The Fault in Our Stars - Secercah Kebahagiaan dalam Duka

20 Aug 2014    View : 5171    By : Niratisaya


“You don’t get to choose if you get hurt in this world, but you do have some say in who hurts you.

I like my choices. I hope she likes hers.”


Terlepas dari embel-embel film musim panas yang menyertai dirilisnya film ini, karena serius, kita tidak mengenal empat musim di Indonesia, ya kan, Artebianz? Kita bahkan tak memiliki musim panas. Kita hanya punya musim kemarau dan musim penghujan. Oleh karena itu, saya tidak tahu dengan pasti seperti apa ekspektasi yang dibebankan pada film yang diangkat dari novel karya John Green dengan judul yang sama. Namun satu hal yang bisa saya pastikan, The Fault in Our Stars (TFIOS) melunturkan semua kesan korban film drama-mellow yang mengisahkan kehidupan penderita kanker.



SPOILER ALERT!

Yah… oke, memang agak sedikit mellow, tapi percayalah Artebianz, TFIOS tidak akan seklise sebagian besar cerita kanker dalam dunia sinema. Apalagi seperti yang disajikan oleh drama-drama ala Negeri Ginseng. Saya janji, tidak akan ada adegan anak tertukar. Atau cangkokan organ tubuh yang membelot setelah beberapa hari berpindah inang. Atau adegan romantis yang kelewat manis dan membuat Anda meringis. Anda tidak akan hanya mendapatkan air mata dan segala sedu sedan drama kehidupan dari film ini, Artebianz. Meski film ini mengusung taglineone sick love storySmile

 



Guliran Cerita The Fault in Our Stars

Saya sebelumnya sudah sempat mengulas versi novel film ini. Karena itu, di artikel ini saya akan lebih fokus untuk mengulas bagaimana Josh Boones mengadaptasi novel Green dan apa-apa saja yang diadaptasinya, serta dianggapnya lebih cocok tetap berbentuk jalinan kalimat.

TFIOS menceritakan kehidupan Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley), seorang gadis berusia 17 tahun yang divonis menderita kanker tiroid. Tidak seperti kebanyakan sistem kekebalan tubuh pasien kanker lainnya, tubuh Hazel berhasil menerima obat antikanker yang  disarankan oleh dokternya. Namun sebagai efek samping, Hazel tumbuh menjadi gadis yang tak acuh dan cenderung bersikap sarkas terhadap segala hal umum yang ada di sekitarnya.

Depressed Hazel

Sikap Hazel ini membuat ibunya, Frannie Lancaster (Laura Dern), khawatir bila Hazel menderita depresi. Tanpa mempedulikan reaksi dan komentar sarkas Hazel terhadap idenya, Frannie mendaftarkan Hazel ke dalam support group yang beranggotakan para remaja dengan nasib sama seperti Hazel, serta dipimpin oleh Patrick (Mike Birbiglia). Seorang penderita kanker testis yang berhasil selamat.

Sikap Patrick, yang terlalu bersemangat dan idenya untuk mengumpulkan para remaja penderita kanker tepat atas gambar jantung Yesus di karpet yang dibuat lelaki itu sendiri, membuat Hazel semakin ogah menghadiri acara support group tersebut. Akan tetapi jauh dalam lubuk hatinya Hazel percaya bahwa dirinya sekarat, dan ia berniat untuk membahagiakan ibu dan ayahnya, Michael Lancaster (Sam Trammell). Walau toh, ia melakukannya dengan muka masam. Hazel pun mulai mengubah rutinitasnya—yang semula hanya berkisar antara acara reality-show, janji dengan dokter, dan delapan resep obat yang harus diminumnya tiga kali sehari—dengan memutuskan untuk mengikuti acara tersebut.

Sebenarnya Hazel bukan tak memiliki mimpi atau berniat menasbihkan diri sebagai pecinta acara reality-show. Diam-diam Hazel memimpikan pertunjukannya sendiri, setiap kali ia menjumpai para remaja lainnya yang menjalani kehidupan normalnya di mal yang ia kunjungi bersama ibunya, atau tempat umum lainnya. Namun gadis berambut cokelat pendek itu tak menyangka, bahwa di pertemuan support group-lah ia akan mengawali kehidupannya sebagai remaja normal dengan diawali oleh perjumpaan dengan Augustus Waters (Ansel Elgort). Pemuda yang mampu membuat Hazel, si gadis sarkas, terdiam dan dengan gugup mengecek penampilannya di kamar mandi gereja, layaknya gadis-gadis pada umumnya.

