Gone Girl - Ketika Cinta Berakhir, Yang Tersisa Hanyalah Kematian

03 Apr 2015    View : 6319    By : Niratisaya


“When I think of my wife, I always think of her head. I picture cracking her lovely skull. Unspooling her brain….”

Gone Girl

Sekilas membaca kutipan monolog salah satu tokoh dalam film Gone Girl membuat kamu merinding, Artebianz? Saya juga. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa film ini selanjutnya. Well, saya bisa membayangkan kalau Gone Girl bukan sekadar film drama keluarga pada umumnya. Meski salah satu tema yang diusungnya adalah mengenai pernikahan. Apalagi dengan pilihan tone dan Trent Reznor sebagai salah satu direktur musik. Bukan dalam artian yang jelek lho, Artebianz. Hanya saja sejak mengetahui Reznor adalah direktur musik untuk skor The Girl With Dragon Tattoo, saya selalu mengidentifikasi Reznor sebagai spesialis soundtrack untuk film-film unik dan tidak umum. Dan yang pastinya menarik. Reznor menjadi semacam jaminan bagi saya.

Seperti Gone Girl yang akan saya ulas di review film kali ini.

 

Peringatan!

Bukan film keluarga yang layak ditonton bersama ramai-ramai dengan anak kecil atau keponakan yang belum dewasa. Banyak adegan eksplisit (khususnya adegan intim antara tokoh utama), terlalu aneh untuk logika anak dan remaja, dan melibatkan darah. Banyak darah.

 

SPOILER ALERT!

Karena ada satu topik yang ingin saya ulas habis di artikel ini, kemungkinan besar saya akan merusak rahasia-rahasia kecil dalam Gone Girl yang ditata sedemikian apiknya oleh Gillian Flynn—penulis novel yang menjadi sumber film ini, yang kemudian menjadi penulis skenario film ini. Artebianz mungkin berniat untuk kabur sejenak dan nonton filmnya sendiri sebelum kembali dan membaca review saya, lalu membandingkannya dengan pendapat Artebianz.

Gone GirlGambar diambil dari popmatters.com

Atau mungkin, Artebianz penasaran dengan apa yang bakal saya ulas sampai saya memberi tanda spoiler alert? Hm … hm … Penasaran, kan? Penasaran, kan? Monggo, langsung dibaca kalau memang  peringatan saya tidak mempan untuk Artebianz.

Baca juga: The Grand Budapest Hotel - Mereka Yang Layak Disebut "The Best Partners In Crime"



Sebelum Semuanya Menghilang dalam Gone Girl

Cerita dimulai dengan kegundahan Nick Dunne (Ben Affleck) atas pernikahannya dengan istrinya, Amy Elliott  Dunne (Rosamund Pike), yang mulai bergerak ke arah yang sama sekali tak diharapkannya. Lima tahun pernikahan tanpa anak sementara keduanya tak memiliki pekerjaan. Keduanya, yang sama-sama berprofesi sebagai penulis, juga tak menulis satu buku pun. Baik Nick dan Amy akhirnya terpaksa hidup dengan tabungan Amy yang diperoleh Amy dari penjualan buku tentang kehidupannya semenjak kecil. Dan sebuah bar kecil yang dikelola Nick bersama saudara kembarnya, Margo (sound familiarSmile ya, Artebianz?) yang diperankan Carrie Coon.

Anyway, bar ini pun dibeli Nick menggunakan uang Amy.

Habislah sudah harga diri Nick sebagai lelaki. Dia tidak punya pekerjaan dan sekarang dia harus hidup dengan uang tabungan istrinya. Nick pun mulai memikirkan pilihan-pilihan dalam hidupnya, termasuk di dalamnya hidup tanpa Amy.

Gone Girl

Seperti pasangan pada umumnya, Nick dan Amy menghadapi permasalahan. Pernikahan yang mereka kira akan berjalan mulus dan sempurna, ternyata malah membuat mereka jadi saling menguasai. Sama-sama menjadi penulis dan sama-sama ingin menunjukkan pada pasangan lainnya bahwa mereka memiliki sesuatu yang tak dimiliki pasangan lainnya, justru menggiring Nick dan Amy dari match made in heaven menjadi match made in hell. Mereka jadi saling menguasai dan saling menjatuhkan.

