Pulau Sempu - Segara Anakan dan Hutan Terlarang

20 Oct 2015    View : 2183    By : Niratisaya


Pulau Sempu.

Siapa yang belum pernah mendengar nama pulau yang terletak sekitar 180 km dari Surabaya ini? Salah satu pulau di kawasan Jawa Timur ini terkenal dengan pemandangannya yang menyaingi keindahan Pantai Phi Phi di Thailand, laguna biru yang memikat hati, dan airnya yang jernih.

Saya yakin walau belum pernah menyambangi pulau yang digadang-gadang memiliki keindahan setara dengan surga ini, Artebianz pasti pernah ikut mengintip keindahannya lewat tayangan teve atau mendengarnya selintas dari cerita mulut ke mulut.

Keindahan Pulau Sempu sendiri sudah dikenal sejak tahun 2009. Siapa yang menyiarkan keindahannya? Saya sendiri kurang tahu. Bisa jadi dari mulut ke mulut, atau tayangan teve tentang wisata alam Indonesia. Tapi sejak “siaran” itulah tersebar gaung keindahan pulau yang berada di Desa Tambak Rejo Desa, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang ini. Salah satunya adalah saya dan “geng” yang terdiri atas keluarga dan teman-teman. Berbekal godaan dan rasa penasaran, berangkatlah kami serombongan ke Pulau Sempu.

 

Perjuangan Demi Bertemu Segara Anakan: Ini Hutan Terlarang!

Saya dan rombongan memulai perjalanan dari Surabaya sekitar jam 2 atau 3 pagi, tepatnya pukul berapa saya sendiri lupa karena pada saat itu fokus saya terbagi-bagi—antara takjub dengan gembolan ransum serta perlengkapan yang kami bawa ke Pulau Sempu. Di antaranya dua galon air mineral, beberapa kardus mi instan, beberapa boks es berisi ikan tuna. Kalau mendengar kemping tentu salah satu bayangan kami adalah menikmati hening malam sambil membakar ikan dan main gitar.

Tapi begitu sampai di tempat pelelangan ikan di Sendang Biru, saya sadar… perjuangan untuk menikmati ikan bakar dan alunan gitar masih panjang.

Kami sampai di Sendang Biru sekitar subuh. And I got ta say, Artebianz, Indonesia memang diberkahi Tuhan dengan kekayaan yang berlebih. Hal ini saya sadari sewaktu berada di Tempat Pelelangan Ikan Sendang Biru. Pemandangan laut yang dibalut penerangan alam, kerlap-kerlip lampu Tempat Pelelangan Ikan nggak bisa menjangkau pantai secara keseluruhan, membuat saya benar-benar takjub sekaligus merasa plong saat memandangnya. Ditambah kesibukan para nelayan yang mencari ikan. Saya yang warga kota langsung menjadi udik begitu melihat kegiatan penduduk Sendang Biru itu.

Sendang Biru
Sumber gambar Sendang Biru di sini.

Beruntung saya adalah orang yang mudah tertidur di mobil, jadi saya bisa berhibernasi dan menyimpan tenaga. Sesampainya di tujuan—well… setengah perjalanan mestinya, ya—saya bisa menikmati pemandangan alam sewaktu rombongan lain beristirahat. Sebuah pemandangan yang nggak akan bisa saya jumpai di Surabaya.

Setelah beristirahat dan sarapan, saat siang hari, kami menyewa perahu menuju Pulau Sempu. Berhubung kami hanya berbekal kenekatan dan nggak ada anggota rombongan lain yang punya pengalaman menjelajahi Pulau Sempu, selain menyewa perahu sekaligus tenaga pengangkut untuk membawa gembolan, kami juga menyewa pemandu.