Dan seperti kisah romansa umumnya, satu pertemuan tak terduga berujung pada percikan-percikan perasaan antara dua remaja.

Augustus Waters and Hazel Grace
Tidak seperti kebanyakan pemuda yang akan segera berusaha melakukan sesuatu atau bersikap tak acuh untuk menarik perhatian gadis yang disukainya, sikap Augustus justru 180 derajat berbeda. Ia dengan terang-terangan menatap Hazel, tanpa malu menunjukkan kakinya yang diamputasi dan diganti dengan kaki robot. Ia dengan jujur serta terbuka berkata pada Hazel bahwa gadis itu cantik, dan ia menyukainya. Agustus pun berhasil membuat Hazel Sang Ratu Sarkas merona dan mulai membuka diri terhadap kelompok remaja penderita kanker.

Pada pertemuan pertama Augustus juga tak sungkan mengambil sebatang rokok. Sikap Augustus itu segera mendapat cibiran dari Hazel yang harus mengenakan selang pernapasan, serta secara praktis harus menyeret tangki berisi oksigen ke mana pun ia pergi. Augustus dengan cueknya menyelipkan rokok itu ke mulutnya.

A Metaphor by Augustu

Hazel: There’s always a harmatia, isn’t there? And yours is even though you had freaking cancer, you’re willing to give money to a corporation for a chance to acquiring more cancer. Now let me tell you, being unable to breathe is sucks. It totally sucks.
Augustus (dengan sebatang rokok yang belum dinyalakan masih diselipkan di antara kedua bibirnya, dengan tenangnya bertanya): Harmatia?
Hazel: A fatal flaw.
Augustus: Ah, fatal flaw. Hazel Graze, they don’t actually hurt you, unless you lit them. I never lit one. It’s a metaphor, see, you put the killing thing right between your teeth, but you don’t give it the power to do its killing. A metaphor.”


Menjalani kehidupan sebagai penderita tampaknya “memaksa” baik Hazel atau pun Augustus untuk berpikir lebih santai, jauh, dan dalam mengenai hidup, serta kehidupan yang mereka jalani. Meski tidak harus sama. Hal ini tercermin pada salah satu dialog yang sangat saya sukai di dalam TFIOS. Saya bahkan sangat menyukai bagaimana Elgort menerjemahkan karakter Augustus berikut gestur tubuhnya, yang santai tapi sama sekali tidak terkesan sebagai cowok sembarangan. Apalagi gampangan.

Dan, tak perlu waktu lama bagi Hazel (atau saya) untuk jatuh cinta pada sosok Augustus Waters yang nyentrik tapi menawan ini. Mereka pun menonton film bersama di rumah Augustus, kemudian mulai bertukar nomor ponsel dan saling bertukar hal-hal remeh, tapi sangat imuuut sekali Laughing

Okay Famous HazelAugustus Words
Meski sempat merasa aneh sewaktu mendengar Isaac (Nat Wolff) dan kekasihnya yang terus-menerus saling berbalas kata “always”, pada akhirnya Hazel dan Augustus memiliki kata sakti mereka sendiri: “okay”. Yang meski sederhana, kelewat sederhana malah, Artebianz, tapi cukup manis serta romantis. Bahkan pada satu adegan berbalas satu kata itu saja dengan Hazel, Augustus sudah menganggapnya sebagai salah satu cara gadis itu menggodanya—padahal saat itu Hazel mengatakan bahwa dirinya tidak akan membalas perasaan Augustus.

Namun Augustus, yang meyakini Hazel memiliki perasaan yang sama, tak berhenti mengejar gadis itu. Ia bahkan mengajak Hazel, dengan menggunakan satu permintaannya (dari sebuah lembaga yang khusus mewujudkan keinginan para penderita kanker, meski keinginan tersebut remeh atau mustahil) untuk membawa gadis itu bertemu dengan penulis favoritnya Peter Van Houtten (Willem Dafoe). Augustus juga sampai menyewa limosin untuk membawa dirinya, Hazel, serta Ibu Hazel ke bandara. Ia tak berhenti di situ, pemuda itu bahkan terang-terangan mengatakan pada Ibu Hazel kalau ia tak menganggap Hazel sebagai sekadar teman biasa—walau Hazel menganggap mereka begitu.

