My Toilet Prince - Pintu Kedua

28 Oct 2017    View : 57    By : Niratisaya


My Toilet Prince, pintu sebelumnya.


Pintu Kedua: My Toilet Prince

 

 

“Hah?!” Raka membelalakkan mata.

Ya, Tuhan. Membelalakkan mata seperti itu pun dia masih kelihatan ganteng. Aku mengerjapkan mata dan mengulang kata-kataku, “Aku suka kamu.”

“Kamu … sehat?” Raka bertanya. Dia lalu melongok ke arah toilet tempat aku terjebak tadi. “Jangan-jangan otakmu tertinggal di toilet.”

“Eh?” Aku terkejut dan mengikuti arah pandang Raka.

Saat aku kembali menatap Raka, dia mengembuskan napas panjang dan dalam. Kemudian, dia berkata, “Dengar, kita baru saja bertemu. Baru pertama ini. Lalu … kamu mendadak bicara soal suka? Kenal aku saja nggak—aku juga nggak kenal kamu, bagaimana kamu bisa suka sama aku?”

“Itu ….”

“Sudahlah. Aku harus ke lapangan.” Raka berbalik, mengambil sebuah kotak di atas tembok pembatas toilet. Dengan mantap dan tegas dia berjalan.

Demi Tuhan, Raka. Aku tuh benar-benar suka sama kamu!

 

Jam istirahat.

“Hah?!” Manda dan Moza hampir memekik bersamaan ketika aku bercerita tentang pengalamanku di toilet dan pernyataanku kepada Raka. Cowok yang sama sekali belum aku kenal.

“Lo udah gila, Mel. Sarap. Udah putus kali ya, urat malu lo? Bisa-bisanya lo nyatain perasaan ke cowok yang dua menitan lo kenal.” Manda menggeleng berulang kali.

“Cinta pandangan pertama?” balasku sambil tersenyum lemah.

“Love at first sight?! Is he that great?” Moza mendengus.

Moza selalu menggunakan bahasa Inggris dengan aksen ala Pangeran William saat dia merasa jengkel. Tapi kenapa dia jengkel? Aku mengangguk lalu mengedikkan bahu, memberi isyarat agar dua sahabatku ini nggak terlalu membesar-besarkan tentang aku dan pernyataan cintaku kepada Raka. Aku memakan gorengan saus bawang pesananku untuk mempertegas isyaratku.

Tapi tentu saja, mereka sahabatku. Mereka nggak akan mempedulikan isyarat apa pun yang aku berikan saat mereka berdua terlalu bernafsu untuk meluruskan otakku.

“For God sake, Mello. Are you that idiot?!” Moza memelototiku.

“Apa sih? Memangnya kalau aku menyatakan cinta, itu artinya aku bego?!” Aku mengerutkan dahi. “Apa aku harus nunggu cowok yang nembak aku, sementara aku tahu siapa yang aku suka. Kalau gitu lama dong. Iya kalau ada, kalau—”

“Duh!” Manda menepuk dahiku sambil menatapku gemas. “Lo aja deh yang ngomong, Mo. Jelasin ke Mello. Gue mau makan nasi goreng di dalam.”
Manda mengambil nasi goreng dan botol minumnya, membawanya masuk ke bagian dalam kantin.

Aku beralih kepada Moza, menatapnya sambil menunggu penjelasan apa pun yang dia berikan.

“Heh?!” Moza terkesiap. Lenyap ekspresi jengkel dan marah dari wajah sahabatku ini. Dia pun mulai menjelaskan dengan tergagap. “Hm … itu …. Lupakan! Pokoknya kamu salah. Cara kamu salah. Dia kan nggak kenal kamu, kamu juga nggak kenal dia.”

Aku mengangguk. “Oke.”

“Kamu ngerti, Mel?” tanya Moza.

“Iya.” Aku mengangguk sekali lagi, sementara kata-kata Raka berputar di benakku.

“Kenal aku saja nggak—aku juga nggak kenal kamu, bagaimana kamu bisa suka sama aku?”

