Ledok Ombo Campground - Poncokusumo Malang

06 Oct 2016    View : 1120    By : Nadia Sabila


Ledok Ombo Campground adalah salah satu lokasi perkemahan baru yang sedang hits di Malang. Terletak di Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang searah dengan Ranu Pane. Ledok Ombo Campground adalah pilihan yang tepat buat campers yang mencari perkemahan di lingkup hutan pinus yang aman, tenang, bersih, dan dekat dengan sarana umum seperti toilet dan musola.

Pertama-tama, saya ingin cerita dulu tentang pengalaman berkemah saya. Berkemah bukanlah hal baru bagi saya; beberapa kali saya terpaksa berkemah karena tuntutan organisasi dan keadaan. Terpaksa? Jujur saja, saya tidak begitu suka berkemah. Alasan utama, karena saya adalah tipe orang yang tidak bisa tidur di sembarang tempat dan jauh dari toilet. Termasuk saat teman-teman mengusulkan untuk berkemah di Teluk Hijau, Banyuwangi, beberapa waktu silam. Saya adalah orang yang paling gigih mengusulkan untuk mencari penginapan murah saja, tapi saya kalah suara sehingga mau tak mau ikut berkemah.

ledok_ombo_campgroundTenda saya di Ledok Ombo

Tapi, Ledok Ombo Poncokusumo ini lain cerita. Dari sekian banyak campground yang pernah saya kemahi, Ledok Ombo Campground Poncokusumo adalah bumi perkemahan terbersih yang pernah saya kunjungi. Lokasi masuknya tak jauh dari jalan raya Desa Poncokusumo—sekitar dua kilometer ke dalam—tapi sangat sepi dan tenang. Dikelilingi hutan pinus nan artistik, Ledok Ombo Campground Poncokusumo tak terlalu luas, tetapi sangat nyaman. Jika tak dapat tenda, kita bisa juga menyewa 2-3 buah rumah pohon yang terpaku di atas pohon pinus.

Baca juga: Kampung Labasan Sleman

 

 

Setibanya di Ledok Ombo...

Setelah berkendara selama hampir dua jam dari Kota Malang, mobil saya dan teman-teman memasuki area perkemahan Ledok Ombo.

Catatan penting: jangan membawa kendaraan, khususnya mobil, dengan bodi rendah, karena dipastikan akan sulit melalui jalan terjal menuju campground. Salah satu contohnya, mobil kawan saya yang saya tumpangi adalah jenis mobil kota—Honda Stream—yang ternyata sangat menyusahkan begitu dibawa masuk hutan.

Susah payah, kawan-kawan saya membawa si Stream untuk masuk campground yang sudah gelap karena sudah pukul tujuh malam. Gelapnya Ledok Ombo Campground Poncokusumo ini betul-betul gulita lho, Artebianz! Tak ada pencahayaan sama sekali kecuali dari lampu mobil. Sempat ngeri juga kami karena mas-mas pemandu Ledok Ombo Campground Poncokusumo agak lama muncul setelah kami sampai. Gelap sekali dan hanya rombongan kami yang ada di  situ, Saudara-Saudara! Sembilan pemuda yang tersesat di hutan belantara. (Ah, berlebihan Tongue Out)

ledok_ombo_campgroundBunga Hydrangea di Ledok Ombo

Dari pengalaman ini, must have item kita sebelum berkemah di Ledok Ombo Campground Poncokusumo adalah: senter, lampu badai, lampu minyak, atau lampu darurat apa pun, yang kabar buruknya saat itu hanya ada satu teman saya yang membawa senter. Itu pun redup. Terpujilah pencipta telepon seluler berlampu senter karena kami akhirnya menggunakan ponsel masing-masing sebagai penerangan di hutan.

Baca juga: Teluk Biru Banyuwangi

 

 

Pesan Tenda Jadi

Keberuntungan sedang bersama kami saat itu, karena gerimis tampaknya baru saja reda dan tenda kami sudah berdiri. Saat reservasi, kami memang sengaja memesan tenda yang sudah didirikan oleh pemandu Ledok Ombo Campground Poncokusumo, meski harus menambah sedikit ongkos dengan pertimbangan, anggota rombongan kebanyakan perempuan yang tidak bisa mendirikan tenda. Keputusan itu ternyata tepat karena kami tiba saat hari sudah malam.

 

 

Toilet Dan Mushola Tersedia

sumber_air_ledokSetelah loading barang dari mobil ke tenda, apa yang dicari setibanya di bumi perkemahan? Tentu saja toilet dan musola. Kami bagi tugas, sebagian dari kami menyiapkan alat-alat yang diperlukan untuk barbeku sosis dan bakso setelah ini, sebagian yang lain membersihkan diri terlebih dahulu, dan salat bagi yang salat. Kami juga memesan kayu bakar ke pemandu Ledok Ombo Campground Poncokusumo untuk membuat api unggun, dan malam itu juga mereka carikan.