Namun jatuh cinta selalu membawa efek samping lain selain bahagia, yakni duka. Hal ini terjadi ketika Hazel dan Augustus berlibur ke Belanda. Di Negeri Tulip yang menjadi tempat persembunyian Van Houtten ini, Hazel mendapatkan kebahagiaan serta kedukaan sekaligus. Pertama, ia berhasil bertemu dengan Van Houtten, bahkan akomodasi dan makan malamnya yang romantis bersama Augustus ditanggung oleh Van Houtten. Akan tetapi, sewaktu Hazel bertemu dengan pria tua kurus yang mendengarkan lagu hip hop dari grup asal Swedia, ia harus patah hati.

Dafoe-Van Houtten
Van Houtten rupanya tidak seperti yang dibayangkan Hazel, bagaimana pertemuan mereka dan mengapa saya mengatakan demikian? Well, Artebianz, silakan Anda menontonnya sendiri. Meski peran Dafoe di TFIOS tidak seesensial perannya sebagai Green Goblin dalam Spiderman, tapi saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa Boones dan tim kastingnya tidak salah pilih saat menentukan Dafoe sebagai Van Houtten. Dan ini hanyalah satu hal terbaik berskala kecil dalam TFIOS.

Campuran kebahagiaan-kedukaan yang didapat oleh kedua adalah ketika dalam satu hari Augustus menyampaikan perasaannya—bahwa ia takkan berhenti mencintai Hazel, tanpa peduli jika gadis itu kelak akan menjadi bom yang tak terkendali—serta fakta kanker pemuda itu yang kembali menyerangnya. Dan kali ini bukan hanya kaki Augustus saja yang diincar. Kanker itu sudah menyerbu dan menghuni seluruh organ vital pemuda itu. Akhirnya, ketika, keduanya saling mengungkapkan perasaan—dan kali ini juga saling menerima, Hazel dan Augustus justru menemukan rintangan lainnya.

Augustus Waters and Hazel Grace
Akankah pasangan yang telah menuliskan eulogi, pidato pada pemakaman, untuk pasangan mereka sanggup mengatasi halangan kali ini? Sila Artebianz menemukan jawabannya sendiri dengan menonton TFIOS.

Baca juga: Malam Minggu Miko Movie - Mockumentary Kegalauan Kaum Muda Indonesia



Serba-Serbi Kehidupan Remaja dalam The Fault in Our Stars

Tidak seperti kebanyakan cerita remaja yang terfokus pada cerita  percintaan; TFIOS menyajikan berbagai dimensi dalam kehidupan remaja. Mulai dari hubungannya dengan orangtua, yang tidak melulu dipenuhi drama tentang anak yang membangkang pada orangtua dan mendapatkan hukuman dari Tuhan, atau orangtua yang menelantarkan anaknya kemudian mendapatkan karma—atau seri mengenai makhluk-makhluk gaib yang sama sekali tidak ada di kebudayaan Indonesia (saya tidak menunjuk ke satu tontonan mana pun. Sama sekali tidak. Tapi Anda tahu apa yang sedang saya bicarakan, kan? Tongue Out).

Menurut saya, TFIOS bisa menjadi tolok ukur bagi para pengrajin sinetron dan film Indonesia yang mengincar pangsa pasar Indonesia. Khususnya para penulis naskah. Saya bisa mengatakan sebagai pasangan penulis naskah TFIOS, Scott Neustadter dan Michael H. Weber, mampu menangkap esensi dari cerita kehidupan Hazel dan Augustus serta orang-orang di sekitar mereka. Keduanya tahu, mana bagian yang mesti ditampilkan di layar perak, serta bagaian mana yang cukup berada di buku saja.

Persahabatan Augustus-Isaac

Ya. Percintaan antara Augustus dan Hazel Grace memang yang menjadi fokus dalam TFIOS, tapi saya tidak akan membicarakannya. Bila Artebianz penasaran, sila klik di sini. Di artikel ini saya akan membicarakan tentang serba-serbi kehidupan Augustus dan Hazel Grace yang, seperti kebanyakan remaja lainnya, meski berkisar percintaan, tapi tidak melulu tentang romansa muda-mudi.

Seperti Hazel dan Augustus, Isaac adalah salah satu remaja penderita kanker. Seperti Hazel dan Augustus, Isaac punya mimpi dan ingin segera menjalani hidup layaknya remaja kebanyakan. Seperti Hazel dan Augustus, Isaac punya kekasih (Monica) yang selalu bersamanya. Namun tidak seperti Hazel dan Augustus, hubungan Isaac dan Monica berakhir bahkan sebelum Isaac menjalani operasi keduanya—yang secara praktis membuatnya kehilangan kedua bola matanya.