Diam-diam, aku menyembunyikan rencanaku dari Moza dan Manda. Aku tahu, kalau mereka tahu rencanaku, mereka bakal memberondongku dengan semua nasihat dan pertanyaan. Aku menundukkan dan menyantap gorengan saus bawangku, sambil menyeringai. Aku akan memperkenalkan diri kepada Raka. Aku bersumpah!!

***

Seusai jam pelajaran terakhir, aku bergegas ke luar. Mataku segera memindai wajah-wajah yang ada di sekitarku, demi mencari sosok Raka. Dia mungkin seangkatan denganku. Kalaupun senior, aku masih bisa mencarinya besok. Pokoknya, aku harus tahu soal kelas Raka secepatnya!

Tuhan rupanya mendengar doaku. Aku melihat Raka di kejauhan. Dia berjalan menuju gerbang sekolah dengan tas ransel berwarna hitam. Aku rasa dia seangkatan denganku. Terdorong oleh semangat, aku berlari ke arah Raka lalu mengangkat tangan, hendak menyapanya ketika seorang cewek berambut panjang sepunggung menghampiri cowok itu.

“Ka, ini daftar proses pemilihan OSIS ntar dan syaratnya. Kamu ikut aja, siapa tau terpilih,” kata cewek itu sambil menyerahkan secarik kertas kepada Raka.

Thanks Mbak,” jawab Raka sambil menatap cewek itu.

“Nggak apa-apa, cuma segini aja kamu ngomong terima kasih.” Cewek itu tersenyum kepada Raka, yang balasnya dengan senyuman yang sama lembutnya.

“Na!”

Cewek berambut panjang itu menoleh ke arah seorang cowok berpakaian bebas yang berdiri di dekat pos satpam.

“Aku duluan ya, Ka,” pamit cewek itu sambil melambaikan tangan.

Raka mengamati sosok cewek berambut panjang itu sampai dia (dan pacarnya, mungkin?) menghilang dari pandangannyan. Cowok ini menghapus senyumannya dan memasukkan kertas pemilihan OSIS ke dalam tasnya. Pada saat itulah dia menyadari kehadiranku. Aku menyapa Raka dengan senyuman juga lambaian tangan. Tapi dia membalasku dengan kernyitan.

“Hai.”

Raka nggak menggubrisku. Dengan dingin dia bertanya, “Kamu …. Ada apa lagi?”

Tanpa memedulikan ekspresi jemu Raka, aku berkata, “Namaku Melody Putri Kusumajaya, tapi kamuu cukup panggil aku Mello.”

Raka mengangkat sebelah alisnya, tapi aku sama sekali nggak memedulikan reaksi cowok ini.

“Aku anak kedua dari dua bersaudara, umurku lima belas tahun. Aku anak kelas Satu-IPA-Enam. Hobiku ….”

“Wooo … wooo …. Setop!” Raka memotong kalimatku. “Kamu nggak berniat berdiri di sini memperkenalkan diri gara-gara ucapanku tadi, kan?”

Aku tersenyum lebar. Berbeda dengan Moza dan Manda, Raka menangkap isyarat yang aku berikan.

Raka mengembuskan napas kesal. “Yang aku maksud, gimana kamu bisa langsung ngomong suka kepadaku, sementara kita baru ketemu tadi pagi.”

“Hm … cinta pandangan pertama?” balasku sambil nyengir.

“Oke.” Raka melipat tangan di depan dada, memasang pose seakan dia menantangku. “Tunjukkan. Tunjukkan kepadaku kelebihanmu yang bisa membuatku menyukaimu.”

“Ya?” Kali ini giliranku yang mengernyit. Kelebian? Maksudnya seperti makan es krim tiga mangkuk sekaligus? Atau kelebihanku maraton nonton drama seri Korea? Atau main game sampai teler? Kelebihan apa yang dimaksud Raka dan bisa membuat cowok ini tertarik kepadaku?

“Dengar.” Panggil Raka, menyadarkanku dari lamunan. “Kalau kamu bisa ‘menunjukkan’ dirimu dalam prestasi, mungkin aku akan mempertimbangkanmu.” Dia berkata sambil memberi isyarat tanda petik dengan jarinya.

