Kataji - Awal Mula Saya Terpikat pada Yura

13 Aug 2015    View : 23033    By : Niratisaya


Yura a.k.a Yunita Rachman adalah sebuah nama yang mulanya asing di telinga saya. Sampai saya berulang kali mendengar lagunya, yang sebenarnya diperkenalkan oleh Youtube pada saya, ketika saya mencari musik jazz Indonesia.

Kala itu saya ingin mendengarkan lagu indie juga bukan mainstream seperti yang sering kali diputar di radio, dengan lirik yang berputar-putar pada satu hal yang sama, dan suara yang sulit dibedakan. Dan….

Saya sekali lagi menemukan cinta saya pada musik Indonesia lewat sosok musisi muda asal Bandung ini. And boy Artebianz, what a spectacular introducing that I had with this young singer-songwriter. Adalah Kataji yang menjadi 'biang kerok' kekaguman saya pada dara jebolan ajang pencarian bakat The Voice Indonesia ini.

Tapi apa arti "kataji" sebenarnya? Dan kenapa saya jatuh hati pada lagu ini? Yuk, langsung aja kita review lagu yang satu ini :)

Baca juga: Keep Being You - Isyana Sarasvati

 

Analisis Kataji – Musik dan Bahasa yang Tak Kenal Batasan

Dari Segi Lirik

Let me be honest to you Artebianz, saya bukan orang Sunda, saya juga tidak terlalu paham bahasa Sunda—kecuali beberapa yang mirip-mirip bahasa Jawa. Tapi demi memahami benar lagu ini, saya pun meminta bantuan salah seorang teman saya: Mbak Rini Nurul Badariah, native speaker aseli untuk bahasa Sunda sekaligus empu situs rinurbad.com yang memiliki tagline “ada deadline di balik batu”.

Berkat bantuan Mbak Rini-lah akhirnya saya mengerti apa sih sebenarnya yang dinyanyikan Yura.

Rupanya, “Kataji” ini memiliki makna terpesona atau terpikat. Jadi, lagu ini berkisah tentang seorang gadis yang terpikat—atau mungkin lebih tepatnya tergila-gila pada lawan jenisnya. Yang tampaknya sosok yang memikat. Ini terlihat pada:

Verse 1
Anjeun mentang asmara
Rasa di awang-awang
Sanajan kuring geus apal
Anjeun mah tukang jegal
Anjeun ngan ukur ulin ulinkeun rasa
Rasa

Baris pertama lagu “Kataji” menyebutkan tentang sosok seseorang yang disebut “Anjeun” yang dalam bahasa Sunda berarti pihak kedua (kau). Dia menebar (mentang) asmara dan melontarkan si “Aku” ke awang-awang. Dari kata menebar asmara terlihat kalau “Anjeun” ini bukan hanya sosok yang memikat secara fisik, tapi kemungkinan besar memiliki kemampuan merayu.

taken from tidbitdaily.com

Dan, naga-naganya “Anjeun” sudah memiliki reputasi yang lumayan tersohor sebab “Aku” paham benar dengan daya pikatnya (sanajan kuring geus apal/walau aku sudah tahu). Bahwa “Anjeun” adalah tukang jegal. Dia sering kali menjalin asmara hanya untuk mempermainkan rasa dan perasaan lawan jenisnya (anjeun ngan ukur ulin ulinkeun rasa/ kau cuma mempermainkan rasa).

Meski demikian, “Aku” tidak tahu kenapa dia sampai tetap terjebak daya pikat “Anjeun”. Menurut saya, hal inilah—daya pikat “Anjeun” yang dahsyat hingga mampu membutakan logika “Aku”—yang kemudian menjadi soul, inti, lagu ini. Dan ditunjukkan pada:

Chorus
Na kunaon
Ieu hate bet kataji
Na kunaon
Ieu hate bet kataji
Ka iwat endahna basa
Ka irut imut nu manis
Hate bet kataji

Sebagai inti dari sebuah lagu, chorus berperan untuk memperlihatkan penekanan dari pesan sebuah lagu, dan chorus “Kataji” memperlihatkan bagaimana “Aku” berada dalam situasi antara tidak percaya, takjub, sekaligus keheranan; bagaimana dia yang mengerti benar siapa dan seperti apa “Anjeun” ini malah membiarkan hatinya terpikat pada sosok “Anjeun” (ieu hate bet kataji). Lewat keindahan bahasa (ka iwat endahna basa/terpukau indahnya bahasa)—entah tutur katanya, kehalusan bahasa, atau kelihaiannya memainkan kata. Serta senyuman manis yang entah sudah membuat berapa gadis kepincut (ka irut imut nu manis/terpesona senyum manis).

Seolah kehilangan daya, “Aku” pun membiarkan hatinya terpikat pada sosok “Anjeun” dan bujuk rayunya.

