Menuju Senja - Payung Teduh

28 Feb 2015    View : 45523    By : Nadia Sabila


Mengapa Menuju Senja?

Karena lagu inilah lagu cinta pertama saya pada Payung Teduh. Maksud saya, lagu yang mengantarkan saya untuk akhirnya menggemari karya-karya Payung Teduh yang lainnya. Mungkin sebagian dari Artebianz ada yang telah mengenal grup musik yang beranggotakan empat orang tersebut. Sedikit cerita, sebelumnya saya sudah sering melihat kawan-kawan teater saya meng-update status di sosial media bahwa mereka sedang mendengarkan lagu-lagu Payung Teduh. Hampir tiap sore, tiap hujan, salah seorang kawan itu selalu menulis status "Mayung teduh dulu enak nih,". Kala itu, saya masih belum tertarik mencari tahu apa itu Payung Teduh, hingga suatu hari....

"Harum mawar di taman/ Menusuk hingga ke dalam sukma/ Dan menjadi tumpuan rindu cinta, bersama/ Di sore itu menuju senja..."

payung_teduh

Saya mendengar lagu tersebut mengalun dari radio saat saya dalam mobil menuju arah pulang. Satu kebiasaan saya jika mendengarkan lagu, saya akan selalu memperhatikan musiknya lebih dahulu, bukan liriknya. Alunan musik yang damai, easy listening, campuran antara jaz dan keroncong, sangat cocok dengan suasana perjalanan saat itu yang hujan deras pada petang hari. Saya jadi merasa sedang berada pada tahun 50-an (walaupun pada tahun 50-an saya belum lahir... hehe).

Saya dan adik saya—yang mempunyai selera musik sama—menunggu sang penyiar radio menyebutkan judul lagu dan penyanyinya. Sayangnya meski lagu telah berakhir, sang penyiar tidak menyebutkannya. Akhirnya, kami mencari sendiri informasi dan menemukan bahwa info komposisi tersebut berjudul "Menuju Senja" dan penyanyinya adalah Payung Teduh.

Oh, jadi ini Payung Teduh. Well, saya putuskan bahwa saya jatuh cinta dengan lagu ini.   



Analisis Lirik Menuju Senja

Lirik lagu Menuju Senja ini sangat konotatif, namun langsung mengguratkan romantisme senja. Hati yang terluka menjadi metafora tokoh utama dalam bait-bait lagu Menuju Senja berikut ini:

 

 

Harum mawar di taman
Menusuk hingga ke dalam sukma
Dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama
Di sore itu menuju senja

Bersama hati yang terluka, tertusuk pilu
Menganga luka itu di antara senyum
Dan menapaki jejak kenangan di sore yang gelap ditutupi awan
Bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian
Ada yang mati saat itu dalam kerinduan yang tak terobati
 
[melodi]

Harum mawar di taman
Menusuk hingga ke dalam sukma
Dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama
Di sore itu menuju senja

Baru saja kuberanjak beberapa saat sebelum itu
Ada yang mati menunggu sore menuju senja, bersama...
 

Menuju Senja ini layaknya musikalisasi dari sebuah puisi. Ada makna sastra yang sangat dalam yang disampaikan dalam sebuah gambaran senja dalam bait yang pendek saja sebetulnya. Sore merupakan tanda penghujung hari dimana cahaya matahari masih bersinar terang meskipun sudah tak panas. Sedangkan senja, matahari mulai menurun dari pandangan, dan sinarnya mulai redup menuju malam.
 
Sore menuju senja dalam lagu ini merupakan rasa di mana seseorang tengah bernostalgia di taman, memendam rindu yang sudah meluap. Harum mawar di sini dapat diartikan sebagai simbol kenangan sang Pemilik Hati bersama kekasihnya. Harum mawar di taman menghidupkan memorinya pada rasa rindu yang telah lama dipendamnya.

Harum mawar di taman
Menusuk hingga ke dalam sukma
Dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama
Di sore itu menuju senja

Rindu dendam akan cinta, yang mungkin adalah cinta yang tak terbalas atau cinta yang pergi begitu saja. Sebuah paradoks sebab taman adalah lambang kebahagiaan, sementara sang pemilik hati harus menahan luka dan pilu di taman. Ia sedang menunggu cintanya yang tak kunjung datang, sementara kenangan terus menjalari batinnya. Ia menyerah, rindu yang tak terobati membunuh cintanya atau mematikan satu bagian yang menyempurnakan cintanya.