“Hah?” Aku menelengkan kepalaku.

“Kecerdasan, kesupelan, dan kecermatan. Itu yang mestinya dimiliki cewekku,” ucap Raka dengan nada tegas. Dia lantas berbalik dan berjalan.

“Akan aku tunjukkan, Ka!” Aku berteriak dan berhasil membuat Raka menghentikan langkah, tapi cowok itu kembali meneruskan langkahnya beberapa saat kemudian. Dia dengan teguh memperlihatkan sikap tak acuh.

Cerdas? Tentu saja Melody Putri Kusumajaya ini adalah seorang cewek yang cerdas!

***

Sejak pertemuanku dengan Raka yang terakhir, aku belum pernah berbicara lagi dengannya. Itu bukan berarti aku menyerah. Di sisi lain, aku memaksa Mama dan Papa untuk mengizinkanku mendaftar ke Lembaga Bantuan Belajar dan les bahasa Inggris. Awalnya kedua orangtuaku meragukan niatku. Mereka yakin aku nggak serius dengan ucapanku saat berkata akan mengikuti pelajaran tambahan dengan rajin di Lembaga Bantuan Belajar. Yah … aku paham dengan reaksi mereka.

Sejujurnya, aku pernah—oke, sering—keluar masuk Lembaga Bantuan Belajar dan berbagai les bahasa asing. Dari Inggris, Jepang sampai Mandarin. Tapi, yang nyantol cuma bahasa Inggris. Itu pun pada akhirnya aku memilihh keluar dari lembaga les bahasa asing sebelum tamat, karea teman-temanku berhenti. Tujuan utamaku bersekolah dan mengikuti les adalah mendapat teman baru, baru belajar. Sama sekali nggak konsisten, sih. Tapi apa asyiknya belajar kalau nggak ada teman. Ya, kan?

Sekarang aku mesti meyakinkan kedua orangtua lebih dari biasanya.

“Aku janji, Pa. Kali ini serius abis, aku nggak akan berhenti les. Kalau aku berhenti di tengah jalan, Papa boleh potong uang saku bulananku,” kataku sambil menyatukan kedua tangan, memohon kepada Papa. Alias sumber dana utama di rumah keluarga Kusumajaya.

Papa menatapku lurus di mata. Apa pun yang dilihat Papa di mataku, semoga dia mengucurkan restu dan dananya. Papa mengangguk dan meninggalkanku bersama Mama, yang mulai mencecarku soal sifatku yang katanya impulsif. Mama juga menasihatiku soal konsistensi dan janji. Apa pun demi bisa les. Apa pun demi bisa memenuhi syarat Raka.

***

“Oke. Tapi ingat; kamu mesti janji.” Papa mengulangi mantra yang selalu diucapkannya setiap kali beliau mengantarku ke Lembaga Bantuan Belajar.

“Iya, iya, Pa.” Aku menjawab sambil membuka pintu mobil.

“Sama orangtua ngomongnya begitu. Iyanya satu kali saja, biar kamu belajar serius kalau ngomong.” Papa menjulurkan tangannya dan meraih tali sabuk pengamanku yang jatuh ke luar.

Aku urung melangkah setelah menutup pintu mobil. Sembari membungkukkan punggung dan menahan dorongan untuk memutar bola, aku menjawab, “Iya, Pa.”

Papa mengangguk dan meninggalkanku memutar bola mata dengan aman di depan pelataran Lembaga Bantuan Belajar baruku.

Tidak lama setelah aku masuk kelas, guru lesku masuk.

“Sore anak-anak. Melanjutkan pelajaran sebelumnya, kita akan belajar tentang senyawa dan ion.” Begitu meletakkan buku, guru lesku segera memulai pelajaran.

Aku membuka buku soal sekaligus mata dan telingaku. Tapi, setelah sepuluh menit di dalam kelas ….