Rupanya, mereka sedari awal tidak jujur pada masing-masing mengenai seperti apa dan bagaimana karakter mereka sebenarnya. Alih-alih menjadi pasangan normal pada umunya, Nick dan Amy menampilkan diri sebagai pasangan sempurna—sesempurna penggambaran kehidupan Amy  sebagai The Amazing Amy.

Satu hari, tepat di hari peringatan pernikahan kelimanya dengan Amy, keinginan Nick menjadi kenyataan. Amy mendadak hilang. Dia tidak ditemukan di mana-mana. Nick yang sebelumnya menghabiskan waktu minum di bar pulang dengan rumah dalam keadaan kacau. Dia segera memeriksa rumah dan mendapati keinginannya menjadi kenyataan. Amy menghilang. Nick segera menelepon polisi dan melaporkan tentang menghilangnya Amy.

Gone Girl

Sebagai sosok yang secara praktis hidup di bawah sorotan masyarakat Amerika, berkat buku-buku tentang kehidupannya yang ditulis sang ibu, Marybeth Elliott (Lisa Banes), kasus menghilangnya Amy segera menjadi berita nasional. Perlahan-lahan, setiap mata mulai tertuju pada Nick. Dia satu-satunya yang selama ini berinteraksi dengan Amy, dia juga satu-satunya yang terakhir bertemu dengan Amy. Nick yang sepagian itu menghabiskan waktu sendiri lalu mengunjungi Margo, tentu menolak tuduhan tersebut. Namun, hari demi hari, Nick menemukan beberapa hal yang aneh. Mulai dari perubahan yang tak pernah dia lakukan dan orang-orang mulai melihatnya dengan tatapan yang berbeda.

Sampai suatu ketika, pihak kepolisian menemukan diary Amy yang mengatakan bahwa Nick melakukan kekerasan padanya. Dan darah Amy ada di kayu perapian rumah ayah Nick.

Apa yang terjadi sebenarnya?

Benarkah Nick telah membunuh istrinya?

Kalau tidak, ke mana Amy pergi?

Siap-siap naik roller coaster emosi pas nonton, Artebianz :D

Baca juga: The Voices - Komedi Kelam tentang Suara-Suara di Kepala Kita

 

 

Tokoh-Tokoh dalam Gone Girl

Dalam film ini ada beberapa tokoh, tapi saya tidak akan mengulas semua tokoh yang ada di dalamnya. Mengingat ada lebih dari sepuluh tokoh di dalam film ini. Mari kita mulai dari sang tertuduh.

Nick Dunne

Nick adalah seorang penulis sekaligus pengajar kelas Menulis Kreatif. Dia digambarkan sebagai sosok lelaki yang easy-going dan mudah tersenyum. Bisa jadi ini karena latar belakangnya sebagai penulis artikel untuk majalah lelaki. Dengan mudah Nick menawan hati siapa pun.

Gone Girl

Namun, seperti kebanyakan lelaki yang segera jatuh hati begitu melihat sosok Amy, demikian halnya dengan Nick. Dengan jujur, ia mengaku bahwa dia ingin menjadi sosok lelaki yang bukan dirinya demi bersama Amy. Sampai pada satu titik, Nick merasa dia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi sosok lelaki idaman Amy. Namun, alih-alih mengatakan langsung pada Amy, Nick memilih untuk berselingkuh dengan salah seorang mahasiswinya, Andie (Emily Ratajkowski).

Gone Girl

Keadaan makin memburuk saat Amy memergoki Nick dengan Andie dan melihat bagaimana Nick merayu Andie menggunakan cara sama, seperti bagaimana Nick dulu merayu Amy. Nick, yang seperti dikatakan oleh Amy, “oblivious husband”, cenderung polos dan tak acuh terhadap sekitarnya. Dia baru akan fokus terhadap satu hal manakala hal tersebut amat sangat mengganggu kehidupannya. Seperti ketika dia baru saja menyadari bahwa foto yang diambil seorang perempuan, saat konferensi bersama pers untuk peristiwa menghilangnya Amy, dapat membuat reputasinya hancur.

Atau ketika petunjuk-petunjuk yang ada malah membuat Nick jadi tersangka.

Gone Girl


Amy Elliott Dunne

Amy selalu tampil sebagai sosok yang tenang. Dia memiliki sikap kalem, bahkan cara bicara dan nada Amy pun terjaga. Tapi tentu saja setiap orang tentu memiliki amarah, dendam, dan rasa benci. Bohong kalau kita berkata tidak pernah marah atau membenci seseorang. Namun Amy Elliott punya caranya sendiri untuk marah dan membalas dendam pada Nick yang mengkhianati dirinya, dan janji pernikahan mereka.

