat tinggal Dave.

Di sana, Dave yang ketahuan mendua tampak bersalah sekaligus berusaha mempertahankan egonya sebagai sosok penyanyi idola di hadapan kekasihnya. Walhasil, ketika Gretta menatapnya dan menuntut jawaban dari Dave—entah permintaan maaf atau penjelasan yang disusul kata putus, ia hanya menunduk, mengalihkan pandangan dan wajah dari tatapan tajam Gretta yang berkaca-kaca.

Sedangkan untuk adegan yang mengharuskan Levine berdialog, saya merasa suami Behati ini masih kaku.

Untuk suara sendiri… kita tak perlu meragukan suara Levine, kan, Artebianz. Namun, bisa dikatakan Begin Again mengobati rindu saya pada gaya bermusik Maroon5 yang lama. Ketika kelompok musik ini tidak memfokuskan musiknya pada lagu nge-beat beraroma techno.


Aktor yang Tetap Menjadi Aktor

Salah satu di antara mereka yang ada di kelompok ini adalah Mark Ruffalo. Ia adalah salah satu poin yang menakjubkan dari Begin Again. Mengapa demikian? Kemampuan akting Ruffalo-lah yang menjadi jawabannya. Ia bukan hanya berakting dengan wajah atau suaranya. Lelaki yang sering dibandingkan dengan Marlon Brando muda ini mampu masuk ke dalam karakter tokoh yang diperankannya, sehingga saya menangkap hanya dengan sedikit gerak tubuh atau perubahan ekspresinya saja, Ruffalo mampu mengalihkan perhatian penonton padanya.

Salah satunya adalah adegan ia menjemput Violet bersama Gretta—yang kemudian terpaksa menemani mereka berbelanja.

Violet dan komentar GrettaSaya suka bagaimana mimik wajah ketiganya terlihat begitu alami

Di adegan tersebut Gretta mengkritik Violet yang dinilainya terlalu menilai rendah dirinya, karena gadis itu mengeksplorasi tubuhnya lebih dari seorang gadis remaja umumnya. Yang perlu dilakukan oleh Ruffalo di sana hanyalah menggerakkan tubuh serta mengubah ekspresinya dan saya segera mengamatinya. Kemudian saya dibuat tertawa dengan ekspresinya sebagai seorang ayah yang anaknya mendapat kritikan dari temannya. Ruffalo melakukannya tanpa satu pun dialog lho, Artebianz!

Atau ketika Ruffalo dan Knightley tampil dalam satu scene, saat mereka berkeliling New York sambil mendengarkan lagu dari satu alat yang sama. Salah satu lagu yang mereka dengarkan, “For Once in My Life” membuat keduanya ingin berdansa. Dan dan Gretta yang seolah bagai berada di frekuensi yang sama, segera mencari tempat di mana mereka bisa berdansa sepuasnya tanpa dianggap aneh. Keduanya masuk ke dalam kelab dan menari—masih dengan lagu yang mereka dengarkan.

Dari interaksi dan adegan-adegan antara Gretta dan Dan saya menangkap chemistry antara kedua tokoh. Namun, di sisi lain saya juga menangkap seiring kebangkitan Dan, hubungannya dengan istrinya pun membaik. Di titik ini saya lumayan dibikin gamang oleh Carney. Kemudian dibuat gemes dengan akhir film yang diputuskannya.

Baca juga: Filosofi Kopi: Bukan Sekadar Adaptasi Dari Cerita Pendek

 

 

Twist dalam Film Begin Again

Bagus atau tidaknya sebuah film bukan hanya ada di tangan penulis skenario dan sutradara. Pada kenyataannya ada berbagai pihak yang turut bertanggung jawab mewujudkan kesuksesan sebuah film. Begin Again sendiri menurut pendapat saya berutang banyak pada Tim Editing dan Music Arranger (Gregg Alexander) yang menciptakan lagu-lagu keren di sini.

Kita sudah membahas mengenai lagu sebelumnya. Nah, kali ini kita akan membahas mengenai proses penyuntingan Begin Again.

Film yang pada tahun 2014 memenangkan penghargaan Best Original Song di Academy Award ini menggunakan dua alur: maju-mundur di bagian awal dan alur maju di bagian selanjutnya. Penggunaan dua alur ini membuat penonton (baca: saya) memahami latar belakang tokoh, khususnya Dan yang menjadi pusat cerita bersama Gretta. Sekaligus sebagai penegasan mengenai apa sebenarnya Begin Again. Yang sebenarnya berhubungan dengan judul awal film ini: Can a Song Save Your Life.

Dan di Subway

Penggunaan dua alur yang menjadi salah satu twist di Begin Again juga mengizinkan penonton untuk melihat karakter secara utuh. Bagaimana ekspresi Gretta yang muncul di awal film dengan kemarahan, serta sekilas kemunculan Dan yang terselip di antara pengunjung pub—yang terlihat acuh tak acuh dengan penampilan Gretta di panggung. Dan begitu film berlanjut....

WHAM!!!

Kita melihat kecerdasan Carney menjalin tiap detail dalam film ini.

Pub di malam ituAda yang bisa menemukan Dan? Smile

Kepiawaian Carney, dalam memilih kru dan membuat film, bisa jadi karena sebelumnya ia pernah membuat film musikal sebelumnya: Once. Sama seperti Begin Again, Once memiliki karakter yang tidak bisa dibandingkan dengan kebanyak film musikal yang ada.

 

 

Akhir Kata untuk Begin Again

Begin Again adalah salah satu film ringan tentang industri musik dan potret kehidupan hedonis/kapitalis di dalamnya, tanpa perlu menyeret-nyeret printilan yang nggak bisa dicerna oleh remaja berusia 17 tahun. Get what I mean, Artebianz? Bandingkan dengan film Across the Universe yang lebih ditujukan untuk generasi yang lebih dewasa.

Selain itu, beberapa detail tentang kehidupan keluarga Dan yang broken home menjadikan film ini layak ditonton bersama keluarga. Bahwa di sana, di balik kehidupan pahit dan senyum Dan terselip pelajaran kehidupan.

Baca juga: Warm Bodies - Menggali Kehidupan dari Kematian

 

 

Rating Begin Again Menurut Saya
Rating

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Film Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?


H.O.S Tjokroaminoto: Priyayi dengan Profesi Teknisi Sekaligus Politisi yang Berjiwa Pendidik


1001 Masjid di 5 Benua: Melancong dari Masjid ke Masjid


Warm Bodies - Menggali Kehidupan dari Kematian


Gambaran Cinta dalam Potret Sendu Lirik Lagu Eyes, Nose, Lips Versi Tablo


Nikmatnya Sop Buntut di


Kopi Luwak - Nongkrong Aman Sambil Berbagi Kopi dan Gelak


Pantai Konang: Pesona Di Balik Gunung Trenggalek


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya dan Adham Fusama (Editor)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Kabut Rindu


Sajak Malam Dingin