Akan tetapi, satu hal terbaik dalam hidup Isaac yang sempat ia sebutkan dalam salah satu sesi support group tidak hilang dari hidupnya: persahabatan.

Augustus and Isaac
Begitu melihat betapa hancur dan kecewaan Isaac, Augustus membiarkan Isaac berada di rumahnya dan bermain game sampai kekesalannya hilang—bahkan memberikan piala-pialanya saat bantal yang dipukuli Isaac tak mampu meredam kekesalan sahabatnya itu.

Dan itu bukan puncak dari persahabatan Augustus dan Isaac, yang kemudian ditambah oleh Hazel. Sebab setelah Isaac benar-benar kehilangan kedua bola matanya, Augustus mengajak Hazel dan Isaac pergi ke rumah Monica. Bukan untuk menyanyikan lagu romantis dengan gitar atau boombox agar Monica mau menerima Isaac kembali. Tapi melempari mobil mantan kekasih Isaac itu dengan telur! Laughing

Trio Gus, Hazel, dan Isaac
Ketika ibu Monica keluar untuk memeriksa keributan di luar rumahnya, Augustus dan kawan-kawannya tidak lari. Sebaliknya, ia menjelaskan alasan mereka bertiga ada di depan rumah wanita tersebut, yakni untuk melampiaskan kemarahan serta kekecewaan Isaac dengan melempari mobil Monica menggunakan telur. Walau dalam prosesnya, bukan hanya mobil Monica yang menjadi korban, tapi juga rumahnya.

Persahabatan ketiganya membuat saya berpikir, bahwa hanya dengan cara melepaskan dan kehilangan sesuatu seseorang baru benar-benar bisa mendapatkan kehidupan secara penuh. Saya tidak bermaksud berpikiran negatif di sini, Artebianz. Namun, coba lihat Augustus, Hazel, dan Isaac. Mereka menikmati hidup mereka secara lepas ketika mereka dengan lepas kehilangan harga diri serta ego mereka. Ketiganya tidak lari ketika ibu Monica menegur mereka, Augustus dengan ringan menyerahkan piala-piala yang didapatkannya dari pertandingan basket, dan… ketiganya dengan setia saling menjaga satu sama lain dalam kehidupan mereka yang singkat.

 

Hubungan Orangtua-Anak

Entah apakah paham “kehilangan membuat seseorang menghargai sesuatu yang mereka miliki”, dalam film ini saya tidak melihat dialog-dialog penuh umpatan dari orangtua pada anak mereka dan sebaliknya. Dalam TFIOS yang terlihat adalah hubungan orangtua dan anak yang begitu harmonis, sehingga mereka bisa dengan mudah mengatakan apa pun yang ada dalam pikiran masing-masing.

Lancasters
Hazel dengan mudah membicarakan obat-obatan terlarang dan hal-hal negatif yang dilakukan remaja sehat seusianya, tanpa mendapatkan tatapan mata tajam atau helaan napas dari kedua orangtuanya. Sebaliknya, mereka bahkan bercanda tentang hal tersebut.

Tentu saja, masih ada beberapa norma dan peraturan keluarga yang ditampilkan oleh Boones dalam cerita ini. Misalnya saja, ketika di meja makan Hazel dilarang menggunakan ponselnya. Atau ketika Hazel hendak keluar rumah, kedua orangtua gadis itu melarangnya dan baru mengizinkan ketika alasan Hazel jelas, serta bukan sekadar berhura-hura.

Lancasters2

Iya, ini memang film. Dunia khayalan. Dan dalam kenyataan banyak remaja yang kabur dari rumah serta melanggar jam malam yang diberikan orangtua mereka. Namun bukankah seorang anak tubuh dan berkembang sesuai dengan pendidkan serta contoh yang diberikan oleh kedua orangtuanya? Masihkah kita berputar dan memainkan jari demi melempar kesalahan, bila faktanya kesalahan bisa saja berada di kedua pihak. Bisakah satu tangan bertepuk dan menciptakan bunyi?

Baca juga: Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Adaptasi Dari Cerita Pendek

 



The Fault in Our Stars; Buku versus Film

Di bagian awal saya memang memuji kesempurnaan film ini, tapi sebagai penggemar novel The Fault in Our Stars harus saya katakan bila Neustadter dan Weber menghapus beberapa adegan yang cukup krusial di dalam novel.