Verse 2
Cidra kalim ku cinta
Bohong kasapu asih
Kaduyung deudeuh
Kuring narima cinta
Cintana

Pada verse 2, baris pertama, tampaknya “Aku” mulai melogika keputusannya. Dia sadar bahwa dia bukan lagi sekadar menyukai aku,tapi sudah jatuh cinta pada “Anjeun”. Dia juga paham, dalam perasaannya pada “Anjeun” membuat “Aku” tidak melihat kekurangannya. Cinta sudah membutakannya dari kenyataan yang ada. Membuatnya percaya bahwa di setiap kebohongan “Anjeun” terselubung kasih sayang (bohong kasapu asih).

Di akhir verse 2, “Aku” pun mengaku bahwa dia tidak jauh berbeda dengan gadis-gadis lainnya yang terpikat pada “Anjeun”. Dia dimabuk dan dibutakan asmara, hingga kemudian menerima cinta “Anjeun”.

Lirik kemudian kembali ke chorus sebelum berlanjut ke bridge yang mengulang-ulang kata “kataji”, lalu balik ke chorus. Menekankan kegilaan cinta dan betapa mabuk kepayangnya “Aku” pada “Anjeun”.

Baca juga: Menuju Senja - Payung Teduh

 

Kataji dari Segi Komposisi Lagu

Kataji dibuka dengan pukulan drum dan denting piano yang mendominasi lagu, sebelum disusul suara Yura—yang sama sekali tidak mendayu-dayu; menegaskan bahwa “Kataji” bukanlah sebuah lagu mellow seperti umumnya kita dengar saat sebuah lagu membawa tema tentang pengkhianatan cinta.

Sebaliknya, suara tepuk tangan yang berperan sebagai pengisi jeda lagu dan nyanyian memperlihatkan bahwa “Kataji” justru adalah sebuah lagu tentang guyonan, yang menertawakan kekonyolan diri sendiri karena jatuh hati pada orang yang salah.

konekrusoskronos.wordpress.com

Pada chorus, cymbal masuk seiring kelincahan permainan piano menampilkan keceriaan dan kelincahan ala jazz broadway yang membuat siapa pun berdendang dan larut dalam lagu.
Suasana broadway dalam lagu jazz berbahasa Sunda ini makin kental ketika lagu memasuki verse kedua dan trompet ikut mewarnai lagu. Komposisi ini menegaskan suasana mabuk kepayang yang ada dalam lagu "Kataji".

Olok-olok terhadap diri sendiri makin terasa di bagian bridge, ketika Yura berulang kali menyanyikan “kataji” diiringi tepukan tangan, kemudian disusul drum, gitar melodi, dan piano.
Bahkan hingga akhir, Kataji tetap menawarkan keceriaannya dengan permainan drum dan trompet sebagai puncak sekaligus penutup.

Baca juga: Membaluri Luka dengan Cinta

 

 

Kataji secara Keseluruhan

Semula, hanya mendengarkan lagu ini tanpa memahami liriknya, saya mengira Kataji adalah sebuah lagu yang mengisahkan percintaan dan alasan kenapa “Aku” mencintai “Anjeun”. Yang bisa jadi adalah sebuah alasan konyol.

Tapi ternyata saya salah.

Memang, Kataji memiliki humor di dalam komposisinya—terima kasih pada pemilihan genre lagu—tapi dia bukan sekadar menyediakan humor lewat liriknya. Yura juga menyajikan lelucon lewat susunan lirik yang rupa-rupanya malah menertawakan “Aku”, serta cintanya yang buta pada sosok “Anjeun” yang kemungkinan besar adalah pemain cinta sejati. Ini menempatkan Kataji bukan hanya sebagai salah satu lagu anti-mainstream di blantika dunia musik Indonesia—dengan genre jazz broadway-nya, yang cenderung memiliki hanya seuprit warna musik, tapi juga sebagai sebuah lagu istimewa yang seolah mengatakan “it’s okay to laugh about your life, as it brings laughter from other and lesson for you”.

Tentu, keistimewaan "Kataji" bukan hanya pada lagu, ataupun susunan lirik, tapi pada fakta bahwa lagu ini dinyanyikan dalam bahasa Sunda. Ini membuktikan bahwa musik sama sekali tidak mengenal batasan, demikian pula dengan bahasa. Keduanya tidak saklek dan berbatas sehingga bisa dengan mudah kita utak-utik, seperti yang dilakukan mojang Bandung ini.

Semoga Yura menjadi salah satu penyanyi yang tetap istimewa dan tidak terseret derasnya arus lagu mainstream dari perusahaan label major.

Semangat, Yura!

Dan, semangat musik Indonesia!

 

 

Header diambil dari mumovi.com


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Musik Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Malaikat Tak Bersayap


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Petualangan bersama Einstein: Safari


Present Perfect: Seandainya Waktu Dapat Diputar Kembali


Membaluri Luka dengan Cinta dalam Lagu I'm Not The Only One


Kue Cubit Surabaya - Cubit Gigit Legit


Oost Koffie & Thee - Rumah Kopi dan Teh yang Menawarkan Lebih Dari Kenyamanan


Misteri serta Sejarah Jatimulyo dan Mojolangu, Malang (Bag. 2)


Literasi Oktober: Big Bad Wolf Menghantui (Pecinta Buku) Surabaya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Kisah Tentang Himawari


Merah Balada