Amy bukan memburu Nick dan selingkuhannya dengan bantuan detektif pribadi kemudian membalas dendam pada mereka ala film Unfaithful, dengan peran yang terbalik. Nope. Yah, dia memang melakukan balas dendam, tapi dengan cara yang paling tidak diduga oleh Nick atau orang-orang yang mengenal Amy.

Secara mendetail Amy merencanakan kematiannya, sekaligus menjebak Nick sebagai pembunuhnya.

Sementara Amy melarikan diri dari segala kekacauan di rumahnya sambil merencanakan kematiannya. Yes, ke-ma-ti-an-nya sen-di-ri.

Gone Girl

Sampai titik ini, saya berpikir, “ada sesuatu yang salah di otak Amy.” Tapi bisa jadi Nick berperan dalam menciptakan sosok Amy yang kacau ini. Amy bahkan tidak terlihat terkejut saat tahu Nick bisa dihukum mati karena pembunuhan yang tak pernah dilakukannya.

Sampai pada satu titik, zona aman Amy diguncang dan dia kehilangan ketenangannya. Dan harus hidup di jalanan.

 

Margo Dunne

Margo adalah saudara kembar Nick. Dia tidak terlalu menyukai Amy yang dinilainya terlalu sophisticated dan kurang membumi. Margo adalah tempat Nick menumpahkan segala cerita tentang pernikahannya dengan Amy dan betapa Nick telah bosan dengan kepalsuan di dalamnya. Hal ini membuat Margo segera berdiri di depan Nick dan membelanya. Sampai akhirnya dia tahu bahwa Nick berselingkuh dan melihat dengan mata kepalanya sendiri; Nick mencium selingkuhannya di rumah Margo.

Gone Girl

Hubungan keduanya sempat menegang, hingga Nick membuktikan pada Margo apa yang sedang direncanakan Amy pada mereka berdua. Yeup, Amy juga mengincar Margo dalam rencana balas dendamnya. Amy menjebak Margo sebagai kaki tangan Nick.

Marybeth Elliott dan Rand Elliott

Ibu Amy sekaligus penulis buku The Amazing Amy yang menceritakan kehidupan Amy, yang 80% cerita di dalamnya berdasarkan khayalan Marybeth. Amy sempat menceritakan pada Nick tentang kebohongan ibunya ini di malam Nick melamar Amy.

Gone Girl

Nick: “Your parents literally play you and your childhood.”
Amy: “No, they improve upon it and then pedal it to the masses.”

Dari kutipan itu jelas bahwa orangtua Amy, khususnya ibunya, memainkan peran besar dalam perkembangan psikologi Amy yang menginginkan segala sesuatunya sempurna. Apalagi beberapa saat setelah Amy dan Nick membahas tentang sikap orangtua Amy, Marybeth muncul dan mengeluhkan pilihan pakaian Amy yang sama sekali tidak cocok dengan tema pernikahan untuk seri The Amazing Amy yang tengah diluncurkan. Dari buku dan sikap Marybeth, terlihat bahwa wanita ini memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan Amy.

Lalu bagaimana dengan Ayah Amy, Rand Elliott (David Clennon)? Biasanya seorang anak akan lari dari satu orangtua ke orangtua yang lain saat dia merasa tidak nyaman. Namun, dari gaya bicara Rand yang juga tak terlalu memedulikan Amy saat anaknya tidak ingin terlibat terlalu jauh lagi dengan buku yang ditulis ibunya, saya menilai Rand tidak jauh berbeda dengan Marybeth.

Gone Girl

Rand: “Big night for your mom. It means so much if you would talk to a few reporters, bloggers … give them a little Amy color. They wanna hear from you.”
Amy: “I can’t stay too long.”
Rand: “Fantastic. Fifteen minutes, tops.”

Rand sama sekali tak menghiraukan maksud yang tersirat dari ucapan Amy. Sebaliknya, dia membuat Amy melakukan apa yang diinginkannya dengan memanfaatkan kelonggaran dalam jawaban Amy.

Baca juga: Attack on Titan (進撃の巨人 - Shingeki no Kyojin)



Akting Para Aktor di Gone Girl

Selama lebih dari 2 jam, tepatnya 2 jam 30 menit, saya duduk dan menonton Gone Girl dengan segala misteri yang baru terungkap di tengah cerita. Tapi tak sekali pun saya merasa bosan atau jenuh menonton interaksi antara tiap karakter. Affleck memainkan sosok Nick dengan sangat sempurna. Demikian pula dengan akting Margo yang, meski berbeda umur 9 tahun tapi interaksi mereka mampu membuat saya lupa mengenai fakta ini.