Untuk sampai ke Pulau Sempu, tepatnya di Teluk Semut, hanya dibutuhkan 15 sampai 20 menit. Tapi demi sampai di Segara Anakan sendiri Artebianz, dibutuhkan perjuangan naik-turun menyusuri hutan Pulau Sempu selama 2 jam. Belum lagi cerita seram tentang hewan-hewan buas yang ada di sekitar, membuat saya berpikir ulang berkali-kali selama menyusuri hutan Pulau Sempu, Apa beneran nggak salah liburan kali ini?

Tapi terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian. Jadi, mari berpetualang!

Hmmm.... Sebenarnya Artebianz, petualangan saya di Pulau Sempu nyaris batal saat sampai di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Kami serombongan, dan beberapa rombongan lain, kena semprot Kepala BKSDA. Menurut si bapak, Pulau Sempu dibuka untuk mahasiswa yang melakukan penelitian dan bukan tempat wisata. Pulau Sempu sejatinya adalah cagar alam tempat berlindung satwa langka yang masih memiliki sifat alamiah mereka. Tapi hal ini berubah semenjak keindahan Pulau Sempu menyebar ke seantero jagat.

Kepala BKSDA pun membatalkan izin semua rombongan yang jauh sebelumnya sudah memesan tempat di Pulau Sempu. Ini karena keindahan alam Pulau Sempu dan Segara Anakan yang menarik para wisatawan, berubah menjadi masalah: banyak wisatawan yang alih-alih ikut melestarikan Cagar Alam Pulau Sempu malah banyak meninggalkan masalah dan merusak alam.

Tapi ajaibnya, saya dan rombongan malah berkesempatan untuk mengintip keindahan Pulau Sempu! Kami menjadi salah satu rombongan yang berhasil masuk kuota 25 tenda, yang dibatasi BKSDA. Is it okay to say one’s misfortune is other’s fortune? Hehehe….

Dan, dimulailah perjuangan kami naik-turun menyusuri hutan terlarang Pulau Sempu!

Medan Pulau SempuWho's the coolest? Selfie competition Laughing

Saya rasa saya bisa mengerti mengapa hutan di Pulau Sempu dikatakan sebagai hutan terlarang. Dari cerita yang dibagikan oleh pemandu, konon, di hutan Pulau Sempu masih banyak hewan-hewan langka dengan sifat alamiah mereka. Mulai dari ular yang katanya sebesar pelukan orang dewasa, kera beraneka warna dan jenis, sampai harimau!

Tapi karena saat itu siang hari, dan kami sedang bersama rombongan-rombongan lain, saya nggak terlalu memusingkan sinyal “bahaya” dari cerita pemandu kami. Sebaliknya, saya malah terpukau. Bagi anak kota yang udik macam saya, mendengar cerita khas tayangan National Geographic itu justru membuat saya terpikat!

Itu dan rintangan di depan mata yang cukup merepotkan mengalihkan perhatian saya: medan yang nggak mulus dan akar pepohonan yang melintang dan menyembul di tanah.

Medan Pulau SempuSalah satu contoh medan Pulau Sempu yang "nggak seberapa". Kalau capek dan butuh istirahat, nggak usah malu-malu ngomong yak, Artebianz! 

 

 

Perjuangan Demi Bertemu Segara Anakan: Cukup Membawa Diri dan Ketenangan Hati

Setelah melapor dan mendaftar ke BKSDA, saya dan rombongan mendapatkan bendera plus tenda. Bendera itu sebagai penanda bahwa rombongan saya bukanlah wisatawan yang menyelusup diam-diam ke Pulau Sempu. Sementara tenda, kami mendapatkannya dengan menyewa. Dengan gembolan ransum yang kami bawa, ogah rasanya menambah beban dengan tenda.

Ingat cerita saya tentang beberapa boks es, ikan bakar, dan alunan gitar?

Lupakan, Artebianz.