Letak toilet tak jauh dari tenda kami, sekitar 20 meter saja. Ledok Ombo Campground Poncokusumo memiliki dua kamar mandi dengan WC, dan tiga kamar mandi tanpa WC. Tempat wudu di samping musola juga dilengkapi dengan bilik yang dapat difungsikan sebagai kamar mandi darurat.

Air bersih bening dari sumber mengalir dengan deras, lancar, dan dingin ke toilet! Sangat dingin seperti air es. Namun tetap saja, toilet bersih ini tidak dilengkapi dengan lampu, sehingga sulit untuk pergi ke toilet sendirian malam hari jika kita tidak membawa lampu penerangan.

Baca juga: Sejarah Dukuh Kemuning

 

 

Berkemah Ceria Di Ledok Ombo Campground Poncokusumo

Setelah persiapan rampung, kami semua pun berkumpul di tengah untuk pesta barbeku sosis dan bakso yang sudah kami beli sebelumnya. Mas pemandu membantu menyalakan api unggun dengan begitu profesionalnya: hanya butuh waktu 10 menit bagi mereka untuk menerangi sekitar dengan api unggun. Sementara kami, butuh waktu satu jam lebih untuk membuat arang barbeku membara.

Malam itu kami habiskan dengan makan-makan barbeku dan bercengkerama bersama. Kesempatan langka yang dapat kami gunakan untuk memupuk kebersamaan tanpa terganggu oleh gadget karena di sana tidak ada sinyal telepon sama sekali. Sementara itu, Mas Pemandu, stand by di salah satu rumah pohon.

ledok_ombo_campground

Untuk tidur, kami pun sudah tak perlu khawatir kedinginan karena pengelola Ledok Ombo Campground Poncokusumo juga menyediakan sleeping bag untuk disewakan. Benar-benar pengalaman berkemah yang menyenangkan bagi saya, karena untuk pertama kalinya saya bisa tidur di kemah dengan nyenyak dan kering. Meskipun saya sedang kedatangan tamu bulanan. Ledok Ombo Campground Poncokusumo adalah bumi perkemahan yang saya rekomendasikan untuk perempuan yang sedang datang bulan karena kalian tidak perlu khawatir sulit mencari kamar mandi dengan air bersih.

Kontur tanah untuk berkemah di Ledok Ombo Campground Poncokusumo ini pun cukup rata dan tak banyak batu, sehingga tidur dengan alas tipis pun tak menjadi masalah.

Baca juga: Cumi Krispi Di WTF Market


 

Hutan Pinus Ledok Ombo Campground Poncokusumo

Pagi harinya, tak banyak yang kami lakukan selain berfoto menikmati keindahan pohon-pohon pinus yang menjulang dan seolah berbaris mengitari campground. Sebenarnya, di sini disediakan juga perlengkapan outbond seperti flying fox, tapi kami tidak memesannya karena memang tujuan kami bukan outbond.

ledok_ombo_campgroundArena Outbond di Ledok Ombo

Menurut informasi dari Mas Pemandu, ada sungai yang dapat direnangi di tepi hutan pinus ini, tapi kita harus berjalan kaki selama kurang lebih setengah jam terlebih dahulu. Jika mau, Mas Pemandu tak keberatan memandu jalannya untuk kami. Sayang, kami terpaksa menolak tawaran tersebut karena kami buru-buru mencapai tujuan lain (Wisata Pantai Selatan yang akan ditulis di artikel berikutnya).

Sungai itu adalah aliran dari Coban Wagio, yang konon adalah air terjun yang paling dekat dengan Ledok Ombo Campground. Namun terbilang cukup jauh karena memerlukan waktu satu jam berjalan kaki untuk menuju air terjun tersebut dan tidak ada cara lain untuk menempuhnya selain dengan berjalan kaki.

 

 

Total Anggaran Berkemah Di Ledok Ombo Campground Poncokusumo

Berikut ini estimasi anggaran dana yang dibutuhkan jika Artebianz ingin berkemah di Ledok Ombo:

ledok_ombo_campground
- Sewa tenda: Rp40.000/orang
- Sewa sleeping bag: Rp10.000/bag
- Jasa mendirikan tenda: Rp10.000 / tenda
- Kayu bakar: Rp20.000/ikat
- Tiket masuk: Rp5.000/orang

Jangan lupa juga untuk membawa senter, alas untuk tenda, dan alat mandi. Di sekitar area perkemahan, sudah terdapat tempat sampah, jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mengotori hutan pinus nan bagus di Ledok Ombo Campground Ponco Kusumo ini.

Selamat Berkemah!


Tag :


nadia sabila
Seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas. Profil Selengkapnya >>

Wisata Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus


givaway happiness is you



KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :


Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Para Penjelajah Dunia : dari Vasco da Gama hingga Ibnu Battuta


Present Perfect: Seandainya Waktu Dapat Diputar Kembali


Keep Being You - Isyana Sarasvati


Dari Surga Belanja Menjadi Surga Makanan, Kedai Tunjungan City


Libreria Eatery - Tempat Pas untuk Memberi Makan Perut dan Otak


Basha Market Chapter 2 - Merayakan Kreatifitas Lokal


Kisah Tentang Himawari


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Sunyi yang Tak Dicari