Namun di antara semua tokoh, yang paling menarik perhatian saya adalah sosok Amy yang diperankan dengan begitu apik dan rapi oleh Rosamund Pike. Saya belum pernah menonton atau mendengar nama Pike sebelumnya, sehingga otomatis saat menonton Gone Girl saya tidak punya bayangan atau ekspektasi apa pun pada Pike. But boy, she’s so amazing!

Gone Girl
Dapur yang bersih, penampilan istri yang selalu cantik dan rapi ...
terasa menyeramkan ya, Artebianz

Pike mampu menyampaikan sosok dan karakter Amy dengan baik lewat seluruh media komunikasi yang dia punya; melalui gerak tubuhnya, sikap kalemnya, gestur, pandangan mata, dan terutama nada bicara. Pike memberikan kesan pada penonton (baca: saya) bahwa Amy bukan sekadar sosok ibu rumah tangga biasa yang lahir dari keluarga kaya raya. Segala kekompleksan psikologis karakter Amy dan akting Pike yang sempurna membuat wanita berusia 35 tahun ini diganjar beberapa penghargaan. Di antara Academy Award, BAFTA Award, Golden Globe Award, dan Screen Actors Guild Award for Best Actress.

 

 

Twist dalam Gone Girl

Ada banyak twist dalam film ini. Namun saya tidak akan bercerita banyak di sini. Saya bahkan tidak akan membagi detail tentang twist yang disebar oleh Fincher. Mulai dari latar belakang keluarga Amy yang dominan tapi tak terlalu banyak diceritakan, bagaimana Amy menceritakan kehidupannya dan bercampur dengan ilusinya (perhatikan bagaimana cerita Amy berbaur dengan masa lalu dan masa kini), kemudian diceritakan dengan campur tangan voice over. Bedakan teknik penggunaan voice over untuk Nick.

Semua makin sempurna dengan skor musik Reznor.



Akhir Kata untuk Gone Girl

Sebagai film bergenre psychological-thriller, Gone Girl benar-benar berkomitmen secara menyeluruh. Tepuk tangan untuk sutradara film ini, David Fincher, yang sangat jeli memerhatikan tone dan nuansa film sehingga mood saya sebagai penonton terjaga dan fokus pada guliran cerita Nick dan Amy. Mulai dari tone film, setting, interaksi tiap karakter, bahkan awal dan akhir film yang berperan tak ubahnya seperti prolog dan epilog sebuah novel. Keduanya memberi petunjuk pada penonton bahwa ada sesuatu dalam kehidupan pasangan suami-istri ini. Dan itu lebih dari sekadar permasalahan suami-istri pada umumnya.

Tentu tidak ketika jelas-jelas di label film ini tertera keterangan psychological-thriller.

Nah, apakah Flynn sebagai penulis (buku dan skenario) menyajikan ceritanya dengan tradisional? Dengan lega saya mengatakan tidak. Flynn tidak sekadar mengulangi stereotype cerita psychology-thriller yang sudah-sudah. Dia juga tidak menampilkan karakter dua dimensi dalam ceritanya. Walau masih ada beberapa karakter demikian dalam cerita. Namun, hal ini tidak mengubah pendapat saya mengenai Gone Girl. Tidak ketika semua aktor menampilkan penampilan terbaik mereka.

Terutama Rosamund Pike.

Gone Girl

Baca juga: Maleficent - Dekonstruksi Cinta Sejati dan Dongeng Putri Tidur



Rating Gone Girl



 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Film Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri


Park Hee Jung's Cat and Dog - Komik tentang Anjing dan Kucing


Orange Marmalade: Saat Cinta Tidak Memandang Dunia (2015)


Anti-Hero - Menjadi Pahlawan dengan Tidak Menjadi Pahlawan


Ajibnya Bubur Kacang Hijau Ciliwung


Milk Kingdom - Humble Place to Cast Away Your Boredom


Penelusuran dan Napak Tilas Reruntuhan Situs Candi Pendharmaan Ken Angrok di Kabupaten Malang (Bagian 1)


Pameran Lukisan


My Toilet Prince - Pintu Pertama


Oma Lena - Part 1


Nyata dan Ilusi