Aku nggak ngerti. Aku sama sekali nggak ngerti.Nggak ada satu pun poin penjelasan guru lesku tentang ion atau senyawa yang nyantol di kepalaku. Mungkin aku membuka telingaku terlalu lebar, jadinya semua pelajaran yang tertangkap pendengaranku kembali lolos dan berenang di udara, bersama gaung suara guru lesku.

Sepanjang sisa waktu les aku menutup mulut dan bungkam. Aku baru bersuara ketika guru lesku bertanya tentang soal yang mudah ditebak, atau sesuatu yang aku ingat dari penjelasan guruku di sekolah dan diulang guru lesku.

Seperti yang kalian duga, aku bego dalam pelajaran mafia (matematika, fisika, kimia). Mafia …. Kalau ingin mengubah pendapat orang bego seperti aku tentang tiga monster di mata pelajaran, guru atau siapa pun yang cerdas sekaligus berkuasa di dunia pendidikan mestinya paham; nggak ada sedikit aura yang menyenangkan dari kata mafia.

***

Satu malam reseh tanpa bintang.

Trang! Trang! Trang!

Terdengar suara dari arah depan rumahku. Pagar besiku yang diadu dengan besi lainnya, aku menduga. Hanya ada satu orang yang memiliki kebiasaan itu. Saat mendongak, aku melihat Moza berdiri di depan pagar rumahku sambil menyeringai lebar.

“Hei, Mel.” Dia lalu mendorong pagar hingga cukup baginya untuk melewatinya, kemudian menutupnya.

“Hei.” Aku mengedikkan kepala dan kembali berkonsentrasi dengan buku di pangkuanku. Seandainya Papa atau Mama ada di sebelahku saat ini, mereka pasti akan berdeham. Memprotes sikapku yang menurut mereka nggak sopan.

“Wueeeh …. Ternyata di Indonesia bisa turun salju, ya?” kata Moza sambil duduk di sebelahku.

“Hah? Salju?” Aku meletakkan buku di atas meja dan berjalan ke pelataran depan rumah, lalu menengadahkan kepala. “Mana?!”

“Maksudku ini.” Moza mengambil bukuku dan mengayun-ayunkannya. “Sejak kapan kamu yang anggota anti banget sama pelajaran mafia membaca buku kimia?

Sudah bebas dari jeratan teve?”

Aku nyengir, merebut bukuku, lalu kembali duduk. “Ngomong-ngomong ada perlu apa?”

“Nih!” Moza mengulurkan tangannya yang sejak kedatangannya dia sembunyikan di balik punggung.

Aku spontan membulatkan mata saat melihat setangkai mawar merah. “Buat aku?!”

Moza masih berdiri diam, sementara aku mengamati bunga mawar itu tanpa berani menyentuhnya.

“Mo … ini buat aku?”

“Hah ….” Mendengar helaan napas, aku segera mendongak dan mendapati Moza menyeringai. “Jangan blushing gitu, ini buat mamamu, tahu.”

“Huh!” Aku mendengus dan memasuki rumah.

“Hei! Ada temen main kok malah masuk?!” Aku bisa mendengar langkah Moza membuntutiku. Cowok itu menyapa orangtuaku yang sedang menonton teve. “Halo Tante, Om.”

Papa dan Mama tersenyum sambil membalas sapaan Moza. Dia lalu menyerahkan mawar yang ternyata dipotongnya dari kebun mamanya. Huh … aku yakin, begitu mamanya menemukan ada yang aneh dari kebun mawarnya, Moza bakal kena semprot.

Aku berjalan menuju dapur dan membuka kulkas. Detik itu, aku baru sadar bahwa aku punya senjata rahasia yang bisa aku manfaatkan untuk mendapatkan Raka.

Aku batal mengambil jus dan menoleh ke arah Moza. “Cewek yang menarik menurut kamu seperti apa?”

Moza terenyak. “Kamu …. Nggak ada angin, nggak ada hujan, ngomong soal itu.”

“Sulit ya, jawabnya?” tanyaku.