Pertama, keduanya meniadakan bagian Augustus dan Hazel menjual ayunan dan perosotan yang dibuat oleh ayah Hazel sewaktu gadis itu masih kanak-kanak. Memang tidak begitu penting, tapi seandainya mereka tidak menggunakan adegan tersebut, harusnya mereka tidak perlu menghilangkan ayunan itu di adegan berikutnya! Saat Hazel dan Isaac duduk berdua membicarakan kenangan mereka tentang Augustus.

Kedua, dalam film tidak diceritakan mengapa Augustus begitu ngotot ingin bersama Hazel apa pun resikonya. Ia bahkan dengan keras kepala menyatakan perasaannya pada Hazel di setiap kesempatan yang ia miliki.

(SPOILER ALERT! Berhenti dan lewati bagian ini kalau Artebianz, terutama yang ingin membaca buku The Fault in Our Stars tak ingin terganggu oleh informasi yang akan saya bocorkan)

Di dalam novel, diceritakan bahwa sebelum berpacaran dengan Hazel, Augustus sudah mempunyai kekasih yang—seperti dirinya dan Hazel—memiliki penyakit kanker. Augustus melihat bagaimana perkembangan sel kanker dalam diri kekasihnya yang mengubah diri gadis itu. Dari manis, menjadi sarkastik serta penuh kata-kata yang menyakitkan. Mungkin karena ia terbiasa dengan mendiang kekasihnya itu, atau mungkin karena Hazel lebih dulu memperingatkan pemuda itu atas sifatnya yang bisa saja meledak seperti granat, Augustus akhirnya memilih untuk menemani Hazel. Sesuai dengan sumpah yang biasa diucapkan para kekasih dalam dongeng dan di awal pernikahan: ‘till death do us apart.

Tanpa adanya cerita tentang mendiang kekasih Augustus, sosok pemuda itu yang begitu easy-going, pengertian, dan setia rasanya seperti karakter pangeran dalam dongeng Disney.

Ketiga, Neustadter dan Weber meniadakan bagian Hazel yang menelepon ponsel Augustus setelah pemuda itu meninggal dunia. Walhasil, dibanding saat membaca novelnya saya tidak merasa terlalu sedih sewaktu menonton. Oke, airmata memang sempat menggenang di pelupuk mata saya, tapi saya tidak meneteskannya dengan lancar seperti saat membaca versi tertulis dari TFIOS.

Baca juga: Warm Bodies - Menggali Kehidupan dari Kematian

 


The Fault in Our Stars, Akhir Kata

Sebagai tontonan remaja, khususnya 17 tahun ke atas kalau menurut KPI, TFIOS memberikan suguhan yang segar. Serta lain dibanding kebanyakan film remaja (dengan genre sama) yang sempat saya tonton sebelumnya. Semua itu berkat ide cerita milik John Green, yang ngomong-ngomong sempat mampir dan main dalam film ini, serta cara Elgort dan Woodley menerjemahkan sosok Augustus dan Hazel dalam film.

Saya suka bagaimana suara serak Woodley menceritakan kisah Hazel Grace Lancaster dengan Augustus Waters, serta bagaimana ia tidak takut memotong rambut panjangnya dan berpenampilan minim make-up demi tampil sebagai Hazel Grace.

Shailene WoodleyPujian yang sama saya tujukan pada Augustus Waters, maksud saya Ansel Elgort, yang juga tampil total sebagai Augustus Waters, lengkap dengan seluruh reaksi terkeren dan terburuknya (dalam artian yang baik).

Ansel ElgortIni yang saya sebut EMOSI dan AKTING


Meski ada beberapa kekurangan minor atas setting, tapi kudos for all the crews and casts of The Fault in Our Stars!

Baca juga: Life After Beth - Kehidupan Setelah Kematian



Rating The Fault in Our Stars (menurut saya):

Rating
 

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Film Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Agama dan Tuntutan Masyarakat


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Just So Stories Sekadar Cerita


Guru Bangsa Tjokroaminoto


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Soto Khas Lamongan Di Pandean, Ngoro


Kopi Luwak - Nongkrong Aman Sambil Berbagi Kopi dan Gelak


Teluk Biru: Sambil Menyelam Tanam Terumbu


Wawancara Dengan Cindy Owada: Mengenal Lebih Dekat WTF Market Dan Brand Lokal Indonesia


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Oma Lena - Part 4 (TAMAT)


Di Denting Garpu Sendok dan Piring