Bukit Pawuluhan: Bukan Bukit Biasa

19 May 2016    View : 3044    By : Mia Kamila


"Satu tanjakan lagi!"
Sebuah teriakan-teriakan semu mengiang di telinga saya yang masih berjuang terengah-engah menyusul ketinggalan dari teman-teman saya. Perjalanan saya untuk dapat menikmati pemandangan alam dari ketinggian. Bukan sebuah gunung melainkan hanyalah sebuah bukit yang berada di Kabupaten Pekalongan. Tepatnya di Desa Gembong, Kecamatan Kandangserang, Kajen. Bukit tersebut bernama Bukit Pawuluhan.


Racun Itu Bernama Naik Gunung

naik_gunungWisata alam saat ini menjadi sebuah destinasi favorit. Kenapa? Karena banyak sekali para wisatawan yang mengunggah foto traveling mereka dengan background pemandangan alam. Terutama foto-foto selfie di atas gunung. Dalam hati hanya bisa merasa iri karena saya tidak pernah naik gunung.

Fenomena yang banyak terjadi adalah foto menggunkan plakat yang terbuat dari plat seng dengan bertuliskan nama gunung dan ketinggian gunung. Foto-foto di atas ketinggian tertentu memang sangat menarik dan dapat menjadikan racun paling manjur untuk melakukan pendakian, terutama bagi pecinta ketinggian. Begitu menurut beberapa teman saya ketika melihat foto pemandangan alam dari atas gunung.

Perjalanan ke Bukit Pawuluhan bersama kelima teman saya menjadi sebuah catatan penting bagi saya. Bahwa untuk mendapatkan foto keindahan alam dan menikmatinya tidak harus melakukan pendakian ke atas gunung dengan medan yang amat terjal dan ekstrem. Bukit Pawuluhan adalah destinasi yang aman.

Baca juga: Teluk Biru: Sambil Menyelam Tanam Terumbu

 

 

Jangan Remehkan Trek Bukit Pawuluhan

Cukup berjalan sejauh 2,8 kilometer saja, kita sudah bisa menikmati pemandangan alam yang luar biasa. Trekking tipis-tipis dan mendapatkan bonus pemandangan jumbo membuat saya benar-benar menikmati perjalanan.

bukit_pawuluhanBukit Pawuluhan beberapa saat setelah matahari terbit, photo by: Mia

Medan trekking memang tidak begitu terjal, namun cukup licin dan mudah sekali membuat saya terpeleset beberapa kali. Bayangkan saja, banyak sekali batuan-batuan berwana hitam yang di dominasi dengan tanah berwana merah dengan sisa-sisa embun yang membasahinya. Sandal gunung yang aku pakai pun tak dapat menghalaunya.

Baca juga: Santosa Stable Horse Riding, Kendal: Berkuda Dan Legenda

 

 

Mengejar Matahari Terbit

Perjalanan trekking kami lakukan di pagi buta, dengan tujuan agar kami dapat melihat indahnya sunrise. Mengabadikan langit dengan semburat oranye dan golden sunrise yang merekah indah.

Bermodalkan head lamp dan lampu penerangan seadanya yang kami bawa, kami berjalan menyusuri persawahan warga dengan aroma segar dan berisik kumbang yang saling bersahutan. Betapa menyenangkan bagi kami yang sehari-hari hidup di tengah peradaban kota dan mendengar bisingnya kendaraan.

Namun, untuk mengejar matahari terbit, kami harus membuat langkah kami dua kali lebih cepat. Di sinilah drama trekking terjadi, karena di antara mereka sayalah yang paling banyak mengeluh lantaran ketinggalan. Ritme trekking yang seperti ini memang banyak sekali menguras tenaga, apalagi bagi saya yang memang bukan seorang pendaki gunung. Bisa melalui tanjakan-tanjakan terjal dengan selamat sudah membuat saya menjadi senang meskipun agak tertinggal jauh.

Belum sampai ke puncak, kami sudah di suguhkan pemandangan yang menawan, lengkap dengan kabut dan segarnya udara yang masih alami. Beberapa penduduk sekitar saya jumpai sedang mengerjakan sawahnya yang nampak begitu hijau.

Alam yang bersih dan masih terjaga dari tangan-tangan jahil. Medan yang licin namun masih bisa dilewati asal hati-hati. Meskipun kami gagal mengejar sunrise di atas bukit, namun saya sempat mengabadikan sunrise di perjalanan dan melihatnya di sela-sela perbukitan:

matahari_terbit_bukit_pawuluhanMatahari terbit di Bukit Pawuluhan, photo by: Mia

Menakjubkan, bukan? Padahal ini belum di puncak. Mungkin pemandangan di puncak lebih terlihat memesona dan penuh kesan kali, ya? Setiap mata kita memandang kita akan melihat hijaunya gundukan-gundukan bukit yang hijau dan birunya langit yang nampak kontras. Serta kabut yang perlahan mulai turun dan menutupi sinar matahari.

Baca juga: Pantai Sedahan: Sebuah Keindahan Tersembunyi

 

 

Bukit Pawuluhan Jarang Terjamah

bukit_pawuluhanBukit Pawuluhan ini masih jarang sekali didatangi oleh para wisatawan dan para pecinta ketinggian. Karena letaknya yang jauh dari kota, sekitar satu setengah jam dan melewati hutan-hutan yang nampak seram jika kita melewatinya pada malam hari. Di samping itu jalan yang berkelok dan menukik akan menyapa kita selama dalam perjalanan menuju Kandangserang.

Nah, setelah sampai di Kandangserang kita akan disuguhi dengan medan jalan yang putus akibat longsoran tebing. Jika cuaca tidak sedang turun hujan, kita akan dengan mudah melalui material longsoran tersbut menggunakan sepeda motor. Namun, jika cuaca hujan dan setelah hujan turun, kita akan merasa kesulitan melewatinya. Karena jalan akan dua kali lebih licin dan ban motor akan terperangkap dalam kubangan tanah yang lunak.

Jika kalian ingin pergi kesana, sebaiknya berangkatlah di pagi hari menuju Kandangserang agar saat melewati jalan yang longsor tidak terlalu sulit, karena ada beberapa warga yang berjaga di area tersebut. Bawalah tenda dan bermalamlah di atas bukit dengan membawa logistik yang cukup, tapi ingat bawa kembali sampah kalian ya!

Jika kita bermalam di atas bukit, kita akan mendapatkan moment sunrise yang mempesona dan tak kalah bagus dengan sunrise di gunung. Dan usahakan keberangkatan kalian sebelum matahari tenggelam, agar dapat melihat keindahan sunset. Nikmatilah keindahan tersembunyi di atas Bukit Pawuluhan dan jangan lupa bersyukur atas kebesaran Tuhan Yang Maha Esa ya, Artebianz!

bukit_pawuluhan

Baca juga: Kawah Ijen Banyuwangi (Kawah Ijen Part 2)




arkana
Mia Kamila, adalah seorang blogger yang suka jalan-jalan. Setiap perjalannya selalu ia ceritakan melalui sebuah untaian kata-kata. Profil Selengkapnya >>

Wisata Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus


givaway happiness is you



KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :


Cinderella dan Wanita Masa Kini: Sebuah Dekonstruksi Dongeng


Edwin Ruser dan KoreanUpdates - Menghidupkan Mimpi Lewat Passion


Dear Nathan, The Annoying Boy


Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Adaptasi Dari Cerita Pendek


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


Heerlijk Gelato


The Backstage Surabaya (Bagian 1) : How To Start A StartUp


Pengelanaan Sempurna


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Kerinduan yang Patah