Entah kenapa wajah Moza mendadak memerah. Cowok ini menggaruk-garuk kepalanya, yang aku yakin nggak gatal. Detik berikutnya wajah Moza kembali normal. Dia menatapku dan bertanya, “Ini ada hubungannya dengan Raka, Raka itu, kan?”

Aku menunduk dan mengangguk, malu. “He eh.”

“Kenapa kamu bisa tertarik sama dia, Mel? Apa kelebihan cowok itu?”

“Karisma,” jawabku, tegas dan yakin. “Nggak tahu … aku merasa apa saja yang dia lakukan selalu terlihat keren di mataku.”

Aku teringat bagaimana rupa Raka saat dia berdiri di depan pintu toilet yang miring karena tendangannya, dan kini sudah berdiri tegap setelah diperbaiki oleh pihak sekolah. Lalu, bagaimana dia tersenyum—walau bukan untukku. Dan, bagaimana dia berjalan. Tanpa sadar aku tersenyum.

“Apa … apa di matamu aku nggak punya karisma yang bisa membuat kamu tertarik?” Moza mengomel dengan suara rendah. Tapi aku masih bisa mendengarnya.

“Hah?” aku menoleh ke arah Moza, mencoba memastikan bahwa aku nggak salah dengar.

“Di matamu … aku ini seperti apa?” Moza kembali bertanya.

“Kamu kenapa?”

“Jawab aja.” Moza mengalihkan perhatiannya, menolak membalas pandanganku.

“Di mataku, kamu itu … selebor, cuek, spontan dan … tukang tebar pesona. Playboy kelas kakap!” kataku sambil terkekeh.

“Memangnya di matamu aku nggak ada bagus-bagusnya apa?” dengus Moza yang akhirnya menatapku, meski dengan pandangan jengkel.

“Ada.” Aku menatap Moza lekat. Aku bisa menangkap ketenggangan di wajah cowok ini, seperti saat dia menghadapi ujian fisika. “Kamu itu sahabat terbaikku.”

“Sahabat?!” Moza mendengus. “Gee, thanks, Mel.”

Dia berbalik dan pulang begitu saja.

Ada apa sama dia? Aku mengernyit sambil menatap punggung Moza. Dasar cowok aneh.

Mungkin bagi Moza dan Manda ketertarikanku kepada Raka aneh. Aku yakin, kalian juga begitu. Tapi buatku ini sesuatu yang baru aku alami. Maksudku, aku nggak pernah merasakan sesuatu yang seperti ini sebelumnya. Sesuatu dalam diri Raka yang menarik. Caranya membawa diri, bersikap, dan berkata. Seratus delapan puluh derajat dari Moza atau cowok lain yang aku kenal. Dia memang meremehkanku, tapi Raka nggak pernah benar-benar merendahkanku dan sifat impulsifku. Selain itu aku cuma bisa menatapnya, meliriknya, dan melamunkannya tanpa benar-benar bisa mendekatinya.

Walau aku nekat mendekati Raka yang baru aku kenal, tapi sebenarnya aku cukup pemalu. Aku juga cukup sadar diri bahwa aku bukan Manda yang punya seribu pesona. Atau kalian yang punya rasa percaya diri yang tinggi. Mungkin yang aku rasakan ini cuma rasa penasaran. Mungkin juga aku hanya tertarik, karena Raka bukan tipe cowok yang selama ini ada di sekitarku. Tapi aku tahu jelas aku aku tertarik kepada Raka.

 

 

Bersambung ke My Toilet Prince Pintu Ketiga ....


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerbung Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan


Voici - Duo Multi Talenta Dari Surabaya


The Chronicles Of Audy 4/4


Malam Minggu Miko Movie - Mockumentary Kegalauan Kaum Muda Indonesia


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Rujak Cingur Ala Bu Dah


Taman Patung Kuda Gunung Sari - Taman Segala Usia


Banyu Anjlok - Pantai Bolu-Bolu - Keletekan: Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui


Wawancara Dengan Cindy Owada: Mengenal Lebih Dekat WTF Market Dan Brand Lokal Indonesia


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Pengelanaan Sempurna


Jingga Senja Sewarna Darah