Bersama hati yang terluka, tertusuk pilu
Menganga luka itu di antara senyum
Dan menapaki jejak kenangan di sore yang gelap ditutupi awan
Bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian
Ada yang mati saat itu dalam kerinduan yang tak terobati

payung_teduh

Yang mati adalah rasa cinta. Senja adalah akhir hari. Sore menuju senja adalah lambang dari sebuah akhir cerita. Sang pemilik hati lebih memilih untuk mengubur dalam-dalam kenangannya, dari rindu yang tak terjawab. Cintanya sudah tak memiliki harapan. Ia dan kekasihnya, yang mungkin di tempat yang berbeda, bersama mengakhiri rasa cinta mereka dan menguburnya menjadi kenangan saja bersama senja.

Baru saja kuberanjak beberapa saat sebelum itu
Ada yang mati menunggu sore menuju senja, bersama...



Analisis Komposisi Musik "Menuju Senja" Secara Keseluruhan

"Menuju Senja" adalah salah satu judul lagu di album kedua Payung Teduh, Dunia Batas, yang dirilis pada 2012 lalu. Komposisi "Menuju Senja" ringan dan nyaman didengar, namun kaya. Dalam lagu ini instrumen yang digunakan tidak sederhana karena ditambah dengan gitalele dan saxofon.

cd_payung_teduh

Pada dasarnya, saya adalah penggemar musik jaz. "Menuju Senja" sukses mengawinkan jaz dengan keroncong sehingga tetap enak didengar oleh semua kalangan tetapi tetap berkelas dan khas layaknya jaz dan kerocong itu sendiri. Bagian intro diawali dengan petikan gitar tunggal akustik dan saxophone meniupkan aura jaz yang kental. Musik kemudian makin rancak saat kord-kord gitar mulai ditambah, drum masuk, menyusul kemudian vokal.

Vokal penyanyinya pun berhasil menyampaikan cengkok keroncong tanpa sumbang dan tanpa raungan sehingga kian menyempurnakan komposisi lagu ini. Di bagian chorus 2, sang vokalis juga memainkan gitar dan solo, sehingga pendengar diberi kesempatan meresapi lirik dan musik akustik yang tenang tanpa riuh instrumen lain. Sementara kekayaan simfoni musik sangat terasa di bagian melodi tanpa vokal. Seimbang, berkarakater, dan teduh.

Sekilas Tentang Payung Teduh

Belum banyak yang mengulas tentang grup musik Payung Teduh. Payung teduh beranggotakan empat orang; Is, Comi, Cito, dan Ivan. Yang menarik, Payung Teduh memulai debut bermusiknya dengan amatiran. Is dan Comi adalah anggota musik Teater Pagupon yang suka duduk-duduk dan berkumpul bersama di kantin FIB UI. Is sebagai vokalis dan gitaris, Comi bass, Cito drummer, dan Ivan gitaris membentuk karakter musik yang sangat kuat. Mereka tekadang juga menyisipkan instrumen terompet, saxofon, dan juijtsu dalam beberapa lagu mereka.

payung_teduh
Namun, komposisi musik yang berkarakter kuat dan tidak pasaran membuat Payung Teduh sukses menambah penggemar. Meski jarang latihan, penampilan mereka di panggung tak pernah mengecewakan. Payung teduh juga meraih penghargaan lho, Artebianz. Namun, seperti yang wawancara mereka dengan BBC Indonesia, Payung Teduh tidak berniat menjadikan musik sebagai mata pencaharian mereka. Mereka lebih akan mengutamakan pekerjaan mereka saat ini yang berasal dari berbagai bidang, ada yang menjadi dosen, guru teater, desainer grafis, dan sebagainya.

Tetap berkarya ya, Payung Teduh!

 

Review musik asyik lainnya:




Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Review Musik Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


The Stolen Years - Yang Dicuri Waktu dari Cinta dan Kita


The Swimmer (Fak Wai Nai Kai Ther): Ketika Persahabatan Menjadi Dendam


Anti-Hero - Menjadi Pahlawan dengan Tidak Menjadi Pahlawan


Ajibnya Bubur Kacang Hijau Ciliwung


7 Mal Dan Tempat Nongkrong Dengan Toilet Asyik Di Surabaya


Gedung De Javasche Bank Surabaya - Saksi Sejarah Panjang Perbankan Indonesia


Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Mahfud Ikhwan, dan Kambing


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Cheongsam Bunga Teratai Mei Lien


Menjelang Telah Tiba Datang