Meski kami berhasil sampai di lokasi kemping dan sukses mendirikan tenda di spot antara hutan dan pantai, pada malam hari impian saya itu nggak justru bubar jalan. Demi menjaga kelestarian alam sekaligus nggak menarik perhatian penghuni asli Pulau Sempu, alias para binatang buas, semua rombongan yang berkemping diwanti-wanti untuk nggak membakar apa pun—termasuk ikan.

So, goodbye my delicious tuna-dream.

Sebagai ganti tuna bakar, kami pun memasak mi instan. Untungnya kami membawa kompor gas kecil. Jadi kami nggak berubah jadi kelompok kecil pemburu ala-ala film Hunger Games. Memetik gitar pun kami ubah menjadi mendengarkan lagu-lagu favorit lewat ponsel dan masuk ke tenda begitu kantuk tiba.

Tapi, keheningan alam di Pulau Sempu dan hutannya yang terlarang justru membuat saya larut dalam renungan tentang mengapa saya datang ke salah satu pulau di kawasan Kabupaten Malang ini. Mengapa kami berhasil masuk dan menikmati hening alam sampai detik itu. Dan, mengapa semua impian yang kami gadang-gadang bubar jalan.

Pantai Pulau Sempu

Di Pulau Sempu dan Segara Anakan kita nggak perlu membawa macam-macam. Cukup diri sendiri, bekal seperlunya, kekuatan fisik dan jiwa, serta ketenangan hati. Karena bisa jadi, kalau kita grasah-grusuh dan seenaknya sendiri, kita akan menjadi salah satu tajuk koran nasional atau menjadi cerita yang dibagikan oleh pemandu pada wisatawan lain.

Apa ada wisatawan yang mengalami nasib malang?

Yes, you got that right, Artebianz.

Dari pemandu, kami mendapatkan cerita bahwa konon ada pemuda yang  nekat berdiri di salah satu lubang karang Segara Anakan. Berhubung Pulau Sempu dikelilingi laut selatan, si pemuda itu diempas ombak besar dan jatuh ke lubang Segara Anakan yang nahasnya saat itu nggak terisi penuh.

Memang, Pulau Sempu memiliki pengawas yang mengontrol keadaan para pengunjung siang dan malam, tapi kontrol diri tetap di tangan kita, Artebianz.

 

 

Segara Anakan, Surga Dunia yang Menjadi Neraka Karena Manusia

Segara AnakanSalah satu lubang di karang Segara Anakan yang tetap dibiarkan terbuka.

Setelah menghabiskan 2-3 jam perjalanan dari Surabaya ke Sendang Biru, kena semprot pihak BKSDA, menginap semalaman tanpa ikan tuna bakar, akhirnya impian utama kami untuk melihat keindahan Segara Anakan terkabul!

Segara Anakan

And was it beautiful?

Yap, Artebianz!

Segara Anakan

Segara Anakan seindah rumor yang diembuskan pihak-pihak nggak bertanggung jawab yang berhasil menggoda kami serombongan. Kami mendapati laguna biru yang digosipkan setiap traveler yang sudah mengunjungi Segara Anakan, dan kejernihannya benar-benar nggak bisa diwakilkan kata-kata. Kamu bisa melihat dasar pantai di sana!

Bak Iklan Pariwisata
Sekilas menggoda dan bak iklan pariwisata, ya? Sumber.

Kalau menurut para selfiers, Pulau Sempu dan Segara Anakan yang tertimpa terik cahaya matahari “selfieable banget!”. Sensasinya bak berada di film The Beach, minus Abang Leonardo di Caprio.

Tapi begitu di-zoom-out, situasi yang ada berbanding berbalik dengan keindahan Pulau Sempu dan Segara Anakan.

 Kenyataan di Segara Anakan
Begitu kamera di-zoom-out, inilah kenyataan yang ada di Pulau Sempu. Rame! Sumber.

Meski kecantikan dan keajaiban Segara Anakan serta lubang tempat Pantai Selatan menyumbangkan airnya memukau saya, keramaian sekitar yang nggak sesuai keadaan sekitar mengurangi keindahan Segara Anakan.

Selain itu, dari cerita salah seorang warga Australia yang jadi fans hardcore Pulau Sempu dan Segara Anakan, sudah terlalu banyak yang berubah dari cagar alam ini. Mulai dari Pulau Sempu yang berubah menjadi tempat pembuangan sampah akhir setiap kali wisatawan menggulung tenda dan kembali ke Sendang Biru, sampai perilaku satwa yang menjadi pemulung—mereka mengambil dan memakan sisa sampah manusia.

Memang remeh dan kita anggap kecil, tapi sebuah perubahan kecil yang nggak dipedulikan akan menjadi satu perubahan besar yang bisa jadi menggegerkan satu saat nanti. Di satu sisi, Pemerintah setempat merasa prihatin dengan perubahan yang terjadi dan ingin menutup Pulau Sempu. Tapi, di sisi lain, ada masyarakat Sendang Biru yang menggantungkan penghidupan mereka pada Pulau Sempu.

Sebagai orang ketiga yang mestinya bisa melihat situasi dan keadaan lebih jernih, kita sebagai pengunjung mesti tahu diri. Mengunjungi dan menikmati suatu tempat yang dianugerahi keindahan berlebih oleh Tuhan nggak ada salahnya. Tapi lain hal, kalau kita kemudian cuma sekadar memanfaatkan keindahannya dan nggak ikut menjaga.

Memang itu tanggung jawab pemerintah, tapi alangkah baiknya kalau kita juga turut ambil peran aktif menjaga Indonesia dan alamnya Wink

Yang Wajib Kita Siapkan Menuju Pulau Sempu

1. Pakaian dari bahan katun, kaos, atau lainnya yang mempermudah pergerakan kita sekaligus menutup hampir seluruh bagian tubuh—kecuali kalau Artebianz pengin punya tato kenang-kenangan dari duri dan tanaman beronak tajam di hutan Pulau Sempu. Hehehe….

2. Handuk, baju ganti, dan kantong plastik atau kardus bekas mi untuk tempat sampah. PENTING!

3. Senter untuk berjaga-jaga.

4. Air minum, minimal 1,5 liter tiap orang dan camilan—buat yang doyan makan dan nggak tahan lapar.

5. Powerbank, supaya kita bisa SMS atau telepon pemilik perahu saat kita hendak pulang.

6. Kamera dan baterainya—jangan seperti saya yang sudah kehabisan baterai….

7. Balsem, plester, salonpas, dan losion antinyamuk—pokoknya P3K yang sekiranya kamu perlukan di daerah pantai macam Pulau Sempu.

8. Garam, selain untuk menggarami makanan yang kuran asin, juga untuk menjaga tenda dari binatang melata Laughing

9. Mi instan sesuai perhitungan Artebianz—nggak pengin bawa barang terlalu berat lagi kan, pas balik, atau buang sampah di sepanjang jalan.

10. Korek api dan kompor portable—atau kompor gas dengan tabung kecil, semacam rombongan saya Wink

Have a great adventure in exploring Indonesia and its beauty. And let’s respect mother nature, Artebianz!




Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Wisata Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Takdir Dan Pertanda-Pertanda


H.O.S Tjokroaminoto: Priyayi dengan Profesi Teknisi Sekaligus Politisi yang Berjiwa Pendidik


Kala Kali: Hanya Waktu yang Tak Pernah Terlambat


Bangkok Knockout: Permainan Maut antara Hidup dan Mati


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Nikmatnya Sop Buntut di


Gujo Cafe Surabaya: Cangkrukan Enak Bernuansa Tradisional-Modern


Wisata Religi: Makam Maulana Sayyid Ismail Janti, Jogoroto, Jombang


Tea Tasting Bersama Havelteh


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Tiga Puluh Tahunan (Part 1)


Tertinggal